
KLAN MALIK AKAN SEGERA MEMILIKI MENANTU BARU
AKHIR DARI SEBUAH RAHASIA : ALMEER MALIK AKAN MENGAKHIRI MASA LAJANGNYA
ARASH MALIK BERSAMA ISTRI DAN SANG PUTRA ALMEER MALIK TERTANGKAP KAMERA SEDANG MAKAN MALAM DENGAN SEORANG GADIS
Tajuk yang sangat menggemparkan setelah beberapa tahun tak pernah ada berita semacam ini. Bahkan sahabat Almeer ikut meributkan berita itu. Kecuali keluarga besar Malik dan Airil. Dan pastinya Theana yang makin kesal.
"Bang Al sialan. Gak terima gue. Gak terima". Thian melemparkan badannya diatas ranjang. Melihat berita yang sedang viral dari ponselnya membuat dirinya semakin kesal. Hingga pagi ini keluarga Airil masih tenang. Namun setelah berita itu keluar, mereka semua meminta Thian menjelaskan.
Keluarga Thian sedang menunggu Thian diruang keluarga. Emak tak hentinya tertawa melihat berita dan foto-foto serta potongan video Thian dalam balutan gaun gamis dan hijab. Thian benar-benar nampak imut dan cantik. Bahkan emak mengomentari jalan Thian yang begitu anggun.
"Hahaha. Air mancur. Loe kudu periksa deh anuannya Thian. Jangan-jangan semalam berubah jadi kue apem". Perkataan Emak mengundang gelak tawa semua yang ada diruang keluarga. Thian yang sudah berada diujung tangga berdecih pelan dan berjalan mendekati keluarganya.
"Gak ada yang kayak gitu Oma. Ekspetasi Oma ketinggian. Masih murni ini". Thian me jawab pertanyaan emak tadi dan keluarga kembali tertawa.
"Eh Theana. Sudah bangun". Eneng ikut mengolok sang putra. Thian semakin cemberut. Dengan nada manja Thian bergelayut pada lengan Eneng.
"Mama". Thian mengeluh pada sang mama. Airil dan Fathan tertawa melihat tingkah Thian . Emak pun tak kalah terbahak. Merasa puas bisa menggoda Thian.
"Sekarang cerita ke papa. Kenapa bis jadi Theana". Airil ingin mendengar cerita dari versi Thian. Karena sebelumnya Airil sudah mendengar penjelasan Arash. Pagi tadi setelah berita viral, Airil menanyakan kebenaran berita itu. Dan dari situlah Airil tahu tentang Theana.
Thian menceritakan semua dari awal perjanjian dengan Almeer yang memintanya menemani makan malam. Yang Thian tahu bukan dengan keluarganya. Thian juga menceritakan saat dia dibutik sekaligus salon yang menjadi pusat perhatian.
"Begitu pah. Kalau bukan karena bang Al ngancem ngambilin semua koleksi Thian. Thian gak bakal mau". Thian menyelesaikan ceritanya. Fathan menatap sang kembaran dengan tatapan mengejek.
"Oh lebih sayang koleksi Doraemonnya daripada harga diri". Olok Fathan kepada sang kembaran. Walaupun Fathan paham benar jika koleksi sang adik itu langka.
__ADS_1
"Gak usah sok pikun deh". Thian kembali membalas tatapan Thian tak kalah tajam. Airil lalu kembali bertanya kepada Thian masalah makan malam Almeer.
"Dek. Apa ayah gak curiga. Waktu kamu datang sama bang Al". Pertanyaan Airil membuat keluarga lainnya juga penasaran dengan jawaban Thian. Karena Arash tidak mudah ditipu.
"Awalnya aman Pah. Malah Thian yang tremor setelah tau siapa yang bang Al samperin. Ayah mulai curiga karena suara Thian. Papa kan tau Ayah suka lihat proses casting. Terus ada beberapa sitkom yang Thian bintangi dengan peran melambai. Jadilah ayah paham suara palsu Thian". Suara gelak tawa terdengar sangat riuh. Bahkan emak sampai terkencing dicelana.
"Sepertinya saran Oma perlu papa coba". Airil tiba-tiba menyetujui perkataan emak. Membuat Thian semakin kesal.
"Kalian mau bukti. Sekarang juga Thian buktiin. Mau lihat berubah gak". Thian berdiri dan bersiap melepaskan ikat pinggang celananya dan membuka kancing celananya.
"Haish. Gak gitu juga bro. Kamu udah dewasa dek. Bisa bahaya lihati aset ke orang lain". Airil mencegah Thian. Karena Thian bisa berbuat nekad jika tidak dihentikan.
"Yaelah. Kita kan keluarga. Kita muhrim air mancur. Mana buktiin berubah apa gak jadi kue apem". Emak memprofokasi Thian agar kembali melanjutkan aksinya. Namun yang Thian lakukan berbeda.
"Idih Oma ngarep. Awas bintitan. Enak aja mau lihat pusaka Thian. Gak banget ih". Tiba-tiba jiwa Theana kembali kedalam tubuh Thian. Thian berjalan berlenggok menuju ruang makan. Melihat tingkah random sang adik, membuat Fathan gemas. Fathan melemparkan sandal miliknya kearah Thian. Thian hanya mengaduh pelan lalu melanjutkan langkahnya.
"Ya Allah. Apa salahku. Punya anak kok gak waras-waras". Icha mengomel sambil menata makanan diatas meja makan. Arash tersenyum mendengar sang istri mengomel. Sedangkan Almeer hanya bersikap cuek.
"Bang. Ayah masih penasaran. Kok bisa Abang sampai kepikiran merubah Thian jadi Theana. Dapat wangsit darimana bang". Arash memang masih penasaran dengan ulah anaknya kali ini. Biasanya Almeer akan menolak secara terang-terangan jika tidak sija dijodohkan. Namun kali ini dia berbuat lebih ekstrim.
"Iya. Buna pun berfikir hal yang sama. Abang masih normal kan. Gak belok kan". Pertanyaan Icha membuat Almeer tersedak makanannya.
"Masih lurus dijalannya Buna. Gak mau belok kanan apa kiri". Almeer menjawab pertanyaan sang Buna dengan gamblang. Arash tertawa mendengar penjelasan sang putra.
"Siapa tau. Secara Abang udah gak muda lagi. Terus betah jomblo. Kan Buna jadi takut". Perkataan Icha membuat Almeer meletakkan sendok dan garpunya. Almeer menggenggam kedua telapak tangan sang Buna.
"Bun. Al masih waras. Walaupun umur sudah gak muda. Tapi wajah masih imut-imut. Sabar ya Bun. Nanti kalau ketemu yang cocok langsung Al bawa ke KUA". Arash yang melihat sang putra mencium kedua telapak tangan sang istri, merasa tak terima. Arash memukul kepala Almeer dengan centong nasi.
__ADS_1
"Aduh. Apa sih yah". Protes Almeer kepada sang ayah. Arash menjawab dengan tatapan mata saja dan Almeer sudah paham dengan sifat posesif ayahnya yang tak pernah hilang.
"Apa kita perlu klarifikasi yah, bang. Biar beritanya gak semakin heboh". Tiba-tiba Icha terfikir untuk meluruskan segala berita tentang Almeer.
"Gak perlu Bun. Lagian gak ada yang tau identitas Theana. Kalau kita klarifikasi sama aja kita menyetujui hubungan Almeer sama si Thea abal-abal. Mau lihat pertunjukan anggar tiap hari Bun". Icha menggeleng dengan cepat mendengar jawaban Arash. Sedangkan Almeer hanya tersenyum melihat wajah sang Buna yang ketakutan.
Semakin siang berita di televisi pun semakin heboh. Apalagi menyangkut keluarga Malik yang namanya cukup dikenal. Almeer berpamitan pergi ke kantor setelah selesai sarapan dengan kedua orangtuanya.
Semua mata tertuju kepada Almeer yang baru memasuki lobby perusahaan miliknya. Para karyawan berbisik saat Almeer melintas. Almeer yang ak menanggapi itu. Dia berjalan dengan santai menuju ruangannya. Almeer sangat paham situasi saat ini.
Kembali kepada rutinitas Fathan yang lain. Semenjak Melody mengirim pesan waktu itu, mereka kini lebih intens dalam berbalas pesan. Namun Melody masih saja belum mengetahui jika yang berbalas pesan dengannya adalah Fathan bukan Thian.
"Maaf kak. Mel kerja dulu ya. Nanti kita lanjut lagi" .
Melody mengakhiri berbalas pesan dengan Fathan hari ini. Senyum manis terus tampak dari wajah Fathan. Bahkan kehadiran Thian yang sejak tadi melihat Fathan tersenyum sendiri tidak Fathan sadari.
"Woy bang. Loe kesambet si Kunkun apa. Senyum sendiri ". Goda Thian kepada sang Abang. Mendengar suara Thian sontak membuat Fathan terkejut.
"Sejak kapan loe dikamar gue". Fathan berjalan mendekati sang adik yang sedang asyik rebahan diranjangnya.
"Sejak ada orang yang senyum-senyum sendiri sambil mainan ponsel". Thian menjawab tanpa merubah posisinya.
"Oh. Loe bosen dek". Fathan hafal dengan sifat kembarannya. Jika sudah tidur dengan posisi tengkurap. Thian pasti merasa sedang jenuh.
"Hem. Mau jalan males. Dikamar males". Thian menjelaskan sebelum sang Abang bertanya lebih. Fathan beranjak dari ranjang dan membuka almari tempat menyimpan peralatan gamenya. Fathan melemparkan salah satu stik permainan kearah Thian. Thian dengan cepat merubah posisinya menjadi duduk dan fokus pada layar dihadapannya.
Mereka menghabiskan waktu bermain game berdua didalam kamar. Bahkan rumor yang terus menjadi heboh hari ini tidak lagi diingat mereka. Mereka benar-benar menghabiskan waktu intens hanya berdua.
__ADS_1