
"Ck. Kalau ganti jadwal ngomong kek jauh-jauh hari. Ini telpon udah dibandara. Untung saya sudah selesai mandi bos. Lah kalau masih nabung gimana hayo". Alan menggerutu kesal karena pimpinannya datang mendadak dari jadwal yang sudah ditentukan.
"Ya tinggal cebok. Masa kamu gak mau cebok. Hiii bau dong. Hahaha". Alan semakin kesal dengan jawaban bosnya. Mereka sudah sangat dekat bahkan Alan seperti adik bagi pimpinannya.
"Kenapa dimajuin banyak banget harinya bos. Bukannya dua mingguan lagi ya baru kesini". Pimpinan Guardian memajukan jadwalnya tanpa Alan tau ada alasan apa.
"Saya pengen semua segera selesai. Biar bisa fokus ke pekerjaan lainnya Lan. Lagian saya juga baru pertama kali bertemu mereka kecuali dengan perusahaan Persada". Alan tersenyum geli mendengar nama perusahaan itu.
"Bener tuh. Saya pengen lihat wajah anaknya kalau ketemu bos kayak apa. Capek saya dikejar-kejar kayak punya hutang aja. Pengen banget ketemu bos". Pimpinan itu pun tertawa. Dia paham sekali maksud Alan. Karena hampir satu bulan ini anak dari pemilik perusahaan tersebut berusaha untuk bisa menghubungi pimpinan Alan.
Alan membawa bosnya ke sebuah penginapan bukan hotel. Karena bos Alan lebih nyaman dipenginapan biasa dibandingkan hotel. Setibanya di penginapan, Alan meninggalkan sang bos untuk beristirahat.
Alan kembali ke proyek. Karena memang masih jam kerja. Kedatangan Alan membuat fokus Johan terpecah. Usaha Johan masih terus berlanjut. Johan ingin tahu darimana bos Alan melakukan penerbangan, agar mudah bagi Johan untuk menemuinya.
Alan memilih menghindar dari Johan. Dia sudah lelah terus menerus dikejar-kejar oleh Johan. Alan memilih mendekati Shadam dan Zee yang sedang membahas beberapa rancangan bangunan agar sesuai dengan apa yang mereka inginkan.
"Sudah datang pak Alan". Shadam menyapa Alan. Zee menoleh sesaat sebelum kembali fokus.
"Sudah pak. Dan aman". Shadam tersenyum mendengar jawaban Alan. Yang sesungguhnya bukan untuk Alan pertanyaan itu.
Pekerjaan mereka dilapangan sudah selesai, mereka berkumpul sebentar karena memang esok sudah dimulai untuk pemotretan dan pembuatan video guna publikasi oleh ambasador terpilih. Johan masih tidak terima dengan keputusan perusahaan yang tidak mengganti ambasadornya.
"Besok saya harap kita bisa datang lebih awal. Karena seperti yang kita ketahui, untuk pertama kalinya pimpinan Guardian Company akan menghadiri rapat. Dan untuk semua laporan tolong disiapkan. Nantinya setiap tim akan melakukan presentasi dari hasil pembangunan The House Of Guardian yang sudah separuh jalan". Shadam memberikan informasi penting dikala breafing sebelum mereka kembali kerumah.
"Maaf pak. Apa sudah dipastikan untuk pimpinan Guardian Company hadir". Johan benar-benar ingin tau kapan orang misterius itu akan datang. Karena itu luang terakhirnya untuk menjauhkan Zee dari Thian.
"Pasti. Karena beliau sudah berada disini. Beliau sampai siang tadi. Maka dari itu rapat yang seharusnya dua Minggu lagi beserta proses pembuatan iklan dimajukan esok, karena beliau mendadak memajukan. Jadwal beliau sangat padat". Johan terkejut mendengar jawaban dari Alan. Bahkan Johan tidak tau jika ada perubahan rapat. Karena memang Johan saat ini fokus dilapangan.
__ADS_1
"Dia sudah datang. Kok gue gak dapat informasi. Harus cari tau dimana dia menginap. Paling tidak masih ada usaha dari gue. Buat gantiin si artis itu".
Johan bergumam didalam hati. Hingga breafing dibubarkan, Johan masih memikirkan cara untuk menemui pimpinan Guardian Company. Saat sadar, Johan sudah kehilangan jejak Alan. Karena hanya Alan yang pasti tau dimana orang misterius itu menginap.
"Haish, kebanyakan mikir loe Jo. Hilangkan kesempatan emas". Johan memaki dirinya sendiri. Johan segera kembali ke hotel karena hari sudah sore. Tak lupa Irene pun ikut kembali bersama Johan.
"Eh Ren. Kamu sudah pernah belum bertemu dengan pimpinan Guardian Company". Karena Irene sudah lama bekerja dengan papanya, Johan mencoba bertanya kepada Irene.
"Pernah pas nemani bos besar ke Guardian Company. Kenapa emangnya bos". Irene menjawab santai, namun membuat Johan sumringah.
"Berarti kamu sudah pernah lihat wajahnya". Semangat Johan membara. Mungkin dengan mendapatkan informasi dari Irene, dia ada petunjuk tambahan.
"Nggak. Saya gak lihat wajahnya. Saya cuma lihat punggungnya. Yang lihat wajahnya bos besar". Johan melipat dahinya. Dia heran dengan jawaban Irene.
"Maksudnya, kok bisa ketemu orangnya gak bisa lihat wajahnya". Johan masih belum paham dengan maksud Irene.
"Ngomong kek dari tadi. Bikin bingung aja. Itu namanya bukan ketemu tapi cuma lihat". Johan berdecak kesal mendengar jawaban Irene.
"Kan bos tanyanya ketemu gak. Ya Irene ketemu tapi cuma punggungnya. Yang penting kan ketemu bos". Johan geleng-geleng mendengar pembelaan sang asisten.
"Terkadang oon kamu masih suka kambuh ya ren. Huh". Johan menghela nafasnya. Sedangkan Irene hanya terkikik saja mendengar perkataan bosnya.
Setiba dihotel, Johan melihat Zee sedang duduk sendiri di coffeshop seberang hotel. Johan menurunkan Irene didepan lobby hotel, dan Johan segera memutar arah untuk menemui Zee.
Johan memarkirkan mobilnya dan segera menghampiri Zee yang sedang membaca novel. Johan berdehem untuk mengalihkan perhatian Zee dari novelnya.
"Ehem". Zee yang terkejut dengan suara Johan, segera menoleh. Johan tersenyum kepada Zee, namun dibalas wajah dingin Zee.
__ADS_1
"Sendirian saja. Boleh saya temani Zee". Johan sedikit berbasa-basi kepada Zee. Zee hanya mengangguk kecil menjawab pertanyaan Johan.
"Kamu sedang baca novel apa Zee". Tanpa menjawab, Zee menunjuk judul novel yang dipegangnya kepada Johan.
"Oh. Sepertinya bagus. Oh ya sudah pesan makanan belum. Biar sekalian saya pesankan". Dimeja Zee memang belum nampak makanan ataupun minuman.
"Belum". Jawab Zee singkat. Johan segera mengambil kesempatan itu. Johan segera membuka menu yang disediakan diatas meja.
"Kamu mau pesan apa Zee". Johan benar-benar bersemangat. Ini kali pertama Zee tidak segera pergi meninggalkan Johan saat didekati.
"Terserah saja". Johan memesankan menu spesial dikafe tersebut. Zee tetap fokus pada novelnya.
"Oya, gimana laporan untuk besok, apa sudah siap. Kalau perlu bantuan saya siap membantu". Johan terus tersenyum manis bisa duduk bersama Zee.
"Biasanya juga saya yang membantu bapak menyelesaikan laporan". Senyum Johan hilang seketika mendengar jawaban Zee yang savage.
"Hem Zee, ada waktu kosong kapan. Saya ingin ajak kamu jalan-jalan ke universal studio". Johan berharap bisa semakin dekat dengan Zee setelah ini.
"Saya sudah kesana. Malahan saya prewedding disana". Zee tersenyum tipis kearah Johan. Dan kembali membaca novelnya. Johan mengeraskan rahangnya mendengar jawaban Zee.
"Oh. Kamu memangnya kapan menikahnya". Johan sudah mulai kesal dan suaranya tak lagi lembut.
"Nanti saya akan kasih undangan kepada bapak". Zee lagi-lagi hanya menjawab singkat dan tegas.
"Yakin gak dibohongi. Artis ternama seperti dia, pasti punya banyak perempuan dibelakang kamu Zee. Kamu harus waspada". Zee tersenyum disudut bibirnya. Johan berusaha menjatuhkan Thian.
"Setidaknya dia pria baik dan tulus. Dia juga gentle. Tidak menjatuhkan oranglain demi mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Saya permisi". Zee beranjak meninggalkan Johan sendirian sebelum makanan yang dipesannya dihidangkan.
__ADS_1
"Haish Johan. Begi jadi orang. Kenapa harus ngomong gitu sih. Hilangkan kesempatan emas. Nih mulut minta dilem bener, gak bisa direm". Johan kesal dan memaki dirinya sendiri seperti biasa.