
"Nadzeera". Thian memanggil nama sang kekasih dengan sedikit berteriak. Thian sengaja mengunjungi Zee ditempat praktek lapangan. Dan saat itu Thian kesal melihat seorang pria merangkul pundak Zee.
"Kakak". Zee menoleh kearah suara yang memanggil namanya. Zee kaget melihat Thian sudah berdiri dibelakangnya dengan wajah marah.
Zee segera mendekati Thian. Beberapa teman Zee berteriak girang melihat seorang aktor ternama datang ke tempat mereka sedang melakukan praktek lapangan. Thian tak memperdulikan teriakan beberapa teman Zee yang mengidolakannya.
"Kakak. Kenapa kakak disini". Zee menarik lengan Thian agar menjauh dari area itu. Masih terdengar teriakan teman-teman Zee yang ingin meminta foto dan tanda tangan Thian.
Zee membawa Thian kesebuah gubuk ditepi sawah. Thian hanya diam saja karena dia sangat kecewa. Zee meminta Thian untuk duduk disampingnya. Thian duduk namun tetap diam.
"Kakak bilang kesini Minggu depan. Kenapa sekarang sudah disini". Thian memang memberitahu Zee, jika dia akan datang mengunjunginya Minggu depan. Namun karena pekerjaan Thian sudah selesai lebih cepat, Thian pun memutuskan untuk segera menemui sang kekasih.
"Kamu gak suka kakak kesini sekarang". Zee terkejut mendengar Thian berbicara dengan sikap dinginnya. Zee mulai sadar jika Thian sedang marah.
"Bukan gitu kak. Kan kakak kemarin bilang ke Zee mau kesini Minggu depan. Jadi Zee udah ijin buat nemani kakak Minggu depan". Zee berusaha menjelaskan kepada Thian agar tidak terjadi salah paham.
Thian tidak menanggapi lagi perkataan Zee. Thian memilih berdiri dan berjalan menjauh dari Zee. Zee segera menyusul Thian. Karena Zee takut Thian akan tersesat.
"Kak. Tunggu dulu. Kakak mau kemana. Kakak marah sama Zee". Zee berusaha menahan lengan Thian yang hendak meninggalkannya lagi. Thian berhenti dan menatap tajam kearah Zee.
"Apa kamu selalu nyaman dipeluk lelaki lain saat aku tidak mengawasi kamu". Zee melotot mendengar pertanyaan Thian. Zee tidak menyangka jika Thian akan berkata seperti itu.
"Kok gitu sih ngomongnya. Kakak tahukan Zee gimana. Kenapa kakak ngomong gitu". Zee kecewa dengan perkataan Thian yang seolah-olah dia memberikan kesempatan oranglain untuk memegangnya.
"Sudahlah. Kakak capek. Kakak mau ke penginapan dulu. Kamu balik aja ke asrama. Kakak mau istirahat". Thian terus berjalan menjauh. Dan mengabaikan panggilan Zee. Zee yang kesal dengan sikap Thian, memilih kembali keasrama tempat dia menginap dengan teman-temannya.
Tidak jauh dari tempat Zee tinggal ada penginapan sederhana. Thian menyewa tempat itu selama dia mengunjungi Zee. Sesampainya dipenginapan, Thian segera membersihkan diri dan beristirahat.
__ADS_1
Sedangkan Zee sedang berusaha untuk menghindari teman-temannya. Karena mereka terus menerus menanyakan Thian. Zee masih kesal dengan sikap Thian. Zee dan Thian memang sama-sama memiliki sifat keras kepala. Namun masih dalam batas wajar. Mereka bisa mengatasi hal itu dengan mudah.
"Bos. Loe ketemu nyonya bukannya dipeluk malah diajak berantem. Susah dimengerti memang". Ono mengomentari sikap Thian kepada Zee.
"Loe lihat kan tadi No. Gampang banget tangan tuh cowok nemplok dibahu Zee. Dah gitu Zee pake nyender lagi". Thian kembali kesal mengingat kejadian tadi. Ono hanya diam mendengarkan keluhan sang bos.
"Kan bisa diomongin baik-baik bos. Gak usah langsung ngegas gitu". Ono mencoba menasehati Thian. Thian hanya diam saja tak menanggapi.
"Apa perlu gue cari tahu tentang tuh cowok bos. Terus gue kerjain dia biar loe lega bos". Thian menatap Ono tajam. Ono yang ditatap seperti itu langsung menunduk.
"Jangan lihatin gitu dong bos. Gak aman buat kelangsungan gue disini". Ono memilih menyingkir daripada ikut terkena amukan Thian. Ono paham jika bosnya sedang dalam kondisi lelah saat ini.
Ditempat Zee melakukan praktek saat ini sedang diadakan acara yang menjadi program kerja dari Zee dan teman-temannya. Zee tidak terlalu fokus, karena Thian belum ada mengabari dirinya sejak sore tadi.
"Semarah itukah kamu sayang".
Zee bergumam dalam hatinya. Beberapa kali dia melamun dan disadarkan oleh temannya. Saat ini Zee sedang diawasi oleh Ono. Dan itu adalah inisiatif Ono sendiri. Ono ingin tahu siapa orang yang berani membuat sang bos badmood.
Bahkan Ono menghalau jika ada yang ingin mendekati Zee, atau memegang Zee. Hingga Ono menemukan fakta siapa orang yang membuat Thian kesal.
"Memang susah untuk dimengerti. Bos-bos". Ono menggelengkan kepalanya. Bahkan dia terkikik geli. Ono terus menjaga Zee sepanjang malam. Hingga beberapa teman Zee merasa heran. Karena saat mereka ingin memegang tangan Zee, terutama teman pria Zee. Mereka merasa seperti terhalang bahkan terasa dihempaskan.
Thian masih betah didalam penginapan. Dia begitu lelah. Bahkan untuk makan saja dia enggan. Ditambah suasana hatinya memang sedang tidak baik-baik saja saat ini. Thian hanya menatap layar ponselnya. Dia berkali-kali mengetik pesan namun dia hapus lagi.
Thian masih saja terjaga hingga tengah malam. Saat Ono kembali dari mengawasi Zee, Thian sedang menonton televisi diruang tengah.
"Darimana loe. Udah bosen ikut gue". Ono hanya tersenyum tipis mendengar ocehan Thian. Dia sudah biasa dengan sikap Thian yang seperti itu.
__ADS_1
"Gak makan loe bos. Betah amat". Bukannya takut, Ono malah semakin menggoda Thian. Thian hanya diam saja tak menanggapi.
"Marah juga butuh tenaga kali bos. Makanlah nanti kalau sakit, gue yang kena omel si mama sama Abang". Ono masih mencoba merayu Thian agar mau makan. Thian memiliki sakit lambung. Dan Ono khawatir jika nanti sakit Thian kambuh.
"Berisik. Ikut gue". Thian beranjak pergi setelah meatikan televisi. Ono menahan tawanya karena merasa berhasil membujuk Thian untuk makan.
Thian berjalan keluar penginapan. Walaupun sudah hampir tengah malam, dikampung tersebut masih ada penjual makanan yang buka. Thian memilih makan mie tektek dari gerobak keliling yang kebetulan lewat didepan penginapan.
Thian berbincang dengan penjual mie itu. Dia menikmati makan malamnya yang telah lewat. Ono setia menemani. Usia makan malam, mereka kembali masuk kedalam penginapan.
"Bos mau tau gak siapa yang berani meluk nyonya muda tadi sore". Ono ingin mencoba memberi tahu kebenaran kepada Thian. Thian menatap Ono sekilas.
"Gak usah takut bos, yang memeluk nyonya itu bukan cowok tapi cewek. Ya mungkin karena bodynya yang kayak papan gilasan baju, alas lempeng aja. Jadi bos kira dia cowok. Gue udah buktiin kok bos, dia cewek tulen". Thian kembali menatap Ono. Dia mencoba untuk memastikan kembali omongan Ono.
"Yakin loe no. Jangan hanya karena bela Zee, loe langsung ngarang cerita". Perkataan Thian hanya mendapat decakan dari Ono.
"Ya elah bos. Gue mana pernah bohong sih sama loe. Yakin gue bos. Nama tuh cewek Murni. Dia teman sekamar nyonya juga". Perkataan Ono membuat Thian sedikit panik.
"Wah gawat itu No". Ono bingung dengan jawaban yang dilontarkan oleh Thian. Karena menurut Ono itu bukan suatu yang membahayakan.
"Gawat kenapa bos. Dia gak akan ngapa-ngapain nyonya. Sama-sama apem kok. Mana bisa nusuk". Thian memukul kepala Ono dengan sandalnya. Ono hanya meringis saja.
"Jaman sekarang cewek seperti itu lebih bahaya dibanding cowok brengshake. Loe paham kan maksud gue". Ono mengangguk paham dengan maksud Thian.
"Iya juga ya. Kan lagi tren sekarang. Perang sesama apem dan sesama terong". Ono mengingat hal-hal yang sedang ramai dibicarakan akhir-akhir ini.
Ponsel Thian berdering. Pesan dari Zee menjelaskan semuanya. Dan itu sama dengan apa yang Ono katakan. Namun bedanya ini Zee menjelaskan lebih detail.
__ADS_1
"Alhamdulillah. Aman kok No. Dia bukan penganut sesama apem". Thian tertawa bahagia. Sedangkan Ono hanya menggeleng kepalanya.
"Memang sulit dimengerti".