
"Baby, kita mau kemana". Thian hari ini menyewa mobil hotel dan menyetir sendiri untuk quality time bersama Zee.
"Zee pengen ke Universal studio. Bolehkan". Thian tertawa melihat wajah Zee yang mengiba.
"Of course baby. Hari ini aku akan menuruti kemauan tuan putri ini". Thian mencubit hidung Zee pelan.
"Tapi sebelum kita ke universal studio, kakak mau ajak kamu kesuatu tempat". Zee memutar arah tubuhnya menyamping agar bisa melihat kearah Thian.
"Mau kemana kak". Zee penasaran dengan perkataan Thian.
"Ada deh. Nanti juga kamu tau baby". Thian menggenggam telapak tangan Zee sambil menyetir.
Sepanjang perjalanan mereka saling bertukar cerita selama mereka terpisah. Zee paling banyak bercerita. Thian tersenyum bahagia mendengar itu. Sudah lama Thian tidak mendengar suara Zee secara langsung seperti ini.
Thian membawa Zee ketoko perhiasan dengan brand ternama. Zee bingung kenapa Thian mengajak kesana. Karena jika Thian ingin membelikan sesuatu, pasti sudah langsung diberikan.
"Ayo turun sayang. Kita sudah sampai". Thian hendak membuka pintu mobil, tapi Zee mencegahnya.
"Tunggu dulu. Kita mau ngapain kesini kak". Thian tersenyum melihat wajah Zee yang kebingungan.
"Beli cincin buat nikah". Mata Zee melotot mendengar perkataan Thian. Thian menuntun Zee masuk kedalam toko perhiasan tersebut. Namun Zee masih terbengong.
Seorang pelayan toko mendekati mereka dan bertanya apa yang mereka butuhkan. Thian mengatakan kepada pelayan toko jika dia ingin melihat koleksi cincin pernikahan. Pelayan tersebut mengarahkan kepada Thian untuk mengikuti kearah dalam. Pelayan tersebut mengeluarkan semua koleksi terbaru mereka.
"Sayang. Kamu mau yang mana" Thian sibuk melihat koleksi cincin dihadapannya hingga lupa jika Zee masih bengong. Berulangkali Thian memanggil Zee, namun masih belum ada respon.
__ADS_1
"Sayang. My baby. Zee". Thian menepuk pipi Zee pelan. Dan akhirnya Zee pun kembali sadar.
"Kak. Ini". Zee bingung melihat berbagai model cincin cantik terpampang dihadapannya.
"Iya. Kamu pilih mana yang kamu mau sayang". Zee menatap Thian dengan mata sedikit berkaca-kaca. Thian tersenyum dan mengangguk memahami raut wajah Zee.
"Sekarang kamu pilih mana yang kamu sukai. Terus kita ukir nama kita disebalik cincin ini". Zee meneteskan air mata bahagia. Dia tak menyangka akan mendapatkan kejutan seindah ini.
Zee mulai fokus memilih cincin pernikahan yang akan dia kenakan untuk seumur hidup. Thian hanya memberikan saran jika Zee bertanya. Setelah mendapatkan cincin pernikahan yang sesuai, Thian juga meminta Zee memilih satu set perhiasan yang nantinya akan menjadi mas kawin mereka.
"Kak. Apa kakak yakin. Oma belum sehat dan kita". Sebelum Zee menyelesaikan kata-katanya, Thian menutup mulut Zee menggunakan jarinya.
"Ini permintaan papa dan mama. Mungkin ini juga yang Oma tunggu. Setelah kita nikah, mungkin Oma akan segera membaik". Thian mencoba tersenyum didepan Zee. Walaupun dalam hatinya juga sakit mengingat kondisi sang Oma. Tapi Thian juga yakin ini yang terbaik.
Zee pun mengangguk. Mereka sudah menyelesaikan transaksi pembayaran semua perhiasan yang mereka beli. Untuk cincin akan diambil Thian beberapa hari lagi. Karena memang perlu proses untuk mengukir nama dan merubah sedikit ukuran. Karena lingkar jari cincin tersebut lebih besar sedikit jika dikenakan Thian.
Thian segera menghubungi Luki untuk menyiapkan semua yang mereka butuhkan untuk melakukan prewedding dadakan. Mereka tidak akan mengenakan pakaian khusus. Mereka akan memakai pakaian yang kasual saja untuk pengambilan foto nanti.
Disaat Zee berbahagia dengan Thian, Johan sedang uring-uringan karena dia tidak bisa menemukan Zee dimana pun. Bahkan asisten Zee tidak mengetahui dimana Zee saat ini. Asisten Zee hanya mengatakan jika Zee izin setengah hari. Johan terus mendesak asisten Zee, agar mau memberikan nomor ponsel Zee. Namun asisten Zee menolak karena privasi. Selama kerjasama ini, hanya nomor ponsel asisten Zee yang digunakan untuk berkomunikasi dengan rekan bisnis mereka.
"Bos kenapa sih uring-uringan gitu". Irene kesal karena melihat Johan terus uring-uringan tidak jelas.
"Ren, kamu kan dekat sama Metha asisten Zee. Bantulah saya buat dapatin nomor ponsel Zee". Irene berdecak kesal. Karena kesekian kalinya Johan mengeluhkan hal yang sama.
"Ogah. Emang bos mau jadi pembinor. Mbak Zee itu udah punya tunangan loh. Mana artis lagi". Johan hanya tersenyum disudut bibirnya meremehkan perkataan Irene.
__ADS_1
"Artis kok gak bisa nikahin. Lagian apa salahnya kalau saya berusaha. Dan siapa tau Zee juga suka sama saya nantinya". Irene mencibir perkataan Johan.
"Dan nantinya bos akan menangis. Karena itu tidak mungkin terjadi. Jelas-jelas dari pertama bertemu, mbak Zee gak pernah merespon bapak". Johan diam dan menoleh kearah Irene yang sedang menyusun berkas.
"Kamu kok gitu ngomongnya. Doakan kek supaya saya bisa berhasil berjodoh sama Zee. Bukan malah meremehkan gitu". Irene tak peduli dan terus bekerja. Berkali-kali Irene mengingatkan Johan agar menjauhi Zee, tapi tidak pernah didengar Johan.
Johan malas berdebat dengan Irene, dia memilih keluar dari ruangan. Johan melihat Shadam sedang dikafe seberang kantor mereka. Johan segera menyusul Shadam. Dalam benak Johan, berharap bisa dekat dengan Zee melalui Shadam.
"Wah pak Shadam sendiri saja. Boleh saya gabung pak". Johan mencari alasan agar bisa duduk ditempat yang sama bersama Shadam. Sebenarnya paham maksud Johan. Dan dia hanya berpura-pura saja terkejut dengan kedatangan Johan.
"Oh silahkan pak Johan. Tumben pak Johan juga sendiri. Biasanya bersama dengan sekretaris bapak". Shadam sedikit berbasa-basi juga
"Irene masih banyak pekerjaan pak. Dan kebetulan juga saya sedang bosan, eh malah lihat bapak disini". Johan tersenyum sedikit terpaksa kepada Johan.
"Oh begitu. Kebetulan sekali". Johan segera memesan minuman dan snack. Ingin sekali Johan bertanya kepada Shadam dimana Zee. Tapi dia masih ragu.
"Tumben juga pak Shadam sendiri. Saya kira tadi bapak sudah pulang". Johan sedikit mengganti kalimatnya agar Shadam tidak curiga.
"Belum. Mungkin sebentar lagi". Jawaban Shadam tak sesuai ekspektasi Johan. Johan mencoba berfikir cara bertanya mengenai Zee. Namun Johan belum bisa menemukan kata yang tepat.
Akhirnya Johan dan Shadam hanya membicarakan hal yang berkaitan dengan pekerjaan. Hingga Shadam pergi lebih dulu, dan Johan menyesali kebodohannya yang tidak bisa bertanya kemana Zee.
"Ck. Loe bego banget sih Jo. Ada kesempatan baik kenapa loe sia-siakan". Johan segera mengambil ponselnya menghubungi orang suruhannya.
"Kemana dia. Kenapa belum juga ada kabar. Sekarang susah sekali dia dihubungi". Johan mencoba mengirim pesan kepada orang tersebut.
__ADS_1
Johan memutuskan kembali ke hotel. Karena pikirannya juga tidak fokus. Dia terus memikirkan dimana Zee berada. Saat dalam perjalanan menuju hotel, Johan mendapatkan pesan dari orang suruhannya. Mengingatkan Johan untuk menemuinya dikafe tak jauh dari hotel besok siang. Ada sedikit senyum diwajah johan karena suruhannya berkata dia sudah mendapatkan semua data Zee lengkap juga dengan Thian.