
"Mah, adek berangkat dulu". Thian berpamitan kepada Eneng. Hanya Fathan yang libur hari ini, sedangkan Thian sudah ada jadwal lain. Hari ini Thian sudah memberitahu Zee, jika dirinya tidak bisa menjemput. Dan meminta Luki untuk menjemput Zee.
Thian pergi dengan supir pribadi papanya. Dan jadwal hari ini akan selesai cukup larut malam. Sepanjang perjalanan Thian hanya diam mendengarkan musik melalui headset. Ono pun hanya diam menemani. Zee masih berada disekolah karena masih ada jadwal ekstrakurikuler. Sudah satu Minggu Zee dan kedua sahabatnya menjalankan misi rahasia untuk mengetahui perasaan Thian.
"Cla, Yon. Apa kak Thian sebenarnya tidak suka sama gue ya. Dan gue aja yang terlalu agresif ke dia". Zee kembali berfikir mengenai hasil rencana mereka yang sudah dijalankan.
"Ck, loe tuh gak usah pesimis. Gue yakin kak Thian itu suka sama loe. Gue bisa lihat dari raut wajahnya yang nahan cemburu setiap loe sama gue". Dion kembali meyakinkan Zee. Karena dia sangat yakin jika Thian memang benar-benar suka dengan Zee.
"Tapi kenapa sampai sekarang kak Thian gak ada reaksi apapun". Zee masih tidak mempercayai perkataan Dion. Dion hanya bisa menghela nafas saja melihat sahabatnya yang tidak sabaran.
"Sabar napa. Ntar dia juga bakal nembak loe Zee". Clara tertawa dengan tingkah sahabatnya itu. Clara tau jika Zee sedang khawatir dan takut Thian akan berpaling karena melihat Dion dekat dengannya.
"Gak usah takut dia berpaling Zee. Gue yakin kak Thian gak akan pernah berpaling". Dion dan Clara kembali menguatkan dan meyakinkan Zee. Zee pun setuju dengan perkataan kedua sahabatnya.
Sore menjelang Zee dan teman-temannya sudah keluar dari gerbang sekolah. Luki yang sudah menunggu Zee, segera menghampiri Zee. Zee sempat mengirim pesan kepada Thian agar tidak usah meminta Luki menjemput dia akan naik taksi atau bisa menumpang pada Dion. Thian menolak permintaan Zee. Dan tetap meminta Luki menjemput Zee.
"Zee, sudah selesai". Luki suda berdiri didepan Zee dan teman-temannya. Beberapa teman Zee yang tidak mengenali Luki, mengira jika Luki adalah kekasih Zee. Luki memang memiliki wajah yang tampan. Banyak teman-teman Zee yang mulai mencari perhatian Luki.
"Sudah kak. Yuk pulang". Zee berpamitan kepada teman-temannya. Luki membukakan pintu untuk Zee. Perlahan mobil yang ditumpangi Zee meninggalkan pelataran sekolah Zee dan menuju kediaman Serkan Malik.
Disepanjang jalan Zee hanya diam. Luki pun tak berani banyak bicara kepada Zee. Luki takut jika dia salah bicara dan menyinggung perasaan Zee. Walaupun Zee sebenarnya bukan orang yang mudah tersinggung. Hanya saja Luki membatasi dirinya
"Makasih kak sudah nganterin Zee. Habis ini kakak mau kemana". Zee sengaja bertanya seperti itu hanya agar dia tahu posisi Thian saat ini.
"Gue mau nyusulin Thian. Loe mau ambil pesan sesuatu ke Thian". Zee tersenyum mendengar perkataan Luki. Dan dia teringat sesuatu.
"Kakak tunggu sebentar ya. Zee titip sesuatu buat kak Thian". Zee bergegas keluar dari mobil Luki dan segera masuk kedalam rumah mengambil sesuatu. Tak berselang lama Zee keluar dengan membawa bungkusan cukup besar.
__ADS_1
"Kak titip ini buat kak Thian ya. Makasih sebelumnya kak". Zee menyerahkan bungkusan itu kepada Luki. Luki menjawab dengan anggukan dan segera pergi setelah memasukkan bungkusan itu kedalam mobil.
Zee berjalan masuk kembali kedalam rumah. Saat Zee tadi mengambil bungkusan, Serkan dan Zalina istrinya sedang duduk santai diruang keluarga. Bahkan Zee hanya melewati mereka saja. Zee masuk dan menyalami kedua orangtuanya. Tak lupa memberikan ciuman dikedua pipi orangtuanya.
"Sudah nitip kuenya". Zalina bertanya kepad Zee saat Zee duduk disampingnya dan menyenderkan kepalanya dipundak sang mami. Zee menjawab dengan anggukan.
"Pantes saja papi gak boleh nyicipin kue lezat bikinan princess papi, ternyata buat seseorang to". Serkan meledeki sang putri. Zee hanya cemberut saja mendengar olokan sang papi. Karena tak mau semakin diolok, Zee memilih masuk kamar dan segera mandi.
Luki turun dari mobil dengan membawa tiyoan Zee, setibanya dilokasi syuting Thian. Luki menunggu Thian menyelesaikan adegan selanjutnya. Kini Thian sudah beristirahat dan duduk diruang tunggu. Luki sudah berada disana. Beberapa artis lain yang menunggu giliran juga berada diruang yang sama.
"Nih titipan dari nyonya Fathian". Thian terkejut saat Luki mengulurkan bingkisan kepadanya. Beberapa artis yang mendengar ucapan Luki terkejut. Karena selama ini tidak pernah terdengar Thian memiliki kekasih.
"Serius loe". Mata Thian nampak berbinar bahagia mendengar perkataan Luki. Dengan penuh semangat Thian membuka bungkusan itu. Marmer cake ukuran besar isi didalam kotak itu. Kue favorit Thian. Didalamnya juga terdapat salat buah. Thian tersenyum bahagia mendapat perhatian dari Zee.
Thian menaruh semua bingkisan Zee. Yang sebelumnya sudah dia foto untuk bukti jika titiapannya sudah sampai. Wajah bahagia Thian membuat rekan-rekannya penasaran dengan sosok yang bisa meluluhkan hatinya
Thian memutuskan untuk menelpon Zee. Dan mengucapkan terimakasih secara langsung. Tak butuh waktu lama Zee mengangkat panggilan dari Thian.
"...."
"Oh. Jangan tidur larut malam. Makasih ya kuenya".
"...."
"Nanti pulang pagi kayaknya. Kenapa".
"...."
__ADS_1
"Iya gak usah khawatir. Sudah makan belum".
"...."
"Sudah tadi. Besok pulang dijemput Luki lagi ya. Gak boleh nolak. Maaf jadwal Kakak padat belum bisa ketemu".
"...."
"Iya. Kamu juga jaga kesehatan. Ya sudah kakak tutup ya. Tidur yang nyenyak*".
"..."
Rekan-rekan Thian yang melihat Thian sedang berbicara ditelepon dengan suara lembut membuat mereka semakin ingin tahu siapa perempuan pemikat hati Fathian.
"Cie cie. Diam-diam udah punya gandengan nih". Salah satu rekan artis menggoda Thian. Thian hanya menanggapi dengan senyuman saja.
Thian membagi separuh kue dari Zee untuk teman-teman sesama artis diruang tunggu. Separuh lagi akan Thian makan nanti. Saat ini Thian sedang menikmati salad buah dari Zee. Zee sangat paham jika Thian tidak pernah makan makanan berat saat malam hari. Dan hanya memakan buah-buahan atau sayuran tanpa karbohidrat.
Thian menyelesaikan pekerjaannya menjelang subuh. Karena ada perubahan jadwal syuting, Thian memutuskan untuk tidur dilokasi. Thian sudah mengabari keluarganya dan juga Zee. Dan kemungkinan Thian akan lebih banyak menghabiskan waktu dilokasi syuting.
Zee merasa tidak tega jika harus melanjutkan rencananya. Dia meminta kepada sahabatnya agar menunda saja semua rencana mereka sampai Thian menyelesaikan syutingnya. Zee takut konsentrasi Thian terganggu.
Salah satu dari lawan main Thian adalah artis yang selalu digosipkan menjadi pasangan Thian. Sedangkan artis itu sendiri juga sudah memiliki pasangan namun tidak pernah dipublikasikan.
"Yan. Ntar kalau loe go publik, loe kabar- kabar gue biar kita bisa barengan go publik. Laki gue udah ngomel terus". Thian terkekeh mendengar ocehan lawan main sekaligus temannya itu. Thian juga mengenal kekasih dari teman dekatnya itu.
"Ntarlah kalau gue udah siap. Langsung gue kasih undangan. Hahahaha". Gurauan Thian mendapat respon berbeda dari para rekan kerjanya.
__ADS_1
"Gila loe Yan. Diam-diam udah langsung bikin heboh. Siapa sih cewek itu Yan. Artis juga kah". Rasa ingin tahu rekan kerja Thian semakin menjadi.
"Ada deh mau tau aja. Nanti kalau sudah waktunya kalian juga bakal tahu siapa dia. Sementara biar seperti ini saja. Kasian kalau dia dikejar-kejar wartawan". Jelas Thian yang membuat rekan kerjanya setuju. Menjalani profesi seperti mereka, memang harus pandai menjaga privasi. Bahkan nyaris tidak ada privasi lagi bagi artis seperti mereka.