
"Mel. Hari ini Kakak libur. Kita jalan yuk".
Fathan mengirim pesan kepada Melody pagi hari sebelum Melody berangkat ke kafe tempat usaha miliknya sendiri. Walaupun Melody dan Fathan semakin dekat, namun belum ada satupun diantara mereka yang menyatakan perasaan.
"*Tapi Mel harus ke kafe dulu kak. Ketemu suplaier bahan makanan kafe. Gimana kak".
"Gapapa. Nanti kakak jemput Mel di kafe. Atau mau kakak temani Mel".
"Wah asyik ada yang nemani. Mel berangkat bareng bang Nanda kak. Kita ketemu dikafe aja ya".
"Oke kakak kesana*".
Fathan bersiap menyusul Melody ke kafe milik Melody yang sedang dirintisnya. Fathan ingat jika Melody belum mengetahui apa pekerjaannya. Karena memang Melody tidak tertarik menonton televisi. Sosial media miliknya hanya untuk mengupdate mengenai kafe miliknya.
Fathan sedang merapikan diri didepan cermin dikejutkan dengan Thian yang tiba-tiba masuk ke kamarnya dengan muka cemberut. Fathan melirik sekilas adeknya lalu melanjutkan merapikan dirinya.
"Mau kemana bang. Bukannya Abang libur". Tanya Thian dengan nada lesu. Thian rebahan diatas ranjang Fathan dan memeluk erat guling Fathan.
"Kencan". Jawaban singkat dari Fathan membuat Thian semakin lemas. Fathan duduk ditepi ranjang sambil memakai sepatu.
"Loe kenapa. Udah seminggu loe kayak gini". Fathan mulai bertanya kepada Thian setelah satu minggu lamanya dia tahan. Bahkan Thian nampak tak ada niatan bercerita.
"Lagi kesel aja bang". Thian menjawab Fathan sambil menatap layar ponselnya. Thian menatap foto Zee dilayar ponsel itu. Fathan mulai mengerti apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
"Loe berantem sama Zee. Atau Zee ninggalin loe". Fathan sengaja mengolok sang adik. Thian berdecak pelan menanggapi olokan Abang tercinta.
"Ck. Ntahlah bang. Giliran gue mau coba jalani, malah ada pengganggu. Zee pun enjoy aja sama cowok itu. Pusing gue bang". Thian menutup wajahnya dengan bantal.
"Gimana rasanya diabaikan gaess. Makanya kalau udah ada rasa tuh ngomong. Giliran ada yang dekati bingung kan". Fathan semakin mengolok Thian. Thian pun tak mau kalah membalas perkataan kakaknya.
"Heleh kayak dirinya sendiri udah ada status aja. Hubungan gak ada jelasnya". Fathan memukul lengan Thian.
"Kalau kata Abang, loe ungkapin aja perasaan loe ke Zee. Abang yakin Zee akan senang menerima. Dahlah Abang pergi dulu. Takut nyonya nungguin". Thian hanya berdehem menanggapi perkataan Fathan. Thian melanjutkan tidur dikamar Fathan.
"Bos. Kalau gue pikir-pikir ya kenapa loe begi banget sih bos masalah perasaan. Apa perlu gue ajarin dulu bos". Ono geram dengan Thian yang sangat tidak peka. Mendengar ocehan bodyguard ghaibnya, Thian spontan menatap Ono tajam.
"Ajarin apa. Loncat-loncat gak jelas gitu. Sok ngajarin padahal loe jomblo dari jaman hidup sampe jadi setan gentayangan". Ono terkikik mendengar jawaban Thian. Karena memang faktanya seperti itu. Ono jomblo sejati alias sehidup semati.
"Jangan jujur gitu napa bos. Kan sekarang gue ada Kunkun. Jadi gak jomblo lagi dong". Ono masih tetap berusaha membela dirinya. Namun Ono lupa jika bos tengilnya itu tidak mudah dikalahkan.
"Ya deh ya deh. Gue salah. Jangan ngomong Kunkun bos. Bisa-bisa gue langsung pensiun jadi setan. Kan gak asyik bos". Thian tersenyum tipis mengejek Ono. Ono akhirnya pergi meninggalkan Thian dikamar.
Disaat Thian sedang galau. Fathan sedang bahagia karena perasaan yang terbalaskan. Fathan sudah tiba dikafe milik Melody. Fathan segera masuk kedalam. Melody nampak masih duduk menunggu tamunya. Melody ditemani Mutia, calon kakak iparnya.
"Assalamualaikum Mel". Sapa Fathan saat memasuki kafe yang masih dalam persiapan. Karena Fathan menggunakan mode penyamaran, membuat Melody tak begitu mengenali.
"Waalaikumsalam. Kak Fath, kirain siapa tadi. Kak Fath sakit". Melody berdiri mencoba mengecek kondisi Fathan. Fathan terkikik geli saat melihat Melody yang berusaha meraih jidat Fathan sedangkan tinggi Melody hanya sebatas lengan Fathan.
__ADS_1
"Mel, kakak sehat kok. Gak usah khawatir". Fathan menunduk wajahnya agar Melody bisa memegang jidatnya dengan mudah.
"Lalu kenapa kakak pakai penutup wajah seperti ini". Melody memegang masker wajah Fathan. Fathan tersenyum dibalik maskernya. Perlahan Fathan melepas masker wajahnya. Dan reaksi Mutia membuat Melody terkejut.
"Fathan Prasaja. Beneran kan ini Fathan Prasaja atau Fathian Prasaja". Mutia merasa tak percaya jika yang berdiri dihadapannya adalah aktor idolanya.
"Loh kak Mut kenal sama kak Fath". Melody heran karena Mutia sudah kenal dengan Fathian, bahkan sebelum Melody mengenalkannya.
"Mel, siapa yang gak kenal aktor ternama. Fathan dan Fathian Prasaja. Ini Fathan atau Fathian ya. Gue belum bisa bedakan". Mutia benar-benar bahagia bisa bertemu dengan salah satu idolanya secara langsung. Fathan masih diam tanpa menampakkan senyumnya.
"Aktor. Jadi Kak Fath dan kak Thian pemain film". Melody menatap mata Fathian. Karena Fathian takut Melody marah, maka Fathan mengajak Melody untuk bicara berdua.
"Mel, maafkan kakak kalau kakak belum berkata jujur mengenai pekerjaan kakak. Kakak kira awalnya kamu akan mengenali kakak seperti reaksi Mutia tadi, tapi ternyata kamu tidak mengenali kakak. Dan kakak memang akan mengungkap pekerjaan kakak kepada Melody, tapi kakak belum ada waktu yang tepat". Perlahan Fathan menjelaskan kepada Melody. Melihat Melody hanya diam tanpa kata, membuat Fathan semakin takut.
"Mel. Melody, are you oke". Fathan memegang telapak tangan Melody perlahan. Sebenarnya Fathan takut melakukan hal itu. Dia takut bom atomnya tiba-tiba meledak.
"Wah wah gila. Benar-benar gila. Jadi selama ini kakak aktor ternama. Dan kekasih Melody itu seorang aktor". Reaksi Melody diluar ekspektasi Fathan. Melody bahkan berteriak kegirangan. Fathan pun bisa bernasib lega melihat Melody tidak marah. Dan lebih bahagia lagi karena bom atomnya aman.
"Kamu bilang kekasih Mel". Fathan terkejut dengan pengakuan Melody yang tanpa sengaja terlontar. Melody spontan membekap mulutnya.
"Hem. Kakak salah dengar kali. Mel gak ngomong gitu kok". Melody berusaha mengelak. Dia sangat malu karena tanpa sengaja mengakui Fathan kekasihnya padahal mereka belum ada status pasti.
"Gak kakak gak salah dengar. Jadi sekarang Mel calon istri kakak. Bukan kekasih ataupun teman". Tanpa persetujuan Melody, Fathan mengatakan hal itu. Melody semakin menganga mendengar pengakuan Fathan.
__ADS_1
Mutia mendekati Fathan dan Melody. Mutia ingin meminta foto dan tanda tangan dari Fathan. Namun Fathan meminta jika dia tidak mau hanya foto berdua. Bahkan Melody berada ditengah bukan Fathan. Fathan berdiri disamping Melody.
Saat supplier sudah datang, Fathan kembali menutup wajahnya. Dan dia hanya diam mendengarkan. Fathan memastikan jika kerjasama antara Melody dan supplier itu berjalan lancar.