Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
Jantung Aman


__ADS_3

Maaf terlambat karena musim sakit dan terkena giliran untuk sakit juga... sehat-sehat semua reader tercintaku....😍😍😍😍😍


_______________________


"Acaranya mewah sekali ya Jo. Aku jarang ikut acara kayak gini". Stella adalah perempuan yang dijodohkan papa Johan. Dai juga putri pengusaha. Dia juga seorang model.


"Kenapa memangnya. Bukannya malah kesempatan bisa kenal sama beberapa pengusaha muda". Stella hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Johan. Stella memang tau jika Johan menolak perjodohan mereka.


"Gak gitu juga Jo. Stell males aja. Ini juga karena papa kamu aja yang minta". Johan tetap fokus menatap kemanapun Zee melangkah.


"Harusnya gak usah datang kalau memang tidak mau". Johan tidak peduli jika perkataannya akan menyakiti perasaan Stella.


"Stell juga diundang khusus dari agensi. Karena pemilik Guardian Company satu agensi dengan Stella". Johan menoleh kearah Stella. Johan mencoba mencaritahu lagi dan lagi.


"Iyakah. Pemilik agensi itu dari keluarga Malik bukan. Saya pernah baca profilnya sedikit". Johan mulai antusias jika itu menyangkut Zee.


"Iya pemiliknya Almeer Malik. Tapi Fathian dan Fathan saudara kembarnya juga termasuk dalam jajaran pemegang saham utama juga". Johan melotot mendengar apa yang Stella katakan.


"Maksudnya gimana Stell. Kok saya gagal paham ya". Johan ingin memperjelas lagi apa yang Stella katakan.


"Jadi gini. Raise Agency memang dulu hanya milik Malik Corp. Tapi seiring berjalannya waktu, mereka semakin berkembang dan banyak investor yang ingin ikut andil. Fathian dan Fathan salah satunya. Honor mereka selama menjadi aktor benar-benar menghasilkan sesuatu yang memuaskan. Fathian mendirikan Guardian Company, sedangkan kakak kembarnya pemilik The Eagle. Kamu tahukan The Eagle Jo". Hampir semua makanan yang Johan makan keluar lagi dari mulutnya. Mendengar seperti apa Thian dan Fathan.


"Serius The Eagle. Kamu gak bercanda kan Stell". Johan meletakkan kembali semua makanan yang hendak dia makan.


"Untuk apa saya bohong. Dulu aku pernah jatuh cinta dengan Fathan, kakak Thian. Tapi aku mundur karena memang susah untuk digapai. Dan sekarang Fathan sudah menikah. Kalau gak salah istrinya jyga lagi hamil. Jadi dia gak datang kesini". Stella menceritakan semua tanpa beban. Berbeda dengan Johan yang mendengarkan. Dia bahkan tidak bisa menelan ludahnya sendiri.


The Eagle juga perusahaan bonafit yang bergerak di bidang properti juga. Tapi dia hanya dibidang retail. Jadi bisa dibilang Fathan membangun Mall dan swalayan sedangkan Thian bagian perumahan dan hotel. Kadang mereka berkolaborasi. Bahkan saat ini The Eagle juga ikut andil pembangunan ini. Tapi hanya menjadi sponsor saja.

__ADS_1


"Melotot loe dengar bos gue oke. Emang situ sok oke. Mau pake bersaing segala. Jantung aman gak tuh. Nih Ono kasih tanda sayang dikit". Ono kembali mengerjai Johan sebelum dia kembali disisi Zee dan Thian.


"Aduh". Johan tiba-tiba mengaduh. Stellar pun terkejut mendengar suara Johan.


"Kenapa kamu Jo. Kok bisa jatuh gitu". Stella mencoba menolong Johan yang tiba-tiba jatuh saat akan berdiri mengambil kue.


"Gak tau. Kayak ada yang jorokin. Apa jangan-jangan disini ada hantunya ya. Hii". Ono sengaja meniup tengkuk Johan. Dan membuat Johan semakin merinding.


"Ada-ada saja. Jaman sekarang masih percaya hantu. Ayolah ini jaman milineal. Gak ada lagi cerita hantu dan para anteknya. Ono kesal karena tak dianggap oleh Stella.


"Heh dasar pengharum ruangan. Loe anggap gue apa. Enak aja gak percaya sama gue. Tapi kalau loe percaya loe musrik juga. Bingung jadinya. Ya udah deh. Gue cium dikit gapapa kali ya mbak pengharum ruangan. Ono mau tau wangi jeruk, bunga atau wangi karbol". Ono terkikik sendiri. Dan dia benar-benar mencium pipi Stella dan tak lupa meniup telinganya sambil berbisik.


"Hai mbak pengharum ruangan salam kenal. Mbak cantik deh". Stella mencoba menengok dan mencari siapa yang berbisik di telinganya. Namun tak ada siapapun dibelakang atau sampingnya.


"Apa benar hantu itu ada. Ah gak. Paling juga angin".


Saat Thian menyampaikan sambutan diatas podium, tak lupa dia selalu menggandeng Zee disampingnya. Johan hanya dia menatap nanar. Dia tak pernah menyangka orang yang dia anggap remeh ternyata tidak seremeh itu. Bahkan dia tidak tau harus bagaimana lagi.


Zee sedang berbincang dengan beberapa istri ataupun pasangan dari para pengusaha yang hadir dalam acara tersebut. Zee mengambil jus yang dibawa oleh para pelayan. Saat hendak meminumnya, tiba-tiba gelas Zee jatuh dengan sendirinya. Thian yang berdiri tidak jauh dari Zee, segera mendekat.


"Ada apa sayang". Thian khawatir melihat gelas itu jatuh didekat kaki Zee.


"Gak tau Kak. Tiba-tiba gelasnya jatuh sendiri". Thian menatap Ono yang memang dari tadi berada didekat mereka. Ono memberikan kode jika itu minuman berbahaya.


"Kamu tidak apa-apa kan sayang". Zee menggeleng. Thian berjongkok dan mencoba mencium aroma minuman itu. Thian nampak marah karena minuman itu mengandung alkohol. Thian sudah melarang ada alkohol dalam acara tersebut.


"Alan". Thian memanggil Alan. Dan berbisik sesuatu. Alan segera pergi meninggalkan ballroom. Pelayan segera datang dan membersihkan pecahan kaca agar tidak ada yang terluka.

__ADS_1


"Ada apa Yan". Shadam segera mendekat ketika melihat ada sedikit keributan didekat Zee.


"Ada yang mencoba memberikan minuman kepada Zee dengan maksud jahat bang". Shadam sudah mengepalkan tangannya.


"Cari tau siapa dia". Shadam memerintahkan anak buahnya untuk segera bertindak. Mereka segera bertindak.


Acara kembali kondusif. Thian tidak melepaskan genggamannya dari Zee. Bahkan apa yang akan Zee makan atau minum, Thian akan mencobanya terlebih dahulu.


"Masih ada waktu. Tak apa sekarang gagal. Maafkan aku cantik".


Seseorang segera pergi dari ballroom sebelum dia tertangkap oleh anak buah Shadam dan Thian. Hingga akhir acara, tidak ada lagi kejadian aneh.


Mereka segera kembali ke kamar setela acara selesai. Shadam dan Thian sudah mendapatkan informasi mengenai penyusup itu.


"Siapa dia bang. Apa Abang mengenalnya". Thian memang tidak mengenali siapa orang itu.


"Ya. Sangat kenal. Tenang saja. Loe gak usah pikirin dia. Itu urusan gue". Thian paham maksud dari senyuman Shadam.


"Oya bang. Besok gue udah balik, terus tuh bapak si kunyuk mau minta ketemuan. Bisa tolong bantu gue gak bang. Nanti biar ditemani Alan". Thian merebahkan tubuhnya di ranjang Shadam.


"Mau apa lagi dia. Suruh bayar hutang aja susah banget". Shadam membereskan beberapa berkas yang sempat dia bahas dengan Thian.


"Gak tau. Biasanya nego dia bang. Taulah gaya mereka. Nanti Abang aja yang mutusin gimana. Hasil bayar hutang dia, ntar jadi punya Zee. Jadi Abang aja tuh yang putuskan". Shadam melirik kearah calon adik iparnya.


"Mau buat kado nikah nih ceritanya". Thian tersenyum dan memejamkan matanya.


"Bisa dibilang gitu. Atur aja bang. Yang penting beres sebelum gue akad". Shadam mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


__ADS_2