Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
Emak Datang


__ADS_3

"Bang. Kita ikut jemput Papa sama Mama ya". Pinta Fathan kepada Juna.


"Ayolah". Jawab Juna.


Airil tiba dikota kelahirannya pagi hari. Tak lupa Eneng dan Emak ikut serta. Diusia emak yang tak muda lagi, tak membuat emak berubah. Emak tetaplah emak yang masih energik dan onar.


Mereka menjemput kedua orangtua si kembar sepuluh menit lebih awal dari jam kedatangan. Setiba distasiun, si kembar sempat kaget karena melihat baliho besar yang memajang wajah mereka.


Film layar lebar pertama yang mereka bintangi segera tayang. Si kembar saling pandang karena bingung harus bagaimana. Namun mereka segera bersikap biasa saja. Karena menurut mereka, mereka belum menjadi artis ternama. Jadi tak perlu khawatir dikenali orang.


Namun apa yang difikirkan sikembar malah terjadi sebaliknya. Karena Arjuna tidak parkir didalam area stasiun, membuat mereka harus berjalan beberapa meter menuju stasiun. Dan saat mereka berpapasan dengan para gadis yang mengenali mereka, secara otomatis para gadis itu berteriak.


"Hai kalian si kembar Fathan dan Fathian kan". Tanya gadis muda yang tiba-tiba menghalangi jalan si kembar dan Arjuna.


"Hmmm. Iya". Jawab Fathan singkat.


"Wah kalian lebih tampan dari fotonya. Gue fans kalian. Sejak kalian jadi model iklan loh. Boleh minta foto sama tanda tangan kalian gak". Ujar gadis tersebut.


Si kembar tak bisa berkata-kata. Mereka hanya terbengong mendengar penuturan gadis itu. Mereka mengira jika mereka tidak terkenal hanya seorang model iklan saja. Namun nyatanya sebaliknya.


Arjuna yang melihat keduanya hanya diam membeku, berusaha menyadarkan dengan menepuk bahu mereka perlahan.


"Gaes. Tuh dimintain foto. Gak nyangka adek gue seterkenal ini". Ucap Arjuna.


"Eh apaan sih bang". Jawab Thian yang baru sadar.


Karena gadis itu terus merengek, akhirnya si kembar pun mengabulkan permintaannya. Setelah berfoto dan memberi tanda tangannya, si kembar dan Juna bergegas menuju stasiun sambil berlari.


Beruntung kereta yang membawa kedua orangtuanya baru saja tiba distasiun. Mereka tak perlu menunggu lama. Nampak Airil keluar terlebih dahulu dan disusul oleh Eneng. Orang yang turun paling terakhir adalah emak.


"Papa. Mama". Teriak Juna


Si kembar dan Juna berjalan mendekati Airil dan rombongannya. Emak paling heboh jika sudah bertemu Arjuna.


"Oh Arjunaku. Sinta sudah kembali". Suara emak terdengar lantang.


Arjuna yang sedikit malu dengan sikap emak. Sedangkan si kembar hanya tersenyum tipis disudut bibirnya.


"Oh Arjunaku, Sinta rindu padamu". Emak kembali berteriak diiringi larian.


"Kita gak kenal itu siapa. Sumpah gak kenal". Gumam si kembar bersamaan sambil berjalan menghindari emak.


Arjuna pun ikut putar arah. Secepat kilat Arjuna berbalik dan menjauh. Itu membuat emak semakin berteriak dan berlari serasa Kagol mengejar Sarung Khan.


"Arjuna. Jangan tinggalkan Sinta. Arjunaaa". Teriak emak.


Airil dan Eneng yang sedari tadi diam memperhatikan drama yang diciptakan oleh Emak.


"Berisik Mak. Ayo buruan". Ucap Eneng.


"Dasar loe neng gak seneng lihat emak bahagia". Ucap emak sambil berjalan mengikuti langkah Eneng.

__ADS_1


Airil memeluk kedua putra kembarnya. Karena Arjuna sudah memilih kembali keluar dan menunggu mereka didepan pintu masuk stasiun.


"Kalian baik-baik kan disini". Tanya Airil.


"Kami baik-baik saja pah,mah". Jawab Fathan.


Eneng juga ikut memeluk kedua putranya. Emak pun ikut memeluk kedua cucu kembar kesayangannya itu.


"Oma". Sapa si kembar bersamaan.


"Huh. Sebenarnya Oma pengen meluk Arjunanya Oma. Kangen bingit". Ucap emak.


"Huh. Ya sudahlah kalau begitu. Oma sudah tak sayang dengan kami. Menyakitkan sekali. Sungguh". Ujar Thian penuh drama.


"Huh drama lagi. Hidup kok penuh drama". Ucap Eneng.


Eneng memilih berjalan dengan Airil mendahului drama keluarga itu. Emak menyusul bersama si kembar. Arjuna berdiri bersandar pada tiang didepan pintu masuk stasiun. Airil yang melihat keponakan sekaligus putra angkatnya menunggu sambil menunduk membuatnya tersenyum.


"Juna. Apa kabar nak". Tanya Airil sambil menepuk pundak Arjuna.


"Papa. Juna kangen". Juna langsung memeluk sang papa.


"Papa juga kangen bang". Balas Airil sambil memeluk Arjuna.


Arjuna juga memeluk Eneng. Itu membuat emak iri. Emak yang tak mau kalah langsung merentangkan tangannya.


"Sinta juga mau dipeluk Arjuna". Ucap emak.


"Apa kabar Oma". Tanya Arjuna.


"Kok Oma sih ganteng. Sinta. Panggil aku Sinta wahai Arjunaku". Jawab emak.


"Huh. Baiklah baiklah. Sinta apa kabar". Tanya Arjuna kembali.


"Sangat buruk Arjuna. Aku begitu merindukanmu Arjuna. Mengapa kau tak pernah menemuiku Arjuna". Ucap emak penuh dramatis.


"Yah drama lagi. Bakalan lama ini kelarnya". Ucap Fathan.


Saat mereka sedang asyik melepaskan rindu, terlihat segerombolan anak gadis mendekat kearah stasiun. Mereka bahkan membawa poster bergambar si kembar saat menjadi model pakaian.


"Bang. Ayo buruan pergi". Ucap Thian sambil menarik tangan Arjuna.


"Ada apa sih". Tanya Juna.


"Tuh lihat". Thian menunjuk kearah kerumunan yang semakin mendekat.


"Astaga. Demo ini. Ayo buruan pergi. Bahaya ini tawuran. Ayo berlindung". Emak sudah heboh melihat kerumunan itu.


Emak bahkan berlari mencari tempat berlindung. Sedangkan Airil dan Eneng menatap kearah spanduk yang dibawa gerombolan itu.


"Mah. Mereka sepertinya penggemar si kembar deh". Ucap Airil.

__ADS_1


"Iya bener pah. Gak nyangka anak kita pemes ya pah". Ucap Eneng.


"Iya mah". Jawab Airil.


"Sepertinya kita perlu minta tanda tangan mereka deh pah". Ucap Eneng.


"Buat apa mah". Tanya Airil.


"Kan mereka artis pemes pah. Nanti susah dimintain tanda tangan. Mumpung sekarang bisa pah". Jawab Eneng.


"Gak usah gitu juga kali mah. Mereka itukan anak kita". Jawab Airil.


"Oh iya ya. Kenapa mama bisa lupa ya". Jawab Eneng.


Mereka masih tak menyadari jika sang artis sudah kabur melalui pintu belakang dengan bantuan sekuriti dan Juna. Sedangkan emak sudah bersembunyi di suatu tempat. Airil baru menyadari jika kedua putranya sudah berada diparkiran setelah Juna menelponnya danenunggu mereka di gerbang samping.


Airil dan Eneng tidak tahu jika emak masih berada disekitaran stasiun. Mereka mengira emak sudah ikut kembali kedalam mobil. Dengan santainya sepasang suami istri itu berjalan meninggalkan stasiun.


Arjuna sudah menunggu kedua orangtuanya. Dan mengajak mereka menuju parkiran mobil. Arjuna pun masih tak menyadari jika satu anggota mereka tidak ada. Mereka baru sadar setelah Thian mencari keberadaan sang Oma.


"Aduh didalam stasiun ribut banget". Ujar Airil sesampainya di mobil.


"Iya. Mama aja sampai kaget lihat para cewek neriakin anak ganteng mama". Ucap Eneng.


"Mah. Oma mana". Tanya Thian.


"Bukannya sudah ikut sama kalian". Jawab Eneng.


"Nggak mah. Tadi kami cuma bertiga balik ke parkiran". Jelas Thian.


"Terus kemana dong Oma". Eneng kembali bertanya.


"Pasti ketinggalan ini. Ayo mah temani papa nyari Oma". Ucap Airil.


"Juna ikut pah". Pinta Juna.


"Oke. Yuk buruan ntar semakin nyasar kalau gak buru-buru". Ucap Airil.


Si kembar diminta menunggu didalam mobil. Sedangkan Eneng dan Airil serta Arjuna kembali masuk kedalam stasiun. Saat mereka menyusuri jalan menuju pintu masuk stasiun, terdengar riuh suara para calon penumpang yang tertawa namun juga bersimpati setiap berpapasan dengan rombongan Eneng.


"Maaf pak ada apa ya". Airil mencoba bertanya kepada salah satu calon penumpang kereta api.


"Itu pak ada orang sembunyi dikolong meja. Gak bisa keluar karena nyangkut". Jawab calon penumpang itu.


Airil dan Eneng saling berpandangan. Firasat mereka tak baik. Mereka berlari menuju tempat orang berkerumun setelah mendapat petunjuk dari calon penumpang tadi.


"Astaghfirullah. Emak". Teriak Eneng spontan.


Setelah berbincang dengan sekuriti stasiun, mereka sepakat memotong meja tersebut untuk mengeluarkan emak dari kolong meja yang sempit. Karena jika meja itu diangkat juga percuma karena sudah nemplok dengan tubuh emak.


_______

__ADS_1


Jangan lupa bahagia gaessss


__ADS_2