
"Kita ketemu lagi. Jodoh kali ya kak". Suara seorang perempuan membuyarkan konsentrasi Fathan yang sedang asyik membaca buku ditaman tak jauh dari rumahnya. Fathan menoleh sesaat dan mencoba mengingat gadis itu. Kini dia kembali fokus pada bukunya tanpa berniat menjawab sapaan gadis itu.
"Baca apaan kak. Kok serius banget". Gadis itu kembali bertanya. Dan Fathan tidak menjawabnya. Gadis itu tersenyum tipis melihat sikap Fathan yang begitu dingin. Namun dia tak menyerah. Terus bertanya.
"Mau kak. Ini enak loh". Gadis itu menyodorkan camilan yang sedang dia makan. Lagi dan lagi tak ada tanggapan dari Fathan. Fathan beranjak dari kursinya. Saat akan melangkahkan kakinya, gadis itu memanggilnya.
"Kakak gak nyaman denganku". Nada itu terdengar sendu. "Huh. Kenapa semua orang tak menyukaiku". Gadis itu berdiri dan berjalan mendahului Fathan.
"Kenapa dia". Fathan bergumam pelan. Fathan menatap gadis itu dari tempatnya berdiri. Saat gadis itu berjalan, tak sengaja dia bertemu dengan anak kecil yang sedang menangis. Gadis itu menghampiri anak kecil tersebut.
"Hai cantik. Kenapa menangis. Dimana mamamu". Gadis itu berjongkok sambil mengusap air mata anak kecil itu. Anak itu sedikit tenang.
Fathan memperhatikan interaksi mereka berdua. Gadis itu memeluk tubuh anak kecil tersebut agar bisa menenangkannya. Tak lama anak kecil itu bercerita.
"Aku tidak tau mama dimana kak. Tadi aku berlari mengejar kupu-kupu. Dan aku sampai disini". Jelas anak kecil tersebut. Gadis itu menampakkan wajah sedih mendengar cerita anak kecil tersebut.
"Kamu ingat rumah kamu dimana. Biar kakak antarkan pulang". Gadis itu kembali bertanya.
"Tidak kak. Yang Cici ingat. Rumah Cici warna hijau ada pohon rambutan didepannya". Anak kecil yang bernama Cici itu menyebut ciri khas rumah miliknya.
"Oh nama kamu Cici". Gadis itu mengusap lembut surai rambut Cici. Sambil menuntunnya duduk di bangku taman. Fathan masih memperhatikan keduanya dari jarak yang tak begitu jauh.
"Kakak siapa namanya". Cici bertanya kepada gadis yang telah menolongnya.
"Melody. Nama kakak Melody". Gadis itu menyebut namanya. "Cici kakak antar pulang yuk". Melody meraih tubuh gadis kecil itu kedalam gendongannya. Dia akan berusaha mencari rumah Cici yang kemungkinan tak jauh dari taman tersebut.
"Cici. Nak. Cici dimana". Terdengar suara teriakan tak jauh dari Melody dan Cici berada. Fathan masih memantau keduanya.
"Cici. Sepertinya itu mama kamu. Yuk kita kesana". Dengan tetap membawa Cici dalam gendongannya, Melody berjalan menuju arah suara.
"Mama". Cici berteriak kencang ketika melihat sang ibu. Ibu Cici berlari menghampiri sang anak diikuti beberapa orang dibelakangnya.
__ADS_1
"Cici. Alhamdulillah kamu gak papa nak". Ibunda Cici memeluk Cici dan menciuminya. Melody tersenyum melihat interaksi keduanya. Ibunda Cici beralih kepada Melody yang masig berdiri dibelakang mereka.
"Nak. Terimakasih sudah menolong anak saya". Ucap sang ibunda dengan tulus sambil menggenggam tangan Melody.
"Sama-sama tente". Melody menjawab dengan senyuman terukir di bibirnya. Sesaat kemudian Ibunda Cici berpamitan dan pergi membawa Cici kembali kerumah. Melody tersenyum menatapnya. Hingga suara seseorang membuatnya menegang.
"Melody. Sayang. Itu kamu kan". Suara seorang lelaki yang sudah berdiri dihadapan Melody. Melody diam dan berusaha berjalan mundur perlahan. Melody tak menjawab pria itu. Fathan masih melihat dari tempat yang sama.
"Sayang kemarilah. Aku mencarimu kemana-mana. Aku merindukan kamu sayang". Pria itu berjalan mendekat kearah Melody. Melody melirik kearah samping dan mendapati bayangan Fathan yang masih berdiri hendak berbalik arah.
Melody berlari memeluk lengan Fathan. Hal itu membuat Fathan tersentak kaget. "Beb. Maaf ya lama. Ayo kita pulang". Melody memberi kode kepada Fathan untuk membantu sandiwaranya. Fathan yang paham hanya mengangguk dan tersenyum.
"Tunggu. Mel, dia siapa". Pria tadi menahan lengan Melody dan menatap tajam Fathan.
"Dia kekasihku Dav". Jelas Melody singkat. "Ya sudah kami pulang dulu Dav". Melody berpamitan pada pria tadi.
"Mel, tunggu. Kamu bohong kan. Dia bukan kekasihmu. Akulah kekasihmu Mel. Aku tau kamu sedang marah padaku. Tolong maafkan aku sayang". Pria tadi masih berusaha menahan Melody. Dia tidak menerima pernyataan Melody tentang Fathan.
"Davin. Gue gak marah sama loe. Dan tolong jangan ganggu gue lagi. kita sudah lama berakhir Dav. Stop menyebut gue kekasih loe. Gue pamit". Melody berjalan meninggalkan Davin sambil tetap menggandeng lengan Fathan.
"Maaf. Gue gak kenal loe. Dan loe tadi sudah mendengar perkataan Melody kan. Gue rasa loe juga gak tuli. Jadi pergilah". Ujar Fathan kepada Davin. Davin semakin geram dan akan melayangkan kembali pukulannya. Namun terhenti karena suara Melody.
"Stop Dav. Gue gak suka loe berbuat kasar seperti ini. Gue mohon pergilah Dav. Jangan ganggu gue lagi". Melody menarik lengan Fathan dan berjalan keluar dari taman tersebut.
Davin yang kesal hanya bisa mengumpat. Davin pun pergi meninggalkan taman dengan arah yang berlawanan dengan Melody. Setelah dirasa aman, Melody melepaskan genggamannya. Fathan masih diam tanpa kata.
"Kak makasih udah bantu gue. Dan maaf karena kakak harus terlibat masalah gue". Ujar Melody kepada Fathan.
"Hmm". Fathan hanya menjawab dengan berdehem. Melody berpamitan hendak pergi meninggalkan taman. Fathan mengamati sesaat dan menyusulnya.
"Gue antar". Ucap Fathan singkat sambil menarik tangan Melody menuju mobilnya. Mobil Davin melintas berpapasan dengan mereka. Davin sempat berhenti sejenak, lalu melajukan mobilnya dengan kencang.
__ADS_1
Sedari tadi Kunkun yang menjaga Fathan diam mengamati sambil tersenyum sendiri. Didalam mobil tidak ada percakapan. Melody diam melihat kearah jendela. Fathan hanya fokus mengendarai mobilnya.
"Ehem. Rumah loe dimana". Tanya Fathan memecah keheningan. Melody sedikit tersentak kaget dan tersadar dari lamunannya.
"Di jalan Malaya kak. Tapi nanti gue turun diperempatan depan saja kak. Gak usah diantar sampai rumah". Melody menjawab dengan melihat kearah wajah Fathan. Melody tertegun sesaat melihat wajah rupawan Fathan.
"Oh. Oke". Fathan kembali menjawab dengan singkat. Melody kembali melihat kearah jalanan. Kunkun terkikik geli melihat ada sesuatu yang berubah dari sang bos.
"Oh ya kak. Maaf. Kita belum kenalan. Padahal ini kali ketiga kita bertemu". Ucap Melody kembali memecah keheningan. Fathan masih saja diam.
"Gue udah tau nama loe". Fathan menjawab singkat dan tak menampakkan ekspresi apapun diwajahnya. Membuat Melody semakin penasaran.
"Oh gitu. Terus nama kakak siapa". Tanya Melody dengan wajah polosnya. Didalam hati Fathan bergumam. Dia merasa heran masih ada orang yang belum mengenalnya. Padahal wajahnya sudah terpampang jelas di mana-mana.
"Gue Fathan". Jawab Fathan singkat. Kini mereka sudah hampir dekat dengan perempatan dimana Melody meminta diturunkan. Fathan menepikan kendaraannya. Dan menunggu hingga Melody keluar dari mobilnya.
"Sekali lagi makasih ya kak. Sudah nganterin Mel". Melody melambaikan tangannya setelah mendapat anggukan dari Fathan . Fathan melajukan kembali kendaraannya.
Melody berjalan memasuki sebuah gang kecil. Melody tidak menyadari jika Fathan masih memperhatikannya. Fathan menyadari tindakan anehnya itu. Dia pun kembali melajukan mobilnya.
"Uhui ada yang gak tremor nih". Kunkun meledek Fathan. Fathan hanya diam saja. Saat lampu lalulintas memintnya berhenti, Fathan sedikit menyadari apa maksud Kunkun.
"Kok gue biasa aja ya Kun". Tanya Fathan kepada Kunkun. Kunkun terkikik mendengar penuturan sang bos.
"Jodoh kali bos". Dengan riang Kunkun menjawab pertanyaan Fathan. Fathan melihat Kunkun dari spion dalam mobil.
"Omongan loe". Fathan kesal dengan ucapan Kunkun yang seenaknya.
"Bos gak sadar. Sedari tadi Melody megangi tangan bos, tapi bos biasa aja. Gak ada reaksi aneh. Bahkan gas beracun pun gak ada". Jelas Kunkun kepada Fathan.
"Eh iya juga ya Kun. Kok gue baru ngeh". Jawab Fathan dengan sedikit berfikir. Apa ada yang salah dengan dirinya. Karena saat berada disisi Melody, dia biasa saja.
__ADS_1
"Acie cie. Ada yang mau sold out nih". Kunkun menggoda Fathan. Dengan diiringi suara tawanya.
"Emang baju sold out". Nada keris terdengar dari suara Fathan