
"Oke kita ganti kostum dulu. Sekalian break ya gaes". Fotografer memberi arahan kepada Thian. Thian segera keluar dari area pemotretan menuju ruang tunggu.
Ini hari kedua Thian pengambilan gambar. Dan besok sore Thian sudah harus meninggalkan Singapore. Sesuai rencana tahapan awal pembangunan akan selesai satu bulan lagi. Dan akan memasuki tahap berikutnya. Thian dan Zee mengbil jeda tersebut untuk menikah.
"Yan. Loe mau makan protein gak". Luki selalu menanyakan apa yang akan Thian makan. Selain untuk menjaga bentuk tubuh dan kesehatan, Thian memang sudah menakar setiap makanannya sedari dulu.
"Gak deh. Gue masih kenyang. Gue mau buah aja Luk". Luki segera pergi mencarikan buah yang disukai oleh Thian. Johan yang baru saja datang untuk mengecek lokasi melihat Thian didalam ruang tunggu, dia bermaksud untuk sekedar basa-basi.
Sudah beberapa hari ini Johan sibuk menjadi detektif dadakan. Dia benar-benar ingin memastikan jika apa yang diperkirakan tentang Thian itu benar. Bahkan Johan seperti tanpa dosa, sudah pernah menghina Thian. Tanpa meminta maaf terlebih dahulu, Johan mendekati Thian hanya demi sebuah pembuktian. Seperti saat ini, dia datang dengan membawa makanan untuk Thian.
"Hai. Baru break ya. Ini saya bawakan makanan yang segar". Johan meletakkan makanan untuk Thian diatas meja.
"Oh terimakasih. Tolong bapak jangan terlalu repot seperti ini. Saya sudah punya asisten yang akan selalu memantau makanan saya. Bapak jangan khawatir". Thian tersenyum kepada Johan. Tapi tidak untuk Ono. Ono sudah gatal ingin mengerjai Johan.
"Oh saya tidak direpotkan. Kalau begitu saya permisi dulu. Jangan lupa dihabiskan". Johan segera berlalu dari ruangan Thian. Thian hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi Johan.
"Ck. Bos jangan baik gitu napa. Kalau gue udah gue hempas tuh makanan ke muka dia. Gak punya muka banget. Udah nantangin kok balikin. Gak minta maaf lagi". Thian terkikik geli melihat Ono yang geram kepada Johan.
"Apa bedanya gue sama dia, kalau gue balas dia. Biarkan saja. Kalau dia lelah dia pasti berhenti juga No". Karena diruangan itu hanya Thianbdja Ono, mereka bisa berkomunikasi dengan bebas.
__ADS_1
Luki datang membawa pesanan Thian. Melihat ada bungkusan diatas meja, Luki sudah bisa menebak jika itu dari Johan. Luki segera mengambil bungkusan itu dan membukanya.
"Widih. Apalagi nih". Thian memakan buah yang dibawa oleh Luki. Luki membuka perlahan bungkusan itu. Cake dengan toping buah dan es krim, sangat menggiurkan bagi yang menyukai.
"Aman gak nih. Ntar kayak yang sudah-sudah. Ada aja isengnya". Thian hanya diam tak menanggapi. Luki segera mengemasi kembali bungkusan itu. Dia akan membuangnya nanti, saat perjalanan menuju hotel.
Johan memang beberapa kali mencampur makanan untuk Thian dengan berbagai macam hal. Dari obat tidur, cabe dan obat pencuci perut. Beruntung sebagai asisten Luki selalu menyeleksi terlebih dahulu setiap makanan yang diberikan untuk Thian.
"Bos". Alan datang dengan membawa setumpuk dokumen. Karena Thian akan segera kembali dengan pekerjaan lainnya, Alan memanfaatkan waktu dengan baik.
"Mana. Bawa sini. Mumpung masih ada waktu. Kamu sudah makan Lan". Alan meletakkan dokumen diatas meja dan segera duduk disampingnya.
"Sudah bos. Oya bos, sudah ada pemberitahuan dari mereka. Mereka minta tenggat waktu bos". Thian menghela nafasnya cukup panjang.
"Kata pak Prayoga, anaknya belum tau masalah ini. Dia minta waktu untuk dibicarakan dulu sama anaknya". Thian mengangguk saja. Luki hanya menjadi pendengar karena itu bukan bidangnya.
"Sebelum saya menikah, minta mereka memberikan keputusan. Atau saya akan ambil tindakan keras. Beberapa proyek sudah berhasil mereka dapatkan. Tinggal bayar hutang saja susah". Alan mengangguk, dia lekas mengambil laptop dan segera mengirim email balasan.
Hari ini Zee tidak bisa menemani Thian. Shadam dan Zee menyelesaikan semua pekerjaan yang ada dikantor, apalagi Zee akan mengambil cuti menikah. Dia tidak mau banyak pekerjaan yang dia tinggalkan.
__ADS_1
"Dek. Kapan mau fitting baju pengantin lagi". Zee dan Thian memang memesan gaun pengantin dari Singapore. Bahkan gaun itu sudah dirancang dua bulan sebelum Thian memberikan kepastian kapan akan menikah. Thian sendiri yang memesan dengan rancangan sesuai keinginan Zee. Dan Zee sudah melakukan fitting pertama.
"Besok siang bang. Sebelum Thian balik. Kenapa bang". Shadam terus menatap adik perempuan satu-satunya. Bahkan katanya sudah berkaca-kaca.
"Tidak. Besok biar Abang yang handle pekerjaan kamu. Jadi kamu bisa fokus ke persiapan pernikahan kalian". Zee mengangguk tanpa melihat Shadam. Shadam menghapus lelehan air matanya yang perlahan terjatuh.
"Kamu sudah dewasa dek. Sekarang tugas menjaga kamu sudah sudah akan berpindah tangan. Dan Abang yakin, dia orang yang paling tepat. Rasanya baru kemarin Abang dan bang Saga bingung bikin kamu diam saat menangis karena ikan kesayangan kamu mati dek. Sekarang, sebentar lagi sudah ada orang yang akan selalu setia menenangkanmu saat menangis. Memanjakan mu dengan segala hal yang kamu inginkan. Maaf jika Abang selama ini terlalu mengengkangmu sayang. Karena kami tak mau kamu disakiti siapapun. Berbahagialah sayangku. Berbahagialah matahari kami. Kami selalu ada untukmu meski nanti kamu sudah menjadi milik oranglain".
Shadam bergumam dalam hati sambil terus menatap sang adik. Sebisa mungkin dia menahan air matanya. Begitu cintanya mereka kepada Zee, bahkan mereka rela menunda menikah agar bisa melihat Zee bahagia dengan orang yang tepat.
Malam ini akan ada jamuan makan antara pihak investor dan beberapa sponsor. Mereka merayakan keberhasilan kerjasama yang sempat tertunda karena kesibukan Thian.
Ballroom hotel sudah disulap dengan epik untuk acara persta. Makanan dan minuman juga sudah disiapkan. Semua sedang bersiap mengenakan pakaian formal sebelum datang keacara tersebut.
Thian sedang menunggu Zee bersiap diruang tamu kamar Zee. Sore tadi, Thian mengirimkan gaun untuk Zee kenakan dengan warna yang senada dengan tuksedo yang Thian kenakan. Gaun yang tidak terlalu terbuka dan seksi, tapi tetap tampak elegan untuk Zee kenakan.
"Baby". Panggil Zee lirih kepada Thian yang menunggu sambil memejamkan matanya dan bersandar pada sofa. Thian segera bangun setelah mendengar suara Zee. Matanya mengerjap berkali-kali untuk bisa fokus melihat sang kekasih.
"Wow. Perfect. Ayo sayang. Kita berangkat". Thian berdiri merapikan tuksedonya dan mensejajari Zee. Thian memberi kode kepada Zee, agar merangkul lengannya.
__ADS_1
"Sudah siap nyonya Fathian". Zee mengangguk malu dan tersenyum. Thian melangkah perlahan menuntun sang permaisuri. Mereka berjalan dilorong hotel. menuju ballroom. Kedua orangtua Zee juga hadir dalam perjamuan itu.
Banyak mata menatap iri kepada sepasang kekasih yang baru saja memasuki ballroom. Mereka bahagia melihat sepasang kekasih itu dan ada yang iri kepada Zee ataupun Thian. Didalam acara tersebut, keluarga Johan juga membawa perempuan yang akan dijodohkan dengan Johan.