
"Pagi dok. Bagaimana kondisi Delisha dok". Thian masuk kedalam ruangan dokter yang menangani Delisha.
"Pagi. Ah untungnya kamu segera datang. Keadaannya semakin memburuk. Maaf saya harus menghubungi kamu langsung. Karena beberapa hari ini dia memanggil nama kamu'. Dokter itu memang Thian yang meminta untuk menjaga Delisha. Dan kebetulan dokter tersebut juga mengenal Airil.
"Tidak apa dok. Apakah ibunya masih sering kesini". Thian kembali bertanya kepada dokter tersebut.
"Terakhir kali ibunya datang sekitar dua Minggu lalu. Setelah ibunya datang memang ada perubahan aneh dari Delisha. Dan sekarang semakin buruk. Saya juga sudah menghubungi papa kamu. Dan beliau mengijinkan saya untuk meminta kamu datang". Sebelum Thian memutuskan untuk pergi, Airil memang sudah memberitahu tentang Delisha. Awalnya Airil sendiri yang akan pergi. Tapi Thian memilih dirinya saja yang menemui Delisha. Apalagi memang nama Thian yang selalu dipanggilnya.
"Boleh saya bertemu Delisha dok". Thian meminta ijin agar bisa menemui temannya itu". Thian sudah menganggap Delisha sebagai teman. Bahkan setelah apa yang dilakukan ibunya, Thian tetap menganggap Delisha teman.
"Baiklah. Mari saya antarkan. Saya sudah meminta perawat untuk menjaga tempat itu". Thian mengangguk dan mengikuti langkah dokter tersebut. Beberapa perawat mengenali Thian, namun mereka hanya tersenyum saja.
Disebuah ruangan khusus Delisha ditempatkan. Ruangan itu memang khusus ruangan isolasi. Thian masuk bersama dengan dokter dan dua orang perawat untuk berjaga-jaga jika Delisha tidak bisa mengontrol emosi. Thian mendekati Delisha perlahan. Delisha sedang duduk diatas ranjang dengan tatapan kosong. Kakinya terantai dengan ranjang. Thian perlahan duduk disamping Delisha.
"Hai. Assalamualaikum. Bagaimana kabarmu hari ini". Delisha segera merespon suara Thian. Perawat dan dokter cukup terkejut dengan respon Delisha. Karena beberapa Minggu terakhir Delisha tidak pernah mau merespon suara siapapun.
"Kamu kenapa. Mana semangat kamu. Terakhir kita ketemu, kamu janji akan semangat sembuh. Mana semangat mu. Mana perkedel yang aku kenal". Thian memanggil Delisha dengan perkedel. Thian tersenyum menatap wajah Delisha. Delisha hanya diam menatap wajah Thian.
"Apa ada yang menyakiti kamu lagi. Del, aku pernah bilang ke kamu. Apapun yang membuat mu terluka, tolong lepaskan perlahan. Jika kamu tak sanggup melepaskan sendiri, cari aku. Aku akan membantumu mengobati itu". Perlahan air mata Delisha menetes. Dokter dan perawat tersenyum melihat respon baik itu.
Air mata Delisha terus mengalir deras. Thian memeluk Delisha agar hatinya tenang dan Delisha bisa mengeluarkan semua bebannya. Tangisnya semakin kencang. Thian tersenyum dan berusaha menenangkan. Thian melepaskan pelukannya. Dia menatap wajah Delisha dan menghapus air matanya.
__ADS_1
"Ada sesuatu yang ingin kamu katakan. Siapa yang berani menyakiti perkedel tahu kesayanganku ini". Perlahan ada semburat senyum dibibir Delisha, saat Thian memanggilnya dengan sebutan perkedel tahu.
"Kak. I-ib-bu". Dengan terbata Delisha mulai berbicara. Thian mengangguk pertanda agar Delisha tetap melanjutkan perkataannya.
"Hmm. Kenapa dengan ibu. Apa dia kembali membuatmu terluka". Thian mengusap lembut rambut Delisha yang sudah terlalu kusut.
"Anam. Anam. hiks hiks". Delisha kembali menangis setelah menyebut nama Anam. Anam adalah pria yang telah membuat Delisha harus mengandung diusia muda. Pria itu melakukan hal itu juga tanpa sengaja. Dia dalam kondisi mabuk berat. Anam adalah saudara tiri Delisha.
"Ada apa dengan dia. Apa dia juga menyakiti kamu". Thian bertanya dengan lembut. Dan perlahan Delisha mau menceritakan apa yang dia rasakan. Dokter dan perawat juga mencatat semua yang mereka dengar untuk pertimbangan pemeriksaan.
"Anam datang. Dia ingin membawa putra pergi. Putra dibawa pergi Anam. Aku tidak mau. Kembalikan putra. Kembalikan anakku". Delisha kembali histeris. Perawat segera mendekat untuk memberi tindakan, tapi Thian melarang. Dia mencoba menenangkan Delisha.
"Huust. Tenang ya jangan seperti ini. Putra tidak akan kemana-mana. Aku akan membawa putra kembali. Sekarang kamu istirahat. Kamu mau ketemu putra kan. Kamu harus sembuh". Delisha mulai tenang. Thian mengambil makanan yang sudah disiapkan untuk Delisha. Perlahan dia menyuapi Delisha. Dan memberikan obat. Delisha perlahan mulai memejamkan matanya.
"Terimakasih. Sudah beberapa hari Delisha tidak mau tidur dan selalu mengamuk. Saya dari awal yakin jika kamu datang, dia akan membaik". Thian hanya diam mendengarkan perkataan dokter.
"Dok, tolong jaga teman saya. Jangan ada yang menjenguknya. Dan jika kondisinya memungkinkan saya akan memindahkan Delisha ke ibu kota". Dokter itu mengangguk dan segera memperketat untuk kunjungan Delisha. Thian pamit meninggalkan rumah sakit. Dia akan segera menemui Anam.
"Sayang. Kamu marah sama kakak. Maafkan kakak ya".
Thian mengirim pesan kepada Zee. Karena besok adalah hari istimewa Zee. Thian akan berusaha untuk bisa hadir. Thian juga akan segera menceritakan semua kepada Zee. Sebelum Delisha dia bawa ke kota.
__ADS_1
Thian juga meminta bantuan orang untuk mencari keberadaan Anam. Thian akan menemui Juna terlebih dahulu sebelum bertemu dengan Anam. Zee pun akhirnya membalas pesan Thian. Setelah semalam semua pesan dan telpon Thian diabaikan Zee.
"Ya. Zee masih marah sama kakak. Kenapa kakak gak nolak sih. Menyebalkan".
Thiab tersenyum membaca pesan Zee. Jika saat ini Zee dihadapannya, pasti Thian sudah habis diomeli. Thian sudah sampai dirumah kakeknya. Perjalanan dua jam cukup membuatnya lelah.
"Assalamualaikum kak Tania". Thian mengucapkan salam ketika dia sudah sampai didepan pintu. Tania kaget melihat Thian tiba-tiba sudah berada disana.
"Waalaikumsalam. Yan, kamu sama siapa kesini. Ayo masuk". Thian berjalan masuk mengikuti Tania kedalam rumah.
"Sendiri kak. Bang Juna ada kak. Thian ada perlu sama bang Juna. Thian juga gak lama disini. Harus segera balik". Thian memang tidak ingin berlama-lama. Dia berusaha menyelesaikan secepat mungkin.
"Ada. Dibelakang. Kamu kesana saja. Kaka buatkan minum dulu". Thian mengangguk dan segera berjalan mencari keberadaan Juna. Juna sedang asyik bermain dengan putranya.
"Bang Juna". Juna menoleh saat mendengar namanya dipanggil. Juna sudah tau jika Thian akan menemuinya. Airil sudah memberitahu Arjuna mengenai Thian.
"Sudah ketemu. Gimana keadaannya sekarang". Thian duduk disamping Arjuna.
"Sudah lebih baik bang. Sekarang gue lagi nunggu info dimana pria itu". Arjuna sudah paham maksud Thian. Thian sempat bermain dengan putra Arjuna disela perbincangan mereka.
"Sebenarnya tiga hari yang lalu, dia datang menemui Abang ditempat kerja. Dia meminta tolong agar Abang melindungi dia dan Putra". Thian menatap sang Abang. Dia mulai merasa ada yang aneh.
__ADS_1
"Jadi Abang tau dia dimana sekarang". Arjuna mengangguk. Dan mereka sepakat akan menemui Anam bersama. Arjuna meminta Thian untuk beristirahat dulu.
Almeer dan Fathan sedang bersiap untuk menyusul Thian. Almeer ingin membantu Thian. Airil yang awalnya akan ikut, diminta Fathan untuk menemui orangtua Zee, dan bercerita. Namun Fathan berpesan agar Zee tidak diberitahu. Karena Thian sendiri yang akan memberitahu nanti.