
"SALAH SATU DARI SI KEMBAR PRASAJA TERTANGKAP KAMERA SEDANG MAKAN MALAM BERSAMA SEORANG WANITA".
"THIAN ATAUKAH FATHAN YANG TERLIHAT BERSAMA DENGAN SEORANG WANITA DISEBUAH KAFE".
"DOKTER AIRIL PRASAJA AKAN MEMILIKI MENANTU".
Pagi ini dunia infotainment sedang heboh dengan kedekatan dari salah satu aktor si kembar Prasaja. Pagi hari yang indah diawali dengan berita terciduknya salah satu putra Eneng. Media masih belum bisa membedakan sikembar jika mereka hanya melihat dari kejauhan.
"Acie yang keciduk. Tumben bang sampai keciduk". Thian menggoda sang kakak. Karena berita itu benar adanya. Saat itu Fathan sedang menghabiskan waktu bersama Melody.
"Sepertinya anak papa sudah siap untuk dipublikasikan". Airil hanya sekedar memancing saja. Airil tidak memaksakan apapun. Dan dia paham benar resiko pekerjaan kedua putranya.
"Jangan dulu pah. Abang belum sempat minta persetujuan Melody masalah ini pah. Apa Melody Mai dipublikasi atau tetap diam-diam". Airil mengangguk paham. Apalagi Melody belum lama tahu mengenai profesi Fathan.
"Iya kamu benar bang. Tapi saran papa. Nanti seiring berjalannya waktu, Melody juga harus diperkenalkan kepublik. Dan selama proses itu, Abang harus bisa membuat Melody nyaman dengan profesi Abang". Nasehat Airil juga didengar Thian. Walaupun layar belakang Zee dan Melody berbeda, namun Thian juga tidak ingin mengganggu privasi Zee.
"Iya pah. Abang akan mencoba berbicara dulu dengan Melody agar sama-sama nyaman". Airil tersenyum mendengar jawaban Fathan. Karena dia percaya jika Fathan bisa mengatasi semuanya.
"Hmm. Pah, bang. Thian mau ngomong bentar". Hari ini Thian sudah memantapkan hatinya.
"Ada apa dek. Sepertinya serius". Airil meletakkan buku yang sedang dibacanya dan fokus mendengar Thian berbicara.
"Thian sudah memutuskan akan melamar Zee. Apa papa dan Abang merestui Thian melamar Zee". Perkataan Thian sejenak membuat Airil terkejut. Antara senang dan takut.
__ADS_1
"Jika itu menurut adek yang terbaik, papa merestui nak. Nanti papa akan berbicara dengan keluarga Zee". Thian berusaha menerima keputusan sang putra. Fathan pun mengangguk setuju dengan perkataan sang papa.
"Terimakasih pah. Tapi Thian ingin Abang dulu yang menikah dengan kak Melody. Zee juga harus melanjutkan studinya dan juga agar Thian lebih bisa memantaskan diri untuk menjadi pendamping Zee". Fathan tak menyangka jika adeknya bisa mengambil keperawanan bijaksana.
"Apapun keputusan adek, papa harap itu benar-benar sesuai dengan hati nurani adek. Dan jangan karena keterpaksaan". Airil kembali memberi nasehat kepada Thian. Karena nantinya beban Thian akan bertambah saat menyandang nama Malik.
"Kapan adek akan melamar Zee. Bukannya sampe sekarang loe belum ungkapin perasaan loe ke Zee dek". Fathan masih ingat jika Thian sempat mengatakan jika dia belum mengungkapkan perasaannya kepada Zee.
"Niatnya hari ini bang. Gue mau ungkapin perasaan gue ke Zee. Sekalian gue lamar secara pribadi. Gimana pah boleh gak". Airil tertawa mendengar perkataan anak bungsunya itu. Bahkan untuk urusan asmara mereka masih meminta pendapat orangtuanya.
"Boleh dek. Nanti kalau pasti diterima Zee, baru papa akan ngomong ke keluarga Malik. Kalau misal ditolak, ya sudah gak usah ngomong lagi ke keluarga papi Serkan". Fathan pun ikut tertawa mendengar penuturan sang papa. Thian hanya bisa cemberut saja.
Hari ini Fathan akan ada pekerjaan dimalam hari, sedangkan Thian ada pemotretan sore nanti. Zee sudah menyelesaikan ujian akhirnya satu minggu yang lalu. Dan Thian bertemu Zee terakhir kali juga satu Minggu yang lalu setelah menjemput Zee pulang sekolah. Thian keluar kota karena pekerjaannya. Dan baru kembali pagi tadi.
Tanpa memberi kabar kepada Zee, Thian datang kerumah Zee. Thian ingin memberi kejutan kepada Zee. Tak lupa beberapa buah tangan Thian bawa untuk Zee dan keluarganya.
"Assalamualaikum. Pah, mah". Almeer menghampiri Airil dan Eneng yang sedang bersantai diruang keluarga.
"Tumben bang mampir". Tanya Airil sesaat setelah Almeer duduk disofa berhadapan dengan dirinya.
"Duo onar kemana pah. Kok sepi rumah". Almeer melihat ke setiap penjuru ruangan itu. Namun tak ada suara si kembar disana.
"Fathan ada ditaman belakang. Kalau Thian lagi ketempat Zee. Ada perlu sama mereka bang". Airil menjelaskan dimana kedua putranya.
__ADS_1
"Berita tadi pagi pah. Kenapa gak ada yang konfirmasi ke Al pah kalau mereka sudah punya kekasih. Almeer kaget tiba-tiba ada berita heboh. Dan tumben gak ada yang buru-buru langsung menyangkal berita heboh tadi pagi". Airil dan Eneng tertawa mendengar keluhan Almeer kepada kedua adiknya.
"Kamu coba tanya sendiri sama adik kamu. Papa gak berhak buat jawab pertanyaan kamu bang". Airil ingin Almeer mendengar sendiri dari Fathan. Fathan yang sudah mulai bosan, segera kembali masuk kedalam rumah. Dia melihat Almeer sedang duduk menatapnya tajam. Fathan tersenyum tipis karena paham dengan maksud Almeer.
"Penasaran bang. Sampai bela-belain datang kerumah". Sapa Fathan sambil melangkah kearah Almeer dan kedua orangtuanya.
"Siapa dia. Kenapa gak pernah cerita. Tau-tau heboh aja". Cecar Almeer kepada Fathan. Airil dan Eneng tertawa melihat cara Almeer bertanya kepada Fathan.
"Namanya Melody. Dia anak dari sahabat papa. Gue kenal gak sengaja. Dan gue jalan sama dia juga belum lama kok. Masih ada pertanyaan lagi". Fathan menjelaskan secara singkat apa yang ingin Almeer tanyakan. Dan secara tidak langsung Fathan mengakui jika yang sedang menjadi berita itu memang dia.
"Sebenarnya dulu papa sempat mau jodohin salah satu dari mereka dengan anak sahabat papa ini bang. Tapi mereka nolak karena memang mereka belum pernah bertemu. Eh gak taunya malah Fathan dan Melody kenal dan dekat sendiri bang. Mungkin jodohnya bang". Airil menambahkan penjelasan kepada Almeer. Raut wajah Almeer berubah menjadi cemberut. Yang awalnya dia tampak tegas, sekarang tampak imut.
"Bisa gak sih kalian kalau mau go publik itu ngasih kode dulu ke gue". Keluh Almeer kepada Fathan. Airil dan Eneng kembali tertawa dengan perkataan Almeer.
"Kenapa emangnya bang. Lagian juga gak merugikan perusahaan kan". Airil bertanya apa yang menjadikan Almeer gelisah.
"Perusahaan gak rugi. Tapi Almeer yang dirugikan papa. Ayah udah ngomel pagi-pagi. Makanya Al kabur kesini sekalian klarifikasi sama biang kerok satu nih". Penjelasan Almeer membuat Fathan dan kedua orangtuanya terbahak-bahak. Mereka teringat jika Almeer sudah melanggar kesepakatan dengan Arash untuk kesekian kalinya. Bahkan Arash pernah mengatur perjodohan Almeer dan berakhir dengan kegagalan. Lebih tepatnya digagalkan Almeer.
"Bang. Gue punya berita lagi buat loe. Gue kasih tau loe duluan sebelum ada berita baru. Loe harus siap-siap". Fathan mulai menjahili Almeer dan memanfaatkan kesempatan.
"Apaan. Jangan aneh-aneh". Almeer menanggapi perkataan Fathan dengan lemas.
"Thian mau ngelamar Zee". Almeer yang tadinya duduk lemas kembali tegak karena terkejut.
__ADS_1
"Wah kalian benar-benar ya. Gak bisa ini. Pokoknya gak boleh. Kalian emang senang ya bikin gue menderita". Almeer mulai dengan drama hidupnya.
"Kita lihat apa yang akan terjadi Ferguso". Tak henti Fathan menggoda Almeer. Bagi Fathan sikap Almeer adalah sesuatu yang membuat dirinya bahagia.