Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
Korban Ekspresi


__ADS_3

Satu Minggu sudah sikembar menjalani profesi barunya sebagai aktor. Pekerjaan mereka terbilang lancar. Si kembar dikenal cukup pendiam diantara para pemain. Saat mereka berkumpul bersama, si kembar selalu menjaga jarak dari pemain wanita. Duo bodyguard mereka selalu membuat ulah jika sudah bosan.


"Assalamualaikum". Almeer mengucapkan salam sambil terus berjalan memasuki rumah Eneng dari pintu samping.


"Waalaikumsalamm. Ada apa bang kok tumben pagi udah sampai sini". Tanya Eneng saat melihat Almeer berjalan mendekatinya.


"Kembar udah bangun belum mah". Almeer bertanya sambil mengambil bala diatas piring yang baru selesai digoreng.


"Sudah. Tapi masih dikamar. Naik saja". Eneng menjawab pertanyaan Almeer.


"Oke mah. Mah sisain bala-balanya". Almeer berpesan agar menyisakan makanan kesukaannya itu.


"Bule kok doyan bala-bala". Jawab Eneng dingin.


Almeer tertawa mendengar perkataan Eneng. Sedari Almeer kecil, selalu memanggil Eneng dengan panggilan mama. Begitu juga dengan Meera dan Dean bersaudara. Walaupun hanya pengasuh, bagi keluarga mereka Eneng adalah keluarga.


Almeer berjalan menuju kamar Fathan terlbih dahulu. Karena Almeer yakin Fathian juga berada disana jika sudah terjaga dari mimpi indahnya.


"Wake up guys". Teriak Almeer sambil membuka pintu kamar Fathan.


"Ini masih pagi kali". Sambutan dingin dari Fathan.


"Jadwal kita siang bang. Mau tiduran bentar nih". Thian pun ikut menjawab pertanyaan Almeer.


"Iya tau. Gue mau numpang tidur bentar". Jawab Almeer sambil menyusul si kembar berbaring diatas ranjang Fathan.


"Sesak bang". Thian menggeser tubuh Almeer yang berada disampingnya.


"Geser dikit". Almeer membalas Thian dengan menggeser tubuhnya.


"Siapa lagi yang bawa cewek bang". Fathan menebak apa yang sekarang Almeer hadapi.


"Atuk. Siapa lagi". Jawab Almeer yang paham dengan pertanyaan Fathan.


"Terima aja kenapa bang". Thian ikut masuk dalam percakapan mereka.


"Ogah. Gue mau cari sendiri". Jawab Almeer sambil terbaring memainkan ponselnya.


"Emang bisa". Kompak si kembar bertanya.


"Meremehkan Almeer ya kalian". Jawab sengit Almeer.


"Buktikan". Kompak si kembar menjawab tentangan Almeer.


"Hmm". Almeer hanya berdehem menjawab si kembar.


Hanya ada keheningan dikamar Fathan. Almeer dan Thian sudah masuk kedalam dunia mimpi mereka dengan Almeer memeluk tubuh Thian. Almeer tidak akan bisa tidur jika tak memeluk sesuatu. Fathan memilih beralih tidur disofa karena ranjang miliknya sudah dikuasai oleh Thian dan Almeer. Tak lama Fathan pun masuk kedalam dunia mimpi miliknya.


Eneng sedang membersihkan taman dibelakang rumahnya setelah selesai menggoreng bala-bala kesukaan kedua putranya dan Almeer. Dean bersaudara yang baru saja tiba dirumah Eneng berjalan menuju taman belakang, karena Ammar sempat melihat keberadaan Eneng saat mereka akan memasuki area rumah Airil.


"Assalamualaikum mama". Sapa Ammar kepada Eneng.


"Waalaikumsalam. Kalian nyusul juga". Jawab Eneng.


"Mereka dimana mah". Tanya Ashraf kepada Eneng.


"Hibernasi kali. Gak ada suaranya". Jawab Eneng asal.


"Hahaha. Tikus kali mah". Jawab Ammar dengan diiringi tawanya.


"Kita keatas ya mah". Ammar meminta ijin kepada Eneng.


"Iya bangunin sekalian". Pinta Eneng kepada Dean bersudara.


"Syiap mama sayang". Jawab keduanya kompak.


Dean bersaudara bergegas menuju kamar si kembar. Mereka masuk kedalam kamar Fathan perlahan setelah mencoba membuka sedikit pintu dan mengintip ketiganya. Dean bersaudara takut membangunkan ketiganya. Ashraf lebih memilih mendekati Fathan yang lebih mudah dibangunkan.


"Than. Bangun than". Ammar menepuk pundak Fathan pelan.


"Hem. Eh bang". Fathan membuka matanya perlahan dan melihat Dean bersaudara sudah duduk dilantai bersandar pada sofa yang dijadikannya tempat tidur.

__ADS_1


"Loe bangunin tuh Thian. Thian cuma bisa dibangunin sama loe aja". Pinta Ashraf pada Fathan.


"Oke bang". Fathan berdiri dan berjalan perlahan membangunkan saudara kembarnya.


"Dek bangun. Kerja". Fathan berbisik ditelinga sang adik sambil mengusap pelan pipinya.


"Hem. Iya bang". Thian langsung merespon dan membuka mata.


Mereka tidak membangunkan Almeer karena Almeer akan bangun secara otomatis jika apa yang dipeluknya menghilang. Thian tersenyum saat melihat Dean bersaudara sudah duduk dihadapannya.


"Turun". Ajak Ashraf kepada si kembar sambil melangkah keluar.


"Hem". kompak keduanya berdehem dan mengikuti langkah Dean bersaudara.


Almeer masih menikmati tidurnya. Sedangkan dua pasang anak kembar sudah duduk santai di teras. Lima menit kemudian Almeer menyusul dengan muka bantalnya.


"Bentar lagi kita berangkat". Almeer berbicara kepada si kembar.


"Ya bang. Kita siap-siap dulu". Jawab Fathan sambil beranjak berdiri bersama Thian.


Almeer kembali masuk untuk mencuci muka dan memakan bala-bala buatan Eneng. Sedangkan Dean bersaudara sedang asyik menonton acara televisi.


"Ayo bang". Thian dan Fathan sudah siap dan mengajak Almeer berangkat kerja.


"Oke". Jawaban Almeer singkat.


Mereka berpamitan kepada Eneng begitu juga dengan Dean bersaudara. Bodyguard si kembar sudah standby didalam mobil. Seperti biasa dean bersaudara akan membawa mobil sendiri. karena jika mereka sudah bosan bisa pulang terlebih dulu tanpa menunggu si kembar.


Tiba dilokasi syuting mereka segera bersiap. Kali ini adegan mereka sudah mulai memasuki adegan horor. Hantu imitasi yang akan memainkan peran sedang dirias. Suara sutradara sedang mengarahkan para aktornya.


"Fathan. Ekspresi kamu tolong lebih baik lagi. Masa ketemu setan datar aja. Bayangin kamu ketemu setan beneran". Teriakan arahan dari sang sutradara.


"Ya bang". Jawab Fathan singkat.


"Lah emang bos kecil dua puluh empat jam sama kita ya No. Gimana mau takut setan boongan. Sama kita aja gak takut". Kunkun asyik berbincang dengan Ono diatas kayu penyangga atap.


"Dari orok. Eh salah dari proses pembuatan bareng kita Kun". Ono memperjelas maksud Kunkun.


"Loe berdua tumben sih gak bisa ngikuti alur. Biasanya gak ada masalah sama akting kalian". Almeer menegur si kembar.


"Iya bang. Maaf. Kita coba lihat gulgul dulu". Jawab Thian sambil memegang ponsel miliknya.


"Ngapain buka gulgul". Tanya Almeer bingung.


"Mau lihat ekspresi orang takut lihat setan". Jawab Thian jujur


Tak hanya Almeer, beberapa kru dan pemain yang sedang beristirahat menatap si kembar dengan tatapan aneh.


"Emang kalian gak takut gitu ketemu pocong dan kawan-kawannya". Tanya sang make up artis yang sedang memperbaiki riasan mereka.


"Nggak". Fathan menjawab singkat.


"Gimana mau takut. Pertama kali kita bisa lihat dunia udah ditunjukkin wajah dua makhluk penguntit". Thian bermonolog didalam hatinya.


Semua hanya bisa terbengong mendengar ucapan Fathan. Si kembar mempelajari ekspresi orang takut karena bertemu setan. Tiga puluh menit mempelajari dan mempraktekkan langsung dan mendapatkan penilaian dari sang sutradara.


"Lumayanlah. Tapi nanti pas kita ambil gambar, usahakan senatural mungkin ya". Nasehat sang sutradara kepada si kembar.


"Baik bang". Keduanya mengangguk.


Adegan bertemu setan kembali diulang. Si kembar berkonsentrasi penuh agar bisa membuat ekspresi takut secara natural. Tiga kali percobaan masih saja gagal. Bahkan Almeer pun ikut pusing. Sedangkan Dean bersaudara sudah pulang dua jam yang lalu.


"Al. Adegan ini penting karena adegan inti. Tolong loe usahain agar mereka berdua bisa berekspresi". Sutradara berbicara dan meminta tolong pada Almeer agar bisa membantu si kembar.


"Oke bang. Gue akan cari cara agar mereka bisa lakuin adegan ini dengan baik". Jawab Almeer.


Almeer berfikir bagaimana cara membuat mereka bisa takut. Almeer meminta bantuan Dean bersaudara dan mengirim pesan kepada Ammar. Ammar memberikan saran kepada Almeer. Almeer terkejut mendapat jawaban dari Ammar.


"Iya sih memang ini paling ampuh membuat ekspresi takut mereka. Tapi efeknya itu juga bahaya". Almeer bergumam pelan sambil menatap layar ponselnya.


Almeer menatap si kembar yang sudah nampak kelelahan. Mengulang adegan yang sama hampir dua puluh kali. Dan masih belum berhasil. Almeer pun mengambil option terakhir dari Ammar.

__ADS_1


"Biarlah. Palingan pada muntah". Gumam pelan Almeer sambil berjalan mendekati sang sutradara.


Almeer berbisik kepada sutradara. Awalnya sutradara tak yakin bisa. Namun mereka tetap akan mencoba.


"Oke kita ulang adegan ini ya. Semoga kali ini berhasil". Teriakan sang sutradara.


Para pemain bersiap. Saat adegan setan akan muncul, Almeer memberikan kode agar pemain wanita disamping Fathan memegang pundak Fathan. Dan benar itu berhasil. Fathan terkejut dan tegang karena pundaknya dipegang. Sedangkan Thian terkejut dan takut sesuatu terjadi pada sang Abang. Keduanya berwajah pucat. Seperti orang yang benar-benar ketakutan.


"Cut. Bagus. Hari ini cukup ya. Besok kita sambung". Teriakan suara sutradara.


Almeer berlari mendekati Fathan sebelum serangan dadakan terjadi. Thian pun juga berusaha membantu Almeer. Mereka harus segera mengevakuasi Fathan sejauh mungkin.


"Thian buruan". Pinta Almeer pada Thian.


"Ayo bang"Thian pun langsung menyeret Fathan.


Mereka berusaha keluar dari dalam ruangan dan mencari ruangan kosong. Karena tak ada tanah lapang. Almeer dan Thian mendorong salah satu pintu dan mendorong tubuh Fathan untuk masuk kedalam. Almeer dan Thian menutup pintu tersebut. Dan terdengar suara nyaring dari luar yang membuat Almeer dan Thian tersenyum lega.


Brotttttt brotttt bushhhh


"Akhirnya terbebas dari malapetaka juga bang". Ucap Thian.


"Bener banget. Yuk jemput Fathan". Ajak Almeer kepada Thian.


Mereka membuka pintu perlahan. Perlahan mereka membuka pintu tersebut bahkan nampak senyum tipis dibibir mereka. Namun senyum itu berubah menjadi wajah yang tegang.


"Lega bang. Balik yuk". Ucap Fathan ceria saat melihat Almeer dan Thian.


"Than. Loe tadi nengok ke belakang gak". Tanya Almeer pada Fathan.


"Gak bang. Kenapa emangnya". Fathan bingung dengan ucapan Almeer.


"Tuh". Almeer menunjuk kearah belakang menggunakan dagunya.


Fathan menoleh kebelakang dan matanya langsung melotot melihat apa yang terjadi dibelakangnya.


"Bang. Mereka..". Fathan khawatir melihat beberapa pemeran setan sudah tergeletak dilantai.


"Abang yakin mereka menghirup gas beracun loe than". Jawab Almeer.


"Lebih baik kita segera keluar dari sini bang. Sebelum reputasi Abang tercemar". Ajak Thian.


"Terus mereka gimana". Tanya Fathan khawatir.


"Bentar lagi pasti sadar. Udah ayo buruan. Benar kata Thian. Kita harus pergi sekarang". Ajak Almeer.


Mereka pergi dari ruangan tersebut dan segera kembali keruangan sebelumnya. Mereka menyibukkan diri dengan membereskan barang mereka. Tak lama korban bom asap Fathan dengan lemas berjalan menuju ruangan utama para aktor dan artis.


"Kalian kenapa". Sambut salah satu kru.


"Tolong kita hampir mati". Jawab salah satu pemeran setan.


"Duduk dulu". Papah kru lainnya.


"Ada apa sama kalian. Kayak keracunan". Tanya kru lainnya.


"Lebih dari sekedar racun. Gila bener tuh orang. Pemb***h tanpa jejak". Jawab aktor tersebut.


"Ceritain yang jelas". Pinta kru tersebut.


Mereka bercerita apa yang terjadi. Namun mereka tak bisa melihat jelas orang yang membuat mereka sempoyongan dan pingsan. Karena pandangan mereka seketika kabur tak jelas. Yang mereka ingat warna bajunya hitam. Sedangkan dilokasi hanya orang berbaju hitam.


"Sepertinya kita harus meningkatkan kewaspadaan. Takutnya ada yang bernait jelek pada salah satu pemain". Salah satu kru mencoba menganalisa kejadian.


"Benar banget. Jangan sampai ini terulang kembali". Jawab kru lainnya.


Sedangkan sang tersangka hanya bisa terdiam namun merasa bersalah. Mereka pandai dalam menutupi perasaan. Jadi tidak mungkin mereka akan dicurigai. Berkat Ono pandangan para pemain setan menjadi kabur. Usai membereskan barang-barang pribadi milik mereka, Almeer berpamitan diikuti oleh Si kembar. Tak lupa bodyguard setia yang sedang anteng.


_______


Jangan lupa jempolnya gaess

__ADS_1


Maaf kalau selalu lambat. Karena masih dibatasi dalam menulis...


__ADS_2