
"Assalamualaikum. Kakek, nenek". Si kembar mengucap salam bersamaan dan langsung memeluk kakek dan neneknya setiba dirumah. Tampak kakek Prasaja terbaring lemah diatas ranjang. Beliau hanya menoleh dan tersenyum melihat kedua cucu kesayangannya.
"Waalaikumsalam. Kalian sudah sampai". Nenek Prasaja menyambut bahagia kedua cucunya dan juga anak menantunya. Tak lupa si kembar memperkenalkan kedua pasangan masing-masing.
"Ayah, maaf Airil dan Eneng baru datang sekarang ayah". Airil memeluk tubuh lemah sang ayah. Diikuti Eneng. Tanpa terasa air mata mereka menetes.
"Tak apa nak. Kalian sehat kan. Ayah paham seperti apa kesibukan kalian. Ini cucu menantu ayah ya". Dengan suara lemah kakek Prasaja berusaha menyambut Melody dan Zee. Mereka bergantian mencium tangan kakek Prasaja.
Usai menyapa kakek dan neneknya, si kembar bersama pasangan masing-masing dan Eneng segera masuk ke kamar yang sudah disiapkan oleh istri Arjuna. Sedangkan Airil memilih menemani sang ayah.
Mereka istirahat sebentar karena terlalu lelah. Namun tidak dengan Eneng. Eneng sibuk membantu istri Arjuna. Karena Tania, istri Juna sedang mengandung. Eneng meminta Tania untuk mengerjakan yang ringan saja agar tidak terlalu lelah.
"Kamu duduk saja nak. Biar mama yang mengerjakan. Kasian cucu mama nanti kalau kamu terlalu capek". Tania tersenyum mendengar perkataan Eneng. Sejak pertama mereka bertemu Arjuna memang mengenalkan Eneng dan Airil sebagai orantuanya.
"Gapapa mah. Ini gak bikin capek kok. Mama gak istirahat dulu. Baru datang langsung ke dapur". Tania khawatir jika mama mertuanya akan kelelahan karena baru saja tiba langsung membantu di dapur.
"Tidak nak. Berapa bulan lagi cucu mama akan lahir kak". Eneng mengusap lembut perut Tania yang nampak besar.
"Tiga bulan lagi mah. Mama bisa temani Tania nanti saat lahiran". Tania adalah anak yatim piatau selama ini dia diasuh oleh pamannya. Eneng selalu memberi perhatian kepada Tania tanpa membedakan Tania dengan putra kandungnya. Dan Tania sangat bahagia dengan kehangatan dari Eneng dan Airil.
"Pasti sayang. Nanti mama akan menemani kakak lahiran sampai kakak bisa mandiri merawat dedek. Atau kakak mau lahiran dirumah mama". Eneng menawarkan Tania untuk melahirkan di ibukota jika dia ingin.
"Tidak mah. Nanti tidak ada yang menemani kakek dan Mas Juna". Eneng tersenyum mendengar penjelasan dari Tania. Arjuna tersenyum bahagia melihat Tania yang begitu dekat dengan Eneng. Arjuna berhenti saat lewat didepan dapur setelah mendengar percakapan kedua wanita tercintanya.
Eneng sudah menyiapkan makanan untuk makan siang. Termasuk membuatkan menu khusus untuk ayah mertuanya. Melody orang pertama yang keluar kamar dan membantu Eneng menyiapkan makan siang.
__ADS_1
Melody juga yang menyuapi emak. Walaupun emak masih bisa makan sendiri, tapi Melody tetap menyuapi emak. Zee bangun setelah Tania membangunkannya. Mereka makan siang bersama setelah selesai melaksanakan sholat dhuhur berjamaah dimasjid bagi yang pria.
"Mah. Papa dimana kok gak ikut makan sama kita". Thian mencari keberadaan sang papa karena tidak ikut makan bersama setelah pulang dari masjid.
"Ada dikamar kakek dek. Ini mama mau bawain makan siang buat papa". Eneng menyiapkan piring yang sudah diisi menu makan siang untuk Airil.
Eneng segera menemui sang suami dan membawakan makan siang. Ibu mertua Eneng sedang makan bersama-sama cucunya. Eneng paham apa yang dirasakan sang suami. Dia terus menemani ayahnya dan tak mau digantikan.
"Pah, makan dulu yuk". Ucap Eneng perlahan karena tak ingin membangunkan ayah mertuanya yang sudah tertidur setelah makan dan meminum obatnya.
"Iya mah". Airil mengambil piring yang dibawa oleh Eneng. Perlahan dia mulai menyuapkan makanan kedalaman mulutnya.
"Pah. Sebenarnya apa penyakit ayah". Arjuna tidak pernah mengatakan tentang penyakit apa yang diidap oleh ayah Prasaja. Karena tak ingin membuat sang nenek sedih.
"Mungkin karena faktor usia ayah juga, kondisi ayah nampak lemah". Airil kembali melanjutkan perkataannya. Eneng mengusap lengan sang suami. Dia hanya bisa memberi semangat kepada sang suami dari perhatiannya. Airil tak menghabiskan makanannya. Dan Enenglah yang menghabiskan makanan itu. Karena Eneng memang belum makan, namun dia tak ingin Airil khawatir jadi dia berbohong mengatakan sudah makan. Dengan dalih takut mubadzir, Eneng menghabiskan makanan itu.
Eneng meminta Airil untuk tidur walaupun itu hanya sebentar, agar kondisi Airil juga tetap fit saat menjaga ayahnya. Dengan segala bujukkan Eneng, Airil pun mau untuk tidur sebentar. Fathan menggantikan posisi sang papa menjaga kakeknya. Eneng menemani dan memastikan Airil benar-benar istirahat.
Mereka bergantian menjaga kakek Prasaja. Karena beberapa kali sang kakek memuntahkan kembali semua isi perutnya. Airil memantau ayahnya dengan intensif. Karena sang ayah menolak untuk dibawa ke rumah sakit. Beruntung Airil membawa perlengkapannya.
"Pah gimana kakek". Kini giliran Arjuna menemani Airil menjaga kakeknya. Airil menjaga sang ayah sambil membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Karena pertolonganNya yang bisa Airil harapkan.
"Doakan kakek bisa bertahan bang. Apalagi kakek tidak mau lagi dirawat. Papa hanya bisa merawat dengan peralatan seadanya". Airil sempat meminta Arjuna membeli infus dan perlengkapan lainnya untuk merawat sang ayah di rumah.
"Pah, sebenarnya papa sudah tahukan kakek sakit apa". Memang komplikasi hanya karangan Airil agar keluarga tidak terlalu sedih. Airil dan Arjuna tahu apa yang sebenarnya sakit kakek Prasaja.
__ADS_1
"Ya, papa tahu bang. Dari kondisinya saat ini, memang sesuai dengan analisa dokter yang memeriksa kakek. Kanker dilambung". Airil menjawab lirih. Dia masih terpukul setelah membaca semua keterangan dari dokter ayah yang menangani sang ayah. Apalagi kondisi sang ayah mulai melemah belum lama.
"Apa masih bisa diselamatkan pah". Arjuna masih memiliki harapan agar sang kakek bisa sembuh.
"Hanya satu persen kemungkinannya bang. Tadi papa sempat menghubungi dokter pribadi yang selalu kakek kunjungi. Kanker itu sudah mulai menjalar. Perawatan medis dirumah sakit saat ini sama halnya kita rawat sendiri dirumah. Dan memang dokter menyarankan untuk dirumah saja". Penjelasan Airil memang tidak gamblang, namun Arjuna paham.
Mereka kembali terdiam saat Thian masuk kedalam kamar sang kakek. Thian ingin menggantikan papanya menjaga sang kakek, namun Airil menolak. Dengan alasan agar Airil bisa memantau kakeknya. Thian pun mengerti. Thian hanya mencium kening sang kakek sebelum meninggalkan kamar kakeknya.
Tengah malam, saat Airil kembali memeriksa kondisi sang ayah, sang ayah terbangun dari tidurnya. Ayah Prasaja tersenyum melihat sang putra menemaninya.
"Ril, kamu pasti sudah tau ayah sakit apa nak. Karena kamu dokter dan tidak bisa dibohongi". Ayah Prasaja terkikik pelan. Airil pun tersenyum melihat sang ayah yang berusaha kuat.
"Kenapa tidak cerita dari awal. Bahkan periksa saja harus bohong ke ibu. Kenapa sih yah". Ayah Prasaja kembali terkikik mendengar sang putra protes. Dia tahu sang anak sangat khawatir padanya.
"Ayah hanya tak ingin membuat ibumu menangis terus menerus nak. Kamu taukan ibumu seperti apa. Ayah ingin, jika ayah pergi nanti ibumu tidak terlalu lama menangis. Ayah gak mau wajah cantik ibumu dipenuhi air mata". Airil berusaha menahan air matanya agar tidak menetes. Begitu cintanya sang ayah kepada ibunya. Bahkan ayahnya tak ingin wanita yang dicintainya menangis terus menerus.
"Ril, jaga keluargamu ya nak. Ingat pesan ayah, jangan ambil keputusan saat kalian sedang bertengkar. Sampaikan maaf ayah kepada cucu-cucu kakek ya nak. Kalau kakek tidak bisa hadir dihari bahagia mereka. Sampaikan juga pada Arjuna dan istrinya, maaf kakek tidak bisa menimang cicit kakek. Sayangi terus istrimu nak. Jangan buat dia menangis. Katakan juga pada ibumu, jangan terus menangis. Ayah tidak suka. Dan ayah titipkan wasiat ayah kepadamu untuk cucu dba cicit ayah. Sampaikan kepada ibumu, jika ayah sangat mencintai ibumu nak". Airil sudah tak bisa menahan air matanya. Arjuna juga sudah terbangun saat sang kakek berbicara dengan Airil. Mereka menangis bersama.
"Ayah jangan seperti itu. Ayah kuat. Ayah harus berjuang. Ayah tega lihat wanita ayah menangis terus". Airil berusaha menguatkan sang ayah. Namun sang ayah hanya bisa tersenyum.
"Jangan berpura-pura tidak tahu kamu. Kamu paham kondisi tubuh ayah yang sudah tidak baik. Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah". Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, ayah Prasaja menutup matanya dengan tersenyum.
Airil dan Arjuna berteriak setelah melihat ayah Prasaja menghembuskan nafas terakhirnya. Fathan dan Thian yang memang masih terjaga diruang tengah, segera menerobos masuk ke kamar kakeknya. Mereka ikut menangis saat mengetahui apa yang terjadi.
Secara perlahan satu persatu keluarga diberitahu dan dibangunkan. Ibu Airil sempat pingsan mendengar berita itu. Melody dan Zee mengabari keluarga mereka diibukota. Dan mereka segera bersiap untuk kerumah orangtua Airil.
__ADS_1