
"Zee. Mau dijemput jam berapa".
Pagi hari Thian tidak kembali tidur setelah sholat subuh. Jika Thian tidak ada jadwal pagi, dia lebih memilih untuk kembali tidur agar badan tetap fit. Semalam Serkan meminta tolong Thian untuk mengantarkan Zee sekolah. Karena Zee ada kegiatan di jam sebelum jam pembelajaran dimulai. Lama Thian mendapat balasan dari Zee. Thian bahkan menghubungi ponsel Zee. Namun juga tidak kunjung mendapat jawaban.
"Zee. Kenapa gak diangkat sih. Apa belum bangun". Thian bertanya kepada dirinya sendiri. Thian mulai khawatir. Dia bergegas mengambil kunci mobil dan berlari menuju garasi.
"Adek mau kemana". Eneng yang sedang didapur melihat putra keduanya berlari menjadi khawatir. Eneng pun berlari mengejar Thian hingga teras samping.
"Thian pamit dulu mah". Thian segera mencium tangan Eneng sebelum pergi meninggalkan rumah.
"Tunggu dulu. Adek mau kemana. Bukannya semalam bilang gak ada jadwal pagi. Kok kamu udah berangkat". Eneng menahan tangan Thian sebelum benar-benar meninggalkan rumah.
"Thian disuruh antar sekolah Zee mah. Semalam sebelum tidur papi telfon". Thian menjelaskan sambil perlahan melepaskan tangannya dari genggaman sang mama.
"Oalah. Ya sudah kamu hati-hati dijalan. Gak usah ngebut masih sepi jalanan". Eneng memberi wejangan kepada Thian sebelum dia pergi. Dan Thian menjawab dengan anggukan dan tak lupa mencium pipi mama tercinta.
Dalam perjalanan, Thian masih berusaha menghubungi Zee. Dan kali ini Zee menjawab telefon Thian. Thian segera menepikan mobilnya.
"Assalamualaikum kak. Ada apa".
"Kamu baru bangun Zee"
"Sudah dari tadi kak. Kenapa kak".
"Kakak udah jalan kerumah. Kakak antar kamu kesekolah pagi ini".
"Gak usah kak. Zee dijemput Dion".
Thian diam sejenak sebelum kembali berbicara dengan Zee lewat ponselnya.
__ADS_1
"Tunggu kakak. Jangan pergi dulu Zee. Gak boleh ngebantah".
"Ba-baik kak".
Thian menekankan kata terakhir agar Zee mau mendengar perkataannya. Zee menjawab dengan gugup. Thian tidak pernah berkata penuh penekanan jika tidak dalam keadaan kesal. Thian mematikan panggilan poselnya. Dan bergegas menuju rumah Serkan.
"Gimana. Jadi kan nebeng gue loe. Tapi nunggu pangeran loe sampe dulu". Dion sudah standby didepan rumah Zee. Dia sengaja duduk diatas motor besarnya agar Thian dapat melihat mereka.
"Loe mending berangkat dulu deh Yon. Kak Thian kayaknya kesal". Zee segera mengusir Thian agar Dion tidak bertemu dengan Thian.
"Kenapa emangnya. Biarkan saja kesal. Malahan gue bakal tambahin rasa kesal dia Zee. Hahaha". Dion tetap menunggu Thian datang menjemput. Zee pun berdiri berhadapan dengan Dion.
Tak lama mobil Thian sudah memasuki komplek tempat tinggal Zee. Dari kejauhan, Zee melihat mobil Thian mulai mendekat. Zee memberi kode kepada Dion, agar Dion segera pergi. Namun Dion tidak menggubris permintaan Zee
Thian menghentikan laju kendaraannya tepat disamping Zee dan Dion. Dion mulai melancarkan aksinya. Thian sudah menggenggam erat stir mobil miliknya saat melihat Zee sedang berdiri berhadapan dengan Dion.
"Zee ayo kita beraksi". Dion sudah memulai aksinya. Zee hanya tersenyum menanggapi aksi Dion. Dion menggenggam kedua telapak tangan Zee. Bahkan mereka saling bertukar senyum. Thian semakin panas melihat adegan itu.
"Zee". Thian memanggil nama Zee dengan suara beratnya. Bahkan mata Thian hanya tertuju pada Zee.
"Kakak sudah sampai". Zee tetap bergandengan tangan dengan Dion. Itu membuat Thian semakin kesal. Dia berusaha sebisa mungkin menahan diri.
"Yuk. Takut kesiangan". Thian bahkan berbicara singkat kepada Zee. Dan Zee tahu betul itu bukan kebiasaan Thian. Saat Thian berbalik, Dion memberi kode kepada Zee dengan mengedipkan matanya. Zee yang paham lalu mengangguk.
"Kak. Boleh gak pagi ini Zee bareng Dion saja. Kasian Dion udah datang dari tadi". Zee mencoba kembali memancing reaksi Thian dengan permintaannya.
"Gak. Kamu kakak yang antar. Ayo buruan masuk Zee". Tanpa berbalik Thian menolak permintaan Zee. Bahkan Thian langsung masuk mobil terlebih dahulu tanpa membuka pintu mobil untuk Zee.
Dion sengaja memajukan wajahnya kearah samping kanan wajah Zee. Jika dilihat dari sudut pandang Thian, Dion sedang mencium Zee dipipi sebelah kiri.
__ADS_1
"Sepertinya berhasil bestie". Dion berbisik kepada Zee. Dan Zee tersenyum mendengar itu. Thian semakin kesal karena yang dia lihat Zee bahagia mendapat ciuman dari Dion.
Dion segera mengendarai motor kesayangannya dan segera pergi meninggalkan Zee dan Thian. Zee berjalan menuju mobil Thian. Thian hanya diam saat melihat Zee sudah duduk disampingnya. Hanya keheningan didalam mobil itu. Zee sengaja tak ingin mengajak Thian berbicara. Walaupun bibirnya sudah sangat fatal ingin bercerita kepada Thian.
"Pulang jam berapa". Thian mulai membuka suara saat mereka sudah hampir sampai digerbang sekolah Zee.
"Sore kak. Gak usah jemput Zee kak kalau sibuk. Nanti Zee bisa bareng Clara atau Dion". Nama terakhir yang disebut Zee, membuat Thian kesal.
"Sore jam berapa. Kakak usahakan jemput. Kalaupun kakak gak bisa, nanti kamu dijemput Luki saja". Thian langsung memberikan putusan tanpa mendengarkan permintaan Zee.
"Gak usah Kaka. Kalau gak Zee naik taksi aja". Zee masih berusaha menawar perintah Thian.
"Gak ada penolakan. Dan Zee kalau pacaran tetap jaga batasan. Jangan berlebihan". Perkataan sponta Thian membuat Zee terkejut. Bahkan Thian sendiri masih bingung dengan ucapannya itu. Zee bergegas keluar dari mobil Thian dan segera kembali kerumah.
Sebelum mobil Thian melaku pergi, lagi dan lagi Thian kesal dengan Dion. Dion sengaja menunggu Zee didepan gerbang sekolah. Dan saat Dion melihat Zee datang, tanpa ragu Dion merangkul pundak Zee.
"Masa gue kalah sama bocil sih. Menyebalkan". Thian menggerutu didalam mobil. Bahkan dia masih terus menatap Zee hingga masuk kedalam lorong kelasnya.
Setelah Zee tidak terlihat lagi, Thian segera meninggalkan sekolah Zee. Thian memilih pulang ke apartemen pribadinya. Dan mengirim pesan kepada Fathan untuk tidak perlu menunggu dirinya.
Thian duduk terdiam dibalikon apartemen miliknya. Thian sangat marah mengingat kejadian Dion dan Zee. Thian mulai menyusun potongan kekesalannya kepada Zee.
"Apa iya gue beneran udah cinta sama Zee". Thian bergumam sendiri. Karena masih mengantuk, Thian memilih melanjutkan tidurnya sebelum dia berangkat kerja.
Disekolah, Zee dan dua sahabatnya sedang menyusun rencana selanjutnya. Bahkan Zee mulai sangat antusias dengan rencana kedua sahabatnya itu.
"Gue yakin kak Thian lagi ngambek sama gue". Zee mengatakan apa yang dia rasakan saat ini. Apalagi jika ingat raut wajah Thian.
"Biarkan saja. Jangan sampai luluh kalau kita belum tahu perasaan yang sebenarnya kak Thian buat loe. Loe harus punya pendirian yang kuat". Zee mengangguk menyetir perkataan sang kakak.
__ADS_1
Fathan segera menyusul sang adik yang sedang tertidur pulas di apartemen pribadi Thian. Fathan masuk kedalam karena sudah mengetahui kode masuk kedalam apartemen Thian. Melihat kondisi Thian yang kacau, membuat dirinya juga merasa sakit hati.
"Kamu kenapa sih dek. Gak kayak biasanya".....