
Thian menunggu Zee didalam mobil. Beberapa mahasiswa berlalu lalang. Thian sudah mengenakan masker dan topi. Dia hanya berjaga-jaga saja jika terjadi hal tak terduga.
Thian sengaja datang sepuluh menit lebih awal. Tampak Zee sedang berjalan menuju kearah mobil Thian. Seseorang menarik tangan Zee. Zee pun berhenti tepat disamping mobil Thian.
"Ada apa kak". Zee bertanya kepada orang yang menarik tangannya tadi. Thian membuka kaca mobilnya agar bisa mendengar percakapan Zee dan pria yang menarik tangannya.
"Pulang bareng aku aja yuk". Ajak pria itu kepada Zee. Thian diam memperhatikan. Dia yakin Zee bisa mengatasinya.
"Maaf kak. Zee sudah dijemput". Tolak Zee sambil melepaskan cengkraman tangan pria itu. Raut wajah pria tadi berubah menjadi kesal.
"Ck. Kenapa sih kamu selalu menolak setiap kali aku mengantar atau menjemput mu. Selalu saja alasan yang sama. Apa tidak bisa kamu sekali saja meminta orang rumah untuk tidak mengantar atau menjemput kamu". Nada bicara pria itu sedikit meninggi. Thian sudah sangat menahan emosi. Rasanya dia ingin keluar dan memukulnya.
"Maaf ya kak. Kakak tidak ada hak mengatur apapun yang Zee lakukan. Dan kalau Zee selalu menolak kakak berarti Zee memang tidak ingin kakak menganggap Zee memberi harapan lebih. Karena sejujurnya Zee sudah memiliki tunangan. Jadi Zee harap kakak mengerti posisi Zee". Setelah mengatakan itu, Zee berbalik dan membuka pintu mobil Thian yang berada dibelakangnya. Pria tadi terus memperhatikan Zee dan Thian. Bahkan Zee sengaja mencium pipi Thian. Hal yang tidak pernah mereka lakukan.
Thian mudah menyembunyikan ekspresi saat Zee menciumnya tiba-tiba. Thian melajukan mobilnya dan menjauh dari kampus Zee. Pria tadi masih saja memperhatikan mobil Thian dari kejauhan.
"Kakak libur hari ini". Zee berusaha memecah keheningan. Dia hafal benar jika Thian sedang cemburu atau marah lebih banyak diam.
"Hm. Mau temani kemana". Walaupun mau menjawab namun Thian tak mau melihat kearah Zee. Bahkan suaranya begitu dingin.
"Pasar malam. Didekat taman kota ada pasar malam kak". Zee masih berusaha agar Thian kembali luluh.
"Oke". Jawab Thian singkat. Zee hanya tersenyum hambar. Zee segera menjelaskan siapa pria yang mengejarnya tadi kepada Thian. Zee tak ingin ada masalah dihubungkan mereka.
__ADS_1
"Kak. Zee tau kakak marah. Zee akan cerita dia siapa. Dia kakak angkat Zee". Sebelum Zee melanjutkan menjelaskan, Thian memotongnya.
"Apa dia juga yang sering mengirim bunga dan coklat buat Zee". Thian beberapa kali melihat kiriman untuk Zee berupa bunga dan coklat dengan surat yang isinya romantis.
"Iya kak. Dia Dito yang selalu mengirimi Zee bunga dan coklat. Tapi Zee tak pernah menanggapinya. Bahkan berkali-kali Zee kembalikan lagi. Zee selalu menghindar dari Dito kak". Zee meyakinkan Thian bahwa dia benar-benar tidak memberi peluang kepada Dito atau yang lainnya.
"Huh. Kakak percaya sama kamu baby. Tapi kakak gak yakin sama mereka. Kamu taukan Kakak mudah cemburu. Kakak hanya takut saat kakak tidak bisa mengendalikan perasaan kakak, kakak lepas kontrol". Thian sengaja menghentikan mobilnya ditempat yang diperbolehkan untuk berbicara dengan Zee.
"Iya Zee paham kesayangan Zee seperti apa. Zee akan berusaha semaksimal mungkin menjaga apa yang kakak percayakan". Mereka saling menggenggam tangan. Itulah cara mereka untuk saling menguatkan.
"Dan satu lagi. Jangan asal cium. Jantung kakak gak tenang jadinya baby". Thian menyentuh dada sebelah kirinya yang masih berdetak.
"Hahaha. Maaf kak refleks. Zee bingung harus gimana biar Dito percaya kalau Zee udah ada pawangnya". Zee tertawa dan diikuti oleh Thian. Mereka tidak pernah bisa bertengkar lama. Walaupun Zee lebih muda delapan tahun dari Thian, sifatnya sudah dewasa dan dapat mengimbangi Thian. Walaupun masih ada sifat manja, namun itu sebatas wajar.
"Itu kalau bang Gara tau, beuh tinggal nama kakak saja yang baby lihat. Haha". Zee pun kembali tertawa. Kedua kakak Zee begitu posesif karena Zee anak perempuan satu-satunya dan begitu disayang.
"Kak. Kakak gak bercanda kan". Thian tersenyum mendengar pertanyaan Zee. Thian dan keluarga Zee sengaja tidak memberitahukan Zee, jika mereka akan meresmikan pertunangan mereka bersamaan dengan Fathan dan pernikahan Almeer.
"Tidak baby. Sengaja kakak mau kasih kejutan ke kamu. Kita akan tunangan saat bang Al nikah bareng sama bang Fathan juga". Thian mengusap lembut surai hitam panjang Zee. Zee tersenyum bahagia.
Thian dan Zee sudah sampai ditoko perhiasan langganan keluarga Malik. Mereka memilih model dan memesan sesuai ukuran tak lupa mereka ukir nama. Thian tidak menyadari jika ada seorang fans yang sengaja mengambil fotonya bersama Zee. Beruntung Ono singgap menjadi pelindung Zee. Hingga gambar Zee dan Thian nampak buram saat foto itu tercetak.
"Bos ada penguntit. Tapi udah gue amanin". Bisik Ono kepada Thian. Thian mengangguk paham. Tak lama Zee dan Thian didalam toko tersebut. Mereka segera pergi sebelum semakin banyak orang yang menyadari keberadaan Thian.
__ADS_1
Thian membawa Zee pulang kerumah orangtuanya karena Zee ingin bertemu dengan Oma. Thian pun segera pulang kerumah. Setibanya dirumah, mobil Almeer masih betah bertengger ditempat parkir rumah Thian. Dan seharusnya Almeer menjemput Shabila. Karena sudah saatnya jam kantor usai.
"Bang Al disini kak. Kok mobilnya ada". Tanya Zee pada Thian saat mereka berjalan masuk kedalam rumah.
"Iya dari pagi tadi. Kakak kira udah pergi. Tadi katanya mau jemput kak Shabila. Ini kok masih disini. Yuk masuk beib". Thian menggandeng tangan Zee dan membawanya masuk rumah.
Eneng sedang duduk menemani emak menonton drama Korea. Melihat Zee datang, Eneng dan emak nampak begitu bahagia. Zee disambut dengan hangat.
"Mama, Oma apa kabar. Maaf Zee baru main lagi". Zee bergantian mencium pipi Eneng dan emak.
"Baik sayang. Kamu gimana kuliahnya nak. Lancarkan". Walaupun dengan pipi yang bengkak, Eneng berusaha menyapa Zee.
"Alhamdulillah baik. Mama kenapa bengkak gitu pipinya". Zee baru sadar jika pipi Eneng bengkak sebelah.
"Habis cabut gigi nak. Terus gusinya masih bengkak". Eneng menjelaskan agar tidak membuat Zee khawatir.
"Mah, bang Al masih molor". Thian menanyakan Almeer kepada mamanya.
"Masih kayaknya dek. Tadi udah mama bangunin. Kan dia harus jemput Shabila. Eh malah jawab. Biarin tuh alien pulang ke planetnya aja mah. Gitu jawabnya dek". Thian tertawa mendengar perkataan mamanya. Zee hanya tersenyum tak paham maksud Eneng.
"Ya udah biar Thian yang bangunin. Ntar kena semprot Buna sama ayah baru tahu rasa dia. Kakak tinggal bentar ya". Zee mengangguk. Thian segera berlari menuju kamarnya untuk membangunkan Almeer.
Dan benar Almeer masih setia dengan guling dikamar Thian. Bahkan ponselnya bergetar tak dihiraukan olehnya. Thian segera membangunkan Almeer.
__ADS_1
"Bang bangun. Noh buna telpon terus. Jemput kak Shabila bang". Mendengar teriakan Thian, Almeer segera bangun dan melihat ponselnya. Dan benar Buna tercintanya sedang menghubunginya.
"Wah gawat nyonya ratu bisa ngamuk. Gue jemput si alien dulu. Syukur-syukur masih ada UFO lewat. Biar dibawa ke alamnya". Thian tertawa mendengar celotehan Almeer. Almeer berlari sekencang mungkin menuju mobilnya dan segera menjemput Shabila.