Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
Selangkah lagi


__ADS_3

"Duo cebong ke kantor kalian hari ini. Jangan telat ".


Pagi sekali Fathan dan Thian mendapat pesan dari Almeer dengan isi yang sama. Hari ini akan ada meeting dikantor Almeer. Dan juga pengesahan kontrak untuk pekerjaan baru si kembar. Namun hanya Fathan yang bisa hadir. Karena Thian masih ada diluar kota.


Fathan baru selesai joging dan sedang bersantai dihalaman belakang rumah. Sedangkan Thian masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Thian terpaksa tidur dilokasi. Selama dua Minggu Thian tidak pulang kerumah karena pekerjaannya.


"Bang. Sarapan dulu". Panggil Eneng mengajak Fathan sarapan bersama. Airil sudah menunggu di meja makan bersama dengan Emak.


"Kamu gak ada kegiatan hari ini bang". Airil tersenyum senang bisa sarapan bersama dengan salah satu putranya. Hal seperti itu memang sangat langka ia peroleh. Apalagi si kembar lebih sering keluar kota.


"Hari ini free pah. Tapi nanti siang ada meeting dikantor". Jelas Fathan kepada Airil.


"Adek kapan pulang bang". Airil kembali bertanya mengenai Thian.


"Belum pah. Baru selesai dua hari lagi kayaknya kerjaan adek". Fathan kembali menjelaskan kepada Airil. Jika sesuai rencana jadwal Thian akan selesai dua tiga hari lagi.


"Jangan lupa bang persiapan pertunangan kalian ya. Jaga kesehatan kalian juga. Setelah acara kita langsung ke Jogja tempat nenek". Airil mengingatkan Fathan rencana keluarga mereka untuk ke Jogja. Kedua orangtua Airil tidak bisa hadir diacara pertunangan si kembar karena ayah Airil sedang sakit. Hanya Arjuna dan istrinya yang akan datang.


"Iya pah. Abang sudah pesan tiket buat kita. Melody mau ikut pah". Fathan sudah mempersiapkan semua untuk keluarganya. Rencananya Fathan akan membawa Melody untuk pertama kalinya diperkenalkan kepada keluarga dari pihak papanya.


"Zee bisa ikut tidak bang. Thian sudah bilang belum ke Zee". Airil menanyakan perihal Zee. Karena terakhir kali orangtua Airil bertemu Zee, saat Zee masih duduk disekolah menengah pertama.


"Nanti Abang tanya pah. Zee bisa ikut gak". Airil mengangguk. Menyetujui perkataan Fathan. Airil segera berangkat ke klinik yang kini sudah menjadi rumah sakit miliknya sendiri. Dan Fathan hari ini akan menemani Melody di kafe. Tapi sebelumnya, Fathan akan mengajak Omanya berjalan-jalan disekitar kompleks.

__ADS_1


"Oma, tunggu Fathan mandi dulu. Setelah itu kita kencan". Fathan menggoda Omanya sebelum masuk kekamar untuk mandi. Oma memukul lengan Fathan sambil tertawa.


Fathan sudah siap dengan pakaian kasualnya. Dia menghampiri emak dan menuntun emak untuk duduk diatas kursi roda. Emak memang masih bisa berjalan normal, namun tidak bisa lama.


"Oma ayo kita kencan. Hari ini apapun yang Oma minta, Fathan belikan. Asalkan tidak berlebihan". Fathan mendorong kursi roda emak perlahan keluar dari rumah.


Semenjak terkenal, si kembar disediakan bodyguard khusus selain bodyguard tak kasat matanya. Demi menjaga keamanan mereka saat beraktivitas diluar. Para tetangga yang melihat Fathan berjalan didepan rumah mereka, banyak yang menyapa bahkan meminta foto bersama. Ada juga yang meminta tanda tangan Fathan.


Ditaman kompleks perumahan Fathan, banyak penjaja makanan. Didekat taman itu juga terdapat taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Emak meminta Fathan untuk duduk ditaman itu. Karena emak memang suka jajan disana. Kehadiran Fathan menyita perhatian para ibu-ibu yang sedang menunggu anak-anak mereka sekolah.


"Oma mau makan apa". Fathan menanyakan apa yang diinginkan oleh Omanya. Emak mulai melihat satu persatu pedagang didepannya.


"Emak mau makan yang segar aja Than. Kayaknya es campur enak". Fathan meminta salah bodyguardnya untuk membeli es campur untuk Omanya tak lupa dia meminta kedua bodyguardnya juga memesan untuk mereka sendiri. Fathan tidak pernah membedakan siapapun.


Fathan segera berangkat kekantor setelah memastikan Omanya tidur siang. Fathan juga menyempatkan menyuapi sang Oma. Tak lupa memberikan obat untuk Omanya.


Tigapuluh menit kemudian Fathan sudah sampai dikantor. Fathan segera menuju ruangan Almeer. Tiba diruangan Almeer, mereka masih menunggu beberapa saat karena dari pihak yang akan menggunakan jasa si kembar belum datang. Kali ini Fathan yang harus merasakan kram perut karena keluhan Almeer.


"Muka kenapa bang. Kusut amat". Fathan duduk didepan Almeer yang benar-benar dalam keadaan sedang kesal.


"Than besok kalau pas akad gue gak datang, loe cariin pengganti gue ya". Fathan mengerutkan keningnya mendengar perkataan Almeer yang mulai tak benar.


"Jangan macam-macam deh bang. Loe mau lihat ayah sama Buna malu karena ulah loe bang". Fathan mulai kesal dengan perkataan Almeer yang sangat menjengkelkan.

__ADS_1


"Gue gak kuat Than. Ini belum resmi. Natar resmi nikah gue kayak apa nasibnya Than. Punya calon bini entah dari zaman apa asalnya. Gue heran sama sifat dia". Almeer kembali mengeluhkan Shabila kepada Fathan.


"Kenapa lagi bang. Bikin ulah apalagi sih. Kayaknya bikin loe trauma gitu". Fathan penasaran dengan apa yang dialami eh Almeer kali ini. Jika menyangkut Shabila, membaut semua semangat karena bisa melihat Almeer teraniaya.


"Tadi gue emang gak nganter dia ke kantor. Gue alesan ada meeting pagi. Eh gak taunya dia tadi kesini Than. Dia bawa beberapa sampel undangan pernikahan. Sebenarnya gue mah pasrah aja dia maunya gimana. Tapi tetap dia kesini minta pendapat. Dan yang bikin gue kesal, dia minta panggilan spesial kayak pasangan lain". Almeer berhenti sesaat diam memainkan pena ditangannya.


"Panggilan apa yang diminta sama kak Shabila bang". Fathan mulai berfikir pasti bukan hal yang normal. Mengingat Shabila yang bersifat random.


"Kakanda dan adinda. Coba loe pikir. Emang jaman Majapahit panggil gituan. Mana disini tadi ada Satria. Semakin senang dia hina gue". Fathan tertawa mendengar perkataan Almeer.


"Gapapa lah bang. Itu panggilan gak pasaran. Anti-mainstream juga. Hahaha". Almeer melemparkan pena yang dipegang kearah Fathan. Fathan menghindari lemparan itu dan terus tertawa.


"Kampret emang loe gak ada beda sama Satria. Padahal gue udah nolak. Gue bilang gapapa dia panggil gue om, asal jangan itu. Dia nolak. Dia maunya itu. Loe coba bayangkan kalau si duo songong Dean sama Meera dengar Shabila manggil gitu ke gue. Taruh dimana muka gue Patan". Almeer mengusap wajahnya kasar jika membayangkan saudara kembarnya dan dia adik kembarnya mengoloknya.


"Gue yakin bang. Kalau loe gak pasang muka tebal, loe bakal gak ada muka adepin mereka. Belum lagi Bang Sagara dan Bang Shadam". Hanya mendengar nama-nama itu Almeer sudah gusar. Satria masuk keruangan Almeer ingin memberitahukan jika tamu yang ditunggunya sudah sampai. Namun kali ini Satria menggunakan cara lain untuk berbicara dengan Almeer.


"Mohon ijin untuk menghadap kakanda pangeran. Tamu yang kakanda tunggu sudah tiba. Sudi kiranya kakanda untuk segera menemui. Adipati akan menemani kakanda bertemu dengan tamu kakanda". Satria membungkukkan badannya dan kedua tangan saling menangkup didepan dada Satria.


Fathan tertawa melihat ulah Satria. Almeer kesal dengan apa yang Satria lakukan. Almeer melepas sepatunya dan melemparkan kearah Satria. Satria menghindar dan menjulurkan lidahnya untuk mengejek Almeer.


"Bisa diam gak loe Sat. Nyebelin banget". Kekesalan Almeer adalah kebahagian Satria dan Fathan. Almeer berjalan mengambil satu sepatu yang dilemparkan tadi.


"Than, coba loe bayangkan. Pas mereka malam pertama. Shabila teriaknya paling beda dari yang lain, oh kakanda oh kakanda. Oh kakanda". Muka Almeer sudah benar-benar kesal dengan ulah asisten sekaligus sahabatnya itu. Sedangkan Fathan dan Satria sudah tertawa terbahak.

__ADS_1


__ADS_2