Si Kembar Onar

Si Kembar Onar
Hari H


__ADS_3

Telah tiba waktu dimana janji suci akan diucapkan. Hari yang sangat Thian dan Zee tunggu. Bukan waktu yang sebentar dan perjalanan yang mudah. Hal yang paling mengganjal bagi Thian dan Zee adalah Oma. Karena sampai saat ini beliau masih setia dalam tidur panjangnya.


Memutuskan untuk menikah tanpa adanya Oma disampingnya bukanlah hal yang mudah. Thian sendiri juga tidak mau terlalu lama menggantung hubungannya dengan Zee. Walaupun zee sangat paham dengan keadaan Thian. Oma bagi si kembar adalah segalanya.


Dua hari yang lalu, Thian sengaja menemani sang Oma di rumah sakit. Dia berharap bisa melihat sang Oma membuka mata sebelum akad nikah dia laksanakan. Bahkan awalnya Thian meminta saat ijab qobul dihadapan Oma. Namun pihak rumah sakit serta dokter yang merawat Oma, melarang hal itu.


"Oma. Sedang apa disana. Apa Oma gak mau gitu bangun dulu. Oma gak kangen kami apa. Thian mau nikah Oma. Thian juga pengen ada Oma disaat Thian dan Zee menikah. Bangun yuk Oma". Thian berbicara kepada sang Oma yang masih setia menutup mata. Air mata Thian mungkin sudah mengering. Atau dia memang tak ingin Omanya ikut menangis jika dia menangis.


"Nanti pas Thian honeymoon, Thian ajak Oma. Oma maukan ikut. Kan waktu bang Fath honeymoon, Oma gak jadi ikut. Besok ikut Thian ya Oma. Kita jalan-jalan. Kita senang-senang". Thian memijat pelan kaki dan tangan Oma. Thian juga menceritakan apapun yang sudah dia lalui kepada Omanya.


Sesekali nampak Oma meneteskan air mata. Thian menghapus dengan sangat lembut. Harapan Thian untuk Oma sembuh sangat tinggi. Thian selalu berdoa agar Oma segera sadar.


Thian tetap ingin Omanya menjadi saksi dihari bahagianya. Dengan ijin dokter dan rumah sakit, Thian akan melakukan siaran langsung khusus untuk Omanya. Thian juga meminta Alan, Luki dan Adrian untuk menemani sang Oma dirumah sakit. Thian yakin Omanya akan mendoakannya juga walaupun tidak bisa melihat secara langsung.


Pernikahan Thian dan Zee, akan menjadi pernikahan fenomenal berikutnya. Setelah Fathan dan Almeer. Thian untuk pertama kalinya akan memperkenalkan diri sebagai seorang CEO bukan lagi seorang aktor. Kontrak kerja si kembar akan segera berakhir dalan beberapa bulan. Almeer juga sudah mengijinkan untuk mereka fokus diluar dunia entertainment.


Begitu juga Fathan. Dihari bahagia sang adik, Fathan juga akan mengumumkan pengunduran dirinya sebagai entertainment dan juga dia akan memberi tahu publik tentang The Eagle miliknya. Keputusan keduanya sudah lama mereka bahas dengan Almeer. Walaupun berat, Almeer menerima keputusan mereka dengan lapang dada.


Almeer juga sudah menemukan penerus si kembar. Si kembar hanya akan membantu dibalik layar saja jika dibutuhkan. Mereka akan fokus dengan usaha yang sudah mereka rintis dan maju.


Keluarga Zee dan Prasaja sudah berada dihotel tempat akan dilaksanakan ijab qobul dan pesta pernikahan keduanya. Hotel ini milik Thian pribadi. Hotel pertama yang berhasil Thian bangun dan dia kembangkan. Dan saat ini usaha Thian sudah melebar lebih luas lagi. Begitu juga dengan Fathan.

__ADS_1


"Pah. Sebenarnya Thian gak ingin acara ini tanpa Oma. Tapi Thian juga gak bisa menggantung lebih lama lagi. Apa keputusan Thian benar pah". Airil dan Thian sedang berbincang dibalkon kamar Thian.


"Papa dan mama juga yang meminta kalian untuk segera menikah. Jadi jangan menjadi beban dek.


"Thian kangen Oma pah. Kapan Oma mau bangun. Apa Oma akan pergi setelah Thian menikah". Airil memeluk tubuh sang putra. Dia pun merasakan hal yang sama.


"Kita berdoa saja dek. Oma segera bangun. Papa juga kangen. Jangan sampai mama lihat kamu menangis dek. Mama akan semakin sedih". Thian segera menghapus air matanya. Thian mungkin hancur karena kondisi Omanya. Tapi Eneng lebih hancur karena ibunya yang belum juga sadar. Sejua berusaha untuk tidak menangis didepan Eneng.


Malam kian larut. Thian masih belum bisa terpejam. Banyak hal yang ia pikirkan. Rasanya dia ingin menangis sekencang-kencangnya dan berteriak. Tapi dia hanya bisa melakukan itu dengan membekap wajahnya menggunakan bantal. Ono adalah saksi dari segala kesedihan Thian.


"Bos. Gue salut sama loe. Loe bisa meredam semua sendirian. Kalau gue jadi loe, mungkin gue udah gila. Kalau gak udah bundir. Loe kuat banget bos". Ono bergumam pelan sambil memperhatikan Thian yang menangis.


Thian segera mengambil wudhu dan bersimpuh. Permohonan pertamanya adalah untuk Oma. Selalu untuk Oma. Thian sudah memasrahkan apapun nanti hasilnya. Setelah menangis dalam sujudnya, Thian merasa lega. Dia bisa tertidur dengan tenang.


Suara bel dari pintu kamar Thian. Thian segera bergegas membukanya. Tampak saudara kembarnya beserta sahabatnya serta perias pengantin yang akan membantu Thian bersiap sudah tiba.


"Wuih kirain masih molor". Ammar segera memeluk sahabat kesayangannya itu.


"Gaklah bang. Masuklah". Mereka segera masuk kedalam kamar Thian. Thian segera berganti pakaian dan merias wajah.


"Yan. Udah siap ganti status baru". Almeer duduk bersama saudaranya sambil memperhatikan Thian yang sedang dirias.

__ADS_1


"Insyaallah. Selalu ingatin gue bang. Kalau gue ada salah. Gue juga masih banyak kekurangan". Dean bersaudara terkikik mendengar suara Thian yang berbeda.


"Loe gugup. Suara loe terlalu ngebass". Almeer dan Fathan ikut menertawakan Thian.


"Santai aja. Ntar malam aja gugupnya. Hahaha". Almeer kembali mengolok Thian dan diikuti suara tawa Fathan dan Dean bersaudara.


"Apaaan sih bang. Ya jelaslah gue gugup. Sekali seumur hidup. Emang Abang gak gugup apa pas ijab qobul dulu". Thian tak terima dengan olokan Almeer dan balik menyerangnya.


"Gugup sih. Tapi lebih gugup pas malam pertama". Perias pengantin ikut tertawa mendengar perkataan Almeer.


"Kenapa malah gugup malam pertamanya bang. Bukan pas ijab qobul". Ashraf sengaja memancing sang Abang untuk bercerita.


"Kalau ijab qobul, dengar suara sah udah lega banget rasanya. Cuma pas awal takut salah nyebut nama atau salah kata-kata. Nah pas malam pertama, itu banyak banget rasa takutnya". Senyuman tipis Ammar tampak jelas untuk mengolok Almeer.


"Kenapa bang. Takut kakak ipar gak suka sama punya Abang. Takut dikatain kekecilan. Atau takut dikatain ubanan" . Almeer memukul kepala belakang sang adik.


"Enak aja ngatain gitu". Almeer tidak terima diolok oleh adiknya sendiri.


"Lah terus apa dong. Masa tinggal unboxing enak-enak pake gugup. Gugup salah jalur apa". Ashraf tak mau menghentikan olokkan mereka.


"Gak mau cerita wle. Anak kecil nanti pengen nangis gak ada pasangannya". Thian dan Fathan tertawa melihat wajah Dean bersaudara diejek oleh Almeer. Mereka memang jarang bertemu. Dan sekali bertemu akan ada perdebatan dan olokkan.

__ADS_1


___


Maaf lambat. Dan selama dua Minggu akan lambat. Lagi sibuk menjadi panitia karnaval ultah Jogja disekolah anak. Maaf jika selalu lambat


__ADS_2