Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
Keusilan Geng Malik


__ADS_3

Johan menatap sendu kearah pelaminan. Dia sudah tak bisa lagi berbuat apapun. Bahkan wajahnya hanya tersenyum kaku saat melihat Zee menyambut para tamu dengan bahagia. Johan datang bersama Stella. Sebelum dia menghadiri acara pernikahan Zee, papa Johan sudah memberitahu jika perusahaan mereka sekarang menjadi milik Zee.


Bahagia bisa bertemu dengan Zee setiap saat. Tapi dia juga sedih karena sudah tidak bisa lagi mengharapkan Zee. Acara pernikahan Zee dan Thian sangat mewah. Apalagi Thian sengaja mengundang wartawan untuk mengumumkan hal penting.


Setelah acara pernikahan, Thian dan Zee beserta Almeer dan juga keluarga Zee menemui para pemburu warta. Fathan pun ikut serta. Mereka sudah yakin akan pensiun dari dunia entertainment. Acara berlangsung dengan baik tanpa ada kendala apapun.


Sosmed milik si kembar yang dikelola oleh perusahaan mendapatkan serbuan fans. Beberapa kecewa karena keputusan si kembar yang memilih pensiun dini. Tapi ada juga yang mendukung. Apalagi itu demi kebaikan mereka. Hanya sekedar fans yang menganggumi bukan untuk mengatur kehidupan mereka. Itulah pendapat para fans si kembar.


Dan si kembar akan melakukan jumpa fans terakhir bersamaan acara syukuran kehamilan Melody serta pernikahan Thian. Dari pihak manajemen si kembar, Almeer sudah menyiapkan sistematis untuk para fans yang beruntung untuk bertemu langsung dengan si kembar dan makan malam bersama.


Usai acara, Thian menginap dihotel. Namun bukan Almeer jika tidak jahil. Almeer mengajak Dean bersaudara serta beberapa saudara dan kawan Thian untuk mengerjai Thian.


"Mar. Target sudah ditempatkan". Almeer bertanya kepada Ammar yang bertugas memantau Thian.


"Beres bang. Lagi jalan menuju lokasi". Ammar terus memperhatikan Thian dari tempat persembunyiannya.


"Oke. Semua bersiap untuk menjalankan rencana kita". Semua serentak menyetujui perintah Almeer.


Thian sudah masuk kedalam kamar yang memang khusus dipersiapkan untuk dirinya dan Zee. Thian duduk disofa kamar mengistirahatkan tubuhnya. Tak lama terdengar suara ketukan pintu. Thian segera bangkit untuk membuka pintu kamarnya.


"Kenapa bang". Tampak Ashraf sudah berdiri dihadapan Thian dengan wajah penuh peluh.


"Yan. Ayo tolong gue bentar". Tanpa menunggu jawaban Thian, Ashraf segera menarik tangan Thian. Bahkan Thian lupa berpamitan pada Zee yang sedang mandi.

__ADS_1


"Eh. Kita mau kemana bang". Ashraf tidakenhawa Thian dan terus menarik lengan Thian.


Ashraf membawa Thian ke kamar lain yang berbeda lantai dengan kamar yang ditempati Thian dan Zee. Thian masih bingung dengan maksud Ashraf membawanya ke kamar itu.


"Yan. Tolong usir tuh cicak dari kamar gue". Ucapan Ashraf membuat Thian bingung. Dalam benak Thian, sejak kapan Ashraf takut cicak. Dan baru kali ini ada cicak dikamar hotel miliknya.


"Dimana bang. Masa ada cicak dikamar VIP" . Thian memang belum percaya dengan ucapan Ashraf.


"Itu yan. Gue gak bohong". Ashraf menarik lengan Thian menuju tempat dimana cicak yang dimaksud Ashraf.


Thian memperhatikan sebentar cicak yang dimaksud oleh Ashraf. Karena barisan cicak itu sangat banyak. Dia berfikir sejak kapan ada barisan cicak didalam kamar hotel miliknya.


"Kok bisa. Darimana datangnya rombongan binatang ini. Hii". Thian bergidik ngeri sendiri. Dia tidak takut atau jijik jika itu satu atau dua. Ini hampir puluhan jumlahnya.


"Loe beresin deh. Gue mau tidur bentar lagi. Dan loe tau kan gue gak suka pake room service". Tekan Ashraf kepada Thian. Thian hanya menghela nafas saja. Ashraf memang tidak mau yang menjadi tempat istirahatnya dijamah orang selain yang dia kenal.


Thian melepaskan jas yang digunakan tadi. Dia menggulung lengan bajunya. Dan melepaskan dasi kupu-kupu yang berada dilehernya. Dia menghubungi room service untuk meminta tangga dan peralatan lainnya. karena memang letak cicak itu tinggi.


Setelah semua perlengkapan Thian dapat, Thian mulai bekerja. Ashraf menahan tawa dan keluar dari kamar menuju ruang tamu yang berada dikamar tersebut. Thian sudah siap dengan peralatannya. Dan segera beraksi. Namun Thian mulai menemukan keanehan.


"Ini cicak kena struk apa ya. Kok gue deketin gak ada gerak". Thian memperhatikan secara seksama cicak-cicak itu. Thian mencoba menyentuh salah satu cicak itu dengan jarinya.


"Sial. Gue dikibulin. Gimana mau gerak. Di lem gini". Thian tidak melanjutkan pekerjaannya. Dia segera turun dari tangga dan hendak menghampiri Ashraf. Dan ternyata pintu kamar itu dikunci Ashraf dari luar.

__ADS_1


"Bang. Buka pintunya. Ck. Bercandanya gak asyik ih Abang". Ashraf tertawa kencang hingga terdengar dari dalam kamar. Thian juga mendengar suara tawa lain.


"Udah tidur situ aja Yan. Sama keluarga cicak. Hahaha". Thian hafal dengan suara itu. Itu adalah suara Almeer.


"Ayolah bang. Gak asyik ah. Kalian merried aja gue gak usil loh. Kasian Zee nyariin bang". Thian terus berusaha meminta agar dibukakan pintu. Namun hanya tawa yang terdengar.


"Gue udah kasih tau adek gue. Kalau loe lagi berunding sama keluarga cicak dikamar Ashraf". Suara tawa Sagara begitu menggelegar. Thian hanya berdecak saja mendengar itu


"Yan. Malam ini loe temani kita yang masih jomblo. Pokonya malam ini gak ada hokya hokye". Terdengar suara Ammar darinluar kamar.


"Ck. Jomblo. Yakin semua jomblo. Mau gue laporin bininya". Ancam Thian kepada saudaranya yang sudah berkeluarga.


"Bagi yang jomblolah. Yang sudah berpawang akan malam pertama juga malam ini. Jadi para jomblo silahkan menikmati waktu kalian". Almeer dan Fathan segera pergi dari kamar tersebut. Dan hanya para pria jomblo yang sekarang menyandra Thian.


"Ayolah, lepasin gue. Gue traktir deh kalian semua". Thian mencoba merayu mereka. Namun Thian lupa jika yang dia rayu itu bukanlah para jomblo kere.


"Kantong kita gak kempes Yan. Santai saja. Loe tidur aja kalau ngantuk Yan. Kalau haus sama lapar tinggal minum dan makan. Gue sudah sediakan semua dikulkas dekat almari". Rencana yang sangat matang. Ashraf bahkan memindahkan kulkas kecil dari luar kamar kedalam kamar.


"Oh ternyata kalian sudah merencanakan ini semua ya. Awas bakalan gue bales nanti". Gumam Thian pelan. Thian tidak akan meminta lagi untuk bisa keluar karena itu akan sia-sia saja. Dia memilih tidur karena lelah.


Zee dikamar juga sama kesalnya. Karena tadi mendapat kabar dari Ammar dimana Thian berada sekarang. Zee pun sempat memarahi abangnya itu. Zee juga meminta bantuan papinya, tapi papinya tidak bisa dihubungi.


"Awas aja kalian. Nanti Zee bales lebih menyakitkan". Zee yang kesal karena malam pertamanya diganggu juga memilih untuk istirahat. Badannya juga lelah. Yang terpenting bagi dia, dia tahu dimana suaminya berada. Itu sudah cukup membuatnya tidur nyenyak.

__ADS_1


__ADS_2