
"Assalamualaikum". Thian mengucap salam setibanya dirumah dan melangkah masuk kedalam diikuti oleh Luki dan Ono. Dan kedua orangtuanya sedang menerima tamu.
"Waalaikumsalam. Dek sudah pulang. Abang mana". Tanya Airil saat Thian mencium telapak tangannya.
"Abang mungkin malam sampai rumah pah". Jelas Thian kepada sang papa. Thian menoleh kearah tamu yang sedari tadi memperhatikan dirinya.
"Wah tambah ganteng saja ini. Tapi om masih bingung membedakan kamu sama Fathan. Sama persis. Haha". Ucap tamu orangtua Thian. Thian mendekati tamu tersebut dan mencium telapak tangannya.
"Apa kabar om, tante. Lama gak pernah ketemu". Tanya Thian dengan sopan.
"Kamu aja yang sibuk. Om sering main kesini. Tapi gak pernah ketemu kalian. Alhamdulillah om baik-baik saja". Jawab tamu orangtua Thian.
"Hehe. Ya sudah Thian naik dulu om, tante. Mau mandi". Pamit Thian setelah sedikit berbasa-basi.
"Iya. Silahkan. Pasti capek banget ya". Jawab tamu orangtua Thian.
Thian tersenyum dan sedikit menunduk sebelum beranjak. Selain pasangan suami istri, diruangan itu juga ada putri mereka. Namun Thian tidak ada niat menyapanya. Bahkan melirik pun Thian tidak mau.
"Om. Fathan pulang jam berapa". Tanya anak tamu Airil.
"Wah om tidak tau Kirana. Karena jadwal Fathan juga tidak menentu. Kadang kalau kemalaman dia tidak pulang kerumah ini. Tapi pulang kerumah abangnya". Jelas Airil pada Kirana. Tamu mereka adalah kedua Kirana dan Kirana.
"Oh gitu. Kirana kira Fathan akan pulang bersama Thian". Kirana kecewa mendengar jawaban Airil.
"Nak. Kita kesini kan mau silaturahmi dengan keluarga om Airil. Bukan hanya mencari Fathan". Ayah Kirana memberi pengertian kepada sang putri. Airil dan Eneng hanya tersenyum tipis saja. Mereka melanjutkan obrolan yang terjeda karena kedatangan Thian.
Didalam kamar, Thian langsung menghubungi Fathan. Agar menunda kepulangannya karena Kirana sedang berada dirumah mereka. Fathan yang sebenarnya sudah dalam perjalan pulang, terpaksa memutar arah dan memilih menginap di apartemen Almeer.
__ADS_1
"Huh. Tuh cewek gak nyerah ya ngejar Abang gue terus". Thian merebahkan tubuhnya sambil bergumam. Luki dan Ono masih bisa mendengar gumaman Thian.
"Namanya cinta mati. Ya gitu. Apapun akan dilakukan biar bisa dapatin hati pria idamannya". Luki menjawab perkataan Thian. Luki masih penasaran kenapa si kembar bisa tidak senang dengan Kirana.
"Yan, gue tuh masih penasaran. Kenapa Fathan gak suka sama Kirana. Padahal dia cantik, body oke. Cerdas pasti. Dewasa juga. Dia dokter juga kan kayak papa. Terus kurangnya apa". Tanya Luki pada Thian.
"Kurang ajar". Jawab Thian singkat. Thian masih sibuk berbalas pesan dengan Fathan yang menanyakan kondisi rumah.
"Maksud loe apa yan. Ngomong yang jelas". Luki masih belum puas dengan jawaban Thian.
"Huh. Penampilan tak selamanya bisa menentukan sifat seseorang. Diluar terlihat bagus belum tentu dalamnya. Jujur awal ketemu Kirana, gue aja suka sama dia. Abang pun sama. Bahkan sempat berfikir mau mencoba mendekati. Apalagi loe kan tau kelainan Abang. Waktu dekat Kirana respon itu berkurang. Jadi Abang fikir bisalah dekat. Eh gak taunya malah bikin ilfill". Jelas Thian kepada Luki. Luki masih saja menanyakan apa yang menyebabkan mereka berubah.
"Ilfill kenapa". Antusias Luki bertanya hingga memutuar arah duduknya menjadi berhadapan dengan Thian.
"Jadi belum ada status apapun, tuh cewek dengan seenak hati marah-marah ke teman gue dan abang. Dia langsung ngaku kalau calon istri Abang. Terus membuat peraturan untuk Abang yang notabene bukan siapa-siapa dia. Dari situ Abang langsung ogah buat kenal dia lagi". Thian menjelaskan kisah lama itu. Karena saat itu memang Luki belum menjadi asisten pribadinya.
"Kok gitu. Gue yang dengar aja juga ogah dekat sama cewek macam itu". Luki kesal sendiri mendengar penjelasan Thian.
"Gila tuh cewek. Ngebet amat. Kayak gak laku aja. Semua pria yang waras juga pasti kayak Fathan". Respon Luki begitu membara. Kesal dan marah bercampur.
"Gue mau turun dulu. Gak enak sama orantua Kirana. Sekalian mau kasih tau papa, Abang nginep tempat bang Al". Thian berjalan keluar kamar usai berpamitan pada Luki. Luki hanya mengangguk dan kembali berbaring.
Thian berjalan menuruni anak tangga dan ikut bergabung dengan keluarganya yang masih asyik berbincang. Mereka sudah pindah keruang makan. Kali ini emak tidak ikut bergabung. Karena emak baru saja meminum obat dan sedang beristirahat.
"Dek makan dulu". Ucap Eneng kepada putranya saat Thian sudah sampai diruang makan.
"Iya mah". Jawab Thian sambil tersenyum. Thian mulai mengambil piringnya dan mengisi dengan makanan yang dia sukai.
__ADS_1
"Sibuk apa ini jagoan om". Sapa ayah Kirana.
"Lagi shooting iklan om". Jawab Thian antusias.
"Wah makin tebar aja nih. Gak barengan jobnya sama Fathan". Ayah Kirana kembali bertanya.
"Nanti om dipertengahan episode, Thian gabung sama Abang". Kembali Thian menjawab dengan sesekali beradu pandang dengan ayah Kirana. Thian teringat mengenai Fathan.
"Pah, mah. Abang gak bisa pulang kerumah. Karena selesai malam banget. Abang pulang kerumah bang Al". Thian memberi tahu kedua orangtuanya tentang Fathan.
"Iya dek. Tadi Abang sudah kirim pesan ke papa". Jawab Airil kepada Thian. Wajah Kirana tampak tidak suka mendengar Fathan tidak akan pulang malam ini.
Mereka melanjutkan makan malam dengan sesekali berbicara. Usai makan malam, mereka duduk kembali diruang tengah sebelum Kirana dan kedua orangtuanya berpamitan.
"Ril. Kamu tau kan anak aku suka sama Fathan. Apa sudah dipertimbangkan usulanku untuk menjodohkan mereka". Airil tersenyum tipis menanggapi pernyataan itu. Thian yang paham maksud kedatangan keluarga Kirana sejak awal hanya diam sambil menatap tajam Kirana.
"Wa, aku minta maaf banget. Tapi Fathan sudah menolak Kirana sejak lama. Dan aku tidak mau memaksakan sesuatu kepada kedua putraku yang nantinya berujung penyesalan". Airil menjawab dengan tenang.
"Apa kamu tidak bisa membujuk Fathan sekali lagi memberikan Kirana kesempatan. Aku tau kelakuan Kirana waktu itu sangat fatal. Tapi tidakkah bisa anakku diberi kesempatan". Dewa ayah Kirana masih berusaha membujuk Airil.
"Maaf. Sekali lagi maaf. Aku tidak bisa memutuskan. Biar nanti aku tanya kepada Fathan". Airil mencoba mengakhiri perdebatan itu.
"Nah itu lebih baik. Masa Fathan menolak Kirana terus menerus". Dewa sangat percaya diri jika Fathan akan menerima Kirana.
Airil hanya tersenyum menanggapi perkataan Dewa. Keluarga Kirana akhirnya berpamitan. Kirana terus merengek meminta agar ayahnya bisa membujuk Airil dan menikahkan Fathan dengan dirinya. Sifat manja Kirana tidak pernah berubah. Apa yang dia mau harus dia dapat bagaimanapun caranya. Dan kedua orangtuanya pun sama. Sangat memanjakan dirinya dan menuruti apapun maunya.
"Papa mau bang Fathan nikah sama Kirana. Kelakuan bertolak belakang dengan wajahnya". Thian bertanya kepada sang papa setelah keluarga Kirana pergi.
__ADS_1
"Tidak dek. Papa juga paham kalian menolak karena sifat Kirana. Bukan karena yang lain". Airil sangat paham dengan kekhawatiran putranya. Dia sangat paham jika dia yang meminta maka keduanya akan melakukan dengan sukarela.
"Syukurlah pah. Aku aja gak tahan sama sifatnya. Apalagi Abang. Bisa kena stroke mendadak". Thian menjawab dengan diselingi candaan. Airil pun ikut tertawa.