
"Libur telah usai. Libur telah usai. Hore. Hore". Kunkun dan Ono menyanyi dengan girang. Karena hari ini liburan bos kecil mereka sudah usai.
"Berisik. Ayo buruan. Udah siang". Ucap Thian kepada kedua bodyguard ghaibnya. Kunkun dan Ono pergi terlebih dahulu. Tak lama asisten pribadi si kembar datang menjemput.
Si kembar sudah dalam perjalanan menuju lokasi mereka masing-masing. Dua hari sebelum hari libur mereka usai, Almeer sudah mengirim jadwal kerja mereka kepada asisten masing-masing.
"Yan. Loe tau gak Deandra anak baru gabung agensi kita". Tanya Luki asisten Thian.
"Nggak. Loe kan tau gue jarang ke kantor". Jawab Thian sambil memeriksa jadwal diponselnya.
"Beuh. Kece badai. Badas abis. Loe kudu kenalan yan". Luki mendiskripsikan artis baru yang belum lama bergabung dengan kantor Almeer.
"Biarkan saja. Gue mah gak peduli". Jawab Thian cuek.
"Elah yan. Loe gak mau gitu punya pasangan. Jomblo melulu. Betah amat". Luki berkata dengan nada mengejek Thian.
"Hallo sebelum ngomong, sadar diri dong. Emang situ sudah laku". Dengan santainya Thian membalas Luki. Luki hanya mendengus kesal. Ono terkikik mendengar jawaban Luki. Luki tiba-tiba merasakan hal aneh setelah Ono terkikik.
"Yan. Sumpah mobil loe makin horor. Udah loe slametin belum sih ni mobil. Merinding gue yan". Luki mengusap tengkuknya karena merinding. Ono semakin berulah dengan meniup tengkuk Luki.
Thian yang melihat ulah ono, hanya tersenyum tipis. Thian masih sibuk melihat beberapa sosial media miliknya untuk sekedar membalas komentar beberapa penggemar.
"Yan. Yan. Tolong gue yan". Luki mulai panik karena ulah Ono.
"Kenapa sih loe. Iah nyetir aja". Thian masih fokus dengan ponselnya.
"Yan. Gue saranin ya. Mobil loe dirukyah dulu. Yakin nih mobil ada penunggunya. Merinding gue duduk disini". Luki terus mengusap tengkuknya.
Thian mulai melirik Ono yang masih jahil kepada Luki. Ono memang sering menggoda Luki. Beberapa kali Ono menampakkan wujudnya dihadapan Luki.
"Allahumma inni audzubikka minnal khubusi wal khobais". Luki membaca doa yang terlinta sdibenaknya. Thian yang mendengar doa tersebut langsung tertawa. Ono pun hanya diam saja tak bereaksi.
"Loe cari pom bensin dulu deh Luk. Gue gak mau loe ngompol disini". Ejek Thian kepada Luki.
"Siapa yang mau buang air sih yan". Luki yang merasa tak ingin buang air, langsung memprotes Thian.
"Nah tu tadi loe baca doa masuk toilet. Berarti loe mau buang air kan". Jelas Thian masih sambil tertawa.
"Namanya juga panik. Gak inget gue doanya. Pokoknya mobil loe kudu dislametin. Biar gak horor. Hiii". Luki bergidik sendiri. Sedangkan Thian hanya tertawa.
__ADS_1
Dilain tempat. Fathan sudah berada di studio. Hari ini Fathan akan menjadi model pakaian dari salah satu brand ternama. Karena lokasi studio tidak jauh dari kantor agensi, Almeer menyusul Fathan untuk melihat proses pengambilan gambar.
"Bang. Tumben mampir". Sapa Fathan ketika Almeer mendatanginya diruang ganti.
"Sekalian mampir. Gimana lancar semua kan". Tanya Almeer sambil melihat ruang ganti Fathan.
"Lancar kok bang". Jawab Fathan singkat. Fathan sedang dirias oleh make up artis. Untuk pakaian selanjutnya.
"Baguslah. Abang balik kantor dulu. Ada beberapa anak baru yang gabung ke kantor kita. Abang mau coba seleksi untuk projek baru". Jelas Almeer sambil berdiri dari tempat duduk.
"Oh. Bagus dong bang". Fathan masih tetap sama singkat dan jelas dalam menjawab.
"Gue sengaja kosongin jadwal kalian Minggu depan. Ingat rapat pemegang saham. Kalian harus datang". Almeer beranjak meninggalkan ruangan tersebut dan kembali ke kantor.
Fathan dan Fathian memiliki saham diagensi tempat mereka bekerja. Namun mereka jarang sekali ikut dalam pertemuan karena kesibukan mereka. Bahkan si kembar meminta untuk menyembunyikan identitas mereka dari para pemilik saham lainnya.
"Sudah siap. Tinggal ganti baju". Sang make up artis meminta Fathan untuk segera berganti kostum. Dan siap melakukan pemotretan berikutnya.
Fathan berjalan menuju ruangan pemotretan. Didalam ruangan tersebut juga sudah ada beberapa model lainnya. Dua orang model wanita terus tersenyum melihat Fathan memasuki ruangan. Bukan Fathan namanya jika dia tidak menjadi manusia kulkas.
"Bro. Loe sub unit ma gue kan". Sapa salah seorang model yang juga teman Fathan.
"Mungkin". Jawab Fathan singkat. Sikap dan sifat Fathan menjadi daya tarik tersendiri bagi kaum hawa. Namun tak satupun wanita bisa meluluhkan gunung es dihati Fathan.
"Ntar lihat jadwal gue dulu". Jawab Fathan dengan singkat. Dan ditanggapi acungan jempol serta senyuman dari sang teman.
"Fathan, Renald. Kalian ambil gambar berdua dulu". Fotografer langsung memberikan arahan Lei Fathan dan temannya tadi untuk berpose. Dua orang model wanita sibuk berbisik dikala Fathan sedang bekerja. Tatapan mereka tak bisa beralih dari Fathan.
"Rum. Ganteng banget ya jodoh gue". Ucap salah satu model wanita yang bernama Celin.
"Jodoh loe. Pede amat. Jelas-jelas dia jodoh gue". Arumi menyanggah perkataan Celin. Karena dia juga menyimpan rasa kepada Fathan.
Perdebatan keduanya didengar oleh asisten mereka masingmasing. Termasuk Adrian asisten Fathan. Adrian hanya diam saja tanpa peduli ucapan kedua model wanita tersebut.
"Daripada kalian rebutan, mendong yang satu sama kembaran Fathan. Jadi adil kan sis". Ujar asisten Celin.
"Ck. Loe kan tau Mir. Kembaran Fathan itu beda jauh ma Fathan. Dia kalau ngomong langsung nusuk ke ati. Sakit banget". Celin menjelaskan seperti apa sifat Thian yang selalu saja berkata apa adanya kepada siapapun yang membuatnya tidak nyaman.
"Iya bener banget. Gue aja pernah sekali bilang mau kenal dekat ma dia. Tau gak apa jawaban Thian ke gue". Ungkap Arumi mengingat sebuah kejadian yang dialami dirinya saat bersama Thian.
__ADS_1
"Emang apa dia jawab". Celin penasaran dengan jawaban Arumi. Arumi menghela nafas sesaat sebelum menjawab.
"Dia bilang. Jauh-jauh sono. Bukan muhrim dosa. Ntar ada setan lewat". Jawab Arum sambil menunduk lesu.
"Hahaha. Dia ngomong gitu ke loe. Gak kebayang gimana perasaan loe". Ledek Celin pada Arum.
"Gue cuma bisa mlongo. Tapi gue gak nyerah. Gue bilang lagi. Kan kita gak berdua. Ada asisten gue juga. Kan emang waktu itu Dita ada disamping gue". Lanjut Arumi kembali bercerita.
"Terus apa jawaban dia". Celin begitu antusias mendengar cerita Arumi.
"Dia bilang...Makanya loe sono jauhan. Asal loe tau. Disaat kita berdua yang ketiga itu setan". Jawab Arumi yang membuat Celin melongo dan tertawa.
"Gila. Dia ngomong gitu. Berarti Dita setan dong. Hahaha". Celin benar-benar merasa kram diperut karena cerita Arumi.
"Hmm. Dan gue cuma bisa diam speechless dengan jawaban dia. Dan si Dita pun sama. Tapi dia malah pergi dengan santainya. Nyebelin gak tuh". Jelas Arumi. Dia masih saja kesal dengan Thian hingga saat ini.
"Penolakan yang secara tegas". Celin menyimpulkan inti cerita Arumi.
"Iya bener banget. Kalau abangnya kita bisa dapat senyumannya aja udah bahagia banget". Arumi tersenyum tersipu sambil menyantap Fathan yang masih sibuk berpose.
"Dia diam aja udah damage banget. Apalagi dia mau jawab pertanyaan kita. Bisa langsung pingsan gue". Celin pun melakukan hal yang sama dengan Arumi. Tatapan penuh damba terus dipancarkan dari mata Celin.
Adrian diam-diam merekam percakapan Celin dan Arumi saat menceritakan pengalamannya ditolak oleh Thian. Sengaja Adrian merekam untuk ditunjukkan kepada Fathan. Tak lama Fathan sudah selesai dengan pemotretannya. Fathan berjalan kearah Adrian yang sudah menunggunya.
Celin dan Arumi tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Mereka berusaha menarik perhatian Fathan. Celin dan Arumi menyapa Fathan. Namun tak direspon oleh si kulkas lima pintu. Senyumpun tak mereka dapatkan. Adrian dan Fathan sudah meninggalkan studio. Dan kembali keruang ganti untuk bersiap ke tempat selanjutnya.
Tak jauh dari Fathan. Thian pun sedang beristirahat. Karena jenuh, Thian memutuskan berkeliling disekitar lokasi tempat Thian shooting sebuah produk. Terdapat arena kuliner tak jauh dari lokasi shooting Thian. Thian bersama Luki sang asisten memilih jajanan untuk mereka nikmati. Thian dan Luki sudah duduk me unggu pesanan mereka diantarkan.
"Hei kak. Kita bertemu lagi". Suara seorang perempuan mengagetkan Thian.
"Siapa ya". Thian merasa tak mengenali perempuan itu. Dan baru kali ini Thian bertemu dengannya.
"Kakak lupa denganku. Aku Melody". Melody tersenyum kepada Thian. Thian terdiam melihat senyuman manis Melody.
"Maaf tapi saya tidak mengenalmu". Jelas Thian lembut. Melody menatap Thian dengan penasaran.
"Ah. Begitu. Mungkin kakak lupa. Karena sudah agak lama kita tidak bertemu. Bolehkah kita berkenalan. Agar saat kita bertemu kembali, Melody bisa memanggil nama kakak". Melody tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Thian.
Thian pun menyambut uluran tangan Melody. Dan menyebutkan namanya. Luki yang melihat reaksi Thian yang begitu ramah kepada Melody, merasa sedikit heran. Namun Luki hanya bisa tersenyum saja. Ono pun mulai dengan sifat julidnya.
__ADS_1
"Au au. Ada yang tersepona nih". Ucap Ono. Dan Ono pun bernyanyi yang hanya bisa didengar oleh Thian saja.
"Terpesona aku terpesona...memandang Mandang wajahmu yang manis.. Asyik. Goyang bang". Kehebohan Ono mendapatkan lirikan tajam Thian.