
"Baby, kakak jemput dikampus ya".
Karena hari ini Thian libur, Thian meluangkan waktu untuk Zee. Walaupun mereka dikota yang sama, intensitas kebersamaan mereka bisa dihitung dengan jari. Karena kesibukan masing-masing.
"Asyik dijemput. Zee tunggu".
Setelah mendapat balasan dari Zee, Thian baru saja bangun. Setelah pulang dari masjid subuh tadi, dia masih merasa lelah. Dia melanjutkan mimpi indahnya hingga siang hari. Usai mandi, Thian berencana akan menemani Omanya. Omanya sudah protes karena cucunya begitu sibuk.
Thian segera turun ke bawah dan mencari keberadaan Omanya. Thian sudah melihat sang Oma sedang asyik berbincang dengan mama dan Almeer. Almeer sengaja mengunjungi kediaman Airil karena Almeer sedang senggang.
"Ada tamu rupanya. Kapan datang bang". Thian ikut bergabung dengan mama dan Omanya dalam satu sofa yang sama. Sedangkan Almeer duduk disofa lain dihadapan mereka.
"Dari tadi. Loe molor lama amat sih cebong. Gue bangunin susah banget". Almeer memang sudah berusaha membangunkan Thian beberapa kali, namun Thian tidak juga bangun.
"Ya maap. Loe gak ngantor bang. Tumben nangkring disini jam kantor". Thian mengambil camilan yang sudah disediakan oleh mamanya diatas meja.
"Gue pusing Yan. Lelah jiwa dan raga". Thian hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Almeer.
"Al, udah selesai semua persiapan pernikahan loe". Oma ikut masuk dalam pembicaraan mereka.
"Masih proses Oma. Tinggal printilan kecil-kecil aja". Jelas Almeer kepada Oma. Thian dan Eneng menjadi pendengar saja.
__ADS_1
"Gimana Shabila orangnya Al". Mereka memang hanya baru dua kali bertemu Shabila saat pertunangan saja.
"Seandainya ada yang bisa tukar tambah, Al mau tukar tambah Oma". Thian tertawa terbahak mendengar keluhan Almeer. Berbeda dengan emak dan Eneng yang belum paham tentang Shabila.
"Ngomong yang baik jangan asal. Gadis cantik Sholehah gitu kok mau cari tukar tambahnya". Emak memukul kepala Almeer karena gemas. Almeer hanya senyum tipis saja.
"Coba sehari saja Oma gaul sama Shabila. Kuat berapa lama Oma sama Shabila". Almeer memijit keningnya saat mengingat kelakuan Shabila yang sangat absurd.
"Kenapa emangnya Shabila. Kok kayaknya kamu kesal gitu". Oma semakin kepo dengan Shabila. Eneng hari ini hanya bisa diam karena gusinya sedang bengkak. Walaupun bagi Eneng diam itu sangat menyiksa.
"Bikin ulah apalagi kak Shabila bang. Penasaran gue". Thian penasaran dengan ulah apa lagi yang dilakukan calon kakak iparnya itu.
"Pokoknya hal yang membuat speechless orang yang dengar. Gue sampe heran dia itu otaknya bikinan abad keberapa. Semua pertanyaan yang diucapkan dia mengandung racun dan ranjau. Dijawab gak dijawab sama-sama mati". Thian paham maksud Almeer dan dia tertawa sepuasnya. Emak dan Eneng yang tidak tau apa-apa kembali ingin bertanya maksud Almeer. Namun belum juga mereka bertanya, Almeer sudah memberi jawaban.
"Terus kemarin waktu cari bahan seserahan, bisa-bisanya dia tunjukkin beberapa underwear dengan berbagai model jenis kedepan Almeer. Dah gitu panggil Om suaranya kenceng banget. Banyak emak disana lihatin Al Oma, mah. Malu tapi Al tahan". Suara tawa saling bersahutan terdengar jelas diruangan itu. Cerita tak berhenti hanya sampai disitu. Almeer masih melanjutkan.
"Teruskan habis dapat semua tuh barang-barang buat seserahan, dia minta beliin minum diswalayan mall. Ya udah deh Al turutin. Dan disini gedek banget Al Oma. Lagian juga kenapa disetiap toko selalu memajang balon karet edisi khusus dewasa didekat kasir. Kenapa gak disembunyikan. Shabila tanya ke Al kenapa balon kayak gitu gak ada size-nya. Apa pas makai gak kegedean atau kekecilan. Apa yang harus saya jawab saudara-saudara". Thian sampai berguling kelantai karena sudah tak tahan menahan sakit saat tertawa. Beruntung emak menggunakan Pampers. Jadi aman. Sedangkan Eneng tertawa hingga menangis karena merasakan nyeri digusinya.
"Oma juga dulu mikir gitu. Kalau gak ada size-nya. Gak bisa milih besar kecilnya. Kan gak asyik jadinya". Almeer semakin depresi mendengar komentar emak. Thian dan Almeer berteriak secara bersamaan.
"Omaaa". Oma yang diteriaki dengan santainya tertawa ngakak. Eneng benar-benar ingin menangis dengan kondisinya yang tak bebas.
__ADS_1
"Dan yang terbaru Al alami sebelum kesini. Dan itu yang membuat Al memilih kesini daripada ngantor". Al kembali menceritakan apa yang dialami pagi tadi.
"Apa tuh bang. Penasaran gue bang". Almeer berdecak pelan sebelum mencerminkan apa yang terjadi.
"Pagi tadi gue kan nganter dia ke kantornya. Seperti biasa sih. Walaupun malasnya ampun. Dijalankan gue dapat telpon dari Satria. Ya udahlah karena searah dan masih ada waktu, gue ajak dia kerumah Satria bentar ambil berkas. Karena dia lagi demam. Loe kan tau Yan kalau si Satria itu koleksi burung hantu. Apa yang dia lakukan disana". Almeer menjeda perkataannya dan para pendengar setia menanti jawaban.
"Salah satu koleksi Satria ada didalam rumah. Karena lupa dikandangkan. Habis gue kenalin tuh si Shabila ke Satria, tiba-tiba dia berdiri diam aja disamping gue. Terus diangkat tuh kedua tangannya kayak orang mau doa. Dia baca ayat kursi sama ayat-ayat ruqiah Thiann". Almeer benar-benar bingung bagaimana mengekspresikan dirinya saat ini. Karena belum ketemu maksud dari Almeer, Thian pun kembali bertanya.
"Memang dia bisa lihat yang transparan gitu bang. Kok langsung diruqyah". Thian sedikit khawatir karena kedua bodyguardnya adalah makhluk transparan.
"Bukan itu Yan. Yang dia bacain doa itu si burung hantu. Karena menurut dia Burung hantu sejenis dengan makhluk ghoib jadi cara hilangin dengan diruqyah". Thian kembali tertawa bersama Oma dan Eneng. Sedangkan Almeer ingin menangis atau tertawa dia masih bingung.
"Terus Bang Satria pasti bahagia tuh bisa ngolokin Abang". Thian sangat tau jika Satria paling ingin mengolok Almeer karena selama ini Almeer terlalu susah diolok.
"Sebelum dia melakukan hal itu. Gue bawa pergi manusia limited edition itu. Heran gue ayah nemu dimana manusia itu. Ya Allah hamba harus gimana". Bukan memberi semangat melainkan semakin menertawai Almeer.
"Bang berdoa saja pas pesta dia normal sesaat. Bisa ambyar tuh pesta kalau dia ngulah". Almeer mengangguk tanda setuju dengan pendapat Thian. Dia juga harus memikirkan hal itu dari sekarang.
"Al, pas malam pertama nanti. Gimana reaksinya dia ke loe ya. Oma penasaran. Apa dia akan mengomentari pusaka yang tersembunyi selama puluhan tahun itu. Hahaha". Almeer semakin pusing dengan perkataan Oma. Almeer mulai berfikir jika Oma dan Shabila digabungkan, dunia semakin ambyar.
"Oma. Gak gitu juga kali mikirnya. Beneran deh Al penasaran dia itu pas pembagian kecerdasan nyungsep kemana kok jadi eror gini. Dan kenapa harus Almeer yang alami ini". Kembali Almeer hanya mendapat suara tawa yang menggelegar. Dan juga pukulan dari Eneng karena terus membuatnya ingin tertawa tapi berusaha ditahan karena kondisi gusinya yang tidak baik.
__ADS_1
Almeer memutuskan untuk tidur dikamar Thian dan mematikan ponselnya karena Satria terus menerus mengoloknya lewat pesan. Thian sudah berangkat untuk menjemput Zee dikampus. Emak beristirahat dikamar dengan damai setelah mendapat hiburan dari Almeer.