Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
Zee..


__ADS_3

"Selamat ulangtahun anak kecil". Thian memberi ucapan selamat kepada Nadzeera. Kado istimewa yang telah dia persiapkan sudah sampai ditangan sang pemilik.


"Kakak. Makasih sudah mau datang ke acara Zee. Makasih juga kadonya". Zee memeluk Thian. Teman-teman dekat Zee terkejut melihat aktor ternama sedang dipeluk oleh Zee. Zee memang tidak pernah bercerita jika Si kembar masih kerabatnya.


Berbeda dengan Thian. Saat Fathan mengucapkan selamat dan memberikan hadiah pada Zee, Zee menerima dengan sikap biasa saja. Namun tetap tersenyum hangat. Beberapa teman dekat Zee meminta agar Zee mengenalkan mereka pada si kembar. Zee hanya menanggapi dengan senyuman saja.


Si kembar bergabung dengan kuarga inti. Sebenarnya kedua orangtua si kembar juga turut diundang. Namun mereka tidak bisa datang. Airil masih sibuk di klinik miliknya. Sedangkan Eneng harus menjaga emak yang mulai sakit-sakitan karena faktor usia.


"Assalamualaikum om, tante". Thian dan Fathan menyapa kedua orangtua Zee. Tak lupa dengan kedua Oma dan opanya. Almeer juga sudah berada disana bersama dengan kedua orangtuanya.


"Wuih. Artis hebat kita. Sampai jarang main kerumah om. Sehat kalian". Serkan memeluk si kembar bergantian. Bagi si kembar rumah Serkan adalah rumah ketiga mereka. Apalagi Zee sangat dekat dengan Thian.


"Alhamdulillah kami sehat. Om sehatkan. Maaf jarang main. Salahkan Bang Al yang ngasih kerjaan seabrek". Fathan melirik kearah Almeer yang sudah berdecak kesal. Serkan dan keluarga lainnya tertawa menanggapi perkataan Fathan.


Selama acara, Fathan benar-benar menyembunyikan perasaannya. Hingga saat ini dia juga masih belum bertukar kabar dengan Melody. Rasa penasarannya kalah dengan rasa sakitnya. Thian paham jika saudaranya itu sedang tidak baik-baik saja. Thian sudah bertanya ada apa dengan Fathan, namun Fathan masih enggan menjawab.


Ulangtahun Zee sangat meriah. Walaupun banyak teman dan sahabatnya datang, Zee tetap fokus kepada Thian. Selama ini Zee memang menyukai Thian. Bahkan berkali-kali Zee mengungkapkan perasaannya kepada Thian. Thian menganggap Zee sebagia adiknya. Baik Thian maupun Fathan selalu memanjakan Zee.


"Akhirnya selesai sudah". Suara Zee menghela nafasnya lega. Si kembar masih berada dirumah Zee. Bahkan saat ini Zee duduk sambil bermanja di pundak Thian.


"Capek ya". Thian mengusap lembut surai panjang Zee. Zee menjawab dengan anggukan. Keluarga Malik tersenyum melihat interaksi Thian dan Zee.


"Thian. Sepertinya om harus meminta papa kamu untuk nglamar anak gadis om". Serkan melontarkan candaan kepada Thian. Thian melongo mendengar candaan dari Serkan.

__ADS_1


"Yeyyy. Lophe u Papa. Papa terbaik deh". Zee bereaksi bahagia mendengar candaan sang papa. Suara gelak tawa terdengar menggema dalam ruangan itu.


"Ck. Almeer, masa kamu kalah boy. Noh lihat Thian aja udah dapat jodoh. Lah kamu kapan boy. Gak takut karatan apa tuh rudal". Arash ikut mengambil kesempatan untuk mengolok sang putra.


"Santai aja yah. Al pastiin sebelum janur kuning si Thian melengkung, Al udah bawa calon mantu buat ayah". Dengan percaya diri Almeer menjawab tantangan sang ayah.


"Emang laku bang". Fathan ikut mengolok Almeer. Dia sangat berusaha untuk menutupi perasaannya hari ini. Karena tak ingin merusak hari bahagia Zee.


"Eleh. Kayak kamu laku aja Than. Sok ngejekin gue loe". Suara tawa saling bertautan mendengar Fathan dan Almeer saling ejek. Karena malam kian larut, Arash dan keluarganya berpamitan. Begitu juga dengan si kembar. Zee mengantar Thian sampai ke gerbang.


"Kakak hati-hati ya. Makasih udah luangin waktu buat Zee". Senyum Zee terkembang dibibir mungilnya. Rona bahagia tampak jelas diwajah Zee.


"Kakak pasti datang buat Zee. Sudah malam, Zee masuklah". Thian kembali mengusap surai hitam Zee. Fathan hanya memandang dengan diam dari dalam mobil. Zee pun beralih kepada Fathan. Walaupun Fathan bersikap dingin, namun Zee tau jika Fathan sangat menyayanginya.


Serkan yang melihat putri kesayangannya itu bahagia, ikut merasakan kebahagiaan itu. Zee langsung masuk kedalam kamar setelah menyapa kedua orangtunya. Sedangkan Serkan dan istrinya masih duduk berdua diruang keluarga.


"Pah. Sepertinya Zee benar-benar menyukai Thian. Papa lihatkan tadi seperti apa bahagianya putrimu saat melihat Thian datang keacaranya". Mama Zee selalu memperhatikan gerak-gerik sang putri. Apalagi Zee adalah putri satu-satunya dikeluarga Serkan. Usia Zee terpaut jauh dari kedua saudaranya.


"Iya mah. Sebenarnya papa gak ada masalah jika Thian bisa menerima perasaan Zee. Tapi kan mama tau, Thian selama ini menganggap Zee adiknya. Papa gak mau kalau nanti kita jodohkan mereka, tapi cuma Zee yang cinta sama Thian. Papa gak mau itu mah". Jelas Serkan kepada sang istri. Serkan benar-benar menyayangi Zee.


"Apa kita coba bicara sama Eneng pah. Mungkin Eneng dan Airil bisa ngasih solusi. Papa kan tau selama ini motivasi Zee cuma Thian. Bahkan saat ada gosip tentang Thian, Zee sampai demam pah". Jelas mama Zee. Selama ini memang Thian yang selalu memotivasi Zee. Zee ingin menjadi yang terbaik untuk Thian. Bahkan Zee sudah belajar berbagai macam hal untuk memantapkan dirinya.


"Nanti papa coba. Semoga Thian juga mau membuka hatinya untuk Zee". Serkan mengecup lembut kening sang istri. Mereka berdua masuk kedalam kamar untuk beristirahat.

__ADS_1


Sesampainya dirumah, sikembar pun beristirahat. Kali ini Fathan ingin tidur bersama Thian. Karena saat meras sedih mereka akan tidur bersama. Usai membersihkan diri, mereka merebahkan tubuhnya di ranjang. Merekam sama-sama menatap langit-langit kamar.


"Dek. Loe beneran ada rasa sama Zee". Fathan sudah tak sabar ingin mengetahui perasaan sang adik kembar. Thian menghela nafasnya panjang sebelum menjawab.


"Bang. Loe kan tau selama ini gue masih menganggap Zee adik kita bang. Tapi Zee ternyata punya perasaan lain. Kalau gue ngejauhin Zee, gue takut Zee akan kecewa". Thian menjawab pertanyaan Fathan tanpa menatap sang Abang.


"Dek. Apa loe yakin dengan ucapan loe itu. Coba deh loe tanya lagi ke hati loe. Jujur selama ini cuma Zee satu-satunya perempuan yang dekat sama loe. Bahkan loe selalu ngasih perhatian lebih. Tapi kalau loe emang yakin gak ada perasaan apapun sama Zee yang lebih dari seorang adik, bicarakan lagi ke Zee, tegasin semuanya. Biar dia juga gak merasa kalau loe punya rasa, padahal nggak. Jangan digantung dek". Fathan mencoba menasehati sang adik. Thian nampak terdiam dan berkali-kali mengusap kasar wajahnya. Dan menghela nafas. Fathan tersenyum melihat reaksi sang adik.


"Tapi dek. Sebenarnya gapapa sih loe sama Zee. Lagian kedua orangtuanya setuju kalian ada hubungan. Yah kalau cuma beda umur 8 tahun mah gak masalah sih". Fathan mencoba mencairkan suasana. Thian melihat kearah Fathan dan mencebik.


"Eleh. Kalau mau ngejek gak usah nanggung bang. Langsung aja". Terdengar kekehan Fathan. Thian tersenyum mendengar sang Abang mulai bisa tertawa. Dan Thian tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk bertanya kepada Fathan.


"Sekarang bloe cerita ke gue. Ada apa loe beberapa hari ini bang. Bahkan ponsel aja loe masukin nakas gak loe sentuh". Mendengar pertanyaan sang adik, Fathan pun mulai bercerita. Thian sempat kaget karena ternyata selama ini ada perempuan yang bisa membuat abangnya bahagia.


"Loe gak coba tanya dulu gitu. Siapa tau kakaknya atau saudaranya". Pertanyaan Thian sempat membuat Fathan menoleh. Sempat terlintas dibenak Fathan untuk melakukan hal itu, tapi Fathan teringat jika selama ini Melody tidak pernah tau tentang perasaannya.


"Apa gak aneh kalau gue tanya siapa cowok itu, sedangkan gue bukan siapa-siapa dia". Thian langsung tertawa mendengar perkataan sang adik. Fathan hanya bisa diam dan kembali berfikir.


"Temui dia. Katakan yang sebenarnya. Kalau memang sudah terlambat ya sudah tak apa. Setidaknya hatimu lega bang". Saran Thian membuat pikiran Fathan terbuka. Fathan mengangguk menerima saran sang adik.


Tak lama Fathan mengubah posisi tidurnya dan mulai memejamkan mata. Begitu juga dengan Thian. Melihat sang Abang lebih membaik, diapun ikut terlelap.


"Makasih dek sarannya. Akan gue coba". Gumam Fathan pelan. Namun Thian masih bisa mendengar. Thian menjawab dengan berdehem. Dan keheninganpun menyelimuti kamar Thian. Mereka sudah terlelap dalam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2