Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
A day in my life


__ADS_3

"Huahhh. Zee mau itu. Pokoknya itu. Papi jahat gak mau nuruti maunya baby kita. Opa juga jahat ya nak. Huahhh". Thian dan Serkan panik saat Zee tiba-tiba menangis kencang. Hari ini Zee ingin menginap dirumah orangtuanya.


"Sayang. Mau apa hem. Papi akan turuti". Thian mencoba membujuk sang istri. Mama Zee pun sama bingungnya. Karena sebelumnya Zee baik-baik saja bahkan mereka bercanda bersama.


"Janji. Tapi pasti papi dan opa gak mau nurutin Zee". Zee kembali cemberut setelah sesaat tersenyum mendengar jika Thian mau menuruti keinginannya.


"Iya papi akan turuti bersama opa. Ya kan opa". Thian memberi kode kepada papi mertuanya agar Zee tidak menangis lagi.


"Iya opa mau kok. Sekarang Zee ngomong apa yang dimaui cucu opa ini". Serkan ikut membujuk Zee. Dalam hati Thian siang dah tidak tenang. Apalagi ngidam Zee tidak pernah normal.


"Oke. Tunggu sebentar. Papi Thian sama Opa duduk disofa sana dulu". Thian dan Serkan saling pandang dan nampak pasrah berjalan menuju sofa.


Zee membuka lemari pakaian lamanya. Zee mengeluarkan beberapa pakaian lamanya. Thian dan Serkan semakin pasrah setelah melihat Zee mencocokkan beberapa baju lamanya. Mami Zee menahan tawanya. Mami Zee paham maksud sang perkataan sang putri tadi.


"Oke mari kita make over gess". Zee memasangkan pakaian yang sudah dia pilih ditubuh Thian dan Serkan. Karena merasa belum puas dengan hasilnya. Zee meminta Thian dan serkan melepaskan semua pakaian yang dikenakan sebelumnya dan mengganti dengan pakaian yang sudah dipilihkannya tadi.


Zee bahagia hasi make overnya berhasil. Make up natural sudah melekat diwajah keduanya. Diam-diam mami Zee mengabadikan segala proses tersebut dan mengirimkan kepada kedua putranya.


"Oke. Selesai gess. Ih gemes banget. Kalian cantik banget". Zee gemas dengan dua pria kesayangannya itu.


"Udahkan mami". Thian berharap ini sudah berakhir. Namun ternyata salah.


"Belum. Sekarang kita keruang keluarga yuk". Zee mengapit kedua pria kesayangannya itu dan mengajaknya keluar. Mami Zee terus tertawa dibelakang mereka.

__ADS_1


"Oke tunggu sebentar ya gess. Zee cari dulu lagunya". Thian dan Serkan menghela nafasnya pasrah. Mereka hanya bisa menuruti keinginan Zee saja.


Tak lama musik terdengar beserta video yang terpampang dilayar televisi. Serkan dan Thian melotot melihat musik video yang dipertontonkan kepada keduanya. Mami Zee semakin tertawa kencang.


"Oke. Kalian ikuti gerakan video Blackpink itu ya gess". Serkan dan Thian menelan ludahnya dan semakin melotot. Gerakan lagi pink venom memang begitu wow.


"Zee. Boleh nawarkah". Wajah ceria Zee berubah saat Serkan mencoba menawar permintaan Zee. Paham dengan berubahnya raut wajah Zee, mereka pun pasrah dan berusaha berlatih terlebih dahulu.


Mami Zee yang benar-benar kram perut melihat suaminya yang memiliki kumis tebal berjoged KPop. Bahkan berpakaian seksi ala idol Korea itu. Zee bertepuk tangan riang. Mami Zee terus mengabadikan momen itu walaupun mendapatkan lirikan tajam sang suami. Semakin lama Zee mulai mengantuk. Kedua penari dadakan itu segera menghentikan aksinya. Serkan perlahan mematikan televisi itu. Dan Thian mencoba mengangkat tubuh Zee untuk dipindahkan.


"Ya Allah. Gini amat mau punya cucu. Apakah saat dia lahir nanti akan lebih menyebalkan". Serkan bergumam sambil melepaskan semua riasan dan pakaiannya dibantu oleh sang istri.


"Semoga saja tidak Pi. Kita berdoa yang terbaik untuk cucu kita. Yang penting semua sehat". Serkan mengangguk mendengar nasehat sang istri.


Malam kian larut, Thian pun menyusul sang istri kealam mimpi dalam hangatnya dekapan sang suami, membuat Zee semakin nyenyak dalam tidurnya.


"Papaaaaa jangan tidur". Fano menepuk pipi Fathan agar tidak memejamkan matanya.


"Eh. Iya nak. Papa gak tidur kok. Cuma nutup mata bentar aja". Fathan yang terkejut berusaha untuk membuka matanya.


"Ini terus gimana papa, opa". Fano kembali merengek. Airil menutup mulutnya dengan telapak tangan ketika akan kembali menguap.


"Abang, Aku minta yang waena biru dong. Ini masih kurang". Mereka berbicara dengan suara yang belum begitu jelas. Airil dan Fathan dengan terkantuk-kantuk mencoba membantu baby El menyusun lego pemberian Almeer.

__ADS_1


"Awas loe bang. Gue bakalan bales loe bang". Gumam Fathan pelan. Fathan kesal karena dia tahu Almeer sengaja membelikan permainan serumit itu untuk si kembar agar bisa mengerjai dirinya.


"Dek. Abang ngatuk. Bobok yuk. Hoahem". Fano menguap dan mengucek matanya. Begitu juga dengan Fino. Mereka beranjak dan berjalan sambil sesekali menutup mata karena mengantuk.


Fathan segera berjalan dibelakang si kembar agar mereka tidak jatuh ataupun terbentur tembok. Baby El masuk kedalam kamar milik mereka dan segera naik ke ranjang untuk menyelami dunia mimpi.


Airil begitu lega. Dia bergegas menyul Eneng dan segera terlelap. Fathan sedang membantu Fino untuk terlelap dengan menepuk pantatnya pelan. Fino tidak bisa tidur nyenyak jika tidak ditepuk-tepuk. Fathan yang sudah sangat mengantuk tidak bisa kembali ke kamarnya dan memilih tidur dikamar sikembar.


Pagi hari yang indah, Eneng tersenyum melihat mahakarya kedua cucunya. Ruang keluarga penuh dengan leggo yang berserakan. Eneng mengutip dari persatu leggo tersebut dan menyimpannya. Tak lama Melody juga sudah bangun dan membantu Eneng didapur.


"Mah. Jadinya kemarin papa beli ikan lagi". Melody sempat terkejut mendapat kabar dari putranya sendiri yang telah membuat ikan-ikan milik kakeknya mati semua.


"Papa masih merenung kak. Dia masih mikir katanya". Eneng menjawab sembari tertawa. Melody pun ikut tertawa.


"Atau nanti Mel sama Abang aja yang beliin mah". Melody mencoba memberikan solusi. Dia tidak enak hati, walaupun sang papa tidak mempermasalahkan lagi.


"Gak perlu kak. Kalau papa mau memelihara lagi, pasti papa akan beli sendiri. Lagian kakak sama Abang kan gak tau selera papa kayak apa". Melody mengangguk paham maksud mama mertuanya itu.


"Iya juga ya mah". Mereka saling melemparkan senyuman. Keduanya kembali berkutat dengan peralatan dapur. Bau wangi sudah mulai memenuhi ruangan itu. Tak lama Airil datang sambil menggendong Fano.


"Eh cucu Oma sudah bangun. Kok bisa sama opa sayang". Fano hanya melirik sedikit dan kembali memeluk leher sang Kakek.


Airil mendudukkan Fano dikursi meja makan. Karena masih belum sepenuhnya sadar, Fano masih diam tak merespon pertanyaan neneknya.

__ADS_1


"Fano sudah bangun dari tadi pah". Eneng bertanya kepada Airil saat Airil akan mengambil air minum.


"Tadi tiba-tiba saja Fano sudah ada diatas badan papa seperti biasa". Melody menggeleng sambil tersenyum dan Eneng tertawa mendengar perkataan Airil. Fano memiliki kebiasaan aneh. Saat pagi menjelang dia akan berjalan keluar dari kamarnya dan menuju kamar manapun yang terdekat dengan kamarnya. Fano akan merebahkan badannya diatas badan siapapun penghuni kamar tersebut seolah-olah itu kasur. Dan tak lupa Fano mencari telinga untuk dimainkan saat tidur.


__ADS_2