
"Sudah lebih dari lima belas menit tapi ambasador kita belum juga hadir. Tidak profesional sekali". Johan menggerutu didalam ruang rapat. Papa Johan sudah memberikan kode kepada putranya untuk diam.
Tidak ada satupun yang menanggapi perkataan Johan. Bahkan Zee tidak peduli sama sekali. Mereka masih menunggu pimpinan Guardian Company yang mendadak ada kepentingan lain. Lima menit kemudian terdengar suara langkah kaki dan pintu ruangan meeting pun terbuka.
Alan masuk terlebih dahulu. Semua yang sudah berada didalam ruang rapat berdiri menyambut Alan dan pastinya pimpinan Guardian Company. Johan sama penasaran dengan beberapa orang lainnya yang belum pernah bertemu dengan pimpinan Guardian Company.
"Kok dia. Gak salah. Yang benar saja". Johan diam membeku dengan berbagai macam pikirannya.
"Selamat siang. Maaf atas keterlambatan saya. Perkenalkan saya pimpinan dari Guardian Company, Fathian Prasaja". Johan hanya bisa duduk lemas dikursinya.
"Mungkin tuan-tuan menganggap saya sombong atau apapun. Saya mohon maaf. Bukan maksud saya untuk tidak hadir ataupun mengikuti meeting dan pertemuan lainnya. Seperti yang sudah diketahui, saya memiliki dua profesi berbeda. Dan kesibukan saya diluar juga karena pekerjaan". Thian benar-benar berwibawa dalam setiap penyampaian permintaan maafnya.
Johan yang masih belum menerima apa yang saat ini didepannya, dia diam dan menunduk. Marah, dan terkejut itu yang Johan rasakan. Meeting pun dimulai. Satu persatu dari masing-masing divisi melakukan presentasi. Thian menyimak dengan seksama.
Saat Zee akan melakukan presentasi, Thian berusaha untuk tidak menatapnya. Karena itu akan merusak fokus Zee. Zee pun juga berusaha sesekali saja menatap kearah Thian.
"Apakah ada masukan lain atau perubahan dari hasil ini. Sebelum semua proses pembuatan iklan dilaksanakan". Johan tau Thian sedikit menyindir dirinya. Tapi dia berusaha untuk tetap tenang.
"Apapun yang akan menjadi masukan, akan saya pertimbangkan jika itu memang demi kemajuan proyek ini". Thian kembali berbicara. Para petinggi perusahaan hanya menggeleng sebagai isyarat jika mereka sudah setuju dengan semua rencana yang berjalan.
"Baiklah jika memang tidak ada lagi masukan, kita akhiri meeting siang ini. Dan setelah ini saya akan menjamu tuan-tuan semua diresto yang sudah saya pesan sebagai tanda permintaan maaf dan terimakasih saya. Dan lancarnya kerjasama kita". Kembali hanya Johan yang tanpa reaksi. Dia ingin sekali berteriak, ingin melemparkan semua yang ada dihadapannya jika itu mungkin.
"Dan saya juga ingin mengundang tuan-tuan semua dihari bahagia saya nanti". Thian memberi kode Alan untuk membagikan undangan yang sudah dia persiapkan. Thian memanggil Zee untuk berdiri disampingnya.
"Saya dan Nadzeera meminta restu dan mohon kehadiran tuan-tuan diacara bahagia kami". Thian merangkul pundak Zee. Semua bertepuk tangan dan mengucapkan selamat.
__ADS_1
Bagaimana dengan Johan. Hari ini mungkin hari terindah ataukah hari terburuk baginya. Bagai sudah jatuh tertimpa tangga. Sakit yang Johan rasakan bukan hanya sekali tapi berkali-kali. Undangan pernikahan Zee dan Thian diremas kuat oleh Johan.
"Bos, jangan marah disini. Nanti saja bos". Irene mencoba menyadarkan Johan agar tidak terbawa emosi.
Johan menoleh kearah Irene. Irene memberikan isyarat agar Johan senyum menggunakan kedua jari telunjuknya. Johan menghela nafas berkali-kali. Jika bukan karena banyak petinggi penting didalam ruangan itu, Johan pasti sudah mengamuk.
"Sabar ya bos. Memang menyakitkan jika tidak bisa memiliki". Johan kembali menoleh kearah Irene dan menatapnya tajam. Namun Irene hanya tersenyum dan menampakkan deretan gigi putihnya.
Mereka pergi menuju resto yang telah disewa Thian. Johan berjalan dibarisan paling akhir. Dipusingkan dengan suara Irene yang tak hentinya memuji Thian. Membuat Johan semakin kesal.
"Berarti benar ya bos dugaan saya, kalau bos Guardian Company itu tampan. Dan ternyata Fathian. Beruntung banget jadi mbak Zee. Dapat suami paket komplit banget. Tampan, kaya, setia, perhatian". Irene tak hentinya memuji Thian.
"Gantengan juga saya. Saya juga kaya. Setia, perhatian sudah pasti. Kurang apa coba". Johan membela dirinya didepan Irene. Irene tertawa mendengar ocehan Johan.
"Kok bisa. Gimana ceritanya kamu berpaling dari saya secepat itu". Johan menahan lengan Irene, agar Irene menjelaskan maksud perkataannya tadi.
"Ya bisalah. Daripada terus berharap tapi gak pasti. Ya saya sama yang pasti mau saja". Irene kembali berjalan meninggalkan Johan yang menunduk dan menghela nafasnya berkali-kali.
"Bahkan Irene yang gak masuk kriteria gue aja, udah ninggalin gue. Nasib-nasib". Johan berjalan perlahan mendekati Irene kembali.
Ono sudah gatal ingin mengerjai Johan, namun masih belum menemukan momen yang tepat. Ono terus mengikuti dibelakang Johan. Mereka tiba diresto yang memang jaraknya tidak jauh dari kantor. Cukup berjalan kaki, mereka sudah sampai.
Kekesalan Johan semakin menjadi saat melihat kemesraan Zee dan Thian didalam resto. Mereka memang tidak satu meja. Fokus Johan terus melihat kearah Zee yang tertawa lepas bersama Thian.
"Jo. Jangan mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin kamu gapai. Dari awal papa sudah mengingatkan kamu. Dan meminta kamu menerima perjodohan kemarin. Tapi kamu terus menentang. Apalagi sekarang yang menjadi saingan kamu itu adalah orang yang menolong perusahaan kita saat akan bangkrut. Tolong segera buang jauh pikiran kamu itu Jo". Papa Johan memang berada di satu meja yang sama dengan Johan dan Irene. Serta asisten papanya.
__ADS_1
Johan hanya diam tidak menanggapi perkataan papanya. Mata Johan tak pernah lepas dari Zee. Sebenarnya Thian tahu Johan terus menatap Zee, dan Thian sengaja bermesraan dengan Zee.
"Baby, ternyata kamu benar-benar idola ya. Sampai ada yang melihat tanpa berkedip". Thian sengaja menggoda Zee.
"Apaan sih kak. Yang penting Zee gak ngasih harapan apapun". Zee cemberut sambil mengunyah makanannya. Thian tertawa karena wajah Zee yang lucu.
"Yan, jadinya gimana. Mau dikasih tempo lagi atau langsung ambil aja. Udah jatuh tempo kan". Thian mengangguk pelan. Alan dan Metha juga menatap kearah Shadam.
"Iya bang. Malahan udah lewat. Haha". Shadam geleng-geleng saja mendengar jawaban Thian yang terkesan santai.
"Tapi gue udah kirim surat tagihan kok bang. Dan kita tunggu saja kapan dia akan membayar, setidaknya ngasih cicilan". Shadam terus menatap Thian. Adik iparnya ini terlalu baik menurut Shadam.
"Coba ada bang Gara disini. Habis loe sama dia. Gak ada toleransi bagi si penunggak. Dah kayak debt colector dia". Mereka tertawa saat membicarakan tentang Sagara.
"Lan, jadwal pemotretan saya gak berubah kan. Saya gak bisa lama disini. Ada syuting film layar lebar lagi". Thian memastikan jadwalnya kepada Alan. Karena dia benar-benar sibuk.
"Nggak bos, tenang saja. Lagian kenapa gak pensiun aja sih bos jadi artis. Gak bosen apa". Thian tersenyum mendengar perkataan Alan yang selalu sama.
"Apa kamu juga gak bosan ngomong itu terus Lan. Dan yang pasti kamu tau jawabannya". Shadam dan Zee hanya bisa tersenyum. Mereka paham situasi Thian. Dia harus menyelesaikan kontraknya dulu, baru bisa menentukan pilihan.
Usai makan siang, mereka dibebaskan untuk kembali ke hotel, jalan-jalan ataupun kembali ke kantor. Sedangkan Thian akan melihat lokasi pemotretan. Zee sudah pasti akan menemani.
Johan bahkan tidak berjabat tangan dengan Thian usai mereka makan siang. Bahkan Johan pergi tanpa pamit. Papa Johan sangat kesal dengan sikap putranya itu.
"Gue masih gak percaya. Dia orangnya. Dia pimpinan perusahaan ternama dan bonafit. Dan dia juga yang nolong keluarga gue. Masa sih. Apa jangan-jangan dia hanya memainkan peran saja. Dan pimpinan sebenarnya masih belum ada yang tahu. Ya, kayaknya memang gitu. Gak mungkin dia. Gak, gue gak percaya. Masa anak ingusan kayak gitu bisa jadi pimpinan. Yakin gue dia cuma penipu. Coba gue cari tahu dulu siapa pimpinan aslinya. Sampai gue dapat buktinya dia nipu. Awas aja loe. Habis sama gue". Johan terus bernarasi sendiri didalam mobil sepanjang perjalanannya. Kenyataan dihadapannya tidak bisa dia terima. Mungkin terlalu banyak drama didalam hidup Johan. Hingga semua dia anggap hanya bermain peran.
__ADS_1