
"Selamat siang tuan Prayoga. Maaf membuat anda menunggu". Shadam segera duduk dan diikuti Alan. Orang yang ditemu Shadam terkejut, karena yang datang bukan yang dia harapkan.
"Maaf pak Shadam, hari ini kita tidak ada janji. Dan saya sedang menunggu pak Fathian". Shadam tersenyum dan segera menjawab perkataan pak Prayoga.
"Adik ipar saya sudah berangkat lebih awal. Dan dia berpesan agar saya yang menghandle masalah ini. Silahkan, bapak bisa membaca surat ini". Shadam memberikan sebuah surat yang isinya. Thian melimpahkan segala urusan yang berkaitan dengan Pak Prayoga kepada Shadam.
"Ah begitu. Baiklah mari kita mulai membahasnya saja pak Shadam". Dalam hati pak Prayoga sudah tidak baik-baik saja. Yang dia hadapi bukanlah orang yang akan mau diajak negosiasi.
Mereka mulai membahas permasalahan hutang perusahaan milik papa Johan. Dan benar saja, papa Johan mengajukan negosiasi dengan banyak iming-iming. Bahkan dengan beraninya, papa Johan menawarkan mengenalkan keponakannya jika Shadam menginginkan seorang pasangan. Shadam tersenyum disudut bibirnya mendengar semua omongan papa Johan.
"Huh. Anda salah memilih lawan main pak Prayoga. Saya sudah tidak mau berbelit-belit lagi. Silahkan tanda tangan ini, maka hutang anda lunas. Atau siapkan diri anda karena setelah peresmian The House Of Guardian selesai, polisi akan menjemput anda. Dan saya pastikan tidak ada satu jaminanpun yang bisa membebaskan Anda dari hukuman penjara". Papa Johan hanya bisa menelan ludahnya. Wajahnya pucat pasi. Itu bukanlah sebuah pilihan. Tapi suatu keharusan.
"Apa tidak ada pilihan lain lagi pak Shadam. Saya tau saya salah. Seharusnya saya sudah lunasi, tapi saya sama sekali belum membayar. Bahkan pak Thian masih berbaik hati memberikan ijin kepada saya untuk ikut dalam proyek ini". Pak Prayoga mencoba untuk merayu Shadam dengan perkataan manisnya. Namun Shadam tak bergeming sama sekali.
Shadam tetap diam. Dia melihat kearah arlojinya. Pak Prayoga paham maksud Shadam. Dia harus memberikan keputusan saat ini juga. Pak Prayoga mengambil perlahan berkas dihadapannya. Dia mulai membacanya perlahan. Pak Prayoga sempat terdiam saat tau jika nanti lebih dari separuh sahamnya akan menjadi Nadzeera Malik. Karena Thian sudah menuliskan secara jelas disana.
Ini benar-benar bukan pilihan. Jika dia menolak, semua hilang. Namun jika diterima, semua akan dibawah pengawasan Malik Corp. Apalagi perusahan keluarga Johan masih dalam tahap perbaikan manajemen. Dengan keringat bercucuran, pak Johan memilih menyetujui untuk menyerah total delapan puluh lima persen saham perusahaannya. Yang sebenarnya Thian sudah memiliki lima puluh persen saham perusahaan tersebut saat pak Prayoga melelangnya. Dan kini sisanya adalah dari hasil pembayaran hutang yang sebenarnya itu baru setengah nilai hutang.
__ADS_1
Shadam dan Thian memiliki rencana lain dengan tidak membuat semua lunas. Mereka masih mengijinkan keluarga Johan memiliki pekerjaan. Pak Johan selesai menandatangani surat peralihan. Dan mulai hari itu pimpinan dari perusahaan papa Johan adalah Zee. Mereka belum bisa mengesahkan jika belum ada rapat semua perusahaan.
"Terimakasih atas kerjasamanya pak Prayoga. Dan ini kami anggap lunas, walaupun nilainya tak sebanding. Segera saya akan melakukan rapat pimpinan dan pemberitahuan mengenai pimpinan baru". Pak Johan hanya bisa mengangguk pelan. Shadam beranjak pergi meninggalkan pak Prayoga yang masih diam termenung. Alan pun mengikuti Shadam.
"Huh. Semua sudah terlambat. Jika saat itu aku langsung membayar hutang, bukan kugunakan untuk bermain judi. Mungkin tak akan seperti ini. Semua sudah terlanjur. Menyesal pun tak ada gunanya. Sekarang aku harus berfikir bagaimana caraku menjelaskan kepada Johan dan juga mama. Bagaimana respon keluarga Stella setelah ini. Huh, semoga mereka tetap mau menjodohkan Stella dengan Johan". Pak Prayoga hanya bisa mengusap kasar rambutnya. Karena hobinya sejak muda tidak bisa dia ubah, semua menjadi kacau. Bahkan keluarganya tidak pernah tahu jika pak Prayoga masih suka berjudi.
Hari ini Johan merasa bahagia, karena sudah tidak ada lagi Thian disekitar mereka. Dia masih saja berusaha mendekati Zee, walaupun kenyataannya dia sudah tau tidak akan pernah mampu bersaing. Irene selalu mencoba mengingatkan bosnya agar sadar diri, tapi tetap tak didengar oleh Johan.
Zee sibuk menyelesaikan semua pekerjaannya. Dia juga masih harus menyiapkan beberapa keperluan pernikahan yang memang dia pesan di Singapura. Dengan dibantu oleh Metha dan Alan, semua pekerjaan Zee menjadi lebih mudah selesai.
"Oya Lan. Besok saya minta tolong bawakan laporan yang kemarin diminta pak Thian. Saya perlu ambil beberapa data untuk laporan besok". Beberapa laporan sudah berada ditangan Thian. Dan laporan yang diminta Zee memang tidak ada salinannya sesuai permintaan Thian.
"Baik mbak. Oya mbak jangan lupa besok harus cek souvenir. Saya jemput mbak habis sarapan ya. Nanti saya yang antar". Alan seperti asisten kedua bagi Zee saat ini.
"Gak sama sopir saja Lan. Nanti kerjaan kamu tertunda gak". Zee tau tanggungjawab Alan banyak. Dan Zee tidak mau menganggu jam kerja Alan.
"Gak boleh. Mbak tuh seneng banget ya lihat saya diomelin sama bos. Dah tau punya calon suami kayak singa, masih aja diajak bercanda". Wajah Alan yang cemberut menjadi bahan tertawaan bagi Zee dan Metha. Alan akan bersikap seperti itu jika dengan orang terdekat saja. Jika tidak, dia akan sangat dingin.
__ADS_1
"Iya, iya. Nanti saya tunggu kamu di lobby. Dah gak usah cemberut gitu. Hilang nanti wajah datarnya ganti wajah imut". Alan berdecak kesal karena olokkan Zee yang membuat Metha dan Zee kembali tertawa.
Mereka kembali fokus bekerja. Hingga terdengar suara ketukan pintu. Zee meminta orang diluar ruangannya untuk segera masuk.
"Ada apa pak". Tanya Zee kepada karyawan yang datang keruangannya dengan membawa banyak paperbag.
"Maaf Bu. Ini tadi ada kiriman untuk ibu. Tapi disini gak ada nama pengirimnya Bu". Alan segera berdiri dan memeriksa barang yang dikirim untuk Zee.
"Oh begitu. Terimakasih pak. Bapak boleh kembali". Pegawai tersebut mengangguk dan berpamitan kepada Zee.
Alan membuka satu persatu isi paperbag tersebut. Semua berisi barang bermerek dengan harga fantastis. Alan mencoba mencaritahu, didalam paperbag apakah ada surat atau kartu ucapan. Agar Alan bisa tau siapa pengirimnya. Dan memang ada kartu ucapan disalah satu paperbag tersebut.
Hai cantik. Ini semua untukmu. Semoga kamu menyukainya. Secret admirer.
Zee dan Metha saling pandang setelah ikut membaca kartu itu. Alan hanya diam saja. Dia tidak tahu siapa pengirimnya dan yang jelas itu bukan Thian. Zee menatap Alan. Zee melihat Alan melapor kepada Thian.
"Jangan melapor dulu. Kita cari tahu dulu siapa pengirimnya. Lagian kayak gak tau bos kamu aja. Bisa-bisa dia gak nyelesein syutingnya malah disini terus". Alan tertawa mendengar ocehan Zee. Dan itu memang benar. Karena Thian sangat posesif kepada Zee. Rela membayar denda dan menemani Zee.
__ADS_1