
Kematian dan kelahiran sudah ada ketentuan masing-masing. Dibalik rasa duka akan datang bahagia. Begitulah sejatinya kehidupan.
Tanpa terasa duka yang melanda keluarga Prasaja telah berlalu. Enam bulan sudah mereka lewati untuk mengikhlaskan. Dan kembali menjalani kehidupan seperti sedia kala. Kini hanya tinggal Emak orang yang dituakan dikeluarga Airil.
Si kembar sudah kembali menjalani aktivitas mereka seperti sedia kala. Begitu juga Airil. Eneng baru saja kembali dari Jogja. Karena dia harus menemani Tania melahirkan dua bulan setelah kedua mertuanya meninggalkan. Dan kembali ke kota setelah tiga bulan usia anak Arjuna dan Tania.
"Mah. Fathan pamit ya. Mama jangan capek-capek. Makan yang teratur". Fathan akan kembali keluar kota karena tuntutan pekerjaan
"Iya bang. Hati-hati ya bang. Abang juga jaga kesehatan. Vitamin jangan lupa diminum". Eneng memberi wejangan kepada putra sulungnya.
"Oma, Fathan pamit. Jangan lupa obat sama vitamin diminum. Kalau bandel Fathan buang semua koleksi BTS Oma". Ancaman paling mujarab untuk emak jika sedang rewel.
"Ya jangan dong. Hati-hati Abang. Ingat pesan mama. Dan sholat selalu dijaga". Mereka saling berpelukan bergantian. Tak lupa Fathan mencium pipi kedua wanita tercintanya.
Fathan sudah dijemput oleh sang asisten dan supir pribadinya. Mereka segera menuju bandara. Sedangkan Thian sudah lebih dulu berada diluar kota. Jadwal mereka memang sangat padat dan jarang berada dikota yang sama.
"Sayang kakak berangkat dulu. Jangan lupa jaga kesehatan sayang".
Fathan mengirim pesan kepada Melody dalam perjalanan menuju bandara. Kafe Melody kian hari semakin ramai. Bahkan dia sudah berencana akan memperluas bangunan kafe miliknya.
"Hati-hati kak. Kakak juga jaga kesehatan. Kalau udah sampai kabari Mel ya".
Setelah mendapat balasan pesan dari tunangan tercintanya, Fathan menyimpan ponsel miliknya. Fathan menyempatkan diri membaca salinan naskah yang akan diperankannya nanti.
"Than. Tadi bang Al ngirim email. Loe ada tawaran ambasador lagi buat parfum. Mau diterima gak". Almeer selalu menanyakan kesediaan dari para talentnya sebelum menyetujui kontrak yang diajukan. Karena mereka yang akan menjalani dan Almeer berusaha membuat mereka nyaman.
"Couple apa gue sendiri". Sambil tetap membaca naskah, Fathan bertanya kepada Adrian.
__ADS_1
"Sepertinya ada sesi couple. Gimana". Adrian memastikan dulu kesiapan Fathan. Walaupun memang agak sudah untuk membuat Fathan bisa berdampingan dengan lawan jenis selain keluarga dan pasangannya.
"Kan loe tau gue gimana". Fathan tetap fokus pada kegiatannya. Adrian membaca kembali email yang dikirim Almeer. Dia takut akan ada yang terlewati.
"Bentar deh Than. Ini kata bang Al, sesi foto couple diambil terpisah. Jadi sistem edit gak langsung. Kalau menurut gue sih gak masalah. Apalagi ini produk parfum kesukaan loe". Adrian kembali menjelaskan apa isi salinan kontrak yang dikirim Almeer. Fathan sempat menoleh kearah sesaat sebelum kembali fokus pada kertas yang dipegangnya.
"Hmm. Oke kalau mereka pake sistem itu. Gue mau". Fathan menyetujui kerjasama itu dengan syarat sesuai yang mereka sepakati.
"Oke. Gue bales bang Al, biar disiapin kontraknya". Adrian segera memberi kabar kepada Almeer setelah Fathan menyetujui kerjasama itu.
Setiba di bandara, Adrian dan Fathan bergegas untuk check in. Hanya menunggu beberapa menit, pesawat mereka lepas landas. Hampir dua jam waktu tempuh Fathan untuk sampai dikota tujuan.
Tak jauh berbeda dengan Fathan. Thian juga sedang sibuk dengan proses syuting film layar lebarnya. Sudah hampir 2bulan Thian jauh dari keluarga dan Zee. Walaupun mereka sudah biasa dengan hubungan jarak jauh, namun terkadang mereka sama-sama akan keras kepala jika mereka sedang berselisih paham.
"Baby. Jadi hari ini ke acara ulang tahun teman kamu".
"Kalau kakak ijinin. Kalau tidak, Zee tidak akan pergi".
Mereka memang sudah berbaikan. Karena memang mereka tidak akan bisa bertengkar dalam waktu lama. Sebenarnya jika Zee akan pergi Thian akan mengijinkan. Karena Ono diminta Thian menjaga Zee selama Thian bekerja diluar kota.
"Boleh. Tapi jangan pake baju terbuka. Jangan pulang terlalu malam. Bawa supir dan pengawal yang kakak siapin".
"Siap bos. Makasih baby. Zee akan patuh".
Jujur Thian tidak tenang jika Zee tidak berada didalam rumah. Namun Thian juga paham jika Zee pasti akan bosan dan dianggap terlalu cupu karena tidak bergaul dengan teman-temannya. Thian pun meminta orang mencaritahu informasi tentang beberapa teman dekat Zee. Agar Thian bisa tetap menjaga Zee walaupun mereka tak selalu bersama.
"Loe kenapa gelisah". Luki baru datang dan membawa makanan untuk Thian. Mereka baru saja beristirahat dari pengambilan adegan.
__ADS_1
"Zee. Biasa. Gue percaya sama Zee tapi tidak dengan beberapa temannya". Thian masih mengirim pesan kepada pengawal yang diminta menjaga Zee.
"Percayalah Zee bisa menjaga dirinya. Lagian loe udah siapin pengawal khusus kan". Thian menjawab dengan anggukan kepada Luki. Thian terus berbalas pantun dengan pengawal yang menjaga Zee. Thian meminta laporan disetiap menitnya. Dan memfoto apa saja yang Zee lakukan disana.
"Yan, gue lupa. Tadi ada yang nitipin hadiah buat loe. Gue ketemu fans loe didepan tadi". Luki menyerahkan beberapa hadiah dari fans Thian yang selalu datang mengunjungi lokasi syuting Thian.
"Oke thanks". Thian mengambil kertas berisi naskah miliknya sambil memakan kue yang dibelikan Luki tadi.
Bagaimana dengan sang pengantin baru. Semenjak menikah Almeer harus membiasakan diri dengan sifat Shabila yang memang random. Beberapa hari yang lalu Almeer datang ke kantor dan berjalan seperti tak biasa. Satria yang penasaran segera mendekati Almeer dan bertanya.
"Loe kenapa lagi bos. Kayak nahan sakit gitu". Olok Satria kepada Almeer. Almeer hanya berdecak dan duduk di kursinya.
"Sumpah habis merried gue kena KDRT Sat". Satria tertawa mendengar keluhan sahabat sekaligus asistennya.
"Nyonya Al bikin ulah apalagi sekarang". Satria sudah sangat hafal dengan ekspresi Almeer.
"Gue ditendang tadi malam. Sakit pinggang gue ini Sat. Ntar gue mau visum. Buat bukti". Satria semakin terbahak mendengar penderitaan Almeer.
"Kok bisa. Kenapa dia takut lagi lihat senjata loe itu". Ya, saat malam pertama Almeer mengalami kekerasan juga. Karena Shabila refleks menendang monas milik Almeer yang sudah menjulang tinggi. Shabila terkejut saat itu dan langsung menendangnya. Dan malam pertama hanya ada rintihan kesakitan Almeer.
"Gaklah. Enaknya ditendang melulu. Udah merasa keenakan dia sekarang jadi gak berani nendang pusaka gue". Almeer membanggakan dirinya sendiri. Dan Satria hanya mencebik.
"Lah terus kenapa bisa encok tuh pinggang". Satria kembali menanyakan penyebab Almeer kesakitan.
"Tengah malam dia ngigau Sat. Mungkin dia ketemu sama Jet Li. Langsung kungfu dan gue diserang. Mau gue lawan dia bini gue. Ntar dikira gue kasar ke dia. Gak dilawan, gue yang remuk sat". Penjelasan Almeer membuat Satria tak bisa menahan tawanya. Setelah menikah Almeer baru tau jika Shabila memiliki dengkuran kencang. Dan suka mengigau seolah dia sedang bertarung. Dan Almeer adalah samsak hidup bagi Shabila.
"Nanti malam, gue mau ikut tuh tangan sama kaki. Biar gak bisa nendang seenaknya". Karena kesal , Almeer merencanakan hal tak terduga". Satria hanya bisa tertawa dan menggelengkan kepalanya mendengar semua keluhan dan rencana Almeer.
__ADS_1