
Meeting berjalan dengan sedikit alot. Semua diluar rencana. Bahkan ini sudah hari kedua dari sejak malam pertama Shadam datang membantu Zee, belum juga ada titik terang. Apa yang sudah dianggarkan harus diulang. Masalah dana mudah bagi Zee dan Shadam untuk mencari, namun sebisa mungkin mereka tidak menggunakan kekuasaan kakek mereka.
Beberapa investor meminta sedikit penambahan bangunan dari desain awal. Menggunakan space yang sebenarnya akan digunakan untuk taman. Mereka meminta mempersempit space taman.
"Untuk anggaran kita bisa merubahnya atau kalau perlu mencari investor tambahan". Usulan demi usulan kembali terdengar. Zee masih diam untuk mencerna.
"Sebenarnya kita memiliki satu investor utama yang sampai saat ini hanya diwakilkan oleh asistennya. Apakah bisa investor itu menambah jumlah investasi lagi. Nanti kita juga akan ikut menambah jumlahnya. Daripada kita harus mencari lagi yang baru dan memakan waktu lebih lama". Zee terkejut mendengar salah satu usulan dari investor lainnya. Pasalnya hanya keluarga Zee yang mengetahui siapa yang mereka maksud.
"Pak Alan. Bisakah anda menghubungi pemilik perusahaan bapak, untuk meminta persetujuan". Alan adalah asisten dari perusahaan yang menjadi investor utama dan sang pimpinan belum pernah datang untuk mengikuti meeting ataupun mengecek lokasi karena kesibukannya.
"Saya akan mencoba". Alan mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada pimpinannya.
"Ck. Sesibuk apa sampai meeting aja gak pernah datang. Sok sibuk banget sih". Johan menggerutu pelan disamping Zee. Zee paham siapa yang dimaksud Johan.
Setelah beberapa saat Alan menjawab jika pimpinannya yang akan menutup semua kekurangan dari proyek ini. Johan melotot terkejut. Bahkan ayahnya yang juga investor diproyek ini saja tidak berani mengambil keputusan seberani itu.
Zee segera merubah semua anggaran dan perencanaan. Shadam diam-diam memperhatikan Johan. Namun Johan tidak menyadari itu.
"Zee mau makan siang bareng gak. Kebetulan saya tau tempat makan enak daerah sini. Mau coba". Shadam masih duduk diam memperhatikan Johan yang masih berusaha mendekati Zee.
"Maaf tapi saya mau pergi sama Abang saya. Saya permisi pak johan". Zee bergegas mendekati Shadam. Mereka berjalan beriringan meninggalkan kantor.
"Ck. Susah banget sih Zee dekatin kamu. Tapi gapapa. Gue suka tantangan. Gue pasti bisa dapatin kamu Nadzeera". Johan bergumam pelan. Johan juga segera pergi mencari makan siang.
Thian sudah berada di Singapura, namun dia masih memiliki pekerjaan ditempat lain, sehingga belum bisa menemui Zee. Hari ini pekerjaan Thian sudah selesai dan segera menyusul Zee tanpa Zee tau. Thian sudah menunggu Zee dilobby hotel. Sebelumnya manager hotel sudah meminta Thian menunggu dikamar milik Shadam, namun Thian menolak. Tanpa seizin Shadam, Thian tidak akan berani.
__ADS_1
Zee segera kembali ke hotel setelah makan siang bersama Shadam dan tanpa sengaja diwaktu bersamaan Johan juga sudah kembali Kel hotel. Thian berjalan mendekati Zee saat Zee dan Shadam hendak masuk kedalam lift. Dengan topi dan masker, Thian memang tidak dikenali.
"Selamat siang cantikku". Suara Thian membuat Zee sekejap menoleh. Menyadari siapa dibelakangnya, Zee langsung memeluk Thian.
"I Miss u. Kenapa lama sekali". Shadam hanya tersenyum melihat reaksi Zee. Berbeda dengan Johan. Dia berdiri sambil mengepalkan tangannya melihat Zee memeluk seseorang yang belum siap ketahui siapa itu.
"Maaf sayang. Lama menunggu ya". Thian melepaskan pelukannya dan beralih memeluknya Shadam. Bahkan Johan semakin kesal karena selama Shadam disini tak sekalipun Shadam mau berbicara dengannya jika diluar pekerjaan. Tetapi dengan pria itu Shadam begitu welcome.
"Kenapa gak langsung ke kamar gue". Thian tertawa mendengar pertanyaan Shadam.
"Gapapa. Pengen nunggu princess aja disini". Thian mencubit hidung Zee dan merangkul pundaknya. Mereka masuk kedalam lift bersama dengan Johan. Zee benar-benar menempel dengan Thian. Johan benar-benar panas melihat itu.
Karena kamar mereka berbeda lantai, Johan keluar dari lift terlebih dulu. Bahkan Johan tak menyapa Shadam dan Zee. Dia berlalu begitu saja. Shadam hanya tersenyum disudut bibirnya melihat sikap Johan.
Didalam kamar, Johan melampiaskan semua kekesalannya dengan membanting beberapa benda miliknya yang tertata rapi diatas meja rias. Begitu marahnya Johan melihat Zee yang begitu mesra kepada pria tadi. Bahkan mereka berbincang seperti tak melihat keberadaan Johan disana.
"Sial. Siapa dia. Apa dia tunangan Zee. Gue harus cari tahu". Saat akan menghubungi seseorang, Johan baru menyadari jika orang suruhannya masih belum memberi informasi apapun. Bahkan ini sudah satu Minggu lebih.
"Kenapa gue belum dapat informasi apapun. Dan kemana dia. Gak biasanya dia seperti ini. Awas aja dia berani main-main dengan gue". Johan tetap menghubungi orang suruhannya itu. Setelah beberapa menit baru ada jawaban dari orang itu.
"*Loe kemana aja. Dan mana hasilnya. Kenapa sampai sekarang gue belum dapat hasilnya. Awas aja kalau loe kabur"
"Maaf bos. Saya kembalikan saja uangnya bos. Saya gak berani terlalu jauh bos".
"Gak bisa. Loe harus terus kerjakan apa yang gue suruh. Gue tunggu kabar loe tiga hari*"
__ADS_1
Tanpa mendengar jawaban dari lawan bicaranya, Johan sudah menutup panggilannya. Johan yang masih kesal memilih menghabiskan malam diklub malam tak jauh dari hotel. Karena didalam hotel itu tidak ada fasilitas klub malam.
Disana Johan juga ditemani oleh para wanita malam. Dan tanpa sengaja, Irene juga sedang berada diklub yang sama. Irene mendekati Johan. Walaupun Johan sudah banyak menghabiskan minum alkohol, Johan masih belum mabuk. Terbalik dengan Irene yang sudah mabuk terlebih dahulu.
Johan mengantarkan Irene kembali ke hotel. Johan memapah tubuh Irene dan mengantarkan Irene hingga kedalam kamar. Melihat Irene yang mulai mencercau bahkan berani mencium Johan terlebih dahulu. Johan sempat terlena dan membalas ciuman Irene.
Johan tersadar sebelum dia berbuat lebih jauh, Johan meninggalkan Irene didalam kamarnya. Johan kembali kedalam kamarnya sendiri. Sedangkan Thian masih berbicara dengan Shadam. Zee sudah kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Shadam kembali mendapat pesan dari anak buahnya. Dia membuat rencana baru untuk menghentikan ini.
"Minta orang suruhan itu memancing bosnya keluar. Buat mereka bertemu disuatu tempat. Nanti saya yang akan kesana. Lindungi juga orang itu. Karena saya yakin dia akan mencelakai orang suruhannya itu"
Selesai mengirim pesan balasan, Shadam segera menyimpan ponsel miliknya. Dan kembali membahas sesuatu dengan Thian.
"Gimana kabar Oma. Apa sudah ada perkembangan baik". Hal pertama dan sangat ingin Shadam tanyakan sejak tadi sudah dia utarakan.
"Masih sama bang. Kami juga sudah pasrah. Apapun nanti akhirnya. Yang kami minta agar Oma tidak tersiksa lebih lama". Shadam paham maksud dari Thian.
"Oya bang. Rencananya gue mau nikahin Zee, setelah proyek selesai. Gue udah persiapkan semuanya". Shadam terkejut dengan perkataan Thian.
"Loe yakin. Tapi Oma masih sakit". Karena alasan dulu mereka menunda pernikahan karena Oma.
"Ini permintaan mama sama papa. Tidak baik lebih lama lagi menunda pernikahan kami". Shadam mengangguk paham. Memang sudah terlalu lama jarak dari waktu tunangan ke pernikahan. Tapi mereka memang ada alasan.
"Apapun itu Abang dukung. Kalau loe butuh bantuan Abang apapun itu, kasih tau Abang. Kamu juga adik Abang jadi jangan sungkan". Thian mengangguk. Dan mereka memutuskan untuk istirahat. Karena esok jadwal mereka padat.
__ADS_1