
"Mamah kenapa dari tadi diam aja". Tanya Airil kepada sang istri setelah semua tamu meninggalkan rumah mereka. Thian pun ikut duduk disamping sang mama dan bermanja-manja dipangkuannya.
"Lagi kesel aja pah". Eneng mengusap rambut Thian. Wajah Eneng tampak sangat muram. Airil merangkul mesra pundak sang istri.
"Kenapa. Ada yang nyinggung mama, atau papa bikin salah sama mamah". Tanya Airil lembut.
"Bukan papa cuma mulut tak tau tata krama. Gemes pengen banget aku remes tu mulut". Saking geramnya, Eneng tak sadar kalau sudah ******* - ***** rambut Thian. Hingga Thian berteriak kesakitan.
"Au sakit mah. Rontok rambut Thian mah". Thian mengaduh sambil memegang tangan Eneng agar berhenti. Eneng yang sadar sudah menjambak rambut Thian, langsung melepaskan tangannya.
"Sayang maaf. Mama gak sadar. Mama kesal banget". Ujar Eneng kepada Thian.
"Kesal sama siapah sih mah. Rambutku rontok nih mah. Botak deh". Thian memegang beberapa helai rambutnya yang memang rontok karena jambakan Eneng.
"Botak tinggal ditambal. Pake sapu ijuk". Airil ikut mencibir Thian. Airil juga menggeser kepala Thian dari pangkuan Eneng. Tapi Thian tak mau bergeser.
"Apaan sih pah. Ganggu aja". Thian menyingkirkan tangan Airil dari kepalanya. Airil tetap tak mau mengalah.
"Sono. Ini punya papa. Makanya cari cewek jangan ganggu punya papa". Airil meletakkan kepalanya dipangkuan Eneng dan berdesakan dengan Thian.
Eneng yang sedari tadi menahan kesal, langsung menjambak rambut Airil dan Thian secara bersamaan. Eneng sangat kesal hari ini. Thian dan Airil berteriak kencang karena Eneng menjambak rambut mereka sangat kencang.
"Arghhhh. Ma sakit". Teriak keduanya. Eneng bukan berhenti namun tangannya mulai memukul-mukul badan Thian dan Airil.
"Kesel banget. Tadi pengen gue remet tuh bibir". Ucap Eneng penuh amarah. Thian dan Airil duduk sambil mengusap kepala dan badan mereka yang menjadi sasaran amukan Eneng.
"Mama sebenarnya marah sama siapa sih". Airil kembali bertanya kepada Eneng. Thian pun memperlihatkan ekspresi yang sama ingin tahunya.
"Tuh si nyonya Dewa. Sumpah mama kesel banget pah. Tadi kalau gak inget dia itu mulutnya tukang ngadu, udah mama remas-remas tuh mulut". Eneng semakin menggebu saat bercerita.
__ADS_1
"Ngomong apa istrinya Dewa mah. Kok bisa bikin Mama kesel banget". Tanya Airil. Thian habya diam mendengarkan.
"Tadi pas didapur, masa tuh nyonya Dewa bilang ke mama. Duh jeng emang ya kalau bekas ART itu gak perlu lagi cari ART. Semua bisa dikerjakan sendiri". Eneng menirukan gaya bicara istri Dewa teman Airil.
"Terus ada lagi yang bikin Mama kesal selain perkataan itu". Airil sangat tau jika Eneng tidak akan mudah emosi hanya dengan ejeka. seperti itu.
"Iya pah. Habis itu dia bilang. Kalau bukan karena Kirana yang pengen banget dapet Fathan, saya sih pengennya dapat yang selevel gitu jeng. Maaf ya jeng jangan tersinggung. Habis mau gimana lagi ya. Saya itu dari keluarga terpandang. Ya masa besanan sama mantan ART". Eneng kembali bercerita. Airil dan Thian sudah nampak kesal mendengar cerita Eneng.
"Gak pernah berubah tuh manusia". Airil berbicara dengan nada yang kesal juga. Selama ini memang mereka sudah paham sifat istri Dewa yang merasa bangsawan dan selalu merendahkan orang.
"Sebenarnya kalau cuma mama saja yang hina, mama gak masalah pah. Dia juga hina Fathan. Itu yang membuat mama marah". Suara Eneng terdengar parau. Eneng pun meneteskan air matanya.
"Apa yang dia katakan tentang Abang mah". Thian menahan amarahnya. Dia paling tidak bisa menahan amarahnya jika itu sudah menyangkut keluarga.
"Fathan itu anak mama. Apapun kekurangannya dia tetap anak mama". Eneng menangis dan tak menjelaskan apa yang ibunda Kirana katakan tentang Fathan.
"Sudah mah. Gak usah dibahas lagi. Yang penting kita sudah paham seperti apa mereka". Airil memeluk Eneng dan menenangkannya. Eneng mengangguk paham.
Malam sudah larut. Thian sudah merebahkan tubuhnya diatas kasur. Dia sedang berbalas pesan dengan Fathan. Menceritakan apa yang terjadi dengan sang mama. Fathan pun marah.
Pagi ini Fathan akan ke lokasi agak siang. Dia akan ke kantor terlebih dahulu. Fathan berangkat menggunakan mobil Almeer karena mobilnya dibawa oleh Adrian. Setiba di kantor agensi, Fathan bertemu dengan beberapa teman seprofesinya. Dan wajah-wajah baru juga berada disana.
"Wuih artis top tumben mampir nih". Sapa salah satu teman seprofesi Fathan.
"Bisa aja loe. Iya lagi pengen aja. Sibuk apa loe. Lama gak ketemu". Fathan duduk disamping temannya sambil berbincang.
"Ini mau ada syuting di luar kota. Gue baru urus beberapa keperluan. Loe sendiri belum kelar filmnya". Sahut teman Fathan.
"Belum masih awal". Perhatian Fathan teralih saat ada salah satu perempuan yang mungkin juga artis atau model satu agensi dengannya sedang berkata sedikit tidak pantas pada salah satu petugas kebersihan.
__ADS_1
"Loe itu dibayar buat bersihin tempat ini. Terus kenapa loe gak mau bersihin bawah meja gue". Suara dari perempuan itu.
"Maaf kak. Dari tadi sudah saya bersihkan. Tapi kakak masih saja buang seenaknya. Saya juga punya pekerjaan lain kak. Bukan hanya ngurusin sampah kakak". Petugas kebersihan itu berani melawan kearoganan perempuan itu.
"Wah berani bener loe sama gue. Loe tau gue siapa". Kembali perempuan itu bersifat arogan. Beberapa temannya sudah melerainya. Namun tetap saja perempuan sombong itu masih saja berteriak.
Fathan mengamati dari jauh. Fathan bertanya kepada temannya siapa perempuan sombong itu. Dan memang perempuan itu adalah artis pendatang baru yang masuk melalu jalur teman dari keluarga istri Serkan. Fathan menanggapi dengan senyuman tipis. Fathan terpaku saat tau tukang kebersihan itu adalah Melody.
"Lihat aja sore ini loe gak akan kerja disini lagi". Perempuan itu kembali berkata dengan arogan. Sedangkan Melody mulai malas menanggapi ocehannya. Melody melangkah pergi. Karena merasa tak dipedulikan, perempuan sombong itu hendak menyiram minuman kearah wajah Melody. Beruntung Fathan sudah meminta Kunkun melindungi Melody. Air itu tumpah diatas kepala perempuan sombong itu.
Almeer yang baru keluar dari ruangan meeting kaget dengan keadaan ruang tunggunya. Perempuan sombong itu mengadu jika itu ulah Melody. Namun karena banyaknya saksi, Melody bisa terselamatkan. Fathan sengaja pergi meninggalkan ruangan itu dan menyusul Melody.
Ditaman belakang Melody menghembuskan nafasnya sangat berat. Dia duduk dibangu taman sambil memainkan gagang sapu.
"Kasian tuh gagang sapu pusing ntar. Loe putar-putar terus". Fathan mengagetkan lamunan Melody."
"Loh Kakak. Kok ada disini. Lagi nyoba jadi artis ya". Tanya Melody dengan penuh antusias setelah melihat siapa yang mengganggunya.
"Hem. Iya". Jawab Fathan singkat. Fathan baru mengerti jika Melody tidak mengenali siapa dia. Dan Fathan tak masalah.
"Kakak pasti lolos. Secara wajah kakak tampan". Melody tersipu dengan kata-katanya sendiri. Dan Fathan pun terkekeh melihat tingkah Melody.
"Heem. Gue suka cara loe ngadepin masalah tadi. Bagus. Jangan mau direndahkan". Fathan memuji keberanian Melody yang melawan perempuan sombong tadi.
"Harus kak. Lagian sama-sama manusia. Makan juga nasi. Kok sombongnya minta ampun". Jelas Melody dengan wajah yang imut. Fathan tersenyum melihat ekspresi wajah Melody.
Tak lama Adrian datang mencari Fathan. Sudah waktunya Fathan untuk berangkat ke lokasi. Tujuan Fathan datang ke kantor sebenarnya mengambil beberapa berkas hasil rapat pemegang saham. Namun dia melupakan itu setelah bertemu Melody.
"Than ayo. Sudah waktunya". Ajak Adrian yang baru saja menemui Fathan. Fathan mengangguk dan segera berpamitan pada Melody.
__ADS_1
"Mel. Gue pergi dulu ya. Gue ada kerjaan". Pamit Fathan pada Melody. Melody mengangguk sambil tersenyum. Namun Melody menyadari sesuatu setelah Fathan pergi.
"Yah. Kan lupa minta nomor ponsel Kak Fathian". Ucap Melody lesu.