
Walaupun gosip terus bergulir, hidup tetap berjalan. Disetiap kesempatan wartawan terus mengulik informasi mengenai kekasih Almeer Malik. Almeer selalu menanggapi dengan tenang dan santai. Begitu juga dengan tenggat waktu yang diberikan oleh Arash kepada Almeer. Hingga pertengahan bulan Almeer masih belum menemukan seseorang yang tepat menurut versinya.
Hubungan Melody dan Fathan semakin membaik. Fathan berniat menceritakan kedekatannya dengan Melody kepada keluarganya. Hatinya sudah yakin jika Melody adalah pilihan yang tepat untuknya. Namun satu hal yang Fathan belum mengetahui. Beberapa kali Fathian tanpa sengaja bertemu dengan Melody. Melody masih mengira Fathian adalah Fathan. Fathian merasa nyaman jika berbincang dengan Melody walaupun hanya sebentar.
"Bang. Temenin gue yuk". Thian sengaja menjemput sang kakak dilokasi syuting usai dia menyelesaikan pekerjaannya. Fathan sedang rehat sejenak sebelum kembali kerumah. Hari ini sudah selesai pengambilan scene untuk Fathan.
"Kemana". Fathan membereskan beberapa barang pribadinya. Tak lupa dia memeriksa ponsel miliknya. Semenjak berkenalan dengan Melody, memeriksa pesan adalah pekerjaan menyenangkan bagi Fathan.
"Beli kado. Jangan-jangan Abang lupa". Thian menatap sang kembaran dengan tatapan tajam dan mengintimidasi. Fathan menoleh dan langsung menatap mata Thian. Ingatan Fathan seketika kembali.
"Sudah ingat". Senyuman disudut bibir Thian membuat Fathan sedikit kesal. Sambil berdecak, Fathan mengangguk menjawab pertanyaan Thian.
Thian berjalan mendahului Fathan. Sedangkan kedua asisten mereka sudah menunggu diluar. Tak lupa bodyguard setia yang sudah mulai insyaf. Diluar gedung tempat Fathan melakukan syuting, sudah banyak fans menunggu. Suara teriakan menggema memanggil nama si kembar ketika keduanya berjalan menuju mobil. Si kembar membalas dengan senyuman dan lambaian tangan.
Sikembar pergi dari lokasi syuting dan menuju ke sebuah pusat perbelanjaan. Malam ini mereka diundang oleh keacara ulangtahun dari keluarga Malik. Cucu Arsya Malik. Anak dari Serkan merayakan ulangtahun malam ini. Serkan memang sudah menikah sejak lama. Dan sudah memiliki sepasang putra dan putri namun tidak kembar.
Si kembar sudah sampai di pusat perbelanjaan. Dengan penyamaran mereka melenggang memasuki pusat perbelanjaan tak lupa asisten keduanya ikut serta. Saat mereka sedang berjalan menyusuri tempat tersebut, Fathan tak sengaja mihat sosok yang sangat dikenalnya sedang bersama dengan seorang pria.
Mata Fathan tak teralihkan dari sepasang insan yang sedang asyik bercanda. Thian yang mihat sang Abang hanya diam mematung, mencoba mendekatinya dan menepuk pundaknya agar kembi tersadar.
"Bang, yuk". Thian menyadarkan Fathan. Fathan yang tersadar langsung kembali mengikuti langkah Thian. Sesekali Fathan menengok ke belakang. Bodyguard tak kasat mata mereka, menyadari ada keanehan dengan Fathan. Kedua bodyguard itu mengikuti arah pandang Fathan.
"Oh, itukan". Kunkun yang sudah mengetahui tentang Melody cukup terkejut melihat Melody sedang bercanda bersama seorang pria. Ono penasaran dengan reaksi Kunkun. Karena memang Kunkun tidak menceritakan mengenai Melody kepada Ono.
"Loe kenal Kun". Ono bertanya sambil terus menatap kearah yang sama dengan Kunkun. Kunkun mengangguk kecil untuk menjawab pertanyaan Ono.
"Siapa Kun. Kok loe gak pernah cerita punya teman baru". Ono kembali bertanya kepada Kunkun mengenai Melody. Kunkun kembali mengikuti arah langkah si kembar dan diikuti Ono.
"Dia cewek yang bikin bos kecil bahagia". Kunkun memberikan jawaban kepada Ono. Namun Ono kembali ketempat dimana dia melihat Melody untuk memastikan sesuatu. Kunkun yang melihat Ono tiba-tiba pergi membuat Kunkun hanya berdecak pelan.
"Kun. Kun. Gawat Kun gawat". Tiba-tiba Ono muncul didepan Kunkun. Kunkun menampakkan ekspresi kebingungan dengan ucapan Ono.
"Apasih no. Loe kenapa". Ono mondar-mandir dihapan Kunkun setelah tiba-tiba menghilang tadi. Kunkun menjadi semakin bingung dengan kelakuan Ono.
__ADS_1
"Kun. Loe tadi bilang kalau tuh cewek yang bikin bos kecil nyaman kan". Ono kembali memastikan apa yang Kunkun bicarakan.
"Iya. Emang kenapa". Ono semakin panik dengan jawaban Kunkun. Ono menatap Kunkun.
"Dia juga cewek yang bikin bos tengil ketawa". Perkataan Ono membuat Kunkun melotot. Duo transparan mengubah panggilan kedua bosnya sejak lama. Ono memanggil Thian bos tengil dan Kunkun memanggil Fathan bos kecil.
"Loe gak salah lihat kan no. Siapa tau beda orang". Kunkun meyakinkan Ono. Ono menggeleng kencang. Membuat Kunkun berdecak. Ono pun menceritakan perkenalan Thian dengan Melody. Setelah menceritakan mengenai Melody dan Thian. Ono dan Kunkun saling tatap dan kompak berteriak.
"Oh no". Mereka juga menggeleng bersamaan. Mereka berfikir hal yang sama. Dan mereka berharap itu tidak pernah terjadi. Mereka tak ingin kedua bosnya berseteru hanya karena wanita.
Fathan hanya terdiam saat Thian sedang sibuk memih hadiah untuk putri Serkan. Mereka memilih membelikan perhiasan untuk hadiah. Sepanjang Thian memilih dan meminta pendapat Fathan, Fathan hanya berdehem atau menjawab singkat. Thian menyadari perubahan mood kembarannya itu. Thian mengajak Fathan untuk duduk disofa yang telah disediakan toko tersebut.
"Loe badmood bang. Kenapa". Tanya Thian pelan. Melihat wajah datar Fathan sudah cukup membuat Thian tahu sang Abang sedang tidak baik-baik saja.
"Gue cuma capek". Fathan lupa jika Thian bisa merasakan apa yang dia rasakan. Thian hanya tersenyum disudut bibirnya mengetahui sang Abang mencoba berbohong.
"Kalau mau bohong jangan sama gue bang. Ya udah loe duduk aja disini. Biar gue yang milih hadiah buat Zee". Thian meninggalkan Fathan sendiri. Dia melanjutkan memilih hadia untuk Zee putri Serkan
Fathan mencoba mengirim pesan kepada Melody. Fathan hanya ingin memastikan jika Melody bisa dia percaya.
Fathan sangat tidak sabar menunggu balasan pesan dari Melody. Matanya terfokus pada layar ponsel miliknya. Cukup lama Melody membalas pesan Fathan.
"Lagi jalan-jalan kak. Ada apa kak?".
Membaca balasan pesan dari Melody membuat Fathan sedikit luluh. Jawaban Melody pun sesuai. Fathan kembali mengirim pesan untuk mengetahui kejujuran dari Melody.
"Tidak bekerja ?. Jalan kemana?".
Thian sudah selesai memilih hadiah. Dia sedang menunggu hadiah mereka dikemas. Thian duduk diseberang sofa Thian. Thian sedang memainkan game diponselnya.
"Libur kak. Mel sedang di Mall. Kakak lagi apa?".
Senyum Fathan kembali. Bagi Fathan kejujuran adalah landasan utama. Jawaban Melody sesuai dengan apa yang diharapkan Fathan. Fathan kembali berbalas pesan dengan Melody. Thian melirik sang Abang. Kembali senyuman tipis disudut bibir Thian dia tampakkan untuk mengolok sang Abang. Fathan menyadari olokan Thian. Fathan berdiri dan mengajak Thian pulang.
__ADS_1
"Pulang". Ucap Fathan singkat. Thian menyimpan pinsel yang dan menjawab Fathan dengan olokan.
"Sepertinya ada sesuatu yang membuat moodmu kembali dengan cepat. Hebat sekali orang itu". Ucapan Thian hanya ditanggapi dengan senyuman tipis Fathan. Thian berjalan mendahului Fathan. Mereka kembali kearah etalase toko.
Namun kembali Fathan dikejutkan dengan kedatangan seorang pria yang berdiri disampingnya. Fathan masih ingat jika pria itu adalah pria yang sama yang dia lihat bersama Melody.
"Sore kak. Bisa saya bantu". Sapa seorang pelayan kepada pria tersebut. Pria itu menatap seisi etalase yang penuh dengan perhiasan.
"Mbak. Ada cincin pertunangan yang model terbaru". Tanya pria itu kepada sang pramuniaga.
"Oh ada kak. Sebentar saya ambilkan kak". Pria itu mengangguk menjawab pertanyaan pramuniaga tadi. Pria itu beralih ke etalase yang memajang deretan kalung dengan inisial huruf.
Fathan kembali kesal mendengar perkataan pria itu mengenai cincin pertunangan. Entah mengapa dia sangat tidak suka. Apalagi sang pria juga membeli kalung dengan inisial huruf M. Karena proses pengemasan hadiah Thian masih mengantri. Fathan sempat melihat cincin yang dipesan pria itu.
"Saya ambil ini mbak. Bisa diukir inisial nama tidak mbak". Pria kembali bertanya kepada pramuniaga.
"Bisa kak. Mau inisial apa kak. Tapi tidak bisa langsung jadi. Gimana kak" Pramuniaga kembali menjelaskan. Belum sempat pria itu menjawab, Melody datang menghampiri.
"Sudah dapat". Suara Melody membuat Fathan terkejut. Fathan sempat menoleh sebentar. Pria itu langsung merangkul pundak Melody.
"Sudah. Tapi ukir inisialnya gak bisa langsung jadi". Pria itu menjelaskan kepada Melody. Melody juga membalas senyuman pria tersebut. Semua terlihat jelas dihadapan Fathan.
"Gapapa. Lagian acaranya masih Minggu depan kan". Melody memberikan jawaban yang kembali menarik perhatian Fathan. Fathan diam tak bisa berbuat apapun. Melody juga tak mengetahui keberadaan Fathan karena penyamarannya.
"Ya sudah mbak gapapa. Tolong ukir inisial A dan M". Pria itu dan Melody saling tatap dan tersenyum.
"Pesanan atas nama siapa kak". Pramuniaga kembali bertanya kepada pria disamping Melody.
"Ananda mbak". Pria itu tersenyum dan menyerahkan credit card kepada pramuniaga untuk proses pembayaran. Fathan bahkan melihat pria itu memakaikan kalung yang dibelinya tadi kepada Melody.
Fathan berjalan dengan hari yang tak menentu. Thian mengejar sang kakak. Thian tak mengetahui ada apa lagi dengan kembarannya itu. Karena letak pengemasan hadiah Thian berbeda dengan posisi berdiri Fathan dan Melody, membuat Thian tidak mengetahui keberadaan Melody ditoko tersebut.
Sedangkan duo bodyguard ghaib mereka hanya bisa diam melihat kesedihan sang majikan. Mereka paham apa yang sedang dirasakan Fathan.
__ADS_1
"Belum juga maju. Sudah harus mundur". Perkataan Ono membuat Kunkun semakin sedih.