
Dean bersaudara melewati masa liburan dengan sahabat sejatinya, duo F. Ada saja ulah mereka. Hari ini jadwal duo F untuk melakukan syuting hari pertama. Terjadi perubahan pada setting tempat. Mereka akan melakukan pengambilan gambar tetap didalam kota selama dua Minggu menurut rencana. Dan akan keluar kota untuk melanjutkan pengambilan adegan hingga proses pembuatan film selesai.
"Fathan, Thian. Jangan lupa vitaminnya diminum nak". Airil selalu mengingatkan kedua putranya untuk meminum vitamin yang telah disiapkan.
"Iya pah". Kompak keduanya menjawab.
"Kalian mulai syuting hari ini kan". Airil kembali bertanya kepada kedua putranya.
"Insyaallah pah. Kalau tidak berubah lagi". Fathan menjawab pertanyaan sang papa.
"Bang. Lawan main kalian ganteng gak". Eneng sedang dalam mode centilnya.
"Ganteng mah. Ganteng banget". Thian menjawab pertanyaan sang mama.
"Wah mama mau kenalan dong bang". Eneng kembali mengutarakan keinginannya.
"Eleh sok pengen kenal cowok ganteng mah. Gak inget kejadian di mall waktu itu". Airil mencoba mengingatkan sang istri.
"Ih papa gitu deh". Eneng cemberut mendengar perkataan sang suami.
"Kejadian apa sih pah". Thian yang penasaran menanyakan kepada sang papa.
"Jadi waktu itu papa sama Mama lagi kencan ke mall. Mama kalian minta nonton bioskop. Kalau gak salah waktu itu yang main Reza Rahadian. Tau kan gimana tampannya tuh aktor". Airil menceritakan kisahnya kepada sang putra.
"Ganteng banget pah. Apalagi aktingnya keren abis". Fathan menimpali perkataan sang papa.
"Nah kan ternyata disana ada fanmeeting gitu. Para aktor dan aktris yang main difim tersebut datang keacara peluncuran perdana. Kami tidak tahu kalau itu film baru pertama kali diluncurkan. Nah mama cantik kalian ini udah heboh. Pokoknya harus bisa foto sama Reza Rahadian. Pokoknya harus bisa salaman dan dapat tanda tangannya. Gitu kata mama kalian. Papa pun mengikuti kemauan mama kalian ikut dalam antrian para fans. Dan kalian tau apa yang terjadi". Airil melanjutkan ceritanya dan kembali menjeda.
"Apa pah". Duo F yang penasaran kompak bertanya.
"Pas giliran mama kalian untuk ketemu Reza Rahadian, mama kalian malah gemetaran. Paniklah tuh artis dikira mama sakit. Papa mencoba menenangkan mama, tapi gagal karena tangan Reza Rahadian menyentuh pundak mama sambil bilang, kakak gapapa. Mama kalian langsung pingsan guys". Airil
"Hahahaha. Mama ampun deh". Fathan tak bisa menahan tawanya lagi.
"Papa pasti ikut panik kan. Atau malah belaga gak kenal". Thian kembali menanyakan rasa penasarannya.
"Papa bilang ke mereka. Maaf tadi lupa belum sarapan. Gak mungkinkan papa bilang. Istri saya gak bisa lihat yang ganteng. Bisa ketawa mereka semua". Airil menjawab rasa penasaran sang putra.
Sarapan seru ala keluarga Eneng memang selalu membuat mood booster bagi masing-masing anggota keluarga. Si kembar kembali ke kamar bersiap untuk segera berangkat ke lokasi syuting. Airil yang juga sudah siap untuk berangkat ke rumah sakit, sedang menunggu sang putra untuk berangkat bersama.
"Assalamualaikum. Pak dokter. Pak. Assalamualaikum". Teriakan dari tetangga Eneng mengangetkan Eneng yang sedang mencuci piring.
"Siapa sih. Kayak debt colector aja ngetik pintunya. Perasaan juga ada bel". Eneng menggerutu sambil berjalan membukakan pintu untuk tamu dipagi hari.
"Biar papa saja mah yang buka". Airil juga sudah berjalan menuju pintu.
"Nanggung banget. Dah barengan aja". Eneng yang sudah terlanjur berjalan menuju pintu enggan untuk kembali ke dapur.
Eneng membuka pintu dan terkejut karena didepan rumahnya sudah ada beberapa tetangga dengan wajah yang super panik. Bahkan keringat mereka tampak bercucuran.
__ADS_1
"Waalaikumsalam. Ada apa Bu Hendi". Eneng bertanya kepada salah satu tetangganya.
"Itu Bu Eneng, kita mau minta tolong pak dokter". Dengan nafas yang tersengal-sengal Bu Hendi mengutarakan maksud kedatangan mereka.
"Minta tolong apa bu. Mau masuk dulu". Eneng bertanya kembali dan tak lupa untuk mempersilahkan tamunya masuk ke dalam rumah.
"Terimakasih Bu Eneng. Kami disini saja. Pak dokter tolong ke rumah kontrakan pak Rudi. Tadi ada yang pingsan tapi pas diperiksa kok kayak gak bernafas. Kami takut". Bu Hendi langsung mengutarakan apa yang sedari tadi ingin dikatannya.
"Oh begitu. Baik saya akan kesana sekarang". Airil langsung menanggapi permintaan tetangganya tersebut.
Airil langsung berlari menuju rumah kontrakan milik pak Rudi yang hanya berjarak empat rumah dari rumah miliknya. Si kembar yang sudah siap, kebingungan melihat sang papa berlari kencang diikuti para warga.
"Mah. Papa mau kemana". Thian bertanya kepada sang mama.
"Ada yang sakit dikontrakkan pak Rudi bang. Mama mau nyusul papa dulu". Eneng pun berjalan menyusul sang suami.
Karena penasaran, mereka pun mengejar sang mama. Dari kejauhan sudah nampak warga berkerumun didepan kontrakan pak Rudi. Si kembar berdiri sedikit menjauh dari kerumunan. Terutama Fathan yang paling tidak bisa disentuh ataupun tersentuh perempuan.
Suara sirine ambulance terdengar memasuki area perumahan. Semua warga menyingkir saat Airil meminta para perawat membawa tandu masuk kedalam kontrakan. Semua melihat sesosok tubuh pria yang sudah tak sadarkan diri. Airil sempat melakukan pertolongan pertama, dan untuk memastikan keadaan kondisinya, pria tersebut dibawa ke rumah sakit.
"Gimana pah". Fathan mendekati sang papa dan bertanya.
"Serangan jantung ringan bang". Airil menjelaskan sambil menghela nafas panjang.
"Tapi gak parah kan pah". Fathan kembali bertanya.
"Sementara ini papa belum bisa pastikan. Papa susul dulu kerumah sakit bang. Kalian juga harus berangkat kan". Airil segera bergegas pergi tak lupa mengingatkan kedua putranya.
Setelah ketiganya berpamitan dengan Eneng, mereka segera berangkat dengan kendaraan masing-masing. Tak lupa bodyguard kesayangan sudah standby menjaga keduanya.
"Bos hari ini mulai syuting ya". Ono bertanya kepada bos kecilnya saat mereka dalam perjalanan.
"Iya. Kalian jangan usil nanti". Thian memperingatkan kedua bodyguard eksklusif mereka.
"Ya bos. Tuh film romantis ya bos". Ono kembali bertanya kepada Thian.
"Horor romantis". Thian kembali menjawab.
"Wah berarti ada sebangsa kita nanti bos". Ono terlihat semangat saat mendengar jenis film yang akan dimainkan oleh si kembar.
"Hmmm". Thian menjawab dengan deheman.
"Ada adegan cup cup muah gak bos". Ono kembali ingin tahu tentang film yang akan dimainkan oleh si kembar.
"Adanya cup acup. Mau loe". Thian menjawab dengan nada kesal.
"Yah permen gopek an dong bos". Ono sedikit kecewa dengan jawaban Thian.
"Makanya otak jangan kotor. Cuci biar bersih". Kunkun menoyor kepala Ono karena kesal.
__ADS_1
Tiga puluh menit lamanya mereka baru sampai dilokasi syuting. Ditempat parkir sudah nampak Dean bersaudara menanti kedatangan si kembar. Almeer sudah lebih dahulu masuk kedalam lokasi.
"Abang Dean-Dean". Thian dengan sumringah memanggil Dean bersaudara.
"Lama amat kalian". Ammar melayangkan protesnya kepada si kembar.
"Ada tragedi bentar tadi". Fathan menjawab singkat pertanyaan Ammar.
"Yuk masuk. Joker ngamuk ntar". Ashraf mengajak si kembar untuk segera menuju lokasi.
Settingan lokasi berada disebuah gedung sekolah yang sudah lama tidak digunakan. Kedatangan empat pangeran tampan menjadi pusat perhatian para pemain wanita. Saat Almeer mendekati kedua pasang anak kembar tersebut, mereka semakin terpana.
"Kalian ganti baju terus make up". Almeer meminta si kembar untuk bersiap.
Produser dan sutradara yang melihat Dean bersaudara mulai tertarik dengan visual yang dimiliki keduanya. Sang produser mencoba mengutarakan maksudnya kepada Almeer. Almeer langsung menolak keinginan sang produser. Karena memang Dean bersaudara harus menjalankan amanah dari opa Alex untuk tinggal di London.
Syuting berjalan dengan lancar. Karena masih belum ada adegan horor yang muncul. Namun para kru merasakan hawa semakin mencekam saat mereka akan melakukan set selanjutnya. Mereka tak berani masuk kedalam ruangan ganti karena ketakutan.
"Ada apa sih". Thian yang baru saja menyelesaikan satu set adegan penasaran karena beberapa kru yang ketakutan.
"Katanya ada yang gak beres diruang ganti. Kostum yang harusnya buat setan di tengah episode mendadak terbang". Salah satu kru menjelaskan kepada Thian.
Thian berjalan sambil mengamati sekeliling. Fathan pun melakukan hal yang sama. Saat keduanya saling pandang, mereka langsung tahu ulah siapa semua itu. Si kembar berjalan menuju keruangan ganti. Para kru awalnya melarang begitu juga Almeer. Namun mereka meyakinkan tidak akan terjadi apapun.
"Ck. Kalian ngapain sih. Disuruh anteng bentar aja gak bisa". Thian mengomel saat memasuki ruang ganti dan melihat ulah si KunNo.
"Hehe. Bosan bos. Kita jalan-jalan lihat ada yang bagus. Ya kita coba". Ono menjelaskan sambil terkikik.
"Iya. Dicoba terus bikin sawan semua kru. Taruh lagi". Fathan dengan mode kesal dan marah memerintahkan mereka melepaskan semua atribut yang mereka kenakan.
"Iya iya". KunNo melepaskan satu persatu atribut mereka sambil cemberut.
"Balik ke mobil". Fathan memerintahkan keduanya untuk kembali menunggu didalam mobil.
"Iya". Dengan lesu dan gontai keduanya kembali kedalam mobil.
Namun ternyata Ono yang memang lebih usil dibandingkan Kunkun kembali berulah saat melihat salah satu pemain wanita dengan pakaian seksi diatas lutut.
"Wow. Pegang dikit ah". Ono menepuk sedikit bemper artis tersebut dan kembali mengikuti Kunkun.
Sang artis yang merasakan ada yang menepuk bempernya otomatis menoleh. Nasib sial bagi salah satu kru karena dianggap mesum oleh sang artis.
"Loe kurang ajar banget ya. Punya tangan dijaga bisa gak". Artis tersebut sudah mengomel bahkan menampar sang kru yang tak bersalah.
Fathan dan Thian sudah mengerti siapa pelaku sebenarnya hanya bisa menghela nafas saja. Karena hanya mereka berdua yang bisa melihat dan berkomunikasi dengan KunNo.
"Dasar setan gambut". Thian berkata dengan sedikit kesal.
_____
__ADS_1
Sabarkan hati mu Fathan dan Thian...itulah Ono si sensum.
Joget jempol gaesss