Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
Dilamar


__ADS_3

"Sibuk gak. Bisa kita ketemu hari ini. Ada yang ingin kakak sampaikan ke Melody".


Fathan memberanikan diri mengirim pesan kepada Melody setelah beberapa waktu dia jarang membalas pesan dari Melody. Ada rasa aneh menggelitik nurani Fathan saat dia mengirim pesan tersebut. Bahkan tingkah Fathan membuat Thian tertawa.


"Yaelah bang. Tinggal dikirim aja pake merem melek gitu". Ledekkan Thian masih saja terngiang ditelinga Fathan. Karena olokan Thian itulah Fathan merasa tertantang. Tak lama Fathan menerima balasan dari Melody.


"Wah ada apa ini. Kita ketemu sore jam 4 ya kak. Melody tunggu ditaman jalan xxx".


Setelah menjawab pesan Melody, Fathan sempat tersenyum bahagia namun hanya sesaat. Thian yang terus memperhatikan sang kembaran, sangat tahu kekhawatiran yang sedang melanda Fathan. Thian berpindah posisi tempat duduk dari depan Fathan ke samping sang Abang.


"Sudah jangan terlalu overthinking. Apapun nanti jawaban yang Abang terima, gue harapa Abang bisa menerima dengan ikhlas bang. Yang penting Abang sudah berusaha jujur. Daripada memendam sesuatu yang belum pasti kebenarannya. Lebih nyakitin". Fathan mengangguk mendengar nasehat sang adik. Walaupun Thian sedikit slengekan atau lebih suka bercanda. Tapi untuk hal tertentu dia bisa berubah menjadi lebih dewasa.


"Loe temani gue ya dek". Fathan meminta Thian menemani bertemu dengan Melody. Bahkan posisi Fathan saat berbicara masih tetap tertunduk. Thian memeluk sang Abang dari samping sebagai tanda penyemangat.


"Iya. Gue akan temani loe bang. Sekarang kita fokus dulu kerja. Biar cepat kelar terus bisa ketemu sama calon kakak ipar gue". Thian terkekeh geli saat dia menyebut istilah kakak ipar. Fathan pun ikut terkekeh sambil menepuk paha Thian.


Sikembar mendapat kesempatan untuk kembali bekerjasama dan menjadi ambasador dari brand pakaian ternama. Hari ini mereka sedang proses pembuatan iklan untuk brand tersebut. Jadwal mereka cukup padat. Karena produk terbaru yang mereka iklankan akan launching bulan depan.


Disaat anak mereka sedang sibuk dengan bekerja, kedua orangtua mereka sedang makan siang bersama keluarga Malik. Arsya memang meminta Airil dan Eneng serta Emak untuk makan siang bersama. Kini mereka sedang berada dikediaman Arsya. Arash dan Icha pun ikut hadir. Mereka sedang asyik bernostalgia masa kecil bersama Eneng.

__ADS_1


"Gak berasa ya. Waktu cepat berlalu ya". Ucap Arash yang membuat semua tersenyum. Tak dipungkiri Eneng sangat berarti bagi kehidupan Arash dan Arsya. Eneng bukanlah asisten rumah tangga bagi mereka, namun keluarga.


"Mumpung kumpul. Neng gue mau nanya. Anak loe udah punya calon istri belum". Arsya bertanya tanpa basa-basi terlebih dahulu. Bahkan bahasa yang mereka gunakan masih bahasa percakapan saat mereka kecil.


"Sepertinya belum sih mas. Kenapa emangnya". Eneng menjawab santai pertanyaan Arsya. Namun belum sempat Arsya menjawab, Arash lebih dulu menjawab pertanyaan Eneng.


"Mau dijadiin cucu mantu sama Arsya". Eneng tersedak mendengar perkataan santai dari Arash. Bahkan bola mata Eneng seakan ingin keluar dari tempatnya.


"Neng jangan melotot gitu. Takut gue kalau tuh mata ngeglinding". Arsya tertawa melihat reaksi kaget Eneng. Sedangkan Airil hanya diam saja tidak bisa berkata apapun. Bahkan suara gelak tawa Malik bersaudara tak bisa mengusik rasa terkejut mereka. Emak pun hanya bisa diam.


"Gimana neng. Bolehkan Fathian jadi cucu mantu gue". Arsya langsung mengatakan tujuan utama mereka makan siang bersama. Airil yang sangat mengenal keluarga Malik, benar-benar tak bisa menjawab. Karena perkataan yang mereka ucapkan tidak pernah main-main.


"Neng, Ril. Kok diam saja. Kalau memang kalian gak setuju gapapa. Gue juga gak maksa". Arsya kembali bertanya kepada Eneng dan Airil. Karena mereka tidak merespon apapun setelah Arsya mengatakan keinginannya.


"Bercanda gimana. Sejak kapan gue kalau ngomong bercanda Neng. Tanya tuh Serkan kalau loe gak percaya". Serkan masih tertawa mendengar reaksi Eneng.


"Beneran. Papi gak bohong kok. Gue pengen Fathian jadi mantu gue". Serkan pun mengutarakan hal yang sama dengan Arsya. Eneng melemparkan tisu yang berada diatas meja makan kearah Serkan.


"Ngomong yang benar. Emang anak gue geng pelangi apa. Anak gue normal. Masih suka sama Apem. Istighfar mas. Istighfar. Dosa mas dosa. Masih banyak perempuan diluar sana. Kenapa malah kalian jodohin anak gue sama anak mas Serkan yang jelas-jelas sama-sama punya pisang". Keluarga Malik benar-benar speechless dengan reaksi Eneng. Arash menepuk jidatnya karena lupa sesuatu. Ya dia lupa kalau dihadapannya itu Eneng. Eneng bukan manusia biasa.

__ADS_1


"Astaghfirullah. Maaf maaf. Serkan lupa memperjelas". Serkan menyadari kesalahannya setelah Arsya menatap Serkan.


"Maksud kita neng. Fathian mau gue jodohin sama Nadzeera. Gue juga gak mau dosa kali neng. Dan gak mungkin gue jodohin Fathian sama Shadam ataupun Sagara. Mereka juga ogah". Serkan menjelaskan secara gamblang kepada Eneng. Bukannya Eneng bahagia, malah kembali mengomel.


"Ya Allah. Ngomong yang jelas. Ngomong kok muter-muter. Apa Eneng gak salah dengar. Eneng gak suka diajak bercanda kayak gini loh mas". Reaksi Eneng membuat keluarga Malik kembali tertawa. Arash pun turun tangan untuk membantu berbicara kepada Markoneng.


"Intinya loe mau gak dijadiin besan ma Serkan. Yang jelas bukan buat Shadam ataupun Sagara. Kalau loe lupa, gue ingetin lagi. Serkan punya anak perempuan. Dan Zee udah lama suka sama Fathian. Kalau memang Thian gak mau menerima lamaran ini, kita gak masalah. Tapi harus Thian sendiri yang nolak bukan kalian". Arash sangat paham jika Airil maupun Eneng pasti akan menolak permintaan dari keluarga mereka.


"Apa perlu gue ingetin juga neng. Loe itu keluarga kita. Bahkan dari sejak si kembar lahir kami mengijinkan kalian menambahkan nama Malik untuk mereka. Tapi kalian menolak. Gue sama Arash tau apa yang kalian pikirin. Kami mengenal loe sangat baik. Dan kali ini gue minta loe gak nolak permintaan gue neng. Gue yakin Thian juga bisa menerima Zee. Dan gue lebih percaya Zee sama Thian. Biarkan keluarga kita tetap terhubung dengan ikatan ini neng. Jangan lagi kalian tolak". Arsya ikut menyampaikan apa yang dia kehendaki. Mereka tau jika Airil dan Eneng selalu merasa tak pantas jika menggunakan nama Malik. Bahkan setiap Zee berkunjung kerumah Eneng, selalu diperlakukan selayaknya majikan. Dan Zee selalu menceritakan sikap keluarga Airil itu kepada Serkan dan Arsya.


"Eneng. Serkan minta kali ini tolong untuk tidak egois. Biarkan mereka bersama. Serkan bisa lihat dari mata Thian. Dia membentengi diri untuk Zee. Kita ini saudara neng. Bukan orang lain. Bahkan kami dirawat olehmu sedari kecil. Serkan gak mau persaudaraan ini hanya sebatas ini. Tolong pikirkan lagi. Tanyakan dulu kepada Thian". Serkan menggenggam tangan Eneng. Agar Eneng bisa sedikit tenang.


Emak meneteskan air matanya karena sangat terharu. Keluarga yang sangat terpandang begitu menyayangi keluarganya yang hanya mantan asisten rumah tangga dikediaman mereka. Tak ada satu jawaban yang keluar dari mulut keluarga Airil. Icha berdiri dan memeluk tubuh Eneng. Icha paham apa yang Eneng rasakan saat ini.


"Neng. Icha tau apa yang Eneng rasakan. Mungkin ini memang jalan takdir kita neng. Yang maha kuasa ingin kita lebih dari sekedar saudara seiman". Icha memeluk erat Eneng dan mengusap punggungnya. Eneng hanya bisa mengangguk. Melihat sang reaksi sang istri, Airil berusaha memberikan jawaban kepada keluarga Malik.


"Mas Arash, mas Arsya, mas Serkan. Untuk saat ini kamu tidak bisa memberi jawaban. Kami minta waktu untuk bertanya kepada Fathian. Fathianlah yang nanti akan menjalani semua ini. Kami sebagai orangtua hanya bisa mendoakan dan mendukung. Sekali lagi terimakasih atas rasa sayang yang kalian berikan kepada keluarga kami. Kami bahkan tak tau harus bagaimana. Maaf jika nanti Thian memberi jawaban tidak sesuai dengan harapan kalian". Arsya dan Arash menepuk pundak Airil. Mereka tau jika saat ini Airil benar-benar takut dan bingung.


"Gak usah khawatir. Apapun hasilnya nanti tidak akan merubah apapun diantara kita. Kita masih saudara". Airil tersenyum dan mengangguk mendengar perkataan Arash.

__ADS_1


Makan siang itupun usai. Dengan pikiran yang belum tenang, Airil dan keluarganya kembali kerumah. Sepanjang jalan Airil menggenggam tangan Eneng. Mereka saling menguatkan. Emak pun hanya bisa diam tak bersuara.


Akankah mereka bisa bersatu. Apakah Fathian memiliki rasa kepada Zee selain rasa sayang seorang kakak.....


__ADS_2