Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
Ada Apa Dengan Ku


__ADS_3

"Jadi Tiffany itu Melody pah". Fathan terkejut mendengar Airil menceritakan jika perempuan yang akan dijodohkan ke salah satu putranya adalah Melody.


"Ya begitulah. Karena Tiffany adalah panggilan Melody dirumah". Senyum tipis nampak dibibir Fathan. Thian pun bahagia melihat sang kakak bisa dekat dengan seorang wanita.


"Akhirnya papa bisa punya calon mantu juga. Hehehe". Airil kembali menggoda Fathan. Bahkan Thian ikut tertawa melihat bawah Fathan memerah karena digoda.


"Kak. Bisa jemput Zee disekolah. Papi gak bisa jemput. Mang Udjo sakit".


Thian mendapat pesan dari Zee saat dia asyik bersama papa dan abangnya. Hari ini mereka akan ada pemotretan dan syuting untuk acara reality show malam hari. Jadi siang ini mereka masih berada dirumah.


"Zee pulang jam berapa hari ini. Kakak nanti kerja jam lima".


Thian membalas pesan Zee menanyakan waktu kepulangannya. Thian masih menemani kakak dan papanya bermain catur. Karena jadwal yang sama-sama padat, mereka jarang sekali bisa menghabiskan waktu bersama.


"Zee hari ini pulang jam tiga kak. Bisa tidak kak. Kalau tidak bisa, Zee numpang teman saja".


Setelah menyetujui permintaan Zee, Thian kembali fokus ikut bermain. Karena Airil kalah dari Fathan, maka Thian yang menggantikan Airil melawan Fathan.


"Bang, Kapan ajak Melody main kerumah. Mamah sama Oma belum kan belum kenal". Eneng dan emak memang belum pernah bertemu dengan Melody. Dan setelah pertemuan keduanya diacara pertunangan Nanda, Fathan dan Melody sudah menjalin hubungan.


"Nanti pah. Nunggu jadwal Abang kosong. Lagian Melody juga lagi sibuk bangun usaha". Melody selama ini memang sedang mempersiapkan usaha miliknya sendiri dengan modal jerih payahnya. Bahkan kedua kakaknya yang ingin membantu dia tolak.


"Oh gitu. Benar-benar anak mandiri. Papa sangat salut dengan Melody. Tak mau merepotkan siapapun". Airil tersenyum sambil meminum teh hijau miliknya.


"Pah. Papa ingat gak waktu Abang cerita dia suka cewek tapi cewek itu ada yang punya". Seketika sifat jahil Thian muncul. Fathan sudah meminta Thian untuk diam tidak mengungkitnya lagi, tapi Thian tidak peduli.


"Oh itu. Iya papa mau tanya itu juga, tapi lupa. Siapa sih bang. Papa penasaran". Airil menjadi penasaran. Fathan memukul lengan Thian. Dan Thian menceritakan kisah Melody dan Fathan.


"Hahaha. Oh no anak papa. Hahahaha. Makanya jangan cuma berani dikandang bang. Untung kemarin gak kabur dari acara. Kalau kabur Abang pasti masih mikir kalau Melody yang tunangan. Hahahaha". Airil menertawakan sikap anak pertamanya itu. Bahkan Thian ikut tertawa.

__ADS_1


Fathan hanya tersenyum canggung mendapat ledekan dari papa dan adiknya. Waktu cepat berlalu. Thian melihat kearah jam dinding. Dia pun meninggalkan Abang dan papanya ditaman. Thian bergegas menuju kamar untuk mandi dan bersiap menjemput Zee.


"Bang. Gue berangkat duluan. Nanti ketemu dilokasi aja ya". Thian yang sudah rapi, menemui papa dan abangnya ditaman belakang. Fathan melihat Thian sudah membawa tas yang biasa dia bawa Kel lokasi kerja.


"Ini baru jam berapa dek. Lagian jadwal kita masih jam lima nanti". Fathan merasa heran karena sang adik pergi tiga jam lebih awal dari jam kerja.


"Gue jemput Zee dulu bang. Tadi minta dijemput karena gak ada yang jemput. Nanti setelah nganter Zee pulang, gue langsung ke lokasi". Jelas Thian kepada Fathan dan Airil pun masih duduk disana ikut mendengarkan.


"Oh gitu. Ya udah. Tapi jangan lupa like kabarin Luki. Biar dia langsung ke lokasi juga. Takutnya Luki kerumah dulu jemput loe". Setelah mengiyakan perkataan Fathan, Thian berpamitan kepada papa dan abangnya. Thian segera pergi menuju sekolah Zee.


"Semoga adikmu bisa mengambil keputusan yang tepat bang". Airil masih menatap kepergian sang putra dari kursi taman. Karena letak garasi mereka lebih dekat ke taman.


"Fathian itu sudah ada rasa kepada Zee pah. Hanya belum sadar saja". Jelas Fathan kepada papanya. Airil hanya mengangguk memahami perkataan putranya.


Dua puluh menit Thian melajukan kendaraannya menuju sekolah Zee. Thian menunggu didalam mobilnya tak jauh dari gerbang sekolah Zee. Thian juga sudah mengirim pesan kepada Zee, jika dia sudah berada didepan sekolah.


Lima belas menit kemudian nampak beberapa anak sekolah berhamburan keluar. Thian memperhatikan satu persatu siswa yang keluar. Ada pemandangan menarik yang membuat hati Thian memanas diantara kerumunan siswa. Thian terus memperhatikan dari dalam mobil. Dua orang siswa berbeda jenis sedang bercanda dihadapannya.


Zee hafal dengan mobil Thian. Tanpa menunggu lama, Zee bergegas masuk kedalam mobil Thian. Saat Zee akan menutup pintu mobil Thian, siswa itu berusaha menghalang-halangi.


"Zee. Besok gue jemput ya sayang". Ucap siswa itu. Bahkan siswa itu berani mencium telapak tangan Zee. Spontan Zee menarik tangannya. Zee tak menjawab apapun. Thian hanya diam menatap lurus kedepan. Namun tanpa Zee sadari Thian mengepalkan tangannya.


Siswa itu melihat kearah Thian. Namun Thian tak menoleh sama sekali. Thian menggunakan penutup wajah, topi serta kacamata hitam. Membuat wajahnya sulit dikenali.


"Besok loe gak usah jemput gue Yon. Gue sudah ada yang mengantar". Zee sengaja memeluk lengan Thian. Setelah mengucapkan itu, Zee menutup pintu mobil. Thian bergegas pergi meninggalkan halaman sekolah Zee.


Disepanjang jalan Thian hanya diam membisu. Maker wajah sudah Thian lepas. Dia hanya menggunakan topi dan kacamatanya saja. Karena merasa hening, Zee berusaha memecah kesunyian.


"Kakak sudah lama nunggu Zee". Zee berusaha mencairkan suasana. Apalagi sejak dari depan sekolah, Thian tidak menoleh kearah Zee.

__ADS_1


"Tidak". Jawaban Thian yang singkat dengan suara dinginnya, membuat Zee gugup. Thian tidak pernah berkata sedingin itu kepada Zee.


"Kakak marah sama Zee". Sikap Thian pun juga dingin. Bahkan senyuman pun tidak ada. Zee merasa tidak nyaman dengan perlakuan Thian kepadanya.


"Tidak". Lagi-lagi hanya jawaban singkat yang Thian lontarkan. Zee hanya bisa diam menunduk. Zee tidak tahu apa kesalahannya. Thian benar-benar hanya diam. Thian menyadari jika sikapnya membuat Zee bingung. Thian sendiri juga bingung mengapa dia seperti itu.


"Zee. Mau makan dulu gak". Thian mulai menenangkan dirinya. Dia tak ingin Zee terluka dengan sikapnya.


"Kakak lapar". Zee kembali memastikan. Bahkan Zee tersenyum bahagia melihat sikap Thian sudah kembali seperti semula.


"Hem. Kakak belum makan. Zee mau temani kakak makan dulu gak". Thian kembali bertanya kepada Zee. Karena memang Thian belum makan siang. Sejak mendapat pesan dari Zee tadi, Thian memang berencana mengajak Zee makan siang bersama. Walaupun sudah mulai sore.


"Oke. Zee juga lapar kak". Zee tersenyum bahagia dan dengan senang hati menerima ajakan Thian. Thian mengusap lembut surai panjang Zee. Dan membawa Zee ke restoran tempat favorit keduanya.


Thian memesan makanan kesukaan Zee, setelah sampai direstauran. Thian juga menyewa ruangan khusus agar tidak terganggu privasi mereka.


"Zee. Boleh kakak tanya sesuatu". Thian memberanikan diri bertanya kepada Zee, agar hatinya tenang.


"Boleh kak. Apa yang mau kakak tanya". Zee menatap Thian secara intens dan menghentikan aktivitas makannya.


"Pria tadi, kekasih Zee". Zee tersenyum kepada Thian. Dan membuat Thian semakin bingung.


"Bukan kak. Dia teman Zee dari sekolah dasar dulu. Dion namanya. Kenapa kak". Zee menjawab secara jujur kepada Thian. Thian kembali bertanya kepada Zee.


"Akrab banget sama kamu Zee. Bahkan memanggil sayang". Ada penekanan dalam kata sayang saat Thian bertanya.


"Dion memang seperti itu kak. Bahkan dia mengatakan ke semua teman Zee, kalau dia kekasih Zee kak". Jawab Zee membuat Thian mengepalkan tangannya.


"Oh begitu". Sikap Thian kembali berubah dingin. Zee tersenyum mengangguk menjawab perkataan Thian. Thian bingung mengapa dia begitu kesal mendengar perkataan Zee. Bahkan nafsu makannya mendadak hilang.

__ADS_1


Hingga Thian mengantarkan Zee sampai kerumah, Thian masih memendam kekesalan. Bahkan Thian merasa kesal sendiri dengan sikapnya. Rasanya dia ingin marah tapi tak tahu apa yang membuatnya marah


"Gue ini kenapa sih". Gumam Thian pelan pada dirinya sendiri.


__ADS_2