
"Sayang. Maaf kakak gak jadi temani kamu. Kakak ada urusan. Nanti kakak jemput terus jalan-jalan". Hari ini Thian janji akan menemani Zee ke lapangan. Namun pagi tadi Thian mendapat kabar harus kesuatu tempat karena pekerjaan.
"Huh. Artis sibukku. Tapi nanti beneran jalan-jalan ya. Zee bosan banget kak". Thian tersenyum memeluk Zee. Shadam hanya cemberut melihat keromantisan keduanya.
"Ck. Lihat tempat kali. Yang jomblo ngenes ini". Zee dan Thian tertawa mendengar Shadam menggerutu.
"Iya disini jomblo. Entah disana". Thian mengolok Shadam yang semakin cemberut.
Mereka sedang sarapan bersama direstauran hotel. Irene baru saja datang ingin sarapan. Dan Johan pun juga demikian. Irene berteriak ketika melihat Thian disana. Irene adalah salah satu fans Thian.
"Wahhh Fathian. Fathian". Irene berlari kearah meja Thian. Zee dan Shadam menengok kearah suara itu begitu juga Thian.
"Fathian kan. Boleh foto bareng gak". Irene heboh saat mode fansnya muncul. Zee dan Shadam santai saja menanggapi hal seperti itu. Mereka sudah terbiasa. Thian pun berdiri untuk berfoto bersama Irene. Saat Irene akan memeluk pinggang Thian, Thian menolak dengan halus.
Johan menjadi fotografer dadakan untuk Irene. Johan tidak bisa menolak permintaan Irene. Raut wajah Johan terlihat jelas jika dia tidak suka dengan Thian.
"Fathian, tolong tanda tangani ini dong". Irene mengeluarkan fotocard milik Fathian. Dan langsung disodorkan untuk mendapatkan tanda tangan Fathian.
"Sudah. Makasih ya". Thian selalu mengucapkan terimakasih kepada setiap fansnya. Dia bisa seperti ini karena mereka. Itu yang selalu Fathan dan Fathian ingat agar mereka sombong.
"Selalu seperti itu. Kami yang terimakasih karena kalian selalu melayani permintaan kami dengan tulus". Thian tersenyum mendengar perkataan Irene. Irene berpamitan untuk duduk bersama Johan tak jauh dari meja Thian.
Johan selalu mencoba mencuri pandang kearah Zee dan Thian. Tangannya akan mengepal kuat jika melihat kemesraan mereka. Thian pamit terlebih dahulu, karena supir yang khusus menjemputnya sudah datang bersama Luki. Luki baru menyusul Thian hari ini.
__ADS_1
"Hai Zee, bang. Apa kabar". Luki menyapa Zee dan Shadam saat menghampiri thian.
"Baik. Loe apa kabar Luk. Makin tumbuh kesamping aja loe". Shadam mengolok Luki. karena memang Luki tampak lebih berisi sekarang.
"Hehehe, tandanya gue happy bang. Bro. Yuk". Luki mendatangi meja Thian dan mengajaknya segera berangkat.
"Hmmm. Bang gue jalan dulu. Sayang nanti kakak jemput". Thian beranjak dan mencium pucuk kepala Zee. Tak lupa menyalami Shadam. Dan segera berlalu pergi.
Johan menatap tajam Thian saat Thian melewati mejanya. Bukannya Thian tidak tau, tapi Thian pura-pura saja tidak tau. Ono yang tak suka dengan pandangan Johan, mulai jahil. Johan mengangkat cangkir berisi kopi hendak ia minum, Ono sengaja menyenggol dan kopi panas itu tumpah tepat dipaha Johan. Johan yang kepanasan refleks berdiri dan sedikit berteriak.
Beberapa pengunjung melihat kearah Johan, termasuk Shadam dan Zee. Irene dengan sigap menolong. Sebagai basa basi, Shadam mendekati Johan dan bertanya keadaan Johan. Shadam dan Zee pergi setelah berbasa-basi dengan Johan.
"Kok bisa sih pak. Kan Irene juga duduknya jauh. Jadi pasti bukan Irene yang nyenggol". Irene membantu membersihkan bekas kopi menggunakan tisu.
"Yang bilang kamu tersangkanya juga siapa. Saya saja bingung siapa yang tiba-tiba menyenggol tangan saya". Irene menatap mata Johan, dan bergidik ngeri mendengar perkataan Johan.
"Bagaimana, apa dana yang saya kasih masih kurang". Seorang pemuda sedang duduk berhadapan dengan asistennya disebuah kafe.
"Ini sudah lebih dari cukup pak. Kapan bapak ada waktu untuk menghadiri meeting. Mereka sangat ingin bertemu dengan bapak". Asistennya sudah berkali-kali mengatakan hal yang sama, namun dia hanya tersenyum saja.
"Saya percaya sama kamu Alan. Biarkan saja seperti ini. Jika masih kurang saya akan tambahkan dana lagi. Saya titipkan semua ke kamu Alan. Seperti biasa saja". Pria itu Alan dan bos besarnya. Mereka sengaja bertemu di kafe yang lumayan jauh dari perusahaan dan lokasi pembangunan.
"Huh anda selalu seperti itu pak. Sebenarnya saya sudah berjanji akan membawa anda datang ke meeting tersebut. Tapi sepertinya saya gagal lagi". Melihat wajah sendu Alan, pria itu tertawa. Alan dan pimpinannya memang sangat dekat. Bahkan Alan adalah orang yang paling dia percaya.
__ADS_1
"Hahaha. Kamu selalu saja seperti itu. Saya akan datang ke meeting tapi saya sebagai oranglain". Alan kembali berdecak. Itulah sifat pimpinannya hanya mau bermain dibelakang layar saja.
"Yayaya. Sesuka hati bos saja. Saya ke kantor dulu bos". Alan segala meninggalkan kafe. Dan pimpinannya masih stay disana dengan asisten lainnya.
"Yuk cabut". Orang itu segera pergi setelah Alan pergi beberapa menit yang lalu. Dia pergi menuju tempat kerjanya.
Johan yang pagi tadi terkena tumpahan kopi, mencoba menarik perhatian Zee. Namun tidak dipedulikan oleh Zee. Hingga membuat Johan frustasi. Johan pun memakai cara kuno dengan menjatuhkan dirinya agar ditolong oleh Zee.
"Ahhh tolong". Teriak Johan. Zee yang sudah berjalan menjauh, kembali kearah Johan. Johan tersenyum puas didalam hati merasa itu akan berhasil.
"Pak Johan gapapa". Zee berjongkok melihat kondisi Johan. Johan pun memulai dramanya. Shadam melihat dari kejauhan. Shadam paham jika itu akal busuk Johan.
"Tolong bantu saya Zee. Saya gak bisa berdiri atupun jalan. Kaki saya sakit". Johan merintih agar tampak natural. Zee diam sesat dan akhirnya memanggil seseorang.
"Pak Anton. Tolong kemari". Johan menatap heran kearah Zee karena memanggil pekerja lainnya.
"Ya Bu ada apa ya". Pak Anton segera mendekati Zee. Dia diam berdiri didepan Zee dan Johan.
"Tolong bantu pak Johan berdiri dan tolong dipapah sampai klinik depan. Katanya beliau tidak bisa berjalan karena jatuh. Saya gak akan kuat kalau memapah beliau". Johan melotot mendengar permintaan Zee kepada pak Anton. Shadam menahan tawanya melihat apa yang diperbuat oleh Zee.
"Baik Bu. Mari pak, saya antarkan". Mau gak mau Johan menyambut uluran tangan pak Anton untuk dibawa ke klinik. Sedangkan Zee sudah berjalan menuju kantor.
"Sialan malah gagal semua rencana gue". Johan menggerutu didalam hatinya.
__ADS_1
Irene segera menyusul Johan ke klinik setelah diberitahu oleh asisten Zee. Johan mendapatkan perawatan sementara diklinik tak jauh dari lokasi pembangunan.
Sesuai janji Thian, Thian sudah sampai dilokasi pembangunan dan menghubungi Zee memberitahu jika dia menunggu didepan. Setelah mendapat izin dari Shadam, Zee pergi menemui Thian dan mereka akan pergi jalan-jalan menghabiskan waktu bersama sebelum Thian kembali ke tanah air. Karena libur Thian hanya sebentar. Dan sebenarnya dia tidak benar-benar libur, karena tetap aja pekerjaan yang dia kerjakan di Singapura.