Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
Johan Kepo


__ADS_3

"Abang. Maaf Zee telat jemput". Zee segera memeluk Shadam yang sudah menunggu dibandara. Zee terlambat menjemput karena harus menyelesaikan meetingnya. Sedangkan supir kantor sedang mengantar investor lain.


"Gapapa princess. Apa kabar". Shadam sedikit berbeda dengan Gara. Dia lebih lembut namun juga tegas.


"Baik. Sendirian bang. Zee kira bawa kakak ipar". Ledek Zee kepada Shadam. Shadam hanya tertawa.


"Sudah pinter ya ngledek Abang. Dah yuk balik. Abang pengen mandi. Sudah lengket". Shadam merangkul pundak Zee. Mereka segera menuju hotel.


Shadam akan menemani dan membimbing Zee sampai proyek mereka selesai. Karena pekerjaan Shadam sudah bisa dihandle oleh asistennya, jadi Shadam bisa sedikit longgar. Sebelum beristirahat, Shadam dan Zee terlebih dulu makan. Sedari siang Zee belum sempat makan. Saat diajak oleh Johan, Zee pun menolak.


Mereka memesan makanan dari layanan hotel. Malam nanti mereka masih ada meeting lanjutan dari proyek tersebut. Zee kembali ke kantor setelah mengantar Shadam dan makan siang yang terlambat.


"Zee, semua pesanan bahan kita sudah dalam perjalanan. Apa jumlahnya sudah sesuai. Kamu gak salah hitung kan. Kalau sampai salah hitung takutnya bisa molor selesainya". Johan menjadi rekan Zee selama proyek berjalan. Mereka masuk dalam satu team.


"Sudah pak Johan. Itu juga sudah diteliti ulang oleh pimpinan. Dan saya juga sudah kasih estimasi lebih, agar bisa menutup kekurangan ataupun jika ada barang yang rusak. Jadi kita tidak perlu lagi menunggu barang berikutnya". Zee menjelaskan dengan gamblang dan Johan merasa puas. Karena memang Zee sangat perfeksionis dalam hal perhitungan.


"Oke. Saya percaya kamu bisa. Untuk nanti malam, apa masih perlu bantuan saya untuk menyusun laporan". Zee memang yang menyusun semua laporan hasil kerja yang akan digunakan untuk meeting.


"Semua sudah selesai pak. Jadi bapak tidak perlu khawatir". Lagi-lagi Johan hanya bisa mengangguk saja.


"Malam nanti bareng saya saja kita meetingnya. Daripada kamu nyetir sendiri". Johan masih berusaha untuk bisa dekat dengan Zee.


"Maaf pak. Tidak usah repot-repot. Saya akan berangkat dengan kakak saya. Kalau begitu saya permisi pak. Saya masih ada pekerjaan". Zee memilih meninggalkan ruangan Johan. Dia tidak nyaman dengan cara Johan menatap. Irene yang sedari tadi ada diruangan yang sama, nampak kesal karena diabaikan.

__ADS_1


"Bapak suka ya sama mbak Zee". Irene sengaja menjebak Johan dengan pertanyaannya.


"Kalau iya kenapa emangnya". Irene mencebik karena tak suka dengan jawaban Johan.


"Kan bapak tau saya suka sama bapak. Masa bapak tega sama saya. Emangnya bapak suka apanya dari mbak Zee". Irene masih saja ingin tak puas dengan jawaban Johan.


"Lelaki mana yang tak suka dengan wanita seperti Zee. Walaupun nampak dingin dan susah didekati. Itu menjadi daya tarik tersendiri. Zee juga cantik dan cerdas. Bahkan dia sangat sopan dan sayang kepada orangtuanya. Keluarga dia kaya raya, bahkan kakeknya saja sangat terkenal. Tapi dia memilih belajar dari awal tanpa menyerah saat dia tidak berhasil. Sekarang terbukti dia memang wanita hebat. Siapa yang gak akan jatuh cinta sama perempuan seperti itu". Irene semakin kesal dengan jawaban Johan. Apalagi wajah Johan nampak berbinar saat bercerita tentang Zee.


"Tapi bapak tau gak, kalau mbak Zee sudah tunangan". Johan menoleh kearah Irene. Wajahnya berubah tak sedap.


"Darimana kamu tau berita itu. Jangan asal ngomong. Jatuhnya fitnah loh". Johan tidak senang dengan perkataan Irene.


"Mbak Zee itu sudah tunangan. Bahkan diberitakan di semua media cetak maupun elektronik. Bahkan tunangannya aktor terkenal. Masa bapak gak tau berita itu". Johan masih penasaran dengan cerita Irene.


"Nggak. Saya gak dengar. Memangnya kapan berita itu muncul". Irene melotot karena terkejut mendengar Johan yang tidak mengetahui berita pertunangan Zee.


"Kok udah lama tunangan, kenapa belum menikah juga. Jangan-jangan cuma settingan itu". Johan tetap tidak percaya berita mengenai Zee. Dia masih berharap lebih.


"Kalau Maslaah itu Irene gak tau pak. Coba aja tanya mbak Zee. Setau Irene itu benar bukan settingan. Waktu bapak minta saya ambil berkas dikantor pak Serkan, disana saya juga ketemu tunangan Mbak Zee. Mereka serasi dan mesra banget. Apalagi Mbak Zee, senyumnya cantik banget. Disini aja kelihatan jutek". Johan semakin penasaran. Dan memang selama bekerja sama dengan Zee dan berinteraksi langsung, Zee jarang tersenyum. Diajak bercanda pun susah.


"Ya sudah. Saya balik hotel duluan. Kamu masih harus siapin keperluan meeting nantikan sama asisten Zee". Johan beranjak meninggalkan kantor. Irene kembali bekerja bersama asisten Zee.


Sepanjang perjalanan menuju hotel, pikiran Johan tertuju pada cerita Zee. Johan masih tidak percaya jika Zee bertunangan. Ya memang beberapa kali Johan melihat ada cincin melingkar dijari manis Zee. Johan menganggap itu hanya cincin biasa saja.

__ADS_1


"Masa sih udah tunangan. Kayaknya gue harus cari tahu sendiri". Johan segera masuk ke kamarnya dan mencoba menghubungi seseorang untuk membantunya mencari informasi mengenai Zee. Mungkin Johan lupa jika Zee bermarga Malik. Dia tidak akan mudah mencari informasi itu.


Johan juga mulai membuka laman yang berisi mengenai keluarga Serkan Malik. Memang disana terdapat berita mengenai pertunangan Zee. Dan itu semua sesuai dengan apa yang Irene ceritakan.


"Ck. Apa yang bisa dibanggakan dari aktor. Kalau udah gak laku juga gak punya duit. Yang ada numpang hidup dari Zee". Johan meremehkan profesi Thian tanpa dia menggali lebih dalam siapa Thian.


"Selama janur kuning belum melengkung berarti masih bisa ditikungkan. Lagian juga dia masih digantung. Kapan dinikahin juga gak tau". Johan bermonolog sendiri. Dan masih membaca profil tentang Thian. Yang tidak semua ditulis secara lengkap. Karena memang privasi.


Johan masih menunggu kabar dari anak buahnya. Biasanya pekerjaan seperti ini akan mereka selesaikan hanya dalam waktu satu jam. Tapi ini sudah hampir dua jam belum juga ada kabar. Tiga puluh menit lagi Johan akan meeting. Sambil menunggu kabar, Johan memilih membersihkan diri dan bersiap untuk meeting.


Dikamar Shadam, Zee sedang mempersiapkan bahan untuk meeting dan dibantu Shadam mengoreksi hasil kerja Zee. Ponsel Shadam berdering. Shadam mengangkat telepon dari kantor miliknya.


"Ya ada apa"


"...."


"Benarkah. Siapa yang melakukan".


"..."


"Lakukan saja seperti biasa. Jika masih melakukan hal yang sama, tahan ank buahnya. Nanti biar Alex yang urus"


"...."

__ADS_1


Shadam sudah menutup panggilannya. Zee masih fokus dengan berkasnya. Sebelum pergi, Shadam mengirim pesan kepada asistennya Alex. Shadam sudah mengetahui ulah Johan. Hanya saja Shadam belum tahu jika Johan juga partner Zee.


"Sepertinya ada yang mengincar princess kesayangan gue. Tidak akan semudah itu". Shadam berbicara dalam hati setelah mendapat balasan pesan dari Alex.


__ADS_2