Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
Usaha


__ADS_3

"Kak doakan Zee agar hari ini Zee ujian akhir sekolah".


Waktu cepat berlalu. Zee sudah hampir menyelesaikan sekolahnya. Dan hingga saat inipun Thian belum bisa mengungkapkan perasaannya.


"Kakak selalu mendoakan Zee yang terbaik. Mau jalan-jalan sebelum ujian".


Karena kesibukan Thian semakin bertambah, Thian jarang bertemu Zee. Bahkan Thian baru saja kembali dari luar kota menyelesaikan syuting film terbarunya. Hubungan Zee dan Thian lebih baik dari sebelumnya semenjak mereka terpisah jarak. Thian berusaha memberikan perhatian kepada Zee disetiap kesempatan.


"Memang kakak sudah pulang kerumah".


"Subuh tadi kakak sampai Zee. Kalau mau nanti kakak antar sekolah".


"Zee mau kak. Tapi kalau kakak capek gak usah kak"


"Oke dua puluh menit lagi kakak sampai".


Thian segera mandi dan bersiap menjemput Zee. Rasa lelah Thian hilang seketika setelah bertukar pesan dengan Zee. Dua bulan bukan waktu sebentar bagi Thian dan Zee berkomunikasi jarak jauh. Akankah hari ini keberanian Thian akan muncul untuk mengungkapkan perasaannya untuk Zee.


"Mah. Abang udah berangkat. Kok kamarnya kosong". Thian mendekati Eneng yang sedang menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya.


"Abang belum pulang dek. Emang adek gak dikasih tau Abang, kalau Abang nginep dilokasi". Thian mendengarkan Eneng sambil membantu menyiapkan makanan diatas meja.


"Gak mah. Papa sama Oma belum bangun ya mah". Thian kembali mengabsen satu persatu keluarganya. Eneng paham jika putranya sedang merindukan seisi penghuni rumah tersebut.


"Papa baru jalan-jalan sama Oma. Kasian Oma semenjak sakit jarang keluar rumah. Kebetulan kemarin ada kursi roda yang cocok untuk Oma. Jadi sekarang Oma bisa diajak jalan-jalan". Semenjak Emak sakit, emak sudah susah untuk berjalan dalam jarak dan waktu yang lama. Eneng selalu memberikan perhatian lebih kepada emaknya.

__ADS_1


"Syukurlah. Biar Oma juga jenuh mah. Setidaknya Oma bisa melupakan rasa sakitnya dengan sering diajak keluar rumah". Thian mengambil roti dan memulai sarapan paginya terlebih dahulu.


"Adek bukannya libur ya. Kok sudah rapi". Eneng memperhatikan penampilan Thian yang sudah rapi dan wangi dipagi hari. Biasanya jika libur Thian akan mandi satu kali sehari. Dan hanya bermalas-malasan didalam kamar.


"Mau nganter Zee sekolah mah". Thian menjawab pertanyaan Eneng sambil menyantap roti panggang kesukaannya. Mendengar nama Zee, Eneng teringat jika sudah hampir empat bulan Thian belum memberi jawaban kepastian mengenai permintaan Serkan.


"Dek. Kapan kamu mau jawab permintaan papi Serkan. Sudah empat bulan kamu belum kasih jawaban dek". Mendengar perkataan sang mama, Thian terdiam sejenak dan kembali memakan rotinya.


"Dek, boleh mama kasih saran. Kalau memang kamu tidak yakin sebaiknya mulai jauhin Zee dan beri dia pengertian agar Zee tidak berharap lebih. Tapi kalau kamu memang sudah mantap segera beri kepastian. Karena gak ada orang yang mau nunggu dalam waktu yang lama dek. Mungkin sekarang Zee masih sabar. Tapi lama-lama dia akan bosan juga dek". Eneng mencoba menasehati putranya. Thian hanya menunduk dan mencoba memikirkan perkataan mamanya.


"Mm. Mah, kalau misalnya Thian benar-benar suka sama Zee, apa mama dan papa tidak keberatan". Thian sudah lama ingin mengatakan ini. Walaupun Thian tahu jika kedua orangtuanya tidak akan ikut campur dalam urusan asmara kedua putranya. Tapi yang membuat ini lain karena gelar nama yang disandang Zee.


"Dek, mama sama papa sudah siap nak. Jika memang Zee jodoh kamu, kami tidak bisa menolaknya. Ikuti kata hatimu nak. Apapun keputusan kamu kami dukung sepenuhnya". Eneng memeluk Thian dan menyenderkan kepala Thian diperutnya.


"Terimakasih mah. Thian sudah tau apa yang harus Thian lakukan mah". Thian juga memeluk erat pinggang sang mama dan tersenyum mendengar nasehat mamanya. Hati Thian semakin yakin dengan keputusan yang akan dia ambil.


Zee yang sudah siap berangkat, sedang duduk menunggu Thian diteras sambil membaca buku yang menjadi materi ujiannya hari ini. Serkan mendekati sang putri yang fokus pada bukunya.


"Zee nunggu Dion ya". Zee memang tidak memberitahu papinya jika Thian yang akan mengantarkan dirinya sekolah hari ini.


"Nggak pah. Dion indah berangkat tadi. Kan Dion jemput Clara pah". Jawab Zee sambil tetap membaca bukunya. Serkan duduk disamping Zee menemani sang putri.


"Terus kamu bareng siapa Zee. Mau papi antar saja apa". Zee tersenyum melihat kearah papinya. Dan saat itu mobil Thian sudah berada didepan rumah Zee. Thian masuk menghampiri Zee.


"Tuh yang jemput Zee datang Pi". Serkan menoleh kearah gerbang. Thian tersenyum menatap Zee dan Serkan. Serkan pun membalas senyuman itu dan berdiri menyambut Thian.

__ADS_1


"Wah wah. Pantes gak mau diantar supir ataupun papi. Ternyata ada jemputan istimewa. Kapan pulang Thian. Bukannya kemarin kamu syuting diluar kota". Serkan memeluk Thian sambil menepuk pelan punggung Thian. Dengan senang hati Thian membalas pelukan itu.


"Subuh tadi Pi baru sampai. Papi gimana kabarnya. Maaf lama gak main". Thian tersenyum melihat Serkan.


"Papi baik. Papi maklumlah namanya artis terkenal. Hahaha". Thian tertunduk malu mendengar olokkan Serkan. Zee segera mengambil tasnya dan meminta Thian segera mengantarkan dirinya.


"Hish malah reunian. Kak ayo keburu siang. Satu jam lagi ujian Zee mulai". Zee menarik tangan Thian. Mereka pun berpamitan kepada Serkan. Serkan menatap bahagia kedua sejoli itu. Walauy Thian belum memberi jawaban, Serkan tetap akan menunggu.


Didalam mobil Zee kembali membaca bukunya. Dan sesekali berbincang dengan Thian. Jantung Thian sebenarnya sedang tidak baik-baik saja saat berada disamping Zee.


"Zee pulang jam berapa nanti". Karena memang Thian sedang libur lumayan lama, Thian ingin memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk lebih dekat dengan Zee.


"Zee pulang cepat kak. Cuma dua mata pelajaran saja ujain hari ini. Kakak mau jemput Zee". Zee hanya melihat sekilas kearah Thian dan fokus kembali kepada bukunya.


"Iya. Gapapa kan Kakak jemput Zee". Thian bertanya kesedian Zee, karena Thian ingin Zee merasa nyaman bersamanya.


"Asyik dijemput artis ternama. Hahaha". Zee menjawab dengan sedikit candaan. Thian pun ikut tertawa mendengar candaan Zee.


Mereka sudah berada di gerbang sekolah Zee. Sebelum Zee turun dari mobil, Thian sudah menyiapkan sesuatu untuk Zee.


"Zee ini buat Zee. Semangat ya ujiannya. Jangan lupa berdoa. Teliti lagi dalam membaca soal". Thian juga memberi wejangan kepada Zee.


"Apa ini kak". Wajah Zee berseri mendapatkan hadiah kecil dari Thian. Zee pun membuka plastik yang diberikan Thian kepadanya.


"Wah, makasih kak. Tau aja kesukaannya Zee". Tas itu berisi susu strawberry, satu batang coklat dan sandwich. Thian tersenyum bahagia melihat reaksi Zee.

__ADS_1


"Ingat pesan kakak Zee. Semangat baby". Thian memberi semangat kepada Zee saat Zee akan keluar dari mobil Thian. Zee merasa berbunga saat mendengar perkataan Thian. Dan kata terakhir yang terucap dari mulut Thian membuat Zee tersipu malu.


__ADS_2