Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
Shabila lewat


__ADS_3

"Huahhh. Om harus tanggung jawab. Shabila gak mau malu. Huahhhh". Shabila menangis sekencang-kencangnya didalam kamar. Almeer bingung harus bagaimana menenangkan sang istri.


"Sayang, Abang harus tanggung jawab gimana lagi. Kamu kan sudah sah jadi istri Abang. Terus tanggung jawab seperti apa yang kamu mau". Dengan lembut Almeer mencoba menenangkan Shabila.


"Pokoknya Bila marah sama om. Makanya Juno itu jangan biarin kliaran sembarangan. Kan Bila jadi hamil. Om tanggung jawab om. Huahhh". Almeer hanya bisa menghela nafas dengan kelakuan Shabila. Sudah beberapa hari ini Shabila sering mual. Dan Almeer ingat jika sudah hampir dua Minggu sang istri tidak datang bulan. Almeer langsung membelikan testpack untuk sang istri. Dan hasilnya pun positif.


Shabila masih terus menangis sambil menatap testpack ditangannya. Almeer mencoba mendekati Shabila untuk menenangkannya.


"Ya sudah sekarang kamu maunya apa sayang. Jangan nangis lagi ya. Kasian dong anak kita didalam perut ikut sedih". Almeer mengusap perut Shabila dari balik bajunya.


"Bila mau telpon mama sama papa. Bila mau bilang kalau om sudah melecehkan Bila". Almeer tertunduk lemas dan merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Dia sudah pasrah dengan apa yang akan diperbuat sang istri.


"Emang ada suami melecehkan istri sendiri. Ampun lama-lama migren juga nih kepala gue. Ya Allah semoga anak gue gak kayak emaknya. Bisa mati ikutan gila gue".


Almeer berbicara didalam hati. Matanya terus menatap kearah Shabila yang sedang menangis mengadu kepada kedua orangtuanya. Almeer mengirim pesan kepada Satria. Hari ini Almeer memilih untuk tidak bekerja dan menemani sang istri.


"Pokoknya papa harus laporin si om genit ke polisi. Harus itu pah harus". Suara Shabila terdengar cukup keras saat berbicara dengan sang papa.


Usai menutup panggilan teleponnya, Shabila berdiri dan segera masuk ke kamar mandi karena merasa kembali mual. Almeer mengikuti Shabila dari belakang.


"Sayang kamu baik-baik saja. Kita ke dokter ya sekalian diperiksa usia si dedek". Shabila menoleh dan menatap Almeer tajam. Almeer yang baru pertama kali mendapat tatapan menyeramkan dari Shabila, berusaha untuk tenang.


"Dedek siapa yang mau diperiksa om". Salah pengucapan akan menjadi salah artian bagi Shabila.


"Maksud Abang. Anak kita sayang. Kita sekalian cek usia anak kita ke dokter. Gimana mau gak sayang". Almeer berbicara dengan sangat lembut dan berhati-hati sekali.

__ADS_1


"Ya sudah ayo. Tapi habis dari rumah sakit, om harus tanggung jawab ke Bila. Om yang udah bikin Bila hamil". Almeer mengangguk pasrah menjawab perkataan Shabila. Yang terpenting baginya saat ini adalah memeriksakan kondisi Shabila dan calon anaknya.


"Iya. Apapun yang kamu mau, Abang kasih". Bujuk Almeer kepada Shabila. Almeer segera bersiap mengantarkan Shabila ke rumah sakit. Dan sebelum berangkat Almeer menelfon mama Shaki. Seila istri Ghaydan masih menjadi dokter kandungan.


Sepanjang jalan menuju rumah sakit, Shabila terus mengomel. Almeer hanya diam mendengarkan. Jika saja Almeer menjawab satu kata, sudah pasti amukan Shabila semakin menjadi.


"Besok Bila mau pesan kandang baru buat Juno yang bisa digembok. Biar gak keliaran terus". Almeer menahan tawanya mendengar ocehan Shabila.


"Awas aja kalau nanti malam tidur cuma pake kolor, aku ikat tuh Juno". Almeer mengangguk saja tak satu kata keluar dari mulut Almeer. Almeer berharap kejadian ini tidak bocor kemanapun. Khusus kepada Satria.


Tiba dirumah sakit, Almeer segera menggandeng Shabila menuju ruangan Seila. Mereka menunggu nomor antrian seperti pasien lainnya. Dan hanya menunggu tiga antrian sebelumnya, nama Shabila bsudah dipanggil.


"Assalamualaikum mama". Sapa Almeer kepada Seila dan tak lupa mencium tangannya. Shabila bingung mengapa Almeer memanggil dokter tersebut mama.


"Almeer baik mah. Mama sehat kan". Almeer selalu menanyakan keadaan Seila dan Ghaydan walaupun hanya lewat pesan.


"Alhamdulillah kami baik. Mana nyonya Almeer yang mau periksa nih". Almeer menuntun tangan Shabila kesamping badannya.


"Ini menantu mama. Waktu Al nikah, mama sama papa gak datang kan". Saat pernikahan Almeer, Seila dan Ghaydan sedang berada di Singapura mengunjungi Shaki dan cucu mereka.


"Hallo sayang. Siapa nama kamu nak". Seila menyambut hangat Shabila. Mereka saling berpelukan.


"Saya Shabila dokter". Shabila sedikit canggung karena memang baru pertama kali bertemu dengan Seila.


"Panggil mama saja. Mungkin kamu bingung sayang kenapa Almeer memanggil mama. Dan belum mengenal siapa mama". Shabila mengangguk menjawab pertanyaan Seila.

__ADS_1


"Suami mama adalah sahabat dari Ayah Arash dan Arsya. Dan mereka sudah seperti keluarga. Jadi jangan canggung ya sayang". Mendengar penjelasan Seila, Shabila pun tersenyum.


Seila segera menjalankan prosedur pemeriksaan kepada Shabila. Seila juga menjelaskan beberapa hal mengenai kehamilan pertama. Terutama kondisi emosi sang ibu. Almeer ikut mendengarkan secara seksama. Bahkan dia sangat antusias untuk bertanya mengenai kehamilan dan kesehatan bayi.


"Wah Al, kamu senang banget ya mau jadi ayah. Sampai semua hal ditanyakan". Seila menggoda Almeer. Dan Almeer hanya tersenyum tipis.


Seila memberikan resep vitamin dan penambah darah untuk Shabila. Dan juga memberitahukan jadwal kontrol berikutnya.


"Shaki apa kabar mah". Entah mengapa Almeer ingin bertanya mengenai Shakinah putri Seila dan Ghaydan.


"Dia baik. Kemarin dia sempat marah sama kamu karena nikah gak kamu undang". Almeer memang sengaja tidak mengundang Shakinah karena takut mengganggu pekerjaannya. Apalagi suami Shakinah sangat cemburu dengan Almeer.


"Hehehe. Maaf mah gak maksud sih. Almeer takut ganggu kerjaan Shaki aja mah". Shabila hanya diam mendengarkan Almeer dan Seila bercerita.


Almeer pun berpamitan kepada Seila. Dan sebelum pulang mereka menebus obat di apotek rumah sakit.


"Hmm. Om boleh tanya gak". Karena sudah sangat penasaran, Shabila memberanikan diri bertanya kepada Almeer.


"Apa sayang". Almeer menggenggam tangan Shabila tanpa pernah dia lepaskan.


"Shaki siapa om. Dia cewek apa cowok". Almeer menoleh kearah Shabila. Dia tidak mengira jika Shabila akan bertanya hal itu.


"Shaki itu anak mama Seila. Dia juga sahabat aku dari kecil sayang. Dan dia seorang perempuan". Almeer tersenyum menjawab pertanyaan Shabila. Shabila mengangguk paham dan kembali diam menunggu namanya dipanggil.


"Nanti Abang akan jelaskan sama kamu sayang siapa Shakinah untuk Abang. Maaf jika rasa ini masih ada untuknya. Tapi Abang akan berusaha mencintai kamu sayang. Apalagi sudah ada buah hati kita yang sebentar lagi akan menemani kita. Shaki berbahagialah disana. Sekarang kita sudah memiliki jalan masing-masing. Maaf aku tak bermaksud menjauhimu. Aku juga tidak membencimu. Tapi jalan kita yang berbeda. Mungkin karena kebodohan ku dulu membuatku sadar jika kamu memang ditakdirkan bukan untukku. Dan kini sudah ada wanita yang bisa menerimaku dengan tulus. Maafkan aku. Aku akan menutup kisah kita. Biar berlalu menjadi kenangan".

__ADS_1


__ADS_2