
Thian dengan penuh semangat melangkahkan kakinya memasuki rumah Serkan. Nampak dihalaman beberapa mobil terparkir. Thian sudah menduga jika dirumah Zee sedang ada tamu. Langkah Thian terhenti didepan pintu rumah Zee.
"Wah gak nyangka Dion udah berani ambil keputusan besar. Terus kapan pertunangan kalian akan dilaksanakan". Terdengar jelas suara Serkan sedang berbincang. Tiba-tiba saja Thian hanya bisa terdiam diambang pintu.
"Secepatnya saja. Karena Dion akan melanjutkan studinya diluar negeri. Setidaknya jika sudah ada ikatan, mereka bisa sedikit tenang". Thian tetap tidak bisa menggerakkan kakinya. Hatinya begitu sakit mendengar pembicaraan itu.
Thian mencoba mengatasi segala emosi dalam dirinya. Dia ingin semua lebih pasti. Thian memutuskan untuk tetap menemui Zee dan keluarganya. Jika memang dia tidak berjodoh dengan Zee, dia sudah ikhlas. Setelah dia merasa bisa mengendalikan diri, Thian mengucapkan salam.
"Assalamualaikum". Thian berjalan dengan tetap menegakkan tubuhnya dan penuh dengan senyuman menghiasi wajah tampannya. Zee yang mendengar suara itu spontan berdiri dan menyambut.
"Waalaikumsalam. Kakak". Tak hanya Zee, Serkan pun nampak bahagia melihat kedatangan Thian. Thian menyalami kedua orangtua Zee. Dan mengusap lembut pucuk kepala Zee.
Thian menyapa tamu yang sedang berada dikediaman Zee. Thian melihat sahabat Zee. Clara datang beserta keluarganya dan Dion yang juga keluarganya. Zee sengaja mengenalkan dan menjelaskan siapa tamu mereka kepada Thian.
"Bukankah ini Artis yang terkenal itu kan". Mama Clara terkejut melihat kehadiran Thian. Mama Clara adalah salah satu fans si kembar.
"Iya mah. Dia salah satu dari Prasaja bersaudara yang selalu mama tangisi kalau ada rumor lagi dekat sama perempuan". Clara menjelaskan dengan diselingi olokkan. Thian yang mendengar itu hanya bisa tersenyum.
"Gak usah buka kartu kenapa sih Cla. Ini Fathian apa Fathan". Mama Clara memperhatikan secara seksama wajah Thian. Thian tertunduk malu jika ditatap secara intens.
__ADS_1
"Katanya fans garis keras. Kok gak bisa bedain. Gimana sih". Karena kesal dengan olokkan putrinya, mama Clara memukul lengan sang putri. Itu membuat semua orang diruangan itu tertawa.
"Ini Fathian Prasaja jeng". Mami Zee yang memperkenalkan Fathian kepada tamu mereka. Thian menyalami satu persatu tamu Serkan.
"Wah ternyata lebih tanpa aslinya ya. Boleh dong kita foto bareng. Tante juga minta tanda tangan Fathian ya". Sebagai fans, mama Clara begitu bahagia bisa bertemu langsung dengan idolanya. Papa Clara dan Clara hanya bisa menghela nafas pasrah.
Thian dengan senang hati menanggapi permintaan fansnya itu. Walaupun dalam hati Thian masih bingung dengan situasi yang dia lihat saat ini, namun Thian tetap berusaha tenang. Jantung Thian kembali berdetak kencang saat Serkan akan menjelaskan siapa tamunya.
"Thian. Mereka keluarga sahabat Zee. Dan kedatangan mereka kesini, untuk mengundang kami saat pesta pertunangan Dion dan Clara". Thian berusaha menelaah perkataan Serkan. Pertanyaan berputar dibenaknya.
"Dion dan Clara Pi. Bukannya Zee". Thian menggantung ucapannya. Zee dan kedua sahabatnya tertawa terbahak melihat reaksi Thian. Mereka paham maksud dari pertanyaan Thian.
"Kak, maaf selama ini kami hanya bersahabat. Dan Dion memang kekasih Clara sejak lama. Dan masalah Dion bilang suka ke Zee itu hanya untuk menguji kakak saja. Zee pengen tahu apa kakak benar-benar bisa mencintai Zee atau tidak". Penjelasan Zee membuat keluarganya dan keluarga sahabatnya terkejut. Thian masih diam saja. Dia benar-benar kaget dengan penjelasan Zee.
"Hahaha. Kalian ini ada-ada saja. Terus sekarang udah jelas belum status kalian". Serkan dan istrinya terbahak mendengar cerita sang putri. Thian hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Makanya peka dong. Masa gak peka juga sih". Serkan kembali mengolok Thian. Thian hanya bisa tersenyum malu saja.
"Hmm, Pi Mi Thian mau nyampein sesuatu". Akhirnya Thian memberanikan diri untuk berkata jujur. Semua diluar rencananya. Awalnya Thian hanya ingin menyatakan perasaan kepada Zee, tapi karena keadaan Thian memutuskan untuk meminta Zee langsung kepada kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Thian ingin melamar Zee. Maaf jika Thian terlalu lama memberikan jawaban. Thian yakin dengan apa yang saat ini Thian putuskan. Semoga papi dan mami berkenan menerima lamaran Thian". Zee menangis terharu dan bahagia. Penantian lamanya akhirnya mendapat hasil yang membahagiakan.
"Papi menolak lamaran kamu Thian". Tanpa berfikir panjang Serkan menolak lamaran Thian. Mami Zee, Zee dan Thian terkejut dengan penolakan Serkan. Zee pun berusaha memberontak tidak terima dengan keputusan papinya.
"Papi kok gitu sih. Mam, bantuin Zee. Zee cuma sayang sama kak Thian". Zee menangis sesenggukan. Thian ingin mendekat dan menenangkan Zee, namun dihalangi oleh Serkan.
"Thian duduk saja disana. Biar mami yang menenangkan Zee". Thian hanya tersenyum tipis dan kembali ketempat duduknya semula. Thian melihat kearah Zee. Jauh dalam lubuk hati Thian. Dia juga sedih dan kecewa dengan putusan Serkan.
"Baiklah Pi jika memang papi tidak memberikan ijin bagi Thian untuk melamar Zee, Thian akan menerima dengan ikhlas. Karena tidak ada hak bagi Thian untuk memaksakan papi dan mami merestui Thian". Thian berusaha menerima keputusan Serkan, walaupun dia juga terluka.
"Apa kamu tidak ingin memperjuangkan Zee untuk menjadi pendamping hidupmu Thian. Dan kamu akan berhenti begitu saja". Serkan tahu jika Thian kecewa. Dan sengaja Serkan memancing emosi Thian.
"Usaha seperti apapun jika itu tanpa restu kedua orangtua akan terasa sia-sia. Thian tahu papi hanya ingin yang terbaik untuk Zee. Dan mungkin itu bukan Thian. Thian lebih memilih mundur daripada Zee harus membangkang. Dan mungkin memang Thian hanya ditakdirkan menjadi kakak bagi Zee, bukan pendamping hidupnya". Thian menjelaskan panjang lebar keadaan Serkan. Zee yang sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakitnya, memilih pergi meninggalkan ruangan itu.
"Zee kecewa sama keputusan papi. Zee juga kecewa dengan jawaban kakak. Percuma Zee berjuang hingga saat ini jika kakak mengikhlaskan semuanya. Zee benar-benar kecewa". Zee berlalu pergi dan masuk kedalam kamar. Mami Zee menyusul sang putri.
Thian hanya bisa menatap Zee dengan perasaan yang bercampur aduk. Thian kemvali tertunduk setelah Zee menghilang dibalik pintu kamarnya. Serkan pun masih diam tak mengatakan apapun.
"Karena Thian sudah mengatakan maksud kedatangan Thian, dan Thian juga sudah mendapatkan jawaban. Thian mau pamit pi. Thian hanya berharap hubungan kekeluargaan kita tidak terputus Pi". Serkan hanya diam menatap Thian yang sedang berbicara.
__ADS_1
"Hmmm Papi harap kamu tidak kecewa dengan keputusan papi. Kamu tetap anak papi dan mami. Kita masih keluarga". Serkan tidak merubah ekspresi wajahnya. Thian beranjak dari sofa dan akan berpamitan kepada Serkan.
"Thian pulang pi". Thian mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Serkan. Serkan menarik Thian dan membisikkan sesuatu yang membuat Thian terkejut.