Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
Sakit Tak Berdarah


__ADS_3

"Jadi kalian sudah paham kan dengan perjanjian tadi". Almeer kembali bertanya kepada duo F usai mereka melakukan pertemuan dengan seorang produser.


"Bang. Itu filmnya sesuai dengan usia kita kan". Thian tidak menjawab pertanyaan Almeer namun kembali bertanya kepada Almeer.


"Iya. Itu film sesuai usia kalian. Dan sesuai aturan yang kalian mau". Almeer menjelaskan kembali tentang film yang akan mereka bintangi.


"Kalian sudah siap kan. Bulan depan kita akan berangkat ke kota P untuk melaksanakan syuting. Dan Minggu depan kalian akan bertemu dengan para aktor dan aktris lainnya". Almeer kembali menjelaskan kepada si kembar jadwal yang akan mereka lakukan nanti.


"Bang. Benar kita berhenti kuliah ini". Fathan menanyakan perihal pendidikan mereka.


"Kalian bisa melakukan secara online. Jika kalian tidak ingin cuti. Abang sudah atur itu semua". Almeer menjelaskan apa yang ditanyakan Fathan.


"Oh begitu". Ada nada sedih dan wajah sendu yang Fathan perlihatkan. Begitu juga dengan Fathian.


Almeer menyadari itu. Namun dia hanya bisa terdiam. Almeer sebenarnya tidak ingin melihat mereka sedih karena tidak bisa mengikuti pembelajaran secara langsung. Dan Almeer sudah bernegosiasi kepada produser agar mereka melakukan syuting film pendek saja yang masih bisa dilakukan didalam kota. Namun sang produser tertarik dengan kemampuan mereka dalam berakting ditambah ketampanan mereka, sang produser yakin film layar lebar mereka akan sukses.


"Maafkan Abang jika keputusan Abang membuat kalian kecewa. Jujur sebelum Abang mengambil keputusan ini, Abang sudah lebih dulu berbicara dengan kedua orangtua kalian. Dan mereka hanya berkata, semua keputusan ada ditangan kalian". Almeer mencoba membuat semua jelas.


"Dan saat meeting tadi, kalian sendiri yang memutuskan untuk bergabung. Abang sudah mengingatkan untuk kalian pikirkan lagi kan. Apa sekarang kalian menyesali keputusan kalian sendiri". Almeer melanjutkan perkataannya dan bertanya kepada si kembar mengenai keputusan yang sudah mereka ambil sendiri.


"Iya bang. Kami tahu. Dan kami tidak menyesali keputusan yang sudah kami ambil tadi". Fathan pun menjawab pertanyaan Almeer mengenai keputusan yang sudah mereka ambil.


"Kami mengambil keputusan tersebut juga ada tujuannya kok bang. Kuliah kita sebentar lagi sudah kelar. Kami punya sesuatu untuk diwujudkan bang. Kami bukan sedih tidak bisa melanjutkan kuliah dikampus. Kami hanya merasa apakah kami bisa menjalankan pekerjaan baru ini dengan baik. Itu saja". Thian mencoba menjelaskan kepada Almeer.


"Jangan merasa inscure dahulu sebelum mencoba. Abang yakin kalian mampu. Sebaiknya kita makan dulu. Abang udah lapar banget". Almeer sengaja mengajak keduanya untuk makan agar suasana tidak canggung. Dan memang mereka belum makan siang dan waktu sudah menjelang sore.


Mobil Almeer menuju kafe ikonik yang merupakan milik putra Shanum, sahabat kakek Almeer. Mereka pun saling mengenal. Karena Rashsya masih tetap bertemu dan kumpul bersama para sahabatnya seperti saat mereka masih muda. Anak-anak dan cucu mereka pun saling mengenal.


"Yuk masuk". Almeer mengajak kedua adiknya untuk turun.


Mereka bertiga berjalan memasuki kafe. Tak lupa duo bodyguard transparan mengikuti mereka. Kafe milik Arkana selalu rame ditiap jamnya. Apalagi jika weekend pengunjung harus memesan tempat terlebih dahulu. 


"Selamat sore pak Al". Salah satu pegawai kafe menyapa Almeer karena memang sudah sangat mengenali Almeer.


"Sore. Masih ada kursi kosong". Almeer bertanya kepada pegawai kafe.


"Ada pak dibelakang dekat taman". Pegawai tersebut.


"Okey. Makasih". Almeer mengerti apa yang dimaksud oleh pegawai tersebut. 


Almeer berjalan menuju tempat yang dimaksud oleh pegawai tadi diikuti si kembar. Banyak mata gadis memandang ketiganya. Bak kulkas lima pintu, ketiganya berjalan dengan tatapan tajam dan berwajah dingin. Berbeda dengan markono yang senyum tak jelas. Bahkan menggoda mereka walaupun tak ada yang bisa melihat dan mendengar.


"Woy bening-bening banget bos". Mata Ono sudah oleng kemanapun.


"Ingat dosa udah menggunung no. Jelalatan aja". Kunkun mengingatkan sahabat sejatinya itu.


"Alah gapapa kali Kun. Sekali-kali". Ono mulai mendebat Kunkun.


"Serah deh. Capek debat ma loe". Kunkun memilih mengalah daripada harus berdebat.


Almeer duduk terlebih dahulu dan diikuti si kembar. Seorang pelayan datang untuk menulis pesanan yang akan Almeer dan duo F pesan.


"Selamat sore pak Al. Mau pesan apa". Pelayan menyerahkan daftar menu dan siap mencatat pesanan.

__ADS_1


"Seperti biasa aja". Almeer memesan apa yang biasa dia pesan.


"Baik Pak". Pelayan mencatat pesanan Almeer.


"Kalian mau apa". Almeer menanyakan apa yang diinginkan oleh si kembar.


"Terserah Abang aja. Lagian yang bayar Abang ini". Thian menyerahkan pesanan kepada Almeer.


"Hem". Almeer hanya berdehem.


"Mereka samakan saja dengan punya saya". Almeer meminta pelayan mencatat pesanan si kembar sama dengan miliknya.


"Baik pak Almeer. Ada tambahan lagi". Pelayan menulis pesanan duo F dan menanyakan tambahan pesanan yang lainnya.


"Tidak ada". Almeer menjawab singkat.


"Baik pak". Pelayan tersebut sedikit membungkuk dan berjalan meninggalkan meja Almeer.


Keheningan tercipta diantara mereka hanya terdengar live musik yang sedang memainkan satu lagu. Kafe Arkana memang menyajikan live musik. Ponsel Almeer berbunyi tanda sebuah pesan masuk. 


Wajah Almeer sedikit berubah. Si kembar masih tak memperdulikan. Tidak berselang lama ponsel si kembar juga menerima pesan. Keduanya saling menatap setelah membaca isi pesan tersebut. Keduanya kompak menatap Almeer yang masih menunduk.


"Bang Than. Terluka tapi tak berdarah". Thian menyanyikan sebait lagu dalam sebuah aplikasi ternama. Dengan gaya dramatis 


"Sakitnya tuh disini didalam dadaku. Sakitnya tuh disini pas kena hatiku". Fathan membalas nyanyian sang adek juga dengan sebuah lagu yang sempat tenar dijamannya. Gaya Fathan pun tak kalah dramatis.


Almeer melirik si kembar dengan tatapan elangnya. Namun itu tak membuat si kembar takut. Mereka menunjukkan senyuman mengejek kepada Almeer.


"Ke toko bangunan membeli paku


Katanya kamu sayang sama aku


Tapi kok ditinggal nikah?". Thian berpantun sambil tersenyum mengejek.


"Pagi-pagi pergi ke sawah


Jangan lupa bawa peniti


Kamu yang menikah


aku yang sakit hati". Fathan juga tak mau kalah. Mereka terus menggoda Almeer.


Brak


"Bisa diem gak sih kalian". Almeer menggebrak meja dan meminta kedua bocil itu untuk diam.


"Hah. Makanya jangan sok jadi orang. Aslinya sayang tapi sok gak peduli". Fathan kembali menyindir Almeer.


"Sekarang dapat undangan nikah. Nyesek gak tuh". Thian ikut menyindir Almeer.


Almeer diam dan masih menatap sendu pesan yang ada didalam ponselnya. Undangan pernikahan Shakinah anak Ghaydan dan Seila. Sesuai perjanjian mereka dahulu. Jika mereka bisa menemukan tambatan hati masing-masing, maka mereka bisa memulai lembaran baru dengan pasangan mereka.


Shaki telah menemukan tambatan hatinya. Dan mereka akan segera menikah. Sedangkan Almeer masih terjebak dengan perasaan dan rasa gengsinya. Almeer tidak pernah mau menganggap perasaan yang ditujukan kepada Shaki itu nyata. Dia terus mengingkari dan menganggap Shaki adalah sahabat dan adiknya.

__ADS_1


Thian yang sedang mode jahil berjalan masuk kedalam kafe dan mendekat kearah panggung. Thian membisikan sesuatu kepada pemain gitar. Dan dijawab dengan anggukan. Thian tak menyadari jika Arkana yang baru saja tiba dikafenya memperhatikan gerak-geriknya. Thian berjalan kembali ke tempat dimana mereka tadi menunggu pesanan. Arkana pun mengikuti dari belakang.


Musik yang dipesan oleh Thian mulai terdengar. Fathan menatap adiknya yang baru saja duduk dengan memperlihatkan senyuman licik.


Kan kuikhlaskan dia


Tak pantas ku bersanding dengannya


'Kan kuterima dengan lapang dada


Aku bukan jodohnya


Aku titipkan dia


Lanjutkan perjuanganku 'tuknya


Bahagiakan dia, kau sayangi dia


Seperti ku menyayanginya


Bait pembuka lagu sudah terdengar. Almeer mendongak menatap si kembar yang merubah raut wajah mereka menjadi datar tanpa ekspresi. Lagu pun berlanjut. Arkana berdiri memperhatikan mereka. Arkana sudah mengetahui apa yang sedang terjadi. Karena Arkana juga berteman dengan Shaki.


Ini salahku


Terlalu memikirkan egoku


Tak mampu buatmu bersanding nyaman denganku


Hingga kau pergi tinggalkan aku


Terlambat sudah


Kini kau t'lah menemukan dia


Seseorang yang mampu membuatmu bahagia


Ku ikhlas kau bersanding dengannya


Lagu pop yang dirubah menjadi dangdut atas permintaan Thian, sangat asyik untuk bergoyang. Beruntung outdoor kafe Arkana mulai kosong. Dan Arkana meminta pegawainya untuk tidak menerima tamu dioutdoor dulu.


"Asyek boss. Dijogetin aja". Ono mulai beraksi bergoyang-goyang.


Duo F pun mulai berdiri dan bergoyang. Almeer menatap kedua bocah kembar itu dengan tatapan membunuh. Tapi mereka tak peduli. Arkana pun ikut bergoyang dengan si kembar.


"Makanya kalau cinta itu jangan gengsi. Tinggal nikah, nyesek kan. Makan tuh gengsi". Ucapan Arkana tak kalah menusuk.


______


Oh Almeer nasib percintaan kamu memang mengenaskan.


Maaf update perlahan karena masih belum bisa mengoptimalkan tubuh. Maaf ya...


Jangan lupa bahagia gaesss

__ADS_1


jempolnya digoyang yuk gaess


__ADS_2