
"Bang. Gue nginep rumah bang Al".
Thian mengirim pesan kepada sang Abang. Thian masih kesal dan sedikit menyesal menerima tawaran Almeer. Sedangkan sang tersangka sedang tertawa geli melihat Thian.
"Ada apa tumben nginep tempat bang Al".
Fathan mengirim pesan balasan untuk Thian. Rasanya ingin Thian berteriak dan menceritakan kepada Fathan. Namun Almeer mengancam jika Thian buka mulut sebelum kesepakatan mereka usai, Almeer akan mengambil koleksi kesayangan Thian.
"Nanti gue cerita bang. Doakan gue bang selamat ðŸ˜".
Thian membalas kembali pesan Fathan dengan menambah emoticon menangis. Fathan semakin penasaran ada apa dengan sang adik. Fathan segera melakukan panggilan telepon kepada Thian. Namun ponsel Thian sudah tidak aktif.
"Sini ponsel loe. Abang bawa. Awas loe rahasia ini bocor". Almeer merebut ponsel Thian dan menonaktifkannya. Thian hanya bisa pasrah dengan permintaan Almeer. Ono yang sedari tadi tertawa tidak bisa membela tuannya. Membuat Thian semakin kesal.
"Bang. Gak gini juga kali". Thian kembali mengajukan protes kepada Almeer. Almeer tak peduli dan bahkan tanpa sepengetahuan Thian, Almeer merekam Thian saat ini. Almeer terus tertawa begitu juga Ono.
Satu jam lamanya Thian dan Almeer menghabiskan waktu didalam butik sekaligus salon itu. Kini Thian sudah selesai dan Almeer juga sudah berganti dengan tuksedo berwarna senada dengan pakaian Thian.
"Let's go baby". Almeer mengulurkan tangannya kearah Thian. Thian menepis tangan Almeer dan berjalan sendiri menuju mobil Almeer. Almeer terus tertawa melihat tingkah Thian.
Disepanjang jalan Thian tetap cemberut. Bahkan supir pribadi Almeer ikut tertawa. Mereka menggoda Thian dengan bahagia. Thian berusaha untuk tetap sabar. Dan akan segera membalas perbuatan Almeer. Mobil Almeer sudah tiba di restoran tempat diadakan acara. Sebelum turun, Almeer kembali mengingatkan Thian.
"Baby. Kita sudah sampai. Jangan lupa ya namamu Theana. Oke baby". Senyum licik Almeer membuat Thian menahan geramnya. Rasa ingin memukul sang Abang sudah sangat dia tahan.
"Baby. Babi kali". Gerutu Thian dan Almeer hanya tertawa mendengarnya. Saat Almeer akan membuka pintu mobil, kembali Thian menggerutu.
"Selamat malam. Kenalkan saya Theana saudaranya Teh hijau. Pucuk pucuk". Suara Thian dibuat selembut mungkin. Almeer yang hendak keluar mobil kembali duduk dan tertawa terbahak begitupun dengan sang sopir dan Ono. Bahkan Ono sampai menjauh karena takut Thian murka.
Almeer membukakan pintu untuk Thian alias Theana. Mereka berjalan beriringan. Karena sudah terbiasa dengan akting berbagai jenis peran, pekerjaan yang Almeer berikan cukup mudah dia jalani. Namun satu hal yang Thian tidak tahu. Acara makan malam ini sangat spesial. Sedangkan Thian mengira hanya makan malam bersama kolega Almeer seperti biasanya.
"Selamat malam. Maaf saya sedikit terlambat". Almeer mengucapkan salam kepada tamu yang sudah menunggunya. Bak tertimpa duit satu tronton. Thian diam mematung. Segala ucapan yang dia persiapkan diotaknya ikut terbang melayang setelah melihat tamu yang ada dihadapannya.
__ADS_1
"Mampus gue. Mampus. Awas aja loe bang. Gue balas nanti". Thian mengumpat dalam hatinya.
"Malam. Wah sepertinya anak tampan dari seorang Arash Malik sudah tiba. Tambah taman saja". Ucap salah satu tamu yang juga ikut dalam makan malam itu.
"Hahaha. Anda bisa saja pak Aji". Jawab Arash. Ayah dari Almeer. Ya malam ini keluarga Malik mengadakan acara makan malam. Dengan maksud tersembunyi yang Almeer sudah sangat paham. Itu yang membuat Thian diam mematung setelah melihat siapa dihadapannya.
"Almeer. Siapa perempuan cantik disamping kamu nak". Buna Icha bertanya tentang Thian yang saat ini memang sedang berperan menjadi wanita berhijab nan anggun dan mempesona. Thian hanya bisa menunduk. Dia takut penyamarannya diketahui Ayah Arash dan Buna Icha.
"Ini Theana Bun. Kekasih Almeer". Ucap Almeer penuh percaya diri. Icha dan Arash tersenyum melihat kearah Thian. Namun berbeda dengan keluarga pak Aji terutama sang putri.
"Ayo duduk sini nak. Gak usah takut. Kami sudah jinak kok". Icha sengaja melemparkan candaan untuk mencairkan suasana. Thian mengangguk singkat dan dengan dituntun Almeer Thian duduk disamping Icha.
Makan malam berlangsung dengan nikmat. Sesekali Arash melirik kearah Thian yang lebih banyak menunduk. Bahkan jika ditanya Thian hanya menjawab singkat saja. Almeer yang mengetahui jika sang ayah mulai curiga berusaha menahan tawa.
"Pak Arash. Seperti perkataan saya waktu itu. Saya bermaksud menjodohkan putri saya kepada Almeer. Namun tidak disangka jika Almeer sudah memiliki pasangan". Pak Aji mulai pembicaraan intinya. Arash tersenyum simpul. Sedangkan Icha sibuk meladeni Theana.
"Kalau saya sih terserah Almeer pak. Walaupun dia memiliki kekasih, kalau memang Almeer mau masih berniat menerima perjodohan ini saya tidak masalah. Toh dalam agama tidak ada larangan bagi suami beristri lebih dari seorang". Arash sengaja memberikan jawaban tak pasti. Arash hanya ingin tahu seperti apa Almeer memehkan masalah ini.
"Gila nih cewek. Gas terusss. Pantang nyerah". Almeer menggerutu didalam hati.
Arash berusaha keras menahan tawanya setelah melihat raut wajah Almeer yang berubah. Arash paling tidak bisa ditipu oleh keluarganya. Dia sangat paham sifat anak-anaknya.
"Gimana bang. Kamu mau menerima perjodohan ini. Tanpa harus meninggalkan Theana". Arash sengaja menekan nama Theana karena sesungguhnya dia sudah sangat curiga. Almeer menantap sang ayah dengan sedikit kesal. Sedangkan Arash tetap berusaha tidak tertawa.
"Maaf Ayah. Maaf om. Saya tidak mau menerima perjodohan ini. Apalagi saya sudah memiliki Thea. Saya tidak mau menyakiti hatinya". Ucap Arash tergas. Icha melihat ketegasan sang anak merasa bangga. Almeer bisa mempertahankan apa yang terbaik untuknya
"Apa sebaiknya tidak kita coba saja dulu bang. Manda sanggup kok bang". Putri pak Aji meyakinkan Almeer.
"Tolong jangan seperti itu. Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik dari saya. Jadi kamu tidak perlu merendah seperti itu". Almeer tetap menolak permintaan Manda. Kecewaan nampak diwajah Manda. Dan tak lama keluarga pak Aji berpamitan pulang. Kini tinggal Almeer, Theana dan kedua orangtua Almeer.
"Jadi kapan kalian akan menikah. Biar Buna persiapkan semua". Icha memecah kecanggungan yang ada. Arash berdecak mendengar penuturan sang istri.
__ADS_1
"Haram sayang hukumnya mereka menikah". Arash menjawab pertanyaan Icha kepada Almeer. Almeer tersenyum tipis menyadari jika sang ayah sudah tau. Sedangkan Thian hanya bisa diam.
"Kok haram sih sayang. Kan mereka bukan mahram". Icha masih tak paham dengan perkataan Arash. Thian mengehela nafasnya panjang. Dan saat ini Thian memperlihatkan siapa dirinya sebenarnya. Sambil memakan hidangan penutup Thian menjelaskan kepada Icha dengan suara baritonnya.
"Haram Buna. Gak ada terong makan terong. Kecuali emang bang Al yang serong".
Icha tersedak minumannya setelah mendengar suara asli Theana.
"Kok ngebas. Almeer apa dia kesurupan". Icha masih belum memahami suasana. Arash dan Almeer tertawa bersamaan.
"Thea gak kesurupan Buna. Tapi nelen jin botol". Kembali Thian berbicara dengan nada kesal. Icha yang mencoba mengingat suara asli Thea, barulah dia menyadari.
"FATHIAANNNN. Apa-apaan ini". Icha berteriak dengan kesalnya. Beruntung mereka didalamruangan VIP. Almeer sama sekali tak merasa bersalah. Bahkan dia tertawa melihat Thian dijewer oleh Icha.
"Ampun Bun. Ampun. Ini bang Al yang nyuruh Bun". Thian berteriak kesakitan sambil memegang tangan Icha yang sedang menjewernya.
"Kenapa mau. Ya Allah ya Robb. Pusing pala Buna. Pusing ". Icha kembali duduk dan bersandar pada kursi. Arash yang masih tertawa lalu memeluk sang istri dan menenangkannya.
"Sudah sayang. Biar Almeer menjelaskan kenapa dia berbuat seperti ini". Arash meminta Almeer menjelaskan semuanya termasuk Thian yang berubah menjadi Thea. Mendengar penjelasan sang putra, Arash melempar sendok kearah Almeer.
"Kamu itu udah cukup umur buat nikah bang. Meera aja sudah punya anak dua. Kamu masih jomblo aja. Cari yang kayak apa sih bang". Arash mengomel kepada Almeer. Icha hanya diam menatap kearah sang putra dan Thian.
"Nanti Almeer cari yang sesuai kemauan Almeer yah. Gak usah susah-susah ayah cariin jodoh". Almeer juga tak mau mengalah dengan ayahnya. Arash hanya bisa bisa menghela nafas saja. Dan memberi tenggat waktu kepada Arash untuk mencari pasangan sendiri. Jika tidak berhasil, Almeer harus mau dijodohkan.
"Come on baby. Aku antar pulang". Almeer menggoda Thian. Sedangkan Arash dan Icha memberi reaksi seperti orang muntah.
"Baby shark tutu tutu". Thian bukan menjawab malah bernyanyi dan bergoyang. Mereka meninggalkan restoran dengan Thian masih dalam penyamaran Thea. Icha yang melihat kelakuan sang putra hanya bisa menggerutu pelan.
"Duh Gusti. Kok Geting aku".*
-----------
__ADS_1
*geting : kesal.