
"Bang. Sante aja kenapa sih. Hahaha". Thian terus menerus menggoda Fathan. Mereka sedang dalam perjalanan menuju taman dimana Melody sudah menunggu Fathan.
"Loe gak tau apa yang gue rasain yan". Thian semakin tertawa mendengar ocehan sang kakak. Mereka hanya ditemani bodyguard yang selalu setia.
"Oya. Loe gimana udah mikirin lagi pendapat gue tentang Zee. Jangan kelamraan". Fathan berusaha mengalihkan pikirannya dan pembicaraan dengan Thian. Karena Thian semakin menggodanya.
"Entahlah bang. Gue belum mau pikirin dulu. Biar aja berjalan sendiri seperti apa nanti akhirnya". Thian masih belum bisa memastikan perasaannya untuk Zee. Dia tidak ingin salah dalam mengambil keputusan.
"Abang tau loe pasti bisa mengambil keputusan terbaik. Tapi jangan lupa untuk berbicara kepada Zee apapun itu keputusan loe. Loe tau kan Zee itu sangat lembut hatinya". Fathan kembali mengingatkan Thian tentang Zee. Thian mengangguk paham. Mereka sudah sampai ditaman tempat Melody menunggu.
Si kembar berjalan beriringan mencari Melody. Taman itu cukup ramai dan banyak para penjual jajanan disana. Fathan melihat Melody sedang duduk diarea yang lebih sepi. Thian hanya diam mengikuti langkah kaki sang Abang. Saat langkah mereka sudah semakin dekat, Thian mulai merasa mengenali perempuan yang sedang duduk didepannya.
"Melody". Si kembar menyebut nama Melody secara bersamaan. Melody menoleh dan terkejut. Dia berdiri menatap kearah si kembar dengan bingung. Sedangkan si kembar saling tatap.
Mereka duduk bertiga dengan posisi Melody berada tepat dihadapan si kembar. Fathan masih bingung dan bertanya-tanya kenapa Thian bisa mengenal Melody. Begitu juga sebaliknya dengan Thian. Sedangkan Melody bingung yang melihat Fathian ada dua.
"Ehem. Sebentar Mel masih bingung. Jadi kalian kembar". Melody memecah keheningan diantara mereka.
"Iya kami kembar. Sejak kapan kamu mengenal adikku Mel". Thian hanya diam tak bersuara. Dia tak ingin merusak suasana. Dia hanya mengantar Fathan dan dia tahu harus bagaimana.
"Tunggu sebelum Mel jawab kak Thian, Mel mau tanya siapa nama saudara kembar kak Thian". Fathan terkejut mendengar Melody memanggil namanya dengan nama Thian. Bahkan Fathan sempat menoleh ke Thian meminta penjelasan. Thian hanya mengangkat kedua bahunya karena memang dia juga belum paham dengan situasi yang ada.
"Fathian. Kamu mengenal Fathian Mel". Fathan ingin memperjelas apa yang dia dengar saat ini. Tak ingin ada salah paham antara dia dan sang adik hanya karena wanita.
"Lah kan nama kakak Fathian. Bukannya waktu pertama kali kita kenalan saat dikafe Xx. Kakak bilang nama kakak Fathian. Benarkan". Fathan semakin bingung. Karena dia tidak merasa pernah mengenalkan diri secara langsung kepada Melody. Fathan kembali menatap Thian, agar Thian mau menjelaskan.
__ADS_1
"Oke gue jelasin bang. Mel yang loe ajak kenalan itu gue bukan Abang gue". Melody masih terlihat kebingungan. Fathan memilih diam agar bisa mendengar penjelasan dari dua belah pihak.
"Tunggu-tunggu. Terus yang sering balesin pesan gue siapa dong. Karena Mel taunya itu kak Thian". Fathan sempat menghela nafasnya. Mungkin ada rasa kecewa dihatinya. Tapi dia tetap berusaha tenang dan percaya kepada sang adik.
"Itu juga kakak gue. Bukan gue Mel". Melihat raut wajah sang Abang yang mulai tak menyenangkan, Thian menceritakan awal perkenalan dirinya dengan Melody. Melody juga mencoba mencocokkan semua cerita Thian dengan apa yang dia alami.
"Oh. Jadi selama ini Mel dong yang salah. Mel kan gak tau kalian kembar. Maafin Mel ya kak. Hmm kita kenalan ulang aja gimana". Mendengar jawaban Melody, Fathan mulai paham. Dan dia juga merasa bersalah karena selama berbalas pesan tidak mencantumkan nama.
"Kakak juga minta maaf. Kakak tidak pernah menyebut nama kakak selama kita dekat. Bahkan kakak menganggap panggilan Kak Fath dari Mel karena Mel sudah tau siapa nama kakak". Melody selama ini memanggil Fathan dengan sebutan kak Fath. Fathan tidak merasa curiga karena merasa itu namanya.
Melody tiba-tiba berdiri. Si kembar kaget dan mengira jika Melody marah atau kecewa. Si kembar pun ikut berdiri. Tak lama Melody mengulurkan tangannya. Melody mengajak si kembar untuk berkenalan kembali agar tidak terjadi salah paham.
"Nah kalau gini kan jelas. Jadi sudah tidak ada masalah lagi". Fathan tersenyum mendengar ucapan Melody. Thian pun merasa nyaman melihat sikap Melody. Namun dia tahu jika kakaknya lebih membutuhkan Melody dibandingkan dia.
"Apa kak. Kok kayaknya serius banget ya". Melody selalu tersenyum setiap kali menjawab pertanyaan Fathan. Fathan menoleh kearah Thian. Thian mengangguk memberi jawaban.
"Mel. Apa saat ini kamu sudah memiliki seseorang yang spesial dihati kamu". Jantung Fathan berdebar kencang saat dia memberanikan diri untuk menanyakan hal itu. Thian berusaha menahan tawanya.
"Maksud kakak gimana. Mel kurang paham". Melody menatap Fathan dengan mata bulatnya. Itu membuat Fathan semakin gemas. Thian pun merasa sama namun dia benar-benar menahan itu semua.
"Hmmm. Kekasih. Apa kamu sudah memiliki kekasih Mel". Melody spontan menggeleng mendengar pertanyaan Fathan. Sikap Melody membuat Fathan semakin gemas.
"Yakin kamu gak punya kekasih Mel". Fathan kembali meyakinkan Melody. Dan Melody menjawab dengan anggukan.
"Kenapa kakak bertanya seperti itu. Melody memang gak punya pacar". Jawaban dariulut Melody membuat Fathan semakin bahagia namun juga bingung. Karena dia masih penasaran dengan pria yang bersama Melody waktu itu.
__ADS_1
"Hmm kalau ada yang suka sama kamu dan pingin kamu jadi pasangan hidupnya, kamu mau tidak Mel". Fathan tanpa ragu menanyakan hal yang membuatnya ingin tahu seperti apa reaksi Melody dengan pernyataannya.
"Siapa kak. Emang ada yang suka sama Mel". Jawaban polos Melody membuat Thian dan Fathan ikut melongo. Sangat diluar dugaan. Bahkan Thian terkekeh mendengar perkataan Melody.
"Ada. Ada yang diam-diam menyukai Melody. Tapi gak berani ngomong takut ditolak". Thian menjawab pertanyaan Melody. Fathan hanya bisa menunduk mendengar sang adik mengatakan hal itu.
"Kok gitu. Emang Melody nyeremin ya kak. Kenapa harus takut". Thian benar-benar tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Karena melihat Melody yang begitu polosnya. Fathan tersenyum mendengar perkataan Melody. Thian memberi kode kepada Fathan agar segera mengatakan tanpa berbelit-belit.
kringggggg
Suara ponsel Melody memecahkan suasana. Melody menatap layar ponselnya dan meminta ijin kepada si kembar untuk mengangkatnya. Fathan terus memperhatikan sikap Melody saat berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.
"Jangan negatif dulu bang. Siapa tau saudaranya. Lagian kan loe juga belum tau siapa keluarga Melody". Thian berusaha menenangkan Fathan. Fathan mengangguk mendengar perkataan Thian.
"Maaf kak. Mel harus pulang. Kita sambung lewat pesan aja ya. Mel udah dijemput". Tanpa menunggu jawaban dari Fathan Melody berlalu pergi. Fathan mengejar Melody karena buku Melody tertinggal. Dan tepat dihadapan Fathan, dia kembali melihat Melody bersama dengan pria waktu itu.
"Sayangggg". Suara lantang pria itu menyambut Melody. Dan Melody pun masuk kedalam pelukan pria itu. Mereka masuk kedalam mobil. Dan berlalu meninggalkan taman.
Thian melihat apa yang Fathan lihat. Dan Thian mulai mengetahui maksud dari cerita Fathan saat itu. Thian menepuk pundak Fathan.
"Sudahlah bang. Jangan terlalu difikirkan. Sekarang gue tahu apa maksud loe waktu itu. Mungkin bukan takdir loe bang". Thian dengan sangat terpaksa mengatakan itu. Karena memang sejak awal Fathan tidak menceritakan secara gamblang mengenai pria yang bersama Melody.
Menunduk dan berjalan dengan kekecewaan. Fathan tetap memegang buku milik Melody. Ingin rasanya dia membuka buku itu. Tapi dia belum ada keberanian.
"Aku harus gimana Mel. Apa aku harus merebutmu dari pria itu".
__ADS_1