Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
Ambasador


__ADS_3

"Ah rasanya sudah gak sabar lagi nunggu siang. Dan siang nanti gue bakalan tau apa kelemahan dari si artis sok tenar itu. Dan siap-siap saja dia kehilangan Zee. Gue bakal pastikan Zee jadi milik gue". Johan bergumam sambil berias diri didepan cermin.


Irene sudah menunggu Johan didepan pintu kamar. Karena Johan sudah mengirim pesan sebelumnya kepada Irene agar Irene menunggu didepan pintu kamarnya. Tak lama Johan keluar kamar dan segera berangkat bersama Irene.


"Tumben bos gak suruh nunggu di resto aja". Irene membuka percakapan sambil mereka berjalan menuju lobby.


"Gapapa, saya mau ajak kamu sarapan ditempat lain. Kamu pasti bosan kan makan makanan diresto sini". Irene tersenyum tipis mendengar ajakan sang bos.


"Wah wah bos kesambet setan mana pagi-pagi udah baik banget". Irene mengolok Johan.


"Apakah saya harus kesambet setan dulu baru berbuat baik sama kamu". Johan membalas olokkan Irene.


"Ya gak juga sih". Irene terkikik sendiri mendengar pembelaan Johan.


Johan dan Irene berjalan keluar hotel. Karena suasana hati Johan pagi ini memang sedang sangat baik. Bahkan senyuman terus tersungging di bibirnya. Irene hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah bosnya itu.


Zee dan Shadam sudah berada dikantor. Mereka sedang menghitung ulang pengeluaran beberapa Minggu ini. Karena pagi tadi ada laporan dari asisten Zee, jika ada ketidak sinkronan data diperusahaan dan pada Zee.


Shadam meminta Zee untuk mengerjakan dikantor saja lebih efektif. Karena mereka akan ada meeting pagi. Mereka juga akan memesan sarapan dari kantor saja.


"Gimana dek, ketemu gak dimana selisihnya". Shadam mencoba meneliti berkas yang sudah diberikan Metha. Dan Zee mengecek melalui laptop miliknya.


"Sebentar Kak. Kita harus pelan-pelan. Karena ini sudah mulai tampak dimana perbedaannya". Shadam dan Zee kembali fokus. Metha juga membantu mereka. Tak lama pintu ruangan Zee diketuk seseorang.


"Masuk". Perintah Zee tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya. Metha tersenyum sambil sedikt menunduk setelah tau siapa yang datang.


"Huh, kalian ini. Kenyang apa cuma makan kertas". Zee dan Shadam menoleh kearah suara yang sangat mereka kenali.


"Sayang. Kok tumben kesini pagi-pagi". Zee hendak beranjak dari kursinya, namun Thian memberi kode untuk Zee tetap duduk. Thian pun mendekat.

__ADS_1


"Sarapan dulu sayang. Abang juga. Metha makan aja sekalian. Saya bawa makanan banyak kok". Shadam dan Zee tersenyum melihat perhatian Thian.


"Terimakasih pak. Saya bisa makan diluar nanti". Metha menolak ajakan Thian karena tak enak hati.


"Haish gak ada nanti-nanti. Ayo makan bareng. Jangan takut gak ada racunnya kok ini". Metha tertawa mendengar perkataan Thian. Walaupun sering bertemu, Metha masih saja gugup jika diajak bicara Thian.


"Dahlah Met, ayo makan bareng aja. Lumayan kan pagi-pagi ditraktir idolanya sendiri". Metha memang fans si kembar. Dia bahkan tak menyangka akan bisa bertemu secara langsung bahkan berinteraksi dengan idolanya. Metha memang bekerja belum lama. Dia direkrut khusus untuk Zee.


"Iya mbak. Maaf jadi merepotkan". Metha diajak duduk disebelah kiri Zee. Karena disebelah kanan sudah ada Thian.


Mereka menikmati sarapan pagi bersama. Sesekali mereka membahas masalah proyek yang saat ini masih berjalan. Usai sarapan, mereka kembali bekerja. Kali ini Thian membantu Zee menyelesaikan pekerjaannya. Karena Thian itu adalah jurusan Thian saat kuliah. Dan Thian paham mengenai masalah Zee saat ini.


"Sayang, coba lihat ini. Ini titik masalahnya. Siapa yang menginput data ini". Thian sudah menemukan letak kesalahan yang membuat data mereka berbeda hasil.


"Itu data dari asisten Pak Johan". Metha menjelaskan jika data yang sedang diperiksa Thian adalah hasil rangkuman dari Irene.


"Kenapa bisa selisih seperti ini. Apa dia tidak mendengarkan hasil rapat dengan baik". Thian sedikit kesal. Karena kecerobohan Irene.


Posisi duduk saat ini, Shadam berada dihadapan Thian. Sedangkan Thian duduk dikursi Zee, Zee sendiri mengambil kursi tambahan dan duduk disamping Thian. Shadam kembali mencolok data yang diperoleh Thian dengan data yang dia bawa. Dan memang benar ada kesalahan disana.


Terdengar suara ketukan pintu. Zee mempersilahkan untuk masuk. Thian fokus dengan layar laptop Zee. Shadam dan Zee menatap kedatangan Johan dan Irene. Melihat ada Thian disana, membuat mood Johan berubah.


"Ada apa pak Shadam memanggil saya dan asisten saya". Shadam mempersihkan Johan untuk duduk disampingnya. Dan Irene bersama dengan Metha.


"Begini pak. Tadi pagi saya dapat laporan jika data yang bapak berikan kepada Metha dengan data yang ada pada kami ada sedikit perbedaan". Johan terkejut mendengar itu. Shadam menyodorkan dua berkas yang berbeda.


"Silahkan pak Johan untuk memeriksa sendiri, dan bisa menilai apakah perkataan saya benar atau tidak". Johan mengambil data yang disodorkan oleh Shadam. Perlahan dia meneliti. Dan memang benar itu ada kesalahan.


"Irene. Bagaimana kamu bisa salah menulis angkanya. Saya saja masih ingat dengan jumlah angka yang sebenarnya". Irene terkejut mendengar perkataan Johan. Irene mendekati Johan dan mencoba melihat kesalahan yang dia lakukan.

__ADS_1


Irene membawa catatan yang memang berisi rangkuman meeting. Dia membuka kembali catatan itu. Dan benar Irene salah dalam menginput nominal jumlah pengeluaran.


"Maafkan saya pak atas ketledoran saya. Ini memang kesalahan saya". Dengan berani Irene mengakui kesalahannya. Zee dan Shadam hanya tersenyum tipis.


"Baik untuk saat ini saya maafkan kesalahan kamu Ren. Tolong lebih teliti lagi. Jika kembali terulang, terpaksa saya akan memberikan surat peringatan pertama". Irene mengangguk paham mendengar perkataan Johan.


Johan menatap Thian tidak suka. Shadam menyadari itu. Tapi Shadam hanya berpura-pura tidak tahu. Thian bahkan masih fokus melihat kearah laptop Zee.


"Ck. Bos gue emang tampan. Gak usah melotot gitu kali lihatnya. Gue culek juga loe ya". Ono kembali menjahili Johan. Hingga Johan merasa sedikit pedih dimatanya. Padahal didalam ruangan itu tidak ada debu ataupun angin.


"Kenapa mata gue tiba-tiba perih sih". Johan masih mencoba mengusap-usap kelopak matanya.


"Kenapa pak Johan. Kok matanya tiba-tiba merah". Shadam sebenarnya malas bertanya. Dia hanya menghargai saja.


"Saya juga bingung pak. Tiba-tiba mata saya gatal dan perih. Padahal disini tidak ada angin ataupun debu". Thian melirik kearah bodyguard kesayangannya yang sedang asyik terkikik


"Ampun bos. Ono cuma bercanda kok. Habis dia melotot terus lihat bos". Thian menghela nafasnya pelan melihat tingkah Ono.


"Oya sebentar lagi meeting akan dimulai. Dan sepertinya akan diadakan diruangan ini. Karena tadi Pak Ardian sudah mengirim pesan, agar meeting dilakukan diruanga ini saja yang lebih nyaman". Shadam meminta Metha dan Irene untuk mempersiapkan ruangan Zee. Mereka segera bergerak cepat.


"Maaf pak Shadam. Bukannya meeting hanya untuk para petinggi dan investor yang bekerjasama dalam pembangunan ini ya". Johan bertanya kepada Shadam, namun matanya melirik kearah Thian dan Zee.


"Memang benar. Kan memang biasanya seperti itu pak Johan". Shadam menjawab santai pertanyaan Johan.


"Kalau begitu, orang yang tidak berkepentingan bisa keluar dari ruangan ini kan". Johan menekankan setiap perkataan yang dia ucapkan. Thian dan Shadam hanya tersenyum tipis mendengar itu.


"Maksud anda adik ipar saya ini pak Johan". Shadam menepuk bahu Thian dan Thian menoleh kearah Johan dengan wajah tengilnya.


"Apa anda belum diberitahu oleh departemen periklanan, jika adik ipar saya ini yang akan menjadi model dalam mempromosikan apa yang sedang kita kerjakan. Ya, bahasa kerennya Fathian adalah ambasador dari The House Of Guardian". Johan terbelalak mendengar kabar itu. Dan secara tidak langsung Zee akan terus bertemu dengan Thian selama proses proyek ini berlangsung dan selesai.

__ADS_1


"Jadi saya juga bagian dari kalian. Karena saya memang mendapat undangan untuk mengikuti meeting yang berkaitan dengan saya sebagai ambasadornya". Thian tersenyum setelah ikut menjawab perkataan Johan.


__ADS_2