
"Hallo pah"
"Kenapa Jo"
"Papa kenapa gak bilang ke Jo soal ambasador. Dan kenapa gak diskusi dulu sama Jo"
"Kenapa memangnya. Lagian udah setuju semua kan sama pilihan papa"
"Jo yang gak setuju. Dia gak cocok jadi ambasador. Masih banyak artis lain yang cocok"
"Kalau menurut papa dia sangat cocok. Memangnya menurut kamu siapa yang lebih cocok selain Fathian Prasaja"
"Nanti Jo cari. Yang jelas lebih kompeten dari dia"
"Papa gak yakin. Sebelum kamu cari yang lain, coba kamu cari tahu dulu tentang bagaimana dia. Dia itu dapat julukan King of sales. Apapun yang dia pake akan habis terjual dalam waktu hitungan menit"
"Gak usah berlebihan pah. Pokoknya Jo tetap gak setuju sama pilihan papa. Jo akan segera cari pengganti yang pastinya lebih baik dari dia"
Johan kesal dengan jawaban papanya. Setelah meninggalkan kafe, Johan segera menghubungi Papanya. Dia memastikan jika apa yang dikatakan oleh Shadam itu tidak benar. Tapi nyatanya memang papa Johan yang memilih Thian sebagai ambasador. Bahkan memuji kelebihan Thian yang semakin membuatnya marah.
Johan memutuskan untuk kembali ke hotel. Dia ingin menenangkan diri dahulu sebelum kembali ke proyek. Disaat yang bersamaan, Thian juga harus segera kembali ke tanah air. Pekerjaan lain sudah menunggu Thian. Dan juga dia sudah ingin bertemu kedua orangtuanya terutama sang Oma.
Thian sudah berada dilobby menunggu sopir yang akan mengantarkannya ke bandara. Luki juga sudah menemani Thian. Melihat Thian berada di lobby, Johan yang baru saja sampai hotel segera mendekati Thian.
"Boleh kita bicara sebentar". Tanpa basa-basi Johan segera mengutarakan maksudnya.
"Maaf anda siapa. Apakah kita saling mengenal". Sebenarnya Thian tahu siapa Johan. Bagi Thian cukup tahu tidak perlu mengenal.
"Wah wah. Beginikah sikap calon ambasador yang akan bekerjasama dengan Guardian Company". Thian hanya diam tak mengatakan apapun.
__ADS_1
"Saya ini salah satu dari perusahaan yang memimpin pembangunan The House Of Guardian. Secara otomatis saya adalah atasan anda. Jadi bersikap sopanlah anda kepada saya". Ono sudah geram dengan perkataan Johan.
"Oh. Begitu, maafkan saya tuan. Saya tidak mengerti akan hal itu. Apa yang ingin anda bicarakan tuan. Tapi maaf waktu saya tidak banyak. Saya harus segera pergi". Thian bersikap merendah agar tidak terjadi kericuhan dan memancing perhatian orang.
"Sombong sekali anda hingga tak ada waktu untuk berbicara". Thian hanya diam saja tak mau menanggapi. Berdebat yang tak penting seperti ini hanya akan menguras energi.
"Baiklah saya akan bicara secara singkat. Pertama, silahkan anda mengundurkan diri dari ambasador Guardian Company. Masalah ganti rugi, saya yang akan membayar. Kedua, jika anda hanya menggantung status anda dengan Zee, sebaiknya anda lepaskan Zee. Karena saya yang akan membahagiakan dia. Itu saja yang ingin saya sampaikan. Saya akan memberi waktu hingga tiga hari kedepan untuk anda memikirkan perkataan saya". Thian tersenyum tipis dibalik masker dan topinya.
"Urusan asmara saya dengan Zee bukan menjadi urusan anda. Carilah wanita lajang lainnya. Jangan suka mengganggu milik oranglain yang bahkan orang itu baru Anda kenal. Untuk masalah kerjasama, saya diminta bukan saya yang meminta. Jadi jika anda ingin saya melepas kerjasama ini, anda harus meminta kepada perusahaan untuk mengeluarkan saya. Dan saya rasa juga sudah cukup jelas. Saya permisi". Thian melangkah pergi. Johan kesal karena semua diluar ekspektasinya. Johan berfikir jika Thian mudah untuk dikalahkan.
Terdengar suara dentuman orang jatuh dan suara tawa riuh dibelakang Thian dan Luki. Thian dan Luki menoleh. Johan jatuh tersungkur dan dia masuk kedalam kolam kecil yang ada ditengah lobby.
"Rasain loe. Jangan macam-macam loe sama bos gue. Makanya kalau mandi itu keramas. Biar otak loe bersih". Ono kembali mengerjai Johan. Bahkan setiap Johan berusaha berdiri, Ono selalu mendorong kembali.
Karena mobil Thian sudah tiba, Ono segera menyudahi aksinya. Dan sebelum benar-benar pergi, Ono sengaja kembali menendang Johan hingga tersungkur lebih jauh lagi. Thian hanya diam memperhatikan. Johan berlari menuju kamarnya karena malu dan juga takut.
"Dasar manusia tidak tau diri. Bukannya berubah malah berulah". Shadam bergumam pelan sambil mendengarkan rekaman percakapan Thian dan Johan.
Ponsel Shadam berdering, ini yang sebenarnya Shadam khawatirkan. Sagara, Shadam yakin abangnya itu sudah mendengar mengenai hal ini. Apalagi jika itu menyangkut Zee. Sagara bisa berbuat nekad untuk melindungi Zee.
"Assalamualaikum bang"
"*Waalaikumsalam. Apa-apaan ini. Kenapa Abang harus tau dari anak buah Abang. Kamu bisa jaga Zee gak"
"Maaf bang. Semua sudah bisa ditangani. Abang gak usah khawatir. Zee baik-baik saja"
"Apa perusahaan pria itu juga ada dalam daftar Guardian Company yang mendapat suntikan dana saat mereka hampir bangkrut"
"Iya bang. Mereka salah satu perusahaan itu. Dan anak pemilik perusahaan itu yang membuat ulah"
__ADS_1
"Wah gak tau diri sekali sudah dibantu malah bikin ulah. Cabut semua bantuan. Abang gak suka sama sifat anak sombong itu"
"Kita gak bisa ambil keputusan itu bang. Karena pemilik Guardian Company masih ingin bermain dengan dia"
"Ya sudah Abang akan terus pantau dari sini. Kalau dia berbuat lebih kepada Zee. Abang pastikan semua miliknya akan hilang*"
Shadam menghela nafasnya panjang setelah mengakhiri panggilan dari Sagara. Shadam melihat kearah jam didinding. Setelah memastikan sesuatu, Shadam segera menghubungi seseorang.
"*Loe ya kalau mau main-main jangan lama-lama"
"..."
"Ketawa lagi. Gue udah diamuk sama bang Gara. Loe juga kenapa gak nongol aja dimeeting. Sampai kapan mau sembunyi"
"..."
"Serah loe deh. Yang penting segera bereskan. Biar tuh manusia sadar diri. Udah dibantu malah songong*".
Shadam menghubungi pemilik Guardian Company. Yang hingga saat ini masih menjadi misteri siapa pimpinan perusahaan itu. Perusahaan ternama yang banyak membantu perusahaan yang hampir bangkrut. Termasuk milik keluarga Johan.
Shadam kembali berkutat dengan perkerjaanya. Sedangkan Zee juga sedang mengerjakan laporan dikamarnya. Dan Johan, masih marah dikamar karena jawaban Thian yang benar-benar tegas. Johan memikirkan cara lain. Agar Johan bisa menggantikan posisi Thian dengan artis lainnya.
"Oh ya pak Alan. Pimpinan pak Alan adalah satu-satunya pemegang saham terbesar diproyek ini. Gue harus bisa ketemu pimpinan pak Alan, dan membujuknya. Selama ini belum pernah pimpinan itu datang untuk mengikuti meeting. Dan pastinya dengan sedikit bumbu gue bakalan berhasil". Johan sudah sangat percaya diri dengan hasil akhirnya nanti.
Johan benar-benar mengirim pesan kepada Alan agar dibuatkan jadwal pertemuan dengan pimpinannya secara pribadi. Dan saat itu juga Johan mendapatkan balasan dari Alan.
"Maaf Tuan Johan. Tuan saya sedang ada di luar negeri dan tidak bisa menemui tuan. Jika ada hal penting bisa anda sampaikan kepada saya saja. Nanti saya akan sampaikan kepada tuan saya".
"Arghhh. Susah sekali bertemu pimpinan perusahaan Guardian. Siapa dia sebenarnya. Gue harus cari cara lain lagi ini. Arghhh. Ayolah Johan berfikir-berfikir". Johan terus mondar-mandir didalam kamarnya mencari ide lain.
__ADS_1