Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
Kupinang Engkau dengan....


__ADS_3

Akhirnya masa liburan si kembar sudah usai. Pekerjaan sudah menanti mereka. Malam nanti mereka akan berangkat menggunakan kereta api. Pagi ini mereka hanya berjalan-jalan disekitaran rumah keluarga Prasaja. Mereka sudah membeli oleh-oleh saat pergi berjalan-jalan beberapa hari yang lalu.


"Disini enak ya rame". Ucap emak kepada salah satu tetangga keluarga Prasaja.


"Ya bu. Disini memang ramai kalau pas tidak musim liburan sekolah". Jawab tetangga Airil.


"Ibu asli penduduk sini". Tanya emak.


"Iya Bu. Saya lahir disini". Jawab tetangga Airil.


"Berarti sudah lama ya jualan gudeg". Tanya emak.


"Iya bu. Ini dulu yang jual ibu saya. Dan sekarang saya yang meneruskan Bu". Jawab tetangga Airil.


"Wah lama juga ya Bu. Ibu jualan cuma sendiri tidak ada yang bantuin". Tanya emak.


"Ada putri saya Bu. Tapi sekarang lagi kuliah. Nanti biasanya kalau sudah pulang pasti kesini bantu saya". Jawab ibu tersebut.


Emak hanya tersenyum menanggapi perkataan tetangga Airil. Emak berbincang sambil menikmati semangkok es jaipong. Warung makan yang sedang emak datangi milik ibunda Delisha. Tidak hanya gudeg, warung tersebut juga menyediakan nasi rames dan berbagai macam minuman.


Usai membayar minuman yang dipesannya tadi, emak berpamitan kepada ibunda Delisha. Emak berjalan kaki sambil menikmati suasana terakhir berada di kampung halaman sang menantu.


"Assalamualaikum". Ucap emak saat memasuki rumah.


"Waalaikumsalam. Darimana Mak".Tanya ibunda Airil.


"Dari nyari minuman segar besan". Jawab emak.


"Wah tadi ngajakin saya. Saya juga lagi pengen minuman dingin". Ucap ibunda Airil.


"Loh ya maaf besan. Tadi saya cariin gak ada. Jadi saya jalan sendiri". Jawab emak.


"Iya saya tadi ambil oleh-oleh buat dibawa nanti". Ucap ibunda Airil.


"Gak usah repot-repot besan. Sudah menerima saya disini, saya sudah sangat berterimakasih". Ucap emak.


"Jangan seperti itu Mak. Kita sudah jadian keluarga sekarang. Kapanpun emak ingin liburan kesini, silahkan datang. Pintu rumah ini terbuka lebar untuk emak". Jawab ibunda Airil.


"Selebar badan Oma". Sahut Thian yang baru saja keluar dari dalam rumah.


"Enak aja. Oma udah slim ya". Jawab emak.


"Eleh slim dari Hongkong". Ucap Thian.


Emak mengambil kacang rebus yang berada diatas meja. Lalu melemparkan kearah Thian. Thian yang tidak siap mengelak, hanya mengaduh saat terkena lemparan kacang.


Ibunda Airil tertawa melihat tingkah cucu dan besannya. Selama ada emak dirumah keluarga prasaja, suasana semakin hidup.


"Oma nanti tinggal dirumah Thian dulu kan". Ujar Thian kepada emak sambil duduk bersila dilantai.


"Oma langsung pulang kampung saja ya. Rumah lama ditinggalin". Jawab emak sambil mengunyah kacang rebus.


"Ck. Tuh rumah gak akan pindah Oma. Semut aja ogah masuk kerumah Oma". Jawab Thian yang asyik mengupas kacang rebus dan diulurkan kepada emak.


"Cucu Oma yang tampan kalau ngomong suka bener ya." Emak menjeda perkataannya sesaat.


"Kamu lupa kalau Oma gak ada dirumah banyak yang kangen. Kan kasian penggemar Oma". Jawab emak santai. Dan terdengar suara tawa dari ibunda Airil mendengar jawaban sang besan.


"Hilih. Palingan si mamang penjual tomat yang kangen". Jawab Thian dengan nada menggoda.


"Sembarangan. Gak lepel. Lepel Oma mah Kim Seokjin. Bibir seksehnya, uhhhh". Jawab emak sambil berkhayal wajah tampan idolanya.


"Kim Seokjin ya. Oma mau tau gak Thian ajari cara dapatin Kim Seokjin". Ujar Thian meyakinkan.


"Emang loe tau caranya". Tanya emak penasaran.


"Tau Oma. Itu cara terjitu. Pasti langsung dapat". Ujar Thian semakin meyakinkan.


"Gimana-gimana". Saking antusiasnya emak lupa jika sedang duduk di kursi. Dan.....


"Brukkk. Adoh. Dasar kursi sialan". Emak terjungkal dengan kursi yang setia menempel dislebor bohaynya.

__ADS_1


"Wahahahahaaa. Oma ada masalah apa sama tuh kursi. Kasian amat nasib tuh kursi. Hahaha". Thian tertawa sambil berguling-guling dilantai.


"Bantuin Oma ngapa". Emak mengulurkan tangannya untuk ditarik oleh Thian.


Ibunda Airil yang ikut tertawa, juga berusaha membantu sang besan. Namun karena emak memilki badan yang teramat sangat montok berbanding terbalik dengan sang besan dan cucu yang slimming suit, membuat keduanya tidak bisa melawan gaya gravitasi yang tercipta.


"Woy kenapa Oma ditimpa. Bukan nolongin malah ditimpa. Engap tau". Ujar emak yang masih setia tak bergerak sedikitpun dari tempat semula.


Thian bangkit dan menolong sang Nenek. Thian sedang berusaha mencari bala bantuan untuk menolong sang Oma. Thian berusaha memanggil kedua bodyguard ghaibnya. Karena dirumah hanya ada dirinya dan sang nenek. Fathan dan sang kakek dan mamanya sedang pergi. Sedangkan Arjuna sedang ke kantor.


"Ada apa bos". Tanya Miss kunkun.


"Noh". Jawab Thian sambil menunjuk kearah emak menggunakan dagunya.


"Buahaha. Gajah nyungsep". Ono dan kunkun tertawa girang melihat emak yang terjatuh.


"Awas kalian berdua. Buruan bantuin gue". Ujar emak dengan wajah kesalnya. Beruntung saat kedua bodyguard ghaibnya datang sang nenek sedang keluar mencari bantuan.


"Hahaha. Kok bisa sih nyungsep gitu bos". Ono yang masih saja tak bisa menahan tawanya terus meledek emak.


"Diam dulu napa no. Ati-ati kena semburan naga sakti ntar". Ujar kunkun dengan nada mengejek.


"Buruan kalian bantuin gue. Atau mau gue lempar kalian sampai puncak Merapi". Ujar Thian kepada kedua bodyguard ghaibnya.


"Tega amat sih bos". Jawab Ono dengan wajah sedihnya.


"Makanya buruan. Itu Oma kalau kelamaan dengan posisi tengkurap kasian engap. Ntar ada bom atom meletus, hancur rumah nenek". Ucapan Thian membuat kedua bodyguard ghaibnya kembali tertawa.


"Dasar cucu sinting. Ayo buruan". Emak meminta Thian dan kedua bodyguard ghaibnya untuk segera membantunya.


"Bos. Kita kalah jumlah untuk menolong emak secara manual. Kita cuma bertiga bos. Emak satu tapi seratus orang itu". Ucap kunkun sambil mengamati emak.


"Tumben loe pinter Kun". Jawab Thian yang juga sedang mencari ide.


"Gimana kalau kita panggilan mobil derek aja bos. Pasti kuat". Ono memberi ide gila yang terlintas secara spontan.


"Jangan. Terlalu mencolok perhatian warga sekitar. Cari yang aman saja". Jawab Thian yang masih mencari sesuatu untuk mengangkat emak.


"Bos. Bos. Gue dapat ini bos". Kunkun tiba-tiba muncul membawa tambang yang cukup besar.


Mereka bekerja sama membuat katrol dari tambang tersebut untuk mengangkat emak. Setelah semua persiapan selesai, nenek Thian kembali dengan membawa beberapa tetangganya yang akan membantu mereka. Reaksi awal mereka seperti duo bodyguard ghaib Thian saat melihat posisi emak.


"Kalian siap. Hitungan ketiga kita tarik bersama". Aba-aba dari salah satu tetangga nenek Thian. Sedangkan kedua bodyguard ghaib Thian akan membantu menegakkan tubuh emak.


"1..2..3..Tarikkkkkkk". Aba-aba sudah terdengar. Mereka menarik tambang itu secara bersamaan. Dan berkat bantuan dua makhluk ghaib ajib, tubuh emak sedikit terangkat.


"Aduh No. Beban hidup gue udah berat, masih disuruh menganggap beban emak". Ucap Kunkun kepada Ono yang langsung mendapat tanggapan emak.


"Ih gak sadar diri. Kalian udah koit sok punya beban. Awas pegang yang bener". Ucap emak kepada keduanya.


Aba-aba kembali terdengar. Dan perlahan-lahan tubuh emak terangkat dan mulai bisa diberdirikan. Emak berhasil berdiri kembali dengan perjuangan yang sangat berat.


"Huh. Ya Allah Gusti. Jangan tambahkan lagi beban saya ini sudah cukup berat". Ujar salah satu tetangga nenek Airil.


"Hush. Gak sopan. Hosh hosh". Tetangga lainnya mencoba memperingatkan dengan nafas yang masih tersengal karena kelelahan. Warga yang membantu masih terkapar mengatur nafas mereka.


Emak mengucapkan terimakasih kepada para tetangga yang sudah membantunya. Setelah semua tetangga nenek Airil kembali kerumah, Fathan dan kakek serta mama kembali kerumah.


"Assalamualaikum." Fathan mengucapkan salam saat masuk kedalam rumah.


"Waalaikumsalam. Lama amat sih bang". Thian melayangkan protes kepada kakak kembarnya.


"Kenapa. Kangen loe ma gue". Jawab Fathan sambil meletakkan beberapa tas belanjaan.


"Ck. Gak usah geer napa". Jawab Thian yang masih fokus dengan ponselnya.


"Kok sepi pada kemana. Tumben juga kalian berdua nongol disini. Udah nglayapnya". Ucap Fathan kepada dua makhluk ghaib dihadapannya.


"Hehehe. Si bos suka gitu deh. Kita kan liburan juga bos". Jawab Ono dengan kikikan khasnya.


Fathan duduk disamping sang adek. Entah mengapa dia merasa badannya pegal-pegal tanpa sebab. Fathan pun bertanya kepada Thian.

__ADS_1


"Loe habis ngapain dek". Tanya Fathan sambil mengambil snack yang dipegang Thian.


"Kenapa emangnya bang". Jawab Thian tanpa menoleh kearah sang kakak.


"Badan gue pegel semua ini. Loe habis ngangkut apaan sih". Fathan berusaha memijat bahunya yang sangat pegal.


"Habis ngangkut gajah nyungsep bos". Ono yang menjawab pertanyaan Fathan.


"Maksudnya gimana". Fathan yang masih belum paham dengan ucapan Thian.


Thian menceritakan apa yang sudah dialaminya tadi. Fathan pun tertawa mendengar cerita sang adik. Bahkan kakek dan mamanya juga ikut tertawa mendengar cerita Thian.


Hari semakin sore. Selepas Maghrib rombongan keluarga kecil Airil berangkat menuju bandara. Mereka akan segera kembali ke Ibukota dan kembali menjalani aktivitas mereka.


Emak yang memang baru pertama bepergian menggunakan pesawat tak henti-hentinya berdoa sambil memejamkan matanya. Karena saat datang ke Yogyakarta emak menggunakan kereta api.


"Ian, ini pesawat gak anjlokkan Oma naikki". Tanya emak kepada Thian yang duduk disampingnya sambil memejamkan mata.


"Makanya Oma jangan gerak-gerak. Kalau Oma geser dikit aja, pesawatnya oleng". Thian sengaja menggoda emak.


"Gitu ya. Oke Oma akan diam aja. Loe juga jangan gerak. Biar gak oleng". Emak mempercayai apa yang diucapkan oleh Thian.


"Kalau Thian gak masalah. Bobot Thian gak akan membuat pesawat oleng". Jawab Thian sambil menahan tawa.


Emak yang gugup hanya bisa berdiam diri. Untuk mengalihkan kegugupannya, emak kembali bertanya kepada Thian cara mendapatkan idolanya.


"Eh yan. Loe belum ngasih tau Oma cara dapatin Kim Seokjin". Emak bertanya dengan posisi duduk yang tegak tanpa menoleh.


"Huh. Masih ingat aja. Kirain udah lupa". Jawab Thian lirih. Namun masih didengar oleh emak.


"Oma gak budeg yan. Cepet kasih tau Oma gimana caranya. Siapa tau bisa jadi kekek loe nanti". Jawab emak antusias.


"Huh. Oke. Denger baik-baik ya Oma. Ini tips terjitu". Thian merubah posisi duduknya menyamping dan menatap sang Oma.


"Pertama Oma harus yakin dulu kalau ini berhasil. Terus Oma cuci tangan sama kaki sampai bersih. Jangan lupa gosok gigi juga". Thian menjeda perkataannya.


"Oh gitu. Cuci muka sekalian gak". Tanya emak kepada Thian.


"Boleh biar kinclong". Jawab Thian singkat. Thian melanjutkan tipsnya.


"Thian lanjut ya Oma. Habis itu Oma rebahan diranjang sambil miring kekanan. Sambil mengucapkan mantra". Thian kembali menjeda ucapnya.


"Oh ada mantranya juga toh". Emak masih penasaran dengan ucapan sang cucu.


"Ada Oma. Kalau gak pakai mantra ini gak akan ada hasilnya. Jangan lupa tuh foto Kim Seokjin dikekepin. Terus baca mantra sambil merem. Kupinang engkau dengan...." Thian menghentikan ucapannya sejenak.


"Dengan apa yan. Buru napa". Emak semakin tak sabar.


"Kupinang engkau dengan.....Bissmika Allahumma Ahya Wa Bissmika Amut". Jawab Thian sambil menahan tawanya.


"Wuih mantap. Oma akan coba siapa tau besoknya Kim Seokjin datang lamar Oma". Emak yang masih belum sadar di kerjai sang cucu, tetap antusias.


"Buahaha. Si bos emang gokil". Ono yang sejak tadi mendengar percakapan emak dan Thian seketika tertawa.


"Eh tunggu-tunggu. Bukannya itu doa mau tidur. Kenapa itu mantranya yan". Emak yang baru sadar langsung memprotes Thian.


"Lah emang. Baru sadar Oma". Jawab Thian dengan terkekeh.


"Yang serius dong yan. Masa doa mau tidur". Emak masih tidak terima.


"Serius Oma. Karena Kim Seokjin hanya bisa didapatkan didalam mimpi bukan nyata. Hahahaha". Tawa Thian meledak. Emak ingin sekali menjitak sang cucu. Tapi dia ingat perkataan Thian jika dia bergerak pesawat akan oleng.


"Awas loe turun dari pesawat Oma jewer. Dasar cucu sue amat". Emak cemberut dengan ulah Thian yang masih saja tertawa.


"Makanya Mak, bermimpi itu boleh. Tapi jangan tinggi banget. Ntar jatuh sakit. Emak itu gak lepel sama Kim Seokjin tapi sama kimpul rebus*. Hahaha". Kunkun masih menggoda emak yang semakin cemberut.


-------


*sejenis umbi-umbian yang mirip talas.


______

__ADS_1


Hai gaess apa kabar... sebelumnya minal aidzin wal Faidzin mohon maaf lahir batin..selama ini banyak salahnya sama kalian. maaf juga lama gak muncul. Awalnya memang mau segera diselesaikan sebelum puasa. Namun ternyata ada hal yang menghalanginya. Kakek saya sakit keras. Beliau keluarga satu-satunya saya. Jadi saya fokus merawat beliau. Hingga takdir berkata lain. Saya berharap beliau sembuh namun Allah lebih sayang beliau. Dan maaf baru sekarang saya keluar karena saya masih fokus di keluarga hingga 40hari beliau.


terimakasih yang sudah setia. terimakasih yang sudah mendukung. Semoga kalian semua sehat...aamiin


__ADS_2