
"Gimana-gimana berhasil gak Zee". Dion yang sudah berada dirumah Zee buru-buru menghampiri sahabatnya. Dion sengaja langsung menuju rumah Zee karena sa gat penasaran.
"Sepertinya begitu bestie". Zee tertawa dengan jawabannya. Dion pun ikut tertawa mendengar perkataan sahabatnya itu.
"Oke kita lanjutkan rencana selanjutnya bestie". Dion kembali menyusun rencana bersama Zee.
Membuat Thian cemburu dan menyadari perasaannya. Itu adalah rencana Dion dan kekasih Dion Clara. Dion dan Clara adalah sahabat Zee sejak kecil. Thian tidak begitu mengenal mereka. Karena Dion sempat pindah kota karena ayahnya seorang perwira polisi yang berpindah-pindah tugas. Thian hanya mengenal Clara saja sebagai sahabat Zee.
Flashback.....
"Kenapa murung beb". Clara yang baru saja datang ke sekolah segera mendekati Zee yang tampak murung. Zee hanya diam menatap kearah luar kelas.
"Iya. Loe habis pesta kemarin kenapa berubah pendiam gini sih Zee. Loe sakit Zee. Atau ada masalah". Dion juga ikut bergabung dengan Clara. Zee yang ceria berubah menjadi pendiam membuat kedua sahabatnya khawatir.
"Gue gak sakit kok. Cuman lagi mikir aja". Zee menjawab dengan suara lirih dan lemas. Clara menggenggam tangan Zee. Memberikan kekuatan kepada sahabatnya itu.
"Kenapa beb. Cerita sama kita. Kita pasti bantu loe kok". Dengan suara lembut Clara meminta agar Zee mau berterus terang tentang keadaannya saat ini.
"Gue tuh bingung kenapa kak Thian berubah. Apa gue bikin salah sama dia. Dari kemarin gue mikirin salah gue apa ke dia Cla". Zee menunduk sedih menjelaskan apa yang sedang dia rasakan saat ini.
"Loh bukannya habis pesta itu kalian baik-baik saja Zee. Bahkan gue lihat dari balkon kamar gue, kalian romantis abis. Bikin iri aja". Rumah Dion memang tidak jauh dari rumah Zee. Dion pun selalu mengetahui setiap momen manis Thian dan Zee saat diteras depan rumah Serkan.
"Hum. Tiga hari setelah pesta, kak Thian gak pernah balas semua pesan Zee. Hanya sekali atau dua kali dia balas. Gak seperti biasanya, dia selalu membalas setiap pesan dari gue. Kadang telepon pun gak diangkat. Huft". Zee menghembuskan nafasnya berat. Seperti ada rasa sesak yang mengganjal.
__ADS_1
"Hem. Loe beneran gak salah ngomong sama kak Thian. Baru kali ini kak Thian nyuekin loe Zee". Zee mengangkat kedua bahunya pertanda dia tak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Thian.
"Zee, loe sebenarnya udah jadian belum sih sama kak Thian". Dion tiba-tiba menanyakan hal yang sampai saat ini belum pernah terwujud. Zee menggeleng memberibjawaban kepada Dion.
"What's". Clara dan Dion berteriak bersamaan. Membuat beberapa siswa yang sudah berada dikelas menatap kearah mereka.
"Berisik amat kalian". Zee membekap kedua mulut sahabatnya dengan kedua telapak tangan miliknya. Clara dan Dion melepaskan tangan Zee dari mulut mereka.
"Gila loe Zee. Gak nyangka teman gue cuma hubungan tanpa status". Dion dan Clara kembali menggeleng benar-benar tidak bisa percaya dengan perkataan Zee yang cukup mengejutkan.
"Gue udah ngomong berkali-kali ke kak Thian. Tapi kak Thian cuma senyum aja setiap gue minta jawaban. Bahkan habis pesra gue kemarin, gue nembak dia lagi. Dan dia bilang ke gue. Ehem..Zee fokus sekolah aja dulu gak perlu mikir hal yang tidak penting". Zee berkata sambil menirukan suara Thian. Dan bergaya juga seperti Thian.
"Wah daebak bener loe Zee. Gak nyangka gue loe berani maju duluan. Dah gitu cara nolaknya pelan tapi nusuk". Clara memperagakan gerakan seolah dia sedang tertusuk benda tajam pada bagian dadanya.
"Loe gak perlu ngomong gitu Yon, kalau cuma pengen bikin gue tenang". Zee menyangkal semua perkataan Dion, bahkan Clara ikut menyetujui perkataan Zee.
"Gue ini cowok Zee. Gue tau kak Thian ada rasa ke loe. Dari cara dia memperlakukan loe, perhatian sama loe. Bahkan waktu pesta loe kemarin, pandangan kak Thian hanya fokus ke loe Zee". Dion menjelaskan secara detail menurut sudut pandangnya. Zee dan Clara sama-sama diam mencoba memahami perkataan Dion.
"Terus gue harus gimana Yon". Zee mencoba meminta saran kepada sahabatnya itu. Dion mulai menyusun rencana agar Thian bisa menyadari perasaannya kepada Zee.
Flashback end...
"Sayangnya loe tadi pake ngibasin tangan gue Zee. Harusnya biarin aja gue nyium tangan loe lebih lama". Dion memprotes Zee karena saat dia mencium tangan Zee, Zee mengibaskan tangan Dion.
__ADS_1
"Ck. Gue gak enak sama Clara kali. Dan loe juga salah gak ngasih tau dulu kalau bakal manggil gue pake kata sayang terus nyium tangan gue. Jadinya gue refleks kaget". Jelas Zee kepada Dion. Sedangkan Clara sedang asyik memakan camilan sambil sesekali membenarkan ucapan Dion.
"Santai aja kali Zee. Gue itu paham maksud Dion. Loe gak perlu sungkan. Karena kita tahu hati loe cuma ada Fathian seorang". Clara mengolok Zee. Dan Zee hanya tertawa menanggapi ledekan sahabatnya.
"Terus rencana kita selanjutnya apa Yon". Dion membisikkan rencana mereka selanjutnya. Dan mereka bertiga pun tersenyum penuh arti.
Dilokasi syuting, Thian berusaha untuk tetap konsentrasi. Namun bayang-bayang Zee bersama pria bernama Dion siang tadi terus mengganggu pikiran Thian.
"Huft. Sabar Thian. Sabar. Selama janur kuning masih dipohonnya. Masih ada jalan menuju pelaminan". Thian bergumam sendiri. Sikap Thian yang sedikit aneh mengundang perhatian Fathan. Fathan terus memperhatikan gerak-gerik sang adik.
"Dek loe kenapa sih. Gelisah gitu". Fathan mendekati Thian. Fathan khawatir jika terjadi sesuatu kepada Thian.
"Gapapa bang. Udah giliran kita apa bang". Thian mencoba mengalihkan pembicaraan mereka. Fathan menyadari hal itu. Dan tidak mau memaksa adiknya untuk bercerita.
"Bentar lagi kita masuk set area dek. Gue harap loe bisa profesional seperti biasa. Walaupun Abang tahu kamu sedang tidak baik-baik saja". Fathan memberi dukungan semangat kepada sang adik dengan memukul pundak kirinya.
Fathan berjalan menuju set area syuting. Thian menyusul sepuluh menit kemudian. Thian berusaha semaksimal mungkin untuk tetap fokus bekerja. Usai melakukan syuting iklan. Si kembar bergegas menuju lokasi selanjutnya.
Thian memeriksa ponsel miliknya. Namun tak ada satupun pesan dari Zee untuknya. Namun Thian gengsi jika harus mengirim pesan terlebih dulu.
"Kangen tinggal telepon aja kok susah". Fathan mengolok sang adik. Thian hanya diam tak menjawab apapun. Pekerjaan mereka usia sangat larut malam, bahkan hampir pagi.
Tak ada respon dari Thian. Tubuh Thian memang sedang bekerja. Namun hari dan pikiran Thian. ada ditempat lain.
__ADS_1
Rencana apalagi yang akan mereka buat untuk mengetahui perasaan Thian kepada Zee yang sebenarnya....