Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
Kirana & Ilora


__ADS_3

"Fathan". Terdengar suara panggilan dari seorang wanita kepada Fathan. Fathan hanya menoleh sekilas karena dia sudah hafal siapa yang memanggil namanya. Gadis itu berjalan mendekati Fathan.


"Than. Gue mau ngomong bentar bisa". Suara lembutnya tidak mengusik Fathan. Bahkan Fathan tetap santai memejamkan matanya. Merasa tak direspon, gadis itu meminta tolong Adrian untuk menepuk pundak Fathan. Akhirnya Fathan terbangun dan langsung berdiri.


"Ikut gue". Ajak Fathan dengan nada dingin. Fathan berjalan diiringi oleh Adrian dan gadis yang memanggilnya.


Fathan membawa perempuan tadi kesebuah taman dibelakang area shooting. Fathan sudah mengambil pekerjaan serial televisi. Dan ini hari ketiga dia melakukan perekaman adegan.


"Ada apa". Tanya Fathan kepada gadis tadi sambil duduk disebuah bangku. Gadis itu duduk di bangku lain karena bangku disebelah Fathan sudah ditempati Adrian.


"Bisa tidak Adrian pergi dulu. Gue mau ngomong berdua sama loe than". Gadis itu meminta Adrian menjauh. Adrian hanya tersenyum diujung sudut bibirnya.


"Loe kalau mau ngomong silahkan. Kalau masih ribet gue tinggal". Fathan menolak permintaan gadis tersebut. Walaupun kecewa, gadis itu tetap meneruskan niatnya berbicara pada Fathan.


"Ya udah kalau gitu". Rasa kecewa terdengar dari nada bicaranya. Gadis itu menghela nafas sesaat lalu melanjutkan perkataannya.


"Than. Loe tau kan gue suka sama loe udah lama. Dan keluarga kita juga sudah kenal. Apa loe gak mau membuka hati loe buat gue than. Sekali aja coba loe terima kehadiran gue than. Gue akan berusaha menjadi yang terbaik buat loe". Gadis itu mulai mengutarakan maksud kedatangannya. Fathan tidak menatap gadis itu. Pandangannya lurus kedepan melihat tanaman bunga bermekaran.


"Kirana. Dari awal gue udah bilang ke loe. Gue hanya anggap loe teman biasa tidak lebih. Walaupun papa gue kenal dekat dengan papa loe, bukan berarti loe bisa seenaknya aja memutuskan agar gue suka sama loe. Maaf perasaan gue masih sama. Gue masuk dulu". Selesai dengan jawabannya Fathan beranjak kembali masuk kedalam ruang tunggu.


Kirana Maulida. Ayahnya seorang dokter yang juga berteman dengan Airil. Sejak pertama berkenalan dengan Fathan, Kirana sudah menaruh hati pada Fathan. Perkenalan mereka tanpa sengaja. Karena saat itu Fathan berkunjung ke rumah sakit tempat papamya bekerja. Dan kebetulan Kirana merupakan dokter muda yang juga bekerja dirumah sakit tersebut.


Kirana meminta sang ayah untuk menjodohkan dirinya dengan Fathan. Namun Airil selalu menolaknya. Apalagi Fathan tidak bisa sembarangan dekat dengan perempuan. Sejak saat itu Kirana selalu mencari perhatian Fathan. Namun masih belum mampu meluluhkan hati Fathan.


"Sampai kapan loe akan terus nolak gue than. Gue gak akan nyerah. Gue akan terus buktikan kalau gue bisa menjadi pendamping loe than". Kirana bergumam pelan. Tak lama dia meninggalkan lokasi shooting Fathan.


Banyak mata tertuju kepada Fathan. Apalagi selama ini hanya wanita itu yang selalu mendatangi Fathan dilokasi saat dia bekerja. Namun setiap ditanya Fathan tak pernah mau menjawab siapa wanita itu.


"Dia masih ngejar loe than". Lawan main Fathan yang juga mengenal Kirana bertanya kepada Fathan.

__ADS_1


"Entahlah ko. Gue gak pikirin". Fathan kembali membaca skenario yang akan dia perankan.


"Gigih juga usahanya. Gak pengen coba than". Niko masih menanyakan tentang Kirana.


"Kalau loe mau. Buat loe aja". Tawar Fathan kepada Niko.


"Gaklah. Gue cukup satu aja". Niko terkekeh dengan perkataan Fathan. Niko dan Fathan berteman sejak SMA mereka terpisah saat kuliah. Dan kembali bertemu saat Niko mengikuti audisi di agensi milik Almeer.


"Oya gue baru ingat. Bulan depan gue mau tunangan sama Melissa. Loe harus datang. Jangan lupa ajak Thian. Harus datang". Niko mengundang Fathan secara non formal. Fathan sempat menoleh karena kaget dengan perkataan temannya itu.


"Wuidih gercep amat. Insyaallah gue usahain". Jawab Fathan menanggapi undangan Niko.


Kini giliran Fathan mengambil adegannya. Pertengahan episode nanti Thian akan ikut bergabung dengan Fathan. Saat ini Thian sedang sibuk dengan iklan produk makanan.


Pekerjaan Thian saat ini lebih banyak didalam ruangan. Kali ini Thian dipasangkan dengan musuh bebuyutannya. Mereka tidak pernah akur setiap bertemu. Tapi demi pekerjaan mereka bisa profesional. Thian sedang istirahat untuk pengambilan adegan pertama. Dia duduk diruang tunggu bersama lawan mainnya.


"Sok imut. Padahal amit-amit. Kok masih ada yang mau sama makhluk kayak dia". Sindir Thian sambil bermain ponsel.


"Duh jonesss. Iri bos gak laku-laku. Katanya muka situ oke. Nyatanya kayak tempe. Gak laku niye". Balasnya kepada Thian.


"Gue mah punya selera tinggi. Emang situ suka gonta-ganti. Udah kayak baju aja tiap hari ganti". Thian tak mau kalah membalasnya.


"Enak aja. Udah jones gak usah sirik. Ah sayang aku lelah. Kenapa juga satu job sama makhluk ngenes". Tak mau kalah diapun membalas Thian.


"Luk. Besok kalau nyari cewek jangan ngasal. Loe harus selektif". Thian berbicara kepada asistennya namun tetap melirik gadis tersebut.


"Loe nyolot aja ya dari tadi. Mau loe apa sih". Akhirnya emosi lawan main Thian tak terbendung lagi.


"Idih siapa juga yang ngatain loe. Kenapa anda marah. Berasa ya mbak". Ejek Thian kepadanya.

__ADS_1


Perempuan itu sudah berdiri ingin mendekati Thian. Dengan wajah penuh amarah. Kekasih perempuan itu berusaha melerai. Thian pun sudah bersiap melawannya.


"Mau loe apasih. Gak bisa sekali aja loe gak ngajakin gue war". Dengan berkacak pinggang gadis itu menantang Thian.


"Heh. Noh kaca segede gaban. Ngaca loe. Siapa yang mulai duluan. Ga nyadar". Thian menanggapi dengan santai. Kedua tangan dilipat didepan dada. Postur tubuh Thian yang tinggi tak sebanding dengan lawannya yang hanya sebatas dadanya saja.


Gadis itu mencari-cari sesuatu untuk mengimbangi Thian. Setelah menemukan kursi untuk berpijak, gadis itu kembali kehadapan Thian. Thian pun langsung tertawa melihat kelakuannya.


"Ilih. Mbak banyakin makan bambu biar tinggi. Masih SD aja sok berani lawan gue". Ejek Thian kepadanya.


"Sialan loe. Dasar penyuka terong. Emang apa enaknya terong makan terong. Gak laku ya. Jadi mau sama terong". Thian semakin kesal dengan hinaanya. Thian menendang kursi perempuan itu. Hingga hampir terjatuh.


Beberapa kru langsung berusaha memisahkan keduanya. Bukan pertama kali mereka melihat perdebatan keduanya. Salah satu kru langsung menarik Thian.


"Ilora. Fathian. Sudah jangan berantem melulu. Gak bosen apa kalian tiap ketemu berantem melulu. Ayo berbaikan". Perintah kru yang memisahkan mereka.


"Ogah". Thian dan Ilora kompak menolak dan kembali ketempat duduk masing-masing. Namun mereka masih saja beradu tatapan tajam.


"Kenapa sih kalian gak bisa akur sehari saja. Pusing lihatnya". Sutradara mulai menasehati keduanya.


"Gue mau damai sama dia. Asal dia minta maaf dulu sama gue". Ucap Thian penuh penekanan.


"Idih ogah. Loe aja yang sungkem sama gue sini". Tantang Ilora membuat Thian semakin kesal.


"Hadeh. Terserahlah mau kalian apa. Yang penting shooting kita lancar". Pasarah ucap sutradara dan para kru.


Awalnya Ilora dan Thian memiliki hubungan yang baik. Apalagi Ilora dan Thian memiliki predikat best couple dalam setiap pekerjaan yang mereka lakukan. Namun karena Ilora membuat sebuah statemen yang membuat kehebohan, hubungannya dengan Thian pun menjadi buruk. Sebenarnya Ilora bercanda mengatakan jika Thian penyuka sesama jenis hanya karena selalu menolak ungkapan cinta para wanita. Dan salah satunya Ilora.


Thian merasa tak terima dengan ucapan Ilora dan meminta Ilora untuk memperbaiki citranya. Namun Ilora menolak bahkan Ilora semakin membuat kesal Thian. Saat Ilora memposting foto Thian sedang tertidur dibahu Almeer.

__ADS_1


__ADS_2