Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
Dia....


__ADS_3

"Oma. Fathan mau keluar bentar toko buku. Oma ada yang mau dititip gak". Fathan mengisi waktu libur dirumah dan sesekali berjalan keluar sekedar berolahraga ataupun membeli buku. Sedangkan Thian tak jauh beda dengan sang kakak. Namun dianlebih suka bermain game dan rebahan dikamar.


"Gak usah sok nawarin kalau ujung-ujungnya cuma dibikin berharap doang". Nada emak memang kesal karena setiap apapun yang diinginkan emak sudah dibatasi. Semua demi kesehatan emak. "Acie ngambek ya". Fathan meledek sang oma. Dan emak hanya mendengus saja dan kembali fokus melihat televisi.


"Abang mau kemana". Thian berjalanemuju dapur dan berpapasan dengan Fathan yang hendak pergi. "Cari buku. Mau ikut". Fathan selalu menanyakan kepada Thian jika dia hendak pergi. Walaupun tak jarang Thian menolak, tapi Fathan tetap melakukan.


"Hmm. Boleh deh. Bosen gue ngerem di kamar. Bentar gue ganti baju". Setelah sekian kali diajak pergi oleh Fathan dan selalu menolak, akhirnya Thian menyanggupi ajakan saudara kembarnya. Sepuluh menit kemudian Thian sudah siap dan menghampiri Fathan.


"Yuk bang. Jalan". Thian berjalan meninggalkan Fathan dan berpamitan a kepada sang Oma. "Oma kita jalan bentar. Oma jangan bandel ya. Awas kalau ketauan jajan sembarangan. Thian buang tuh semua foto BTS dikamar Oma". Karena foto BTS adalah benda berharga milik emak dan emak juga masih suka bandel jajan sembarangan. Thian pun mencoba mengingatkan dengan ancaman mematikan.


"Ck. Iya-iya". Emak memanyunkan bibirnya. Walaupun Thian mengancam dengan berbagai hal, emak masih saja membangkang. Dan mereka meminta Kunkun menjaga emak tanpa sepengetahuan emak. Hanya Ono yang mengikuti si kembar pergi. "Loe jangan lengah Kun. Awas loe tledor. Gue cukur rambut loe". Thian memberi pesan kepada Kunkun untuk waspada menjaga emak. "Iya bos". Pasrah Kunkun menjawab perintah Thian.

__ADS_1


Fathan membawa mobil sendiri tanpa sopir. Hanya Ono yang menjadi pengawal mereka hanya ini. "Bang, sekalian cari kado gak nih". Thian yang asyik memainkan ponsel teringat sesuatu. "Siapa yang ultah". Fathan belum mengingat tanggal penting apa hari ini. "Bukan ultah. Kita diundang ke nikahan Maudy Minggu depan. Abang lupa". Thian memperlihatkan undangan virtual dari ponselnya untuk mengingatkan Fathan. "Oke. Cari sekalian aja". Fathan menjawab dengan tetap fokus mengemudi.


Mereka sudah sampai di pusat perbelanjaan terbesar dikota tersebut. Dengan penyamaran mereka berjalan beriringan menuju toko buku. Seperti tujuan awal Fathan. Fathian mengikuti dari belakang. Walaupun bukan seorang yang hobi membaca buku, namun terkadang Thian juga suka membaca buku. Terutama komik dan beberapa novel.


"Bang. Gue cari komik disana ya. Ntar telpon aja kalau udah selesai". Thian berpamitan mencari komik kepada Fathan yang sedang asyik memilih buku untuk dibacanya. "Oke". Fathan tetap fokus mencari buku yang dia inginkan. Beberapa pengunjung memang memperhatikan mereka secara intens karena cara berdandan mereka yang sangat tertutup.


Satu jam lamanya Fathan sudah menemukan beberapa buku untuk dibaca. Fathan berkeliling toko tersebut sambil masih memperhatikan buku-buku lain yang mungkin membuatnya tertarik. Tanpa sengaja seorang gadis menubruk Fathan. Beruntung Fathan tidak terjatuh. Gadis tersebut hanya mengucapkan kata maaf singkat dan berlalu pergi. "Maaf kak". Fathan pun tak menghiraukan dan terus berjalan mencari Thian.


"Dek". Fathan duduk dikursi samping Thian. "Udah kelar bang". Thian menyadari kedatangan sang kakak dan langsung mengemasi komik yang sudah dibelinya. Dua bersaudara itu lantas meninggalkan toko buku.


"Baby, aku mau beli baju baru. Udah gak ada baju lagi buat party nanti. Boleh ya". Suara manja salah satu pengunjung toko mengusik pendengaran si Ono yang sedang duduk santai. Jiwa julidnya pun keluar. "Heran gue bos. Masih ada manusia modelan kayak gitu". Ono menggerutu disamping Fathan yang asyik dengan bukunya.

__ADS_1


"Apaan si No. Berisik banget loe". Pandangan Fathan tetap tertuju pada buku saat menanggapi ocehan Ono. "Itu cewek udah pake baju, masih aja bilang gak punya baju. Hello yang loe pake apa itu. Karung goni". Ono terus menggerutu dengan mimik julid. "Biarkan saja. Gak usah urusin hidup orang". Tegas Fathan yang masih saja dibantah oleh Ono. "Sumpah risih gue bos. Kalau dia sejenis yang suka jalan ditrotoar tanpa sehelai kain, gue baru setuju dia gak punya baju lagi. Lah ini". Ono benar-benar kesal sendiri sehingga membuat Thian bersuara. "Julid". Perkataan Thian dibalas dengusan Ono.


Pegawai toko membawakan barang yang diinginkan Thian. Thian sengaja membuka masker diwajahnya karena sudah pengap. Pegawai toko mengenali siapa yang sedang dia layani. Mereka meminta foto bersama. Thian dan Fathan menyetujui hanya beberapa foto saja dan setelah berbelanja.


Perempuan yang menjadi bahan julidan Ono juga menyadari kehadiran si kembar. Dengan gaya centilnya, perempuan itu berjalan mendekati si kembar. Si kembar hanya membalas sapaan sewajarnya saja. Perempuan tadi dipanggil sang kekasih karena baju yang diinginkan sudah ada dan siap dicoba. Ono terus memperhatikan perempuan itu. Saat masuk keruang ganti. Tirai penutup digunakan Ono untuk mengerjai perempuan tadi.


"Nih gue kasih baju gratis. Daripada beli". Ujar Ono puas setelah mengerjai perempuan tadi. "Ahh..Tolong gue". Perempuan itu berteriak karena tirai menutupi seluruh tubuh dan wajahnya. Pegawai toko dan sang kekasih bingung dengan kejadian itu. Si kembar hanya menghela nafas saja melihat kelakuan Ono. Setelah mendapat barang yang diinginkan Thian langsung membayar dan bergegas pergi dari toko tersebut.


Si kembar berjalan menuju parkiran. Thian teringat sang Oma. Walaupun dia berpesan agar sang Oma tidak jajan sembarangan, mereka tetap akan membelikan makanan kesukaan sang Oma. "Bang mampir beli dimsum dulu buat Oma. Kasian udah ngiler dari kemarin". Pinta Thian kepada sang Abang. "Diluar Mall aja dek. Males harus naik lagi". Fathan memang sudah malas untuk berkeliling jika apa yang diinginkan sudah dia dapatkan. "Oke bang. Di resto biasa saja". Thian pun setuju dan mereka segera meninggalkan mall.


Beberapa fans si kembar menyadari kehadiran mereka. Dengan langkah cepat mereka segera masuk kedalam mobil. Namun sialnya fans mereka lebih gesit. Mereka sudah terkukung ditengah fans. "Bang. Susah kita buat lari ini". Thian sedikit panik dengan kondisi saat ini. "Gapapa dek. Buruan. Tapi jangan sampai melukai mereka". Fathan menenangkan Thian dan mengingatkan agar tidak melukai fans mereka.

__ADS_1


"Ayo ikut gue kak". Seseorang menarik lengan Fathan dan membawa si kembar berlari cepat. Dengan bantuan beberapa teman dari si gadis itu, si kembar dibawa kearea parkir dengan selamat. "Kalian sudah bebas". Gadis itu hendak berjalan meninggalkan tempat tersebut. "Tunggu. Makasih sudah menolong kami". Fathan berteriak dan berterimakasih. Gadis itu menoleh sambil mengangguk dan tersenyum. Dia pun berlalu pergi.


Si kembar meninggalkan mall tersebut. Fathan masih mengingat tentang gadis yang telah menolong mereka tadi. "Bang. Loe kenapa diem aja". Thian bingung melihat kakaknya hanya diam saja setelah masuk kedalam mobil. Dan saat ini Thian yang membawa laju kendaraan mereka. "Dia kan". Fathan mulai mengingat sesuatu.


__ADS_2