
Maaf othor gak tau kalau double up....eror mungkin tadiπππ
Β
Thian masih belum memberi keputusan apapun untuk permintaan keluarga Malik. Bahkan Thian mencoba untuk sedikit menghindari Zee. Thian hanya ingin menguji perasaannya sendiri. Tak jauh berbeda dengan sang adik, Fathan pun masih belum bisa melupakan Melody. Bahkan buku milik Melody masih belum dia kembalikan.
"Kenapa kak Fath gak pernah kirim pesan lagi. Apa gue bikin salah sama kak Fath". Melody bergumam pelan dan terus menatap layar ponselnya.
Hari ini Melody akan menemani kakak kembarnya dan calon kakak iparnya memilih gaun. Untuk sementara waktu Iqbal meminta Nanda membantu mengurus kantor milik Iqbal. Setelah acara pertunangan usai, Nanda akan kembali ke luar negeri. Dimana dia tinggal sebelumnya.
"Huh. Kesayangan Abang kenapa hem. Mas crush gak ngabarin ya". Nanda menggoda Melody yang semakin cemberut.
"Entahlah bang. Sejak ketemu terakhir ditaman, sampai sekarang dia gak ada hubungin Mel lagi". Melody menyandarkan kepalanya dibahu Nanda. Nanda tersenyum mendengar perkataan Melody.
"Loe gak coba kirim pesan duluan. Daripada manyun melulu. Hahaha". Tak hentinya Nanda menggoda Melody. Melody hanya diam tak mau membalas.
Suara ketukan pintu ruangan Nanda, mengusik kedua saudara yang asyik bercengkrama. Mutia datang setelah selesai jam kuliah. Mutia masih menjadi siswa disebuah perguruan tinggi ibukota. Dan jarak usianya dengan Nanda terpaut lima tahun.
"Kak". Sapa Mutia setelah memasuki ruangan Nanda. Nanda tersenyum dan berdiri menyambut Mutia. Melody pun melakukan hal yang sama.
"Mau duduk dulu atau langsung ke butik saja". Nanda bertanya kepada Mutia, namun Melody langsung menyahutnya.
"Biarin kak Mutia duduk dulu. Kasih minum dulu kek. Capek kali baru habis kuliah". Mutia tersenyum mendengar ocehan calon adik iparnya. Ananda hanya mengangguk menyetujui permintaan kembaran tercintanya itu.
"Jangan panggil Mutia kakak. Kak Melody usianya lima tahun diatas Mutia. Mutia gak enak kak". Berkali-kali Mutia memprotes Melody, untuk tidak memanggil dirinya dengan sebutan kakak.
__ADS_1
"Gak bisa. Karena loe calon istri kakak kabar gue. Jadi gue tetap akan panggil kakak ipar. Gak boleh nolak. Ntar yang ada gue kualat". Jawaban Melody membuat Nanda tertawa terbahak. Mutia akhirnya mengalah dengan pendapat Melody.
Setelah merasa lebih baik, mereka segera menuju butik untuk mencari gaun pertunangan. Melody juga akan membeli gaun untuk acara tersebut atas permintaan Nanda.
"Bang selesai syuting gue mau cerita".
Thian mengirim pesan kepada Fathan karena lokasi mereka saat ini berbeda. Setelah menyetujui permintaan sang adik, Fathan kembali masuk kedalam area syuting.
"Yan. Loe akhir-akhir ini beda. Ada masalah apa loe". Sebagai asisten Luki sangat peka dengan kondisi Thian. Thian memang belum menceritakan perihal lamaran keluarga Zee untuk dirinya.
"Ada sedikit masalah pribadi aja Luk. Tapi santai aja gue masih bisa handle kok". Thian mencoba untuk tetap tenang saat bekerja. Walaupun Luki sangat tau jika Thian sedang tidak baik-baik saja.
"Omakah". Luki asal menebak karena memang situasi yang saat ini sedikit mengkhawatirkan adalah kondisi Oma.
"Bukan Luk. Nanti saja gue cerita ke loe. Ini menyangkut masa depan gue". Thian kembali melanjutkan pemotretan untuk produk jam tangan ternama.
"Terus gimana reaksi Zee saat loe mulai cuek". Fathan juga ingin tahu seperti apa perkembangan rencana Thian.
"Zee masih seperti biasa bang. Tetap ngirim pesan. Kadang telepon tapi gak gue angkat. Huh gue harus gimana bang". Thian masih saja bimbang. Dia masih sangat gamang dengan perasaannya itu.
"Selama loe jauhin Zee, apa yang loe rasakan Yan". Luki bertanya perasaan Thian saat dia berusaha menjauhi Zee. Karena mereka sangat tahu jika selama ini Thian sangat dekat dengan Zee. Bahkan berkali-kali menjemput Zee kesekolah dan menemani Zee berjalan-jalan.
"Ada yang hilang. Dua hari gue jauhin Zee, gue rasa biasa saja. Tapi setelah satu minggu, gue baru ngerasa hampa". Perkataan Thian membuat tiga pria tampan didepan Thian tersenyum.
"Kalau gue boleh kasih saran Yan. Loe coba deh jalan sama perempuan lain. Tau biarkan Zee jalan sama pria lain". Luki sengaja menjebak emosi Thian. Agar Thian lebih peka terhadap perasaannya itu.
__ADS_1
"Apa loe bilang. Zee jalan sama pria lain. Jangan harap gue izinin. Gue gak yakin kalau pria lain bisa tulus sama Zee". Benar saja emosi Thian tersulut dengan jebakan Luki. Fathan dan kedua asisten mereka tertawa terbahak dengan reaksi Thian.
"Yan, Yan. Gombalin cewek oke. Giliran masalah hati payah". Adrian mengolok Thian dengan diiringi suara tawa dari dua orang lainnya.
"Payah gimana". Thian masih saja tidak paham dengan maksud Adrian dan Luki. Luki akhirnya menjelaskan apa yang sebenarnya Thian rasakan untuk Zee. Namun Thian terus saja mengelak.
"Begitukah. Berarti gue yang payah dong". Perkataan Thian semakin membuat tertawa asisten dan kembarannya itu. Bahkan Fathan sempat menoyor kepala Thian.
"Dahlah terima saja Zee. Dan masalah loe merasa pantas atau tidak dengan menyandang nama Malik, gue rasa loe pantas Yan. Loe selain artis, loe juga punya saham diagensi. Itu dengan usaha kalian sendiri. Usaha sampingan loe juga lumayan menguntungkan. Kurang pantas apa. Loe meniti karir dengan kerja keras Yan bukan numpang tenar. Jadi gak usah terlalu overthinking. Toh kalau ada yang julid mereka sudah tau perjuangan loe kayak gimana". Omongan Luki memang benar. Dan Fathan pun menyetujui itu.
Si kembar memang sudah memiliki usaha dibidang lain. Dan usaha itu sudah semakin maju. Tanpa ada satu orang yang tahu kecuali keluarga mereka. Thian mulai tenang setelah mendengar masukan Luki. Dan mulai akan menerima Zee dengan sepenuh hati.
"Oya, kalian kemarin minta waktu buat weekend besok dikosongin. Kenapa". Adrian menanyakan perubahan agenda dari si kembar.
"Papa minta kita ikut keacara pertunangan anak teman dekatnya. Bisakan kalian kosongkan weekend besok". Fathan kembali menanyakan kepastian kepada Adrian.
"Oh oke gue atur ulang jadwal kalian". Adrian mulai merubah jadwal si kembar untuk satu Minggu ke depan. Mereka menikmati malam dikafe tersebut hingga larut. Dan kembali pulang dengan fikiran lebih tenang.
Hari ini hari dimana si kembar akan menemani sang papa keacara keluarga pak Dimas. Eneng memilih dirumah menjaga emak. Acara dimulai selepas Maghrib disebuah hotel berbintang. Airil dan si kembar langsung menuju ballroom tempat acara berlangsung.
Fathian sempat melihat disekeliling ballroom. Ada hal yang mengusik pikiran Thian. Foto yang terpampang jelas didepan panggung. Thian menatap tajam foto itu.
"Bang coba deh lihat foto orang yang akan tunangan hari ini". Thian mencoba meminta Fathan ikut melihat foto tersebut. Thian ingin memastikan jika apa yang dia lihat tidak salah.
"Dek. Itukan pria yang waktu itu kan". Fathan terkejut melihat foto pria yang sama saat menjemput Melody ditaman.
__ADS_1
"Iya. Makanya gue kasih tau loe bang. Gue gak salah lihat kan bang. Berarti tuh cewek Melody apa bukan. Kok gak mirip Melody". Fathan semakin mempertajam penglihatan untuk memastikan siapa perempuan dalam foto itu. Bahkan jantungnya sudah tak karuan. Sesak yang dia rasakan saat ini.
Tak lama acar dimulai. Melody masuk kedalam ruang acara dengan menggandeng tangan Ananda. Fathan terus menatap kearah Melody. Rasanya dia ingin segera pergi dari tempat itu. Hancur dan sesak yang dia rasakan sekarang. Bahkan air matapun tak bisa keluar. Fathan terdiam membeku.