
"Ada apa Lan. Pagi-pagi sudah menemui saya". Shadam baru saja masuk kedalam kafe karena Alan ingin bertemu.
"Biasa. Pak bos nitip sesuatu buat mas Shadam". Alan mengerahkan beberapa map kepada Shadam. Perlahan Shadam membukanya.
"Wow. Boleh juga ini. Kapan dia ngasih ini ke kamu. Bukannya kamu gak balik". Shadam masih tersenyum membuka satu persatu lembaran didalam map.
"Sebenarnya waktu bos disini, ini sudah ada. Cuma belum lengkap. Terus bos minta saya untuk merevisi. Dan jadilah sekarang. Masih ada yang kurang gak mas". Alan khawatir jika pekerjaan yang diberikan kepadanya ada kesalahan.
"Tidak. Ini sempurna. Tinggal tunggu tuh bos kamu nongol aja. Jadi kan dia keluar dari gua". Alan tertawa mendengar Shadam mengolok pimpinan Guardian Company.
"Kalau sampai gak jadi lagi, saya mau resign aja. Capek mas tiap klien tanya seperti apa wajah pimpinan saya. Nanti kalau saya jawab gak jauh beda sama beruk, yang ada dia ngamuk". Shadam tertawa mendengar keluhan lucu Alan.
"Hahaha kamu bisa aja. Ya udah saya duluan ya. Takut Zee nyariin". Alan mengangguk dan Shadam pun segera pergi meninggalkan kafe tersebut. Entah suatu kebetulan atau tidak, saat Shadam keluar menuju tempat parkir, Johan baru saja masuk. Dan sempat melihat interaksi Alan dan Shadam dari kejauhan.
"Jadi mereka mau main belakang atau gimana. Kok kayaknya mereka akrab banget. Padahal Shadam itu bukan orang yang mudah untuk didekati. Kok sama asisten Guardian, mereka bisa seakrab itu". Johan bergumam sendiri sambil memperhatikan Shadam yang sudah pergi. Johan pun mengambil kesempatan untuk mendekati Alan.
Johan berjalan mendekati meja Alan. Dan berpura-pura baru saja sampai sehingga tak sengaja bertemu dengan Alan.
"Wah pak Alan. Kebetulan sekali kita ketemu disini". Alan meletakkan sendok dan garpu ya. Dia berdiri menyambut Johan.
"Eh pak Johan. Mau sarapan juga pak". Alan kembali duduk setelah saling berjabat tangan dengan Johan.
"Iya nih. Saya ketagihan sarapan disini. Enak masakannya. Pak Alan sering makan disini juga". Tanpa dipersilahkan duduk, Johan sudah duduk dihadapan Alan.
"Kadang-kadang saja pak. Kalau rindu makanan khas Indonesia. Karena memang hanya disini yang menjual makanan Indonesia". Kafe itu memang khusus menjual masakan Indonesia. Dan penjualnya pun orang Indonesia asli.
__ADS_1
"Oh begitu". Johan memesan makanan dan menikmati bersama Alan. Sesekali Johan melirik Alan. Dia memikirkan kata-kata untuk memulai percakapan mereka.
"Hem, pak Alan sudah berapa lama bekerja di Guardian". Alan sedikit menoleh ke Johan dan melanjutkan makannya sebelum menjawab.
"Saya sudah dari awal Guardian dirintis pak Johan. Memangnya ada apa pak". Alan santai saja dalam berbicara. Itu membuat Johan nyaman.
"Wah sudah sangat lama. Tidak pak, saya cuma penasaran saja. Karena bis anda benar-benar percaya kepada anda sepenuhnya. Bahkan damaou sekarang belum ada yang pernah melihat wajah pimpinan Guardian Company. Saya sendiri juga penasaran seperti apa orangnya". Perlahan Johan berbicara. Mencoba mencari informasi. Dan celah agar dia bisa mencapai tujuannya.
"Jangan mudah penasaran dengan seseorang pak. Karena itu tidak baik. Bisa jadi orang yang membuat bapak penasaran, malah akan menjadi bencana untuk bapak. Atau sebaiknya. Bisa juga dia membawa berkah untuk bapak. Saran saya, cukup tau diluar jangan terlalu mendalam. Karena kecewa itu tidak datang diawal tapi diakhir". Bukannya gambaran seperti apa pimpinan Guardian yang Johan dapat. Tapi kata-kata mutiara yang mengena dihati Johan.
Johan hanya diam. Dia mencoba mencerna apa makna dibalik perkataan Alan. Lamunan Johan buyar saat ponsel Alan berdering. Alan segera mengangkat panggilan itu. Tak peduli ada Johan dihadapannya.
"Selamat pagi bos. Ada yang bisa saya bantu'
"--"
"--"
"Baik bos. Saya akan segera pesankan kamar untuk bos. Kapan bis akan sampai sini".
"--"
"Baik. Saya mengerti"
Alan menyimpan kembali ponselnya. Johan sedari tadi menguping pembicaraan Alan dan bosnya. Dia bisa menangkap bahwa pimpinan Guardian akan mengunjungi tempat dimana dia sekarang berada. Saat ini Johan harus bisa memastikan kapan bos Alan tiba. Agar dia bisa menyusun rencana baru.
__ADS_1
"Wah sepertinya pimpinan pak Alan akan datang kesini ya". Alan tersenyum mendengar pertanyaan Johan.
"Iya benar. Kebetulan juga berliau ada pekerjaan disini selama beberapa Minggu". Penjelasan Alan membuat senyum sumringah Johan.
"Apa beliau juga akan melihat perkembangan proyek kita. Maksud saya langsung cek kelapangan". Johan sedikit bingung dalam mengolah kata agar Alan tidak curiga.
"Sepertinya begitu. Karena memang pekerjaan bos saya ada disekitar situ. Mungkin akan sekalian". Alan sudah menyelesaikan sarapannya. Dia bersiap untuk meninggalkan kafe.
"Boleh saya tau kapan beliau akan kesini pak Alan". Johan benar-benar tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Dia harus tau kapan bos Alan tiba.
"Untuk tanggal saya belum pasti. Tapi yang jelas masih sekitar dua bulan lagi". Johan mengangguk dan tersenyum bahagia. Alan pun segera berpamitan dan pergi mendahului Johan.
"Kesempatan baik. Gue harus bisa ketemu duluan sama pimpinan pak Alan. Dan semoga masih ada waktu untuk membatalkan kontrak kerjasama dengan artis menyebalkan itu. Bahkan gue yakin gaji dia jadi artis tak sebanding dengan gaji gue. Zee, Zee mau saja kamu dibodohi". Johan bergumam sambil tersenyum sendiri.
Shadam segera mengirim salinan file yang diberikan Alan kepada Sagara. Karena dia tidak mau Sagara murka jika tidak diberitahu rencana apa yang akan mereka jalankan selanjutnya.
"Bapaknya punya hutang. Anaknya sombong. Bilang ke dia. Kasih batas waktu pengembalian dana. Kalau gak bisa balikin utangnya, akuisisi perusahaan bapaknya. Mau lihat kayak apa wajahnya".
Sagara mengirim pesan kepada Shadam setelah membaca salinan dokumen yang dikirim beberapa menit lalu. Shadam tidak membalas pesan abangnya dan hanya tersenyum tipis.
"Kita lihat tanggal mainnya". Gumam Shadam pelan. Jika Johan tidak bertindak nekad, Shadam dan Sagara pun tidak akan seperti ini. Apalagi mereka memiliki kelemahan utama dari perusahaan orangtua Johan.
Johan sedang menyusun cara agar bisa menemui pimpinan Guardian Company. Bahkan dia membayar orang untuk memberikan informasi dari bandara mengenai jadwal kedatangan dibulan yang disebutkan Alan tadi. Sayang di sayang, Johan tidak mengetahui dari mana pimpinan itu berangkat. Jadi, Johan akan melacak semua kedatangan dihari tersebut.
Papa Johan mengirin pesan putranya. Johan segera membaca pesan dari sang papa. Johan sedikit kesal setelah membaca pesan itu.
__ADS_1
"Jo. Jangan lupa, kita ada pertemuan keluarga dengan calon istri kamu Minggu depan. Awas sampai gak datang".
"Ck. Gue kira perjodohan itu sudah dihentikan. Ternyata papa masih saja memaksa. Gue gak mau kalau bukan Zee. Maaf pah, kali ini Jo membatah lagi. Jo akan membawa Zee sebagai menantu sebagai gantinya". Johan memandangi foto Zee dilayar ponselnya. Dia sengaja mengambil gambar Zee diam-diam.