
Mood Johan benar-benar bagaikan roller coaster. Selama meeting berlangsung, Zee selalu menatap Thian yang ikut presentasi sebagai ambasador. Para investor memberikan sambutan yang meriah untuk hasil kerja Thian. Hanya Johan saja yang nampak begitu malas.
"Apa gak ada artis lain. Kenapa harus dia juga yang jadi ambasador. Sok kegantengan banget. Sekarang aja lagi naik daun. Besok juga merosot. Terus kere gak ada yang bisa dia banggakan".
Johan terus bergumam dalam hati saat para investor memuji Thian. Meeting berjalan dengan lancar, karena ada pekerjaan lainnya. Thian meninggalkan kantor Zee terlebih dahulu. Luki juga sudah menunggunya didepan kantor.
Johan kembali bersemangat setelah waktu makan siang tiba. Dia segera menuju kafe tempat dimana anak buahnya berjanji akan menemuinya. Dengan penuh harapan dan semangat, Johan melajukan kendaraannya menuju kafe.
"Dek, Abang pergi dulu ada urusan penting. Kamu pulang sama supir gapapa". Shadam berpamitan kepada Zee karena tidak bisa mengantarkan Zee pulang.
"Zee masih ada pekerjaan bang. Nanti Zee pulang setelah dari lapangan. Abang mau kemana". Zee sedang sibuk merapikan mejanya dibantu Metha.
"Abang mau ketemu teman. Kebetulan dia sedang ada pekerjaan juga disini. Kamu jangan lupa makan siang dek". Shadam mengecup pucuk kepala Zee.
"Siap bos". Shadam berlalu pergi setelah dia meminta Metha memesan makan siang untuk Zee dan Metha sendiri.
Shadam pergi bersama bodyguard selalu menjaganya dari jauh. Shadam segera meluncur ke kafe yang sama dengan Johan. Sebenarnya Shadam menunggu hingga proyek selesai, namun tingkah Johan semakin menjadi. Satu hal yang membuat Shadam marah, beberapa waktu yang lalu. Zee pernah mendapatkan paket ancaman untuk meninggalkan Thian. Beruntung paket itu diterima oleh bodyguard Shadam. Bahkan tidak hanya sekali bahkan berkali-kali.
Dan Johan pernah meminta salah seorang pegawai hotel untuk mencampur makanan Johan dengan obat pencuci perut. Dan semua digagalkan oleh bodyguard Shadam yang diam-diam diminta Shadam mengawasi Johan.
Johan sudah menunggu cukup lama orang suruhannya. Bahkan dia juga sudah menghabiskan makan siangnya. Namun Arya, orang suruhannya belum juga datang. Bahkan nomor ponsel Arya tidak bisa dihubungi.
__ADS_1
"Kemana nih orang. Berani sekali nyuruh gue nunggu lama". Johan bergumam kesal karena berkali-kali menghubungi Arya tidak bisa.
Shadam baru saja sampai dikafe yang dituju. Berjalan santai, Shadam mendekati meja Johan. Karena Johan sibuk dengan ponselnya, dia tak menyadari Shadam sudah sampai didepannya.
"Selamat siang tuan Johan Permana. Maaf menunggu lama". Johan diam tertegun melihat Shadam dihadapannya.
"Siang. Maaf saya tidak menunggu anda pak Shadam. Saya sedang menunggu teman saya". Shadam tersenyum dan mengeluarkan selembar kertas berisi foto Arya.
"Apakah anda menunggu dia". Johan terbelalak melihat foto Arya ditangan Shadam. Johan masih bingung harus bagaimana.
"Anda mengenal teman saya tuan Shadam". Johan berusaha semaksimal mungkin untuk tenang dan tidak memperlihatkan kegugupannya.
"Saya tidak mengerti maksud anda tuan Shadam. Lagian untuk apa saya menyewa mata-mata". Johan berusaha untuk mengelak dari tuduhan Shadam.
"Oh jadi dia bukan mata-mata anda tuan Johan. Dan hanya teman biasa". Shadam terus berputar-putar dalam berkata-kata. Shadam tersenyum disudut bibirnya. Gerak tubuh Johan memperlihatkan kegugupannya.
Bodyguard Shadam memberikan beberapa bukti yang menyudutkan Johan. Keringat dingin Johan mulai bercucuran. Shadam santai menunjukkan satu persatu bukti Johan sedang memata-matai keluarganya dan keluarga Thian.
"Tuan Johan. Saya tidak akan melakukan hal rendahan seperti ini jika memang saya menyukai seorang perempuan. Tapi yang perlu anda ingat, perempuan yang Anda incar adalah adik saya. Dan dia sudah memiliki tunangan. Tidak selayaknya anda menjadi penguntit seperti ini. Masih banyak wanita lajang diluaran sana". Mendengar perkataan Shadam, emosi Johan tersulut.
"Karena anda sudah tau, saya akan mengatakan sejujurnya. Saya memang menyukai adik anda sejak pertama bertemu. Awalnya saya tidak tahu jika Zee sudah bertunangan. Saya memang mencaritahu tentang Zee, tujuan saya hanya ingin mengenal Zee lebih jauh. Apa salah saya melakukan itu. Saya hanya ingin tahu apa yang Zee suka dan tidak suka. Dan saya juga ingin meminta ijin kepada tuan Shadam, agar saya bisa mendekati Zee". Bukannya mudur, Johan semakin menantang Shadam. Shadam tersenyum tipis.
__ADS_1
"Apa ada suka merebut milik oranglain tuan Johan. Bahkan anda seperti tidak tau diri meminta ijin kepada saya untuk mendekati Zee". Sikap tenang Shadam semakin memancing emosi Johan.
"Bagi saya, selama belum ada ikatan suci. Saya masih bisa mendekati Zee. Bahkan jika saya diberi kesempatan, saya yakin Zee akan lebih bahagia bersama saya". Shadam tak bisa menahan tawanya. Dia terkikik pelan dengan jawaban Johan yang begitu percaya diri.
"Ikatan suci. Pernikahankah maksud anda tuan Johan". Johan mengangguk menjawab pertanyaan Shadam.
"Ya. Saya bahkan berani memberikan itu kepada Zee saat ini juga. Bukan seperti tunangannya yang hanya menggantungkan status. Dan saya yakin jika tunangan Zee hanya memanfaatkan status keluarga Malik. Bahkan dia bisa diuntungkan dalam karirnya jika tersemat nama Malik didalam namanya". Shadam diam mendengarkan argumentasi dari Johan.
"Apa anda tidak kasihan dengan adik anda yang hanya diberikan status tunangan sejak lama. Dan apa kehebatan pria itu. Dia hanya seorang aktor yang sedang naik daun. Jika karirnya meredup kehidupannya pun ikut meredup. Apa anda tidak berfikir sejauh itu. Apakah Zee tidak akan menderita nantinya. Tolong anda untuk bisa lebih teliti dalam menilai orang tuan Shadam". Shadam melipat bibirnya. Dia bahkan ingin sekali terbahak mendengar Johan berpendapat.
"Oya, saya lupa. Saya orang pertama yang akan menentang artis itu menjadi ambasador kita. Saya akan memberitahu ini kepada papa saya. Karena papa saya termasuk pemegang saham terbesar". Johan hendak meninggalkan Shadam. Dan terhenti saat Shadam kembali bersuara.
"Silahkan mengatakan hal itu kepada papa anda. Karena sesungguhnya papa andalah yang meminta secara pribadi kepada adik ipar saya menjadi ambasador. Dan satu lagi. Sebelum meremehkan seseorang dan menilainya. Nilailah anda sendiri. Telitilah sebelum anda menilai orang". Shadam membalikkan perkataan Johan. Johan yang kesal pergi begitu saja.
Karena Shadam belum makan, Shadam memesan makan dan meminta sang bodyguard duduk ikut makan bersama dengan dirinya.
"Bos. Apa perlu kami melakukan sesuatu dengan orang itu". Shadam menggeleng kepada bodyguardnya.
"Biarkan saja. Dia tidak mengenal siapa Fathian. Kita tunggu saja kejutan apa yang akan dia peroleh nanti". Bodyguard Shadam mengangguk paham.
"Kamu awasi saja dari kejauhan. Dia orang yang licik. Walaupun Thian juga memiliki bodyguard sendiri, saya hanya ingin memastikan saja dia tidak mencelakai Zee". Bodyguard Shadam mengangguk. Mereka makan siang bersama dalam meja.
__ADS_1